05 Januari 2019

MU Baru Di Tahun Baru

Sebelumnya, selamat tahun baru 2019, sodara-sodara.

Ada dua hal yang bikin saya excited di dunia sepakbola di sebulan terakhir. Yang pertama adalah menggeliatnya perhatian banyak pihak akan match fixing di sepakbola Indonesia. Pengaturan skor bukanlah hal baru di sepakbola, apalagi di Indonesia. Tapi dari dulu tidak pernah ada tindakan-tindakan yang bisa memunculkan optimisme di kalangan suporter bola tentang hal ini. Baru kali ini, dipicu oleh acara Mata Najwa yang mengangkat episode "PSSI Bisa Apa?" dan dilanjutkan dengan "PPSI Bisa Apa Jilid 2", tema pengaturan skor terangkat lagi. Ada runner angkat bicara, manajer klub sepakbola mulai bernyanyi, beberapa pentolan PSSI di masa lalu mulai banyak bercerita, para pemain mulai mengutarakan isi pikirannya, twitter dan instagram makin menggelora yang menggoda PSSI untuk mengundangnya, hingga pihak kepolisian yang membentuk satgas khusus untuk menangani ini. Secara skeptis, bisa saja ini ditunggangi orang-orang demi kepentingan politik, atau kepentingan lain selain sepakbola. Tapi dengan sebegitu ramainya dibicarakan, dan dengan mulai ditangkapnya beberapa nama yang disebut-sebut orang-orang penting dibalik skandal pengaturan skor, kita sebagai penikmat sepakbola bisalah sedikit punya optimisme bahwa masalah match fixing bisa dipetakan secara lebih detil dan jelas, sehingga akan sangat membantu untuk menanggulanginya. Ujung-ujungnya akan menghasilkan dunia sepakbola yang profesional dan menarik. Pemain bagus, masa depan cerah, dan liga yang menarik untuk ditonton. Terus terang, saya sendiri sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, selain timnas junior yang moncer itu.

Hal menarik kedua ini lebih menyenangkan : Akhirnya Manchester United memecat Mourinho!!!!!

(source : here)

Sebagai salah satu pengikut Nabi Pep Guardiola, saya tidak suka dengan cara Mourinho menanamkan filosofi permainan pada timnya, meskipun tetap menaruh respek. Tidak suka karena sudah terbukti Mourinho hanya spesial ketika menangani tim semenjana yang memainkan sepakbola dengan pertahanan super solid dan minim inisiatif menyerang. Saya menyebutnya sebagai sepakbola reaktif, yang menunggu lawan menyerang, diredam dengan pertahanan tebal, lalu secepatnya menyerang balik, dan kemudian bertahan kembali. Namun tetap respek, karena bisa mengatur pertahanan se rapi itu pun tidaklah mudah, perlu ditanamkan karakter tertentu pada para pemainnya. Dan pertahanan super itulah yang membuat pola menyerang ala Pep bisa mendapatkan tantangan yang sebanding, untuk kemudian berkembang lagi karena selalu mencari cara untuk menembus tembok itu. Maka terwujudlah tim Barcelona yang legendaris itu.

Ya, saya tidak suka Mourinho karena saya rasa karakter permainannya hanya cocok ketika diterapkan di tim semenjana. Porto adalah kuda hitam di Eropa. Chelsea kala itu juga belum menjadi tim papan atas karena selalu di bawah bayang-bayang kehebatan Manchester United dan Arsenal. Inter dibawa meraih treble winner karena saat itu Liga Italia bukan lagi liga papan atas Eropa, dan berhasil memenangkan Liga Champion dengan bermain bertahan. Lagi-lagi saya katakan bahwa itu bukanlah hal buruk, tapi bukan permainan yang saya sukai untuk ditonton. Ketika Mou kembali ke Chelsea, dia tak bisa sukses lagi, karena Chelsea sudah jadi tim papan atas Liga Inggris, yang pride nya cukup terganggu ketika harus bermain bertahan. 
Begitupun ketika melatih Real Madrid. Memang Real Madrid sukses menghilangkan inferioritasnya atas Barcelona, namun selain itu tidaklah ada yang istimewa. Friksinya dengan Casillas yang mempengaruhi keharmonisan timnas Spanyol menjadi salah satu bukti bahwa yang paling utama untuk Mourinho adalah kejayaan pribadi, entah bagaimanapun caranya. Bagi saya, kiprah Mou di Real Madrid adalah kegagalan.

Karena itu ada aneka perasaan campur aduk ketika dulu MU mengontrak Mou sebagai manager, sebagaimana pernah saya tulis disini. Tim cinta pertama saya dilatih oleh manager yang paling tidak saya sukai. Padahal Liverpool mengontrak Klopp, dan City mengontrak Pep. MU tampak suram sekali. Hingga hampir dua tahun kemudian, belum ada tanda-tanda munculnya optimisme pada permainan MU, padahal Chelsea, Arsenal, Spurs, dan Liverpool menunjukkan perbaikan performa signifikan.

Maka sebegitu bahagianya saya ketika Mou dipecat.

Memang nggak akan bisa menjadikan MU ada di jalur juara Liga Inggris tahun ini, tapi minimal ada peluang untuk memiliki harapan baru yang sudah mentok di era Mou. Apalagi ketika yang diangkat jadi caretaker adalah si babyfaced assassin, Ole Gunnar Solksjaer. Meskipun bukan pemain inti, Solkajer adalah legenda. Striker cadangan yang sangat produktif, tidak tertinggal jauh dari duo Andy Cole dan Dwight Yorke. Tidak ada fans MU yang tidak ingat golnya (dan gol Teddy Sheringham) di final Liga Champion melawan Bayern Muenchen.

(source : here)

Solksjaer memang belum punya pengalaman melatih tim besar, namun kiprahnya ketika melatih di tim masa kecilnya, Molde, cukup menarik perhatian. Di bawah kepemimpinannya, Molde meraih juara Liga Norwegia untuk pertama kalinya. Dan salah satu hal yang sangat menarik buat saya, dalam menjalankan kepelatihannya, kadang dia menggunakan game simulasi sepakbola paling terkenal, Football Manager, untuk mengantisipasi cara-cara mengalahkan lawannya. Sebuah kabar baik untuk orang-orang sok tau yang merasa paling hebat karena bertahun-tahun sukses menjadi manager sepakbola virtual di game itu, seperti saya.

Solksjaer ada di MU ketika MU menjadi salah satu tim terhebat di Eropa dengan gaya permainan menyerang yang sangat menghibur. 91 golnya di Manchester United meskipun memulai dari bangku cadangan bukanlah catatan yang buruk. Bagi saya itu cukup menggambarkan kemampuannya membaca arah permainan, dan kemudian memanfaatkan celah-celah yang tersedia meski tidak dibekali kemampuan fisik dan teknis yang superior dibanding pemain-pemain lain. Semangat pemenang dan kemampuannya membaca pertandingan, ditambah dengan susahnya strateginya diantisipasi lawan karena relatif kurang dikenal, akan membuat MU menjadi agak susah untuk diprediksi. 

Selalu menang di lima laga awalnya, memunculkan kembali kebahagiaan ketika menonton permainan MU. MU tampil menyerang, maka mendorong para pemainnya untuk menjadi kreatif dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala potensi yang dimiliki. MU diisi banyak pemain muda yang memiliki potential ability diatas rata-rata, akan sangat sayang apabila ditanami filosofi sepakbola bertahan. Saya yang sudah lama absen menonton pertandingan MU live di tivi, mulai memiliki keinginan untuk sesering mungkin mengintip cara Solksjaer memimpin adik-adiknya itu. Membayangkan Pogba yang trengginas ditemani Juan Mata yang cerdik, Herrera yang cerdas, atau Matic yang solid, menjadi inisiator serangan yang di eksekusi oleh para young guns yang fit dan bertenaga seperti Rashford, Martial, Lukaku, Lingard atau Alexis Sanchez. Potensinya sangat besar, berharap bisa melihat pola serangan yang mengalir, kreatif, dan enerjik. 

Pun begitu di lini pertahanan. David De Gea sudah bertahun-tahun menjadi tulang punggung pertahanan MU. Luke Shaw pernah jadi wonderkid, ini adalah waktunya untuk menjadi world class fullback setelah sekian lama dibekap cidera. Valencia dan Ashley Young memang bukan fullback murni, tapi pengalamannya menjadi pemain sayap yang suka ngebut bisa jadi bekal dalam menjadi playmaker dari sayap terluar. Juga masih ada Darmian dan Dalot yang juga pemuda berbakat. Duet starter bek tengah mungkin masih akan dihuni Lindelof dan Phil Jones, dan dibantu oleh Bailly dan Smalling. 

Tidak berlebihan jika saya berharap para pemain ini bisa direvitalisasi oleh si pembunuh berwajah bayi ini.

Sungguh di tahun baru ini menjadi semangat yang juga baru karena melihat MU yang baru. Mari kita tunggu.

Glory, Glory, Manchester United !!!

25 Juni 2018

Another Pep Effect

Fase grup Piala Dunia 2018 sebentar lagi berakhir, melahirkan banyak sekali drama yang cukup mengejutkan. Spanyol nyaris tidak lolos grup, Argentina harus tanding mati-matian lawan Nigeria, Brazil-Jerman-Perancis pun susah payah. Yang tampil digdaya justru Belgia dan Inggris, dua tim yang diisi bintang-bintang Liga Inggris. Buat saya ini cukup menarik.

Pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, yang jadi juara dunia adalah Spanyol. Kala itu Spanyol bermain sangat cantik, dimotori oleh trio pemain kunci Barcelona, yaitu Iniesta-Xavi-Busquets. Di saat yang sama itu pula, Barcelona sedang gila-gilanya, dominan di Liga dan di Eropa dengan identitas gaya permainan sepakbola yang melegenda. Pemain Barcelona mendominasi susunan roster timnas Spanyol. Selain tiga pemain tadi juga ada Pique, Puyol, Pedro, dan Valdes. Rasa-rasanya waktu itu Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol, tinggal kasih satu instruksi sederhana : bermainlah seperti Barcelona. VdB tinggal duduk manis setelah itu, dan hasilnya : juara.

Kemudian di Brazil, Piala Dunia 2014 dimenangi oleh Jerman. Jerman yang sangat kolektif didominasi oleh para pemain Bayern Muenchen, seperti Muller, Lahm, Kroos, Neuer, Gotze, Boateng, dan Schweinsteiger. Kekompakan para pemain itu di level klub bisa tertular ke timnas, sehingga lebih mudah untuk menciptakan kohesi dan chemistry, lalu sukses membawa Jerman ke pencapaian tertinggi di tahun itu.

Dua negara itu, Spanyol di 2010 dan Jerman di 2014, memiliki satu kesamaan yang menarik, yaitu Liga lokal negara-negara itu sedang didominasi oleh tim yang dilatih oleh satu orang yang sama : Josep Guardiola. Ya, Pep adalah pelatih Barcelona di 2010, yang baru saja memborong 6 tropi di awal musim, dan kembali jadi juara liga di akhir musim. Pep juga pelatih Bayern Muenchen di tahun 2014, dimana Pep selalu dominan di Bundesliga meskipun selalu gagal di Liga Champion.


Photo by Gareth Copley/Getty Images

Di tahun 2018 ini, kondisi yang mirip kembali terulang, dimana Pep Guardiola sedang melatih sebuah klub yang sangat dominan di Liga lokalnya, padahal dalam beberapa tahun terakhir Liga itu sedang sangat kompetitif dan tak terduga. Pep Guardiola sedang menjadi manajer dari Manchester City, yang baru saja jadi juara Liga Inggris dengan berlari ngebut sendirian meninggalkan para rival di belakang. Pep Guardiola sedang mengubah Liga Inggris menjadi Liga Perancis atau Liga Jerman. Perbedaan yang paling mencolok dibanding dua kondisi sebelumnya adalah bahwa kali ini pemain-pemain kunci Pep di klubnya bukanlah tulang punggung tim nasional. Jika waktu itu di Spanyol dan Jerman diisi 7 pemain dari klub yang sedang ditangani Pep, di Piala Dunia kali ini timnas Inggris hanya dihuni empat pemain Manchester City, yaitu John Stones dan Kyle Walker sebagai pemain belakang, Fabian Delph di tengah (atau belakang), dan Raheem Sterling di depan. Memang Walker-Stones-Sterling adalah starter yang berperan penting, namun di timnas Inggris tidak berperan sebagai otak permainan.

Timnas Inggris tahun ini sebenarnya relatif kurang bertabur bintang jika dibandingkan era-era sebelumya. Pemain yang paling bersinar adalah Harry Kane. Inggris tidak punya superstar macam Messi, Ronaldo, De Bruyne, Neymar, Modric, ataupun Pogba. Namun dalam dua pertandingan awalnya, permainan Inggris yang menang tipis di game pertama melawan Tunisia kemudian bangkit dan sukses menghajar Panama. Memang kemenangan lawan Panama belum terlalu bisa dibanggakan, tapi paling tidak Inggris sudah menemukan ritme yang lebih baik di game kedua mereka. Bisa jadi soliditas lini belakang yang dikomandoi duo Manchester City berperan penting disana.  Menarik sekali untuk melihat game ketiga Inggris nanti ketika menghadapi Belgia yang sama-sama eksplosif, dan sama-sama dipenuhi pemain yang bermain di Liga Inggris.

Jika berpatokan pada pola sejarah, dan memperhatikan kesamaan-kesamaan itu, bukan tidak mungkin Inggris bisa menghapus kutukan mediokrisi yang selama ini menjangkiti mereka di gelaran Piala Dunia, dan melaju cukup jauh. Apalagi didukung dengan permainan kurang meyakinkan dari tim-tim unggulan.

Pep Guardiola bisa menularkan auranya pada Spanyol di tahun 2010 dan Jerman di 2014, maka tidaklah berlebihan jika Inggris yang tadinya dikenal dengan tim medioker meski bertabur bintang, di tahun ini berubah menjadi tim bintang meski berisi pemain-pemain muda medioker. Saya bukan fans timnas Inggris, atau malah bukan fans timnas manapun di Piala Dunia kali ini, tapi melihat tim seperti Belgia dan Inggris bermain bagus dan menang, saya cukup bahagia.

Setelah sekian lama, para fans Inggris mungkin bisa berharap pada Another Pep Effect.

29 Mei 2018

Bisakah Cavaliers Mengalahkan Warriors?


Maka terjadilah sudah, empat tahun berturut-turut final NBA mempertemukan Cleveland Cavaliers dan Golden State Warriors. Saya sendiri cukup sebel, karena sebenarnya menginginkan atmosfir final yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa daya pertempuran kali ini masih merupakan pertarungan Superman versus Superteam itu.

Dibanding beberapa tahun terakhir, NBA tahun ini sebenarnya sangat menarik karena beberapa hal :

Pertama, banyak rookie yang menarik perhatian dengan menjadi orang penting di tim nya. Fultz kurang oke karena cidera, Lonzo Ball tampak bagus sebagai playmaker meskipun kalah mentereng dari Kyle Kuzma si rookie draft pick 27 yang mainnya lebih dahsyat, Jayson Tatum bisa menutupi ketiadaan Gordon Hayward, bahkan mungkin lebih bagus, hingga nyaris mengantar Celtis ke final sekaligus hampir menyamai rekor Kareem Abdul-Jabbar di total poin playoff oleh rookie. Ben Simmons memimpin Sixers menjadi stabil sepanjang tahun, Donovan Mitchell menjuarai dunk contest dan langsung menjadi superstar utama Utah Jazz, Lauri Markkanen jadi andalan Bulls, dan performa meyakinkan dari nama nama seperti Dennis Smith Jr, Bogdan Bogdanovic, dan Josh Jackson.

Kedua, Juara Wilayah yang baru. Timur dipimpin oleh Raptors, dan barat tidak lagi dijuarai Warriors, melainkan Rockets.

Ketiga, persaingan sangat merata. Pertarungan menuju playoff terus terjadi hingga mendekati akhir musim. Satu kali kekalahan saja bisa membuat peringkat melorot 3-4 tingkat. Setiap pertandingan jadi punya arti, dan seru untuk ditonton.

Keempat, Playoffs pun sangat kompetitif. Ya, mungkin pengecualian untuk Raptors-Cavs. Hampir semua pertandingan sangat menarik untuk ditonton, karena sama-sama punya peluang untuk saling mengalahkan. Bahkan final wilayah, baik barat maupun timur, sama-sama harus sampai game 7.


Namun hal-hal menarik itu menjadi kurang mengejutkan ketika akhirnya tim yang bertemu di Final ya itu-itu lagi. Tadinya saya membayangkan apa yang akan terjadi jika Brad Stevens bisa membawa Irving-less Celtics menghadapi Rockets yang dikomandoi CP3, atau paling tidak, penasaran bagaimana defense ketat Celtics dalam membendung badai three points Warriors, atau mampukah Capella atau Tucker menghadang LeBron James. Kini semua harapan itu musnahlah sudah. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa LeBron Thanos James lagi-lagi harus berperang melawan Warriors' Avengers.

Diatas kertas, tidak sulit meramal hasil pertandingan final ini. Skuad inti Warriors tetap sama, dengan dukungan bench yang tidak kalah hebatnya dengan tahun lalu, meskipun kali ini Iguodala sedang cidera. Masalahnya ada di Cavaliers nih. Tahun lalu ketika masih ada Irving saja, Cavaliers tumbang 4-1. Itupun susah payah dalam meraih kemenangan yang satu itu. Nah tahun ini LeBron James tidak memiliki partner yang lebih meyakinkan daripada Irving, apalagi Kevin Love sedang cidera pula. Maka akan sangat sedikit yang meramalkan Cavaliers bisa menang. Bahkan bukan tidak mungkin tahun ini Warriors akan melakukan sweep.

Maka final ini terasa seperti anti klimaks atas serangkaian keseruan yang terjadi sepanjang musim, termasuk Playoffs nya.

Namun sebaiknya kita tidak meremehkan LeBron James begitu saja. Masih ada peluang yang akan membawa Cavs mengalahkan GSW, atau paling tidak menyajikan pertarungan seru.

Pertama, semangat balas dendam. Seperti yang dibilang Pak Guru di sekolah, mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Ini bisa jadi pembakar semangat utama LeBron James dan pengikutnya.

Kedua, tidak mengikuti tempo cepat Warriors. Houston Rockets bisa mengalahkan Warriors di game 4 dan 5 Final Barat salah satunya karena faktor Chris Paul yang mampu mengatur tempo permainan, thanks to kemampuan dribble dan playmaking nya yang super, plus ketenangannya dalam mencetak poin ketika rekan-rekannya yang lain sulit memasukkan bola ke keranjang. Cara ini bisa diadopsi Cavs supaya Warriors nggak seenaknya aja poan poin, shat shoot shat shoot sana sini. Lha tapi siapa yang pegang bola? Mau nggak mau ya LBJ. Siapa yang bakal berjuang cetak poin? Siapa lagi, ya LBJ juga.

Ketiga, LeBron James tetap sehat wal afiat. Most Point : LBJ. Most Assist : LBJ. Most rebound : LBJ top three lah. Most minutes : LBJ. Most block : ya mungkin LBJ juga. Kalo LBJ nggak fit, apalagi cidera, ya selesai.

Keempat, semoga para shooter Cavs bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Masak udah nggak bisa jaga possession, kalah rebound, nggak bisa nge lock musuh, disuruh shoot masih gagal juga? Mbok ya jadi teammates yang berguna. Lha wong sebenarnya Shooternya banyak. Korver, Smith, Green, Hill, Love, dan (lagi-lagi, meskipun nggak terlalu) LBJ. Rockets kalah di game 7 salah satu faktor terbesarnya adalah gagal masuk three point 27 kali berturut-turut. Masuk 4 saja sebenernya udah bisa bikin Rockets ke final. Dikawal roster yang sangat berpengalaman (baca : tua), seharusnya kendala mental pemain Cavs lebih bisa di manage dengan baik.

Kelima, hustle defense. Sepanjang musim, defense Cavs tidak cukup meyakinkan. Peringkat kedua dari bawah!! Rockets yang rating defense nya nomor 6 saja tetep kalah lawan GSW, gimana yang peringkat 29? Tapi tenang, di playoff rating defense Cavs naik ke peringkat 7, mengungguli Rockets, Bucks, dan Spurs. Jadi pada dasarnya Cavs tetap punya kapasitas untuk bertahan ketat yang bikin lawan frustrasi, apalagi Tristan Thompson yang udah balik bisa rebound lagi, dan Larry Nance yang nggak takut berduel dengan mengandalkan badannya yang atletis. Sayangnya Love masih meragukan untuk tampil di game 1. Remember, good offense can win you a game, good defense will win you a championship. Lalu, tim mana yang defense rating nya paling bagus selama playoff? Dia adalah, Warriors. Nah lo.....

Defensive Rating NBA 17/18, Reguler Season :


Defensive Rating NBA 17/18, Playoffs :


Keenam, konspirasi NBA dan bandar judi. Nggak seru kan kalo final NBA cuman 4 game. Ada potensi penghasilan yang hilang dong? Penghasilan bandar judi juga berkurang dong? Makanya jumlah game harus dipertahankan sebanyak mungkin demi makin bertambahnya pundi-pundi kekayaan mereka.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, yang paling saya inginkan dari game ke game di NBA ini adalah drama nya. Entah itu sedih, senang, kecewa, ataupun hyper-excited. Mengingat terlalu banyak kekecewaan yang muncul dari sepakbola, dengan gagalnya Barcelona di UCL, Lazio gagal masuk UCL tahun depan, MU nggak dapet piala apa-apa, dan Arema yang bikin tepok jidat, maka antusiasme mengikuti NBA makin membesar, dan berharap mendapatkan hiburan yang membuat hari-hariku menjadi cerah ceria.

Yah, kans Warriors memang tetap lebih besar untuk menang, dan mungkin itu akan menjadi bekal kuat buat tim lain untuk lebih serius mempersiapkan diri jelang musim depan demi meruntuhkan hegemoni The Avengers ini, karena tampaknya empat (plus satu) pemain terbaik mereka masih akan tetap bermain bersama musim depan. Saya sendiri memberikan respek yang sangat tinggi terhadap para superstar Warriors yang sepertinya meletakkan pencapaian pribadi dan tingginya gaji di tempat yang lebih rendah daripada pencapaian tim secara keseluruhan, untuk membentuk supertim yang hebat secara individu sekaligus padu secara tim. Namun atas nama kebutuhan drama dan kebosanan yang melanda, saya dukung siapapun untuk jadi juara, selama itu bukan Golden State Warriors.



Btw, disarankan untuk menanggapi poin keenam diatas dengan tidak serius.

27 Mei 2018

Bukan Saat Yang Tepat Untuk Berbahagia (Fans Barcelona Lagi Ngomel)

Ini adalah masa-masa sulit sebagai Fans Barcelona. Bahkan domestic double pun tidak mampu mengurangi kemuramannya.
( gambar dari : sini )

Yang harus disalahkan pertama adalah Pep Guardiola. Dia bersalah karena sempat meletakkan standar yang begitu tinggi dan ideal yang nyaris tercapai. Guardiola lah yang bertanggung jawab pada permainan kolektif yang sangat menghibur, dan membawa Barcelona menjadi tim yang dominan, merajai dunia, serta menjadi standar bagaimana sepakbola itu harus dimainkan. Dalam prosesnya, Guardiola membangun pondasi permainan tim dari pemain-pemain yang berasal dari akademi sendiri, sekaligus mempersiapkan beberapa pemain lain dari La Masia untuk diharapkan menjadi pemain kunci di masa yang akan datang. Permainan menghibur, bintang-bintang besar, diisi pemain akademi sendiri, dominan, dan prestasi yang terus mengalir yang juga berarti banyak penghasilan untuk klub, sebuah kombinasi yang mengundang banyak orang untuk mencintai, yang datang dengan ekspektasi sangat tinggi, tanpa sadar bahwa kondisi seperti itu belum tentu datang 10 tahun sekali. Standar tinggi itu selalu terpatri di benak mayoritas fans Barcelona, sehingga sulit menjadi bahagia dan dibahagiakan. Bayangkan, Luis Enrique berhasil membawa Barcelona mendapatkan treble, tapi banyak yang memintanya untuk dipecat. Valverde sukses mendapat gelar La Liga dan Copa Del Rey, tapi hashtag #ValverdeOut juga merebak bahkan sejak tengah musim, padahal sepanjang musim hanya sekali kalah di Liga.

Yang bersalah kedua adalah Real Madrid. Ya tentu saja dari kacamata fans Real Madrid ini bukanlah kesalahan. Terbayang betapa ringannya jadi fans Real Madrid. Sepuluh tahun hanya dapat satu gelar Liga adalah hal yang biasa saja, toh semua tertutupi dengan empat gelar Liga Champion dalam 5 tahun terakhir. Barcelona dapat tujuh, lho. TUJUH. Tujuh banding satu ya lumayan lah ya. Bandingkan dengan Liga Champion, dalam 10 tahun terakhir Barcelona bisa mengumpulkan tiga, dibandingkan dengan empat milik Madrid. Tidak terlalu jauh memang, tapi Madrid melakukan itu dengan dahsyat, karena tiga diantaranya berturut-turut, ditengah mitos sebelumnya bahwa sekedar mempertahankan juara saja sangat sulit. Bahkan (arguably) The Best Barcelona in history saja empot-empotan dalam mengejar itu tanpa pernah meraihnya. Dalam rentang 10 tahun itu pula, Barcelona meraih dua treble, yang salah satunya sapu bersih seluruh kompetisi lainnya. Itupun bukan hal yang istimewa-istimewa amat di mata fans Barcelona, selama mereka tidak bermain dengan indah, dalam standar masing-masing tentunya. Perbedaan standar kebahagiaan ini membuat hidup fans Barcelona sebenarnya dipersulit sendiri. Ya, saya juga.

Ketiga, faktor Zinedine Zidane. Awalnya banyak yang menganggap bahwa Zidane akan menjadi Guardiola-nya Madrid. Legenda di timnya, pernah menanangani tim junior, lalu membawa tim senior menuju kejayaan. Bedanya kemudian, Zidane lebih terlihat menonjol dalam man management yang mampu membuat para pemainnya percaya dan mengeluarkan kemampuan optimalnya, namun tidak mencatatkan identitas pada pola permainannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kelemahan, tapi lama-lama bisa jadi itulah kelebihannya. Semua lawan Real Madrid selalu menduga apa yang akan dilakukan Zidane, bisa baik dan juga bisa buruk. Bahkan di kalangan fanbase, termasuk fanbase Real Madrid sendiri, Zidane tidaklah dikenal sebagai tactical genius. Tadinya sayapun meremehkan kemampuan Zidane, dan menganggap kejayaan Real Madrid di Liga Champion banyak didukung faktor kebetulan. Tapi kalo bisa konsisten meraih juara hingga empat kali dalam lima tahun, keyakinan terhadap kebetulan tersebut harus dipertanyakan. Mungkin Zidane sengaja menjebak pikiran semua orang bahwa dia agak abal-abal, tapi kemudian menghajar siapapun yang meremehkan dia.

Keempat, Cristiano Ronaldo. Untuk sebagian fans Barcelona, perbandingan Messi vs Ronaldo tidak pernah ada, karena sekedar dibandingkan aja udah nggak pantes. Messi sejak awal sudah tak tertandingi tak sekedar karena kemampuannya mencetak gol, tapi juga memahami permainan, kemampuan memberikan assist, kebisaan playmaking khas La Masia, dan membawa timnya menjadi dominan siapapun yang ada di sekitarnya, bahkan dengan mengisi posisi yang berbeda-beda. Ibaratnya, ketika ada yang menganggap bahwa Ronaldo bisa disejajarkan dengan Messi, maka orang itu sudah dianggap beda "agama" dan pemahaman dalam sepakbola, sehingga debat tidak perlu dilanjutkan karena hanya akan meributkan "keyakinan", dan nggak bakal ada ujungnya. Sayangnya, Ronaldo pernah berprestasi besar dengan negaranya dengan meraih Piala Eropa, meskipun di final dia hanya berjuang dari pinggir lapangan. Sementara Messi yang membawa timnya yang semenjana menuju final turnamen penting tiga kali berturut-turut tetap dianggap fraud karena selalu gagal menjadi juara. Ronaldo juga berhasil menyamai raihan Ballon D'Or Messi, sehingga tema ini tidak lagi bisa jadi bahan untuk disombongkan. Di saat yang sama, ketika Messi sudah melewati Ronaldo dalam meraih sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak eropa, hal itu menjadi hal biasa saja, padahal seharusnya ini juga membuktikan bahwa "Ronaldo is the better scorer" tidak lagi valid. Lagi-lagi semua agak tertutup kenyataan ketika Ronaldo sudah memegang lima piala Liga Champion, sementara Messi baru tiga. Nah, ketimpangan antara keyakinan dan tulisan raihan itu cukup mengganggu tidur malam hari.

Kelima, barisan pengurus Barcelona. Well, yang ini lebih serius sekaligus mengawang-awang, karena sumber informasinya hanya dari berita. Dulu, jaman Real Madrid mengumpulkan para superstar sehingga akhirnya dijuluki Los Galacticos, Florentino Perez dianggap hanya mementingkan marketing tim tanpa benar-benar mengejar prestasi. Buktinya, pemain yang dibeli adalah para pemain bintang, tapi prestasi biasa saja, tidak istimewa. Tapi sekarang berbeda, ketika filosofi Los Galacticos tidak lagi dianut, Real Madrid justru banyak percaya pada pemain muda yang sebagian berasal dari akademi sendiri, dan banyak merawat pemain asli Spanyol, dengan otak permainan tetap bertumpu pada pemain tengah yang mampu mendikte permainan dan sangat hebat dalam mempertahankan bola. Sebuah filosofi yang "sangat Barcelona". Lalu lihatlah Barcelona sekarang. Semua dimulai dengan dijualnya Thiago ke Bayern Muenchen. Bukan benar-benar dijual sih, tapi klausul kontrak menyatakan bahwa release clause Thiago cukup rendah, namun akan menjadi tinggi jika memenuhi jumlah jam main tertentu. Kemudian Thiago jarang dimainkan, dan dia bebas memilih bermain di manapun, karena jelas tawaran yang datang tidak sedikit. Kemudian bertahun-tahun kemudian disusul dengan lepasnya Dani Alves yang ketika keluar menyatakan kekecewaannya pada pengurus. Lalu Xavi, lalu Iniesta, tanpa benar-benar direncanakan siapa yang akan meneruskan tugas mereka yang tadinya menjadi nyawa permainan indah Barcelona. Entah apa yang akan terjadi di Barcelona kelak ketika Messi tak lagi disana. Lalu Sandro Rosell dipenjara sehubungan dengan proses transaksi Neymar, posisinya sebagai Presiden diganti Bartomeu. Di 2015, mengingat prestasi Barcelona yang masih mentereng, Bartomeu kembali terpilih menjadi Presiden mengalakan Joan Laporta, sebuah hasil yang diprediksi banyak pihak akan membawa Barcelona menuju kemunduran dalam beberapa tahun ke depan. Awal musim 17/18 sesungguhnya sudah bisa menjadi tolak ukur dimana Barcelona hanya memperkuat lini tengahnya dengan pemain yang pernah gagal di Inggris, dan kemudian menjalani karir di Liga Cina, tanpa menghadirkan pemain tengah yang mampu menjadi pengatur permainan ala Xavi atau Modric. Padahal telah muncul beberapa nama, salah satunya Jean Michael Seri yang pada akhirnya juga gagal didaratkan di Camp Nou. Sementara Real Madrid yang tahun sebelumnya menjadi double winner justru dianggap memiliki skuad yang sangat lengkap dan seimbang. Superstar yang siap jadi starter, dan sekumpulan anak muda potensial yang tidak keberatan dicadangkan, tapi siap meledak ketika diperlukan. Real Madrid diprediksi akan dominan, sementara Barcelona adalah underdog. Sebuah posisi yang terbalik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tapi ya sudahlah, inilah kenikmatan menggemari sepakbola. Apalagi dengan rivalitas sengit seperti ini, drama yang dihasilkan cukup mengaduk-aduk perasaan, itu yang paling penting. At least Barcelona kembali punya tujuan besar untuk dikejar. Kalo lagi maen Football Manager, masih ada sembilan musim lagi untuk semangat menyalip raihan Liga Champion. Kembali dominan seperti era Guardiola tampaknya terlalu berlebihan dan hanya menjadi semacam ilusi, yang penting menjaga agar tetap kompetitif dan semoga dipersiapkan dari sekarang jika kelak Messi pensiun. Liga domestik adalah uji konsistensi, Liga Champion adalah uji eksplosifitas. Terbukti Real Madrid belum konsisten untuk menjadi eksplosif di tangan Zidane meskipun dikawal pemain-pemain dengan nama besar, hal ini bisa dilihat dari hebatnya Real Madrid di Liga Champion, tapi sering kalah atau seri di La Liga melawan tim-tim kecil. Namun Barcelona juga gagal untuk menjadi eksplosif di sejumlah kecil pertandingan, tapi di masa yang sangat krusial, seperti ketika melawan AS Roma di Olimpico. Musim depan akan menjadi tes yang baru lagi, dengan kemungkinan drama yang baru pula. Saingan utama Barcelona masih Real Madrid, baik di Spanyol maupun Eropa. Mungkin akan ada Bayern Muenchen, Manchester City, Juventus, atau PSG, tapi masih sedikit tertinggal di belakang duo tim Spanyol ini. 

Momen-momen seperti inilah makin membuat saya jatuh cinta pada sepakbola.

Enjoy the moment, salam olahraga.

11 Juni 2017

Cowok Juga Butuh Drama


Drama /dra·ma/n Sas1 komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan: dia gemar menonton --;2 cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater; 3cak kejadian yang menyedihkan;
- (KBBI) -

-----------------------------------------------------------------

(sumber : Fear The Sword)

Diakui atau tidak, we all love drama. Bener ga?

Ketika saya sebut kata drama, apa yang ada di pikiran Anda? Tangisan lebay? Sejam lagi pesawat anda berangkat dan sekarang masih macet di tol? Atau kisah cewek baik hati dan tidak sombong dari keluarga miskin yang diperistri laki-laki kaya tampan dan jantan hingga membuat seorang wanita lain yang luar biasa cantik dan bohay menjadi iri dengki dan sering bicara sendiri dalam hati dengan mata melotot dan alis naik turun?

Bisa saja. Itu tidak salah.

Namun, dalam benak saya, drama adalah kejadian yang melibatkan emosi yang intens, apapun jenis emosinya, baik sedih, bahagia, kaget, was-was, ataupun jijik. Apapun.

Maka, berdasarkan yang saya rasakan, Laki-Laki juga butuh drama. 

Paling tidak, SAYA butuh drama. 
Dan saya laki-laki. 
Kesimpulannya : Laki-laki butuh drama. 
Generalisasi yang sangat cerdas bukan?

Enggak?

Oke.

Lama sekali saya nggak nonton sinetron. Atau malah lama sekali saya nggak benar-benar menonton acara yang disiarkan oleh stasiun televisi. Sinetron terakhir yang saya ikuti betul adalah Para Pencari Tuhan sekitar tiga tahun lalu. Dan acara televisi non-olahraga terakhir yang dengan penuh kesadaran dan keinginan kuat saya tonton adalah : lupa. Saya lupa terakhir nonton apa dan kapan.
Namun saya merasa cukup banyak drama yang saya rasakan dari televisi dan juga media lainnya. Tanpa musti nonton sinetron.

Drama itu saya dapatkan dari : aneka acara olahraga.

Valentino Rossi seharusnya bisa meraih gelar juara yang ke tujuh di balapan terakhir musim itu. Namun start dari posisi terakhir akibat sanksi dari balapan sebelumnya membuat misinya sedikit terhambat. Kemudian menjadi sangat sulit ketika Marquez yang biasanya ngotot dan ngeyel tiba-tiba jadi lembek dan terkesan mengalah pada Lorenzo. Lalu Lorenzo jadi juara. Padahal Rossi lah yang paling stabil selama musim itu. Dan Rossi adalah kesayangan banyak penggemar MotoGP. Media pun menuduh ada konspirasi. Bahwa Marquez membantu Lorenzo secara tidak sportif. Ada yang sedih, marah, kecewa, ada juga yang bahagia dan lega. Saya termasuk yang terakhir itu.

Tahun 2002, Final Piala Thomas, Indonesia melawan Malaysia.
Marlev Mainaky dan Taufik Hidayat yang jadi andalan Indonesia ternyata gagal memenuhi ekspektasi. Untungnya dua ganda putra kita menang. Tibalah partai terakhir, giliran Hendrawan melawan Roslin Hashim. Sepanjang waktu deg-degan, hingga akhirnya Hendrawan banyak memaksa lawan untuk membuat kesalahan, dan memenangkan pertandingan itu. Indonesia juara Piala Thomas untuk ketiga belas kalinya. Hendrawan diarak, dan menangis. Bangga, lega, bahagia. Mungkin sebaliknya untuk warga Malaysia waktu itu.

Mike Tyson pada masanya adalah ikon besar yang sangat terkenal. Tak lengkap ngobrol tinju tanpa menyebut namanya. Sedangkan Holyfield adalah petinju berpengalaman yang juga punya nama besar. Ketika dua orang itu dipertemukan, semua mata di seluruh dunia tertuju kesana. Semua orang memiliki ekspektasi yang tinggi. Lalu apa yang terjadi? Serukah pertandingan itu? Ya, sangat seru. Namun bukan itu yang bakal dikenang sepanjang masa. Masalahnya adalah, Tyson menggigit kuping Holyfield. MENGGIGIT. KUPING. Aneh ga? Kaget, heran, jijik, terhibur.

Camp Nou, 1999. Menit ke 90.
Manchester United tanpa Roy Keane dan Paul Scholes dari awal, sedang ketinggalan 1-0 sejak menit ke enam. Tak banyak yang menduga, tiba-tiba bola itu masuk ke gawang Bayern Muenchen yang dijaga Oliver Kahn, melalui kaki Teddy Sheringham. Seri di injury time!!! Kemudian seluruh penjuru dunia yang menyaksikan pertandingan itu kembali tersentak, ketika dua menit setelah gol itu terjadi gol satu lagi dicetak oleh Ole Gunnar Solskjaer. MU membalikkan kondisi dan menang dengan skor 2-1 hanya dalam rentang waktu 3 menit. Shock, bahagia, kecewa, lega, deg-degan, euforia. Kemudian saya mulai menyukai sepakbola.

Final Liga Champion yang lain, 2014. Diego Costa yang jadi andalan Atletico Madrid harus keluar karena cidera, di awal-awal pertandingan, Dia memang dipaksa maen padahal sedang cidera. Menit 36, Cassillas yang salah posisi harus dihukum dengan gol yang tercipta akibat sundulan Diego Godin. Menang 1-0 dan kemudian bertahan total adalah keahlian Atletico Madrid kala itu. Maka menjadi tugas berat untuk Real Madrid untuk meraih gelar ke 10 yang sudah ditunggu sekian lama. Namun di menit 93, tiba-tiba muncul Sergio Ramos yang mencetal gol penyama kedudukan dan memaksa pertandingan lanjut ke babak tambahan. Kondisi fisik yang lelah, plus mental yang sedang down, melawan Real Madrid yang justru lagi semangat-semangatnya membuat partai itu tidak lagi berimbang. Skor akhir 4-1, Real Madrid akhirnya meraih La Decima. Tegang, bahagia, dan euforia. Tapi itu untuk fans Real Madrid. Saya fans Barcelona, dimana mendengki prestasi Real Madrid adalah menjadi bagiannya.

Liga Inggris adalah Liganya tim-tim kaya raya yang diisi pemain-pemain bintang berskill tinggi dan bergaji mahal. Tapi tengoklah klasemen akhir musim 2015/2016, yang juara adalah : Leicester City!!! Tepat setahun sebelumnya, tim ini adalah pejuang penghindar degradasi. Duit transfer yang tersedia ga ada apa-apanya dibanding yang disediakan Chelsea, City dan MU. Namun prestasi gemilang itu mampu membuat nama Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan Ngolo Kante naik daun, menjadi pemain top dunia, berasal dari tim semenjana dengan prestasi luar biasa. Skenario yang biasa kita mainkan di Football Manager untuk membawa sebuah tim semenjana jadi juara, terwujud di dunia nyata berkat tim yang dilatih Ranieri ini.

Final NBA 2016.
Golden State Warriors adalah tim hebat yang baru saja mencetak rekor reguler dengan 73 kemenangan sepanjang musim. Hampir semua pemain punya keahlian shoot 3 point yang jitu. Stephen Curry dan Klay Thompson adalah duo mantan juara three point yang bekerjasama dengan sangat manis. Lawannya adalah Cleveland Cavaliers yang tahun lalu kalah di final dari mereka juga, meski ada LeBron James yang dianggap pemain aktif terbaik sedunia. Saat itu adalah game ke 5, posisi 3-1 untuk Warriors. Sekali menang lagi, juaralah Warriors, tumbanglah Cavaliers. Tak dinyana, LeBron James kesurupan, memimpin timnya memenangi game ke 5 itu. Lalu terus memenangi 2 game selanjutnya. Cavaliers juara. Tidak ada yang menduga. Setelah kalah 3-1 duluan. Lawan tim sekuat Golden State Warriors. Heran, kaget, bahagia, dan ada yang kecewa.

Itulah drama. Betul-betul menguras emosi secara intens melalui kejadian asli yang sedang terjadi, meskipun ada saja yang berfikir bahwa mungkin ada setting tak terlihat disana sini. Whatever.

Drama seperti itu membuat acara olahraga sangat menarik untuk dinikmati.

Meskipun saya fans Barcelona, saya tidak menikmati apabila Barcelona sedang mendominasi dan keseringan menang disana-sini jauh meninggalkan rivalnya. Saya lebih suka musim ini, ketika Real Madrid yang tidak stabil itu tampak seperti ingin mengaspal jalan Barcelona untuk jadi juara Liga dengan beberapa kali seri di pertandingan yang seharusnya dimenangkan dengan mudah, namun Barcelona kemudian memilih untuk lewat jalan makadam, karena juga ikutan kehilangan poin penting di pertandingan-pertandingan yang juga seharusnya bisa dimenangkan. Barcelona tidak juara, tapi sepanjang musim ada hal menarik untuk diikuti. Kecewa, berharap, bahagia, dan kemudian kecewa lagi, itu serangkaian emosi yang mengaduk-aduk perasaan dan kadang terbawa hingga tidur malam, bahkan ketika bangun esok hari.

Hysteria ketika Lazio memastikan gelar juara Liga Italia di menit terakhir pertandingan terakhir, yang diwarnai merangseknya ribuan penonton ke tengah lapangan hingga membuat para pemain nyaris telanjang, ternyata melekat di kepala dalam jangka waktu lama. Kesenangan karena permainan cantik dan prestasi juaranya ya, bukan karena Veron yang nyaris telanjang.

Nikmat dan pedihnya perasaan yang diaduk-aduk karena drama-drama itu sangat adiktif. Membuat hidup terasa sepi ketika memasuki bulan-bulan Mei sampai Juli ketika liga sepakbola internasional, NBA, dan gelaran Motogp sedang libur.


Sabtu lalu, Cavaliers akhirnya memutus catatan selalu menang Golden State Warriors di Playoff musim ini. Meskipun tahun lalu Cavs sukses mencatat sejarah dengan membalikkan keadaan paska kalah 3-1 di final, tahun ini kondisi itu diramalkan bakal sangat berat diulang, mengingat karena bergabungnya satu orang super di tim yang udah super. Orang itu adalah Kevin Durant.
Bergabungnya Durant ke Warriors adalah drama besar pertama musim ini. Ketika musim lalu Thunder nyaris mengalahkan Warriors di final wilayah barat, sebenarnya musim ini adalah kesempatan besar buat Thunder untuk bisa melenggang ke final NBA dengan penyempurnaan sana sini. Di artikel sebelumnya bahkan saya cukup optimis ada tim lain yang akan mampu menggoyang hegemoni Warriors. Eh, lha kok tulang punggung Thunder malah bergabung di tim super yang tulangnya udah kebanyakan. Buat saya dan banyak fans NBA lainnya, ini nggak fair. Kesannya Durant ini penakut, kalo ga bisa kalahin Warriors ya join aja. Gitu.
Padahal jika menggunakan sudut pandang Durant sendiri, ga ada yang salah sebenernya. Ada tim yang berisi orang-orang yang memainkan basket secara keren, dia sendiri lagi free , dan ada kesempatan join karena masalah salary cap clear, so why not? Durant hepi, tim barunya hepi, ga ada kesepakatan yang diingkari, ga ada masalah sih sebenernya.

Tapi...

Durant itu world best three lah menurut saya. Dia punya kapasitas untuk membawa tim medioker menuju kejayaan dengan dia sebagai intinya. Sebuah hal yang dilakukan oleh pemain-pemain top NBA dalam sejarah. Sebagaimana Tim Duncan membawa Spurs, Michael Jordan membawa Bulls, Kobe Bryant membawa Lakers, dan LeBron James membawa Cavaliers. Dengan pindah ke warriors, Durant seperti merendahkan dirinya sendiri, menjadi pemain yang hebat, tapi nggak pake banget. Pemain hebat join ke tim hebat, lalu juara, ya wajar, apa hebatnya?
Lihat saja di 3 game awal final NBA. Cavaliers terlihat sangat meyakinkan. Meyakinkan untuk menjadi runner up NBA setelah dikalahkan 4-0.
Game 3 itu adalah drama pertama di final. Cavaliers untuk pertama kalinya tampak seperti mulai bisa mengimbangi Warriors. Jika di game 1 dan 2 Cavs susah banget untuk menyamakan skor, di game 3 mereka memimpin dalam jangka waktu yang lama. Sayang sekali menjelang akhir pertandingan, Korver yang dapat tugas memperlebar jarak keunggulan gagal mengeksekusi 3 point, yang kemudian dibalas dengan fastbreak yang diakhiri dengan 3 point Durant. Kurang ajar emang ini orang. Benar-benar faktor pembeda musim ini. Walhasil, Cavs gagal menang, dan skor jadi 3-0. Drama. Drama atas kisah perjuangan yang NYARIS menang. Tapi nggak jadi. Dramatis kan? 

Game 4 kemarin itu adalah drama kedua. Drama game 4 itu dimulai dengan performa ngotot Cavaliers dari sejak awal pertandingan, yang mengakibatkan skor nya sangat tinggi, rekor poin dalam satu kuarter di final NBA sepanjang masa, plus 3 pemain Warriors yang dapet 2 fouls. Ini penting.
Cavs sepertinya akan susah membendung offense Warriors, jadi daripada konsentrasi memperkuat defense, Cavs justru menaikkan intensitas dalam offense. Ndilalahnya, tangannya pada wangi. Akhirnya mereka mencetak rekor 3 point terbanyak di final NBA, dengan memasukkan 24 kali. Hebat. Intens. Dari kemarin kek....

Satu kemenangan ini buat saya cukup dramatis. Pertama karena mereka batal di sweep sama Warriors, sekaligus menggagalkan catatan 16-0 di playoff yang pertama kali dilakukan oleh tim di NBA. Kedua, karena Cavs menunjukkan potensi yang sesungguhnya mereka bisa, dengan berbagai cara, termasuk bermain keras dan sedikit pengaruh dari wasit yang bisa diperdebatkan untuk dikritisi.
Ketiga, potensi untuk drama selanjutnya tetap terbuka.
Musim lalu itu sangat dramatis. Cavs bisa menang dari tim hebat yang mencatat rekor 73 kemenangan di musim reguler, bahkan setelah ketinggalan 3-1, adalah drama besar yang layak untuk diceritakan selama bertahun-tahun. Lha tahun ini kondisinya makin ekstrim. Tim supernya ditambahin pemain super. Jadi super kuadrat dong seharusnya.
Jadi kalo Cavs bisa membalikkan keadaan, yang mana itu adalah hal yang tampaknya amat sangat sulit sekali, maka kadar intensitas dramatisasinya akan meningkat tajam dibanding tahun lalu.

Jadi, saya memprediksi Warriors akan tetep juara, mengingat luar biasanya tim ini. Ada 4 pemain all star, secara individu jelas hebat. Secara tim mereka juga kompak dan dinamis, dengan pergerakan tanpa henti dan salah satu tim dengan assist terbanyak. Defense juga ketat, dikomandoi Draymond Green yang berenergi. Ketika waktunya rotasi, pemain cadangannya juga kuat, terbaik di NBA musim ini, mungkin juga terbaik sepanjang masa. Ketika upaya-upaya itu macet, kasih aja ke Curry atau Durant. Benar-benar susah dihentikan.

Tapi, harapan saya adalah Cavs (lagi-lagi) menyajikan drama, dengan intensitas yang lebih besar. Dengan permainan ngeyel berintensitas tinggi dan adu fisik, terbukti mampu membuat Warriors goyah juga. Jadi, sesuper apapun timnya Steve Kerr itu, masih ada celah yang bisa diserang. Jika ada satu orang yang mampu memimpin timnya untuk melawan tim yang bisa jadi adalah tim terbaik NBA sepanjang masa, orang itu adalah LeBron James. Dengan sudut pandang berbeda, perlu ada sebuah tim hebat pemegang rekor kemenangan terbanyak yang sudah dihuni oleh lebih dari satu pemain all star, dua juara 3 point contest, kandidat defensive player of the year, dan masih ditambah dengan akuisisi satu orang lagi pemain super hebat, untuk mengalahkan seorang LeBron James yang sudah berusia 32 tahun. Begitulah kira-kira gambaran hebatnya orang ini, meskipun tak bisa dipungkiri pentingnya pemain yang ada di sekitarnya.

Lalu, untuk sekedar melanjutkan skenario harapan itu dan kehausan saya akan drama, akan menjadi menarik apabila musim depan Durant akan kembali ke Thunder, disusul James Harden dan Serge Ibaka, untuk bergabung kembali dengan Westbrook yang makin dewasa, membentuk tim baru (tapi lama) yang super, menuntaskan harapan publik yang beberapa tahun lalu optimis pada masa depan Thunder. Cavaliers, Warriors, bisa lewat semua.

Skenario drama yang mantap.

Well, Cowok juga butuh drama, kan?

19 Juni 2016

LeBron Memenuhi Takdirnya : Cavs Akhirnya Juara

Tertinggal 1-3 dari pemegang rekor 73 kemenangan di musim reguler, Cavaliers diramalkan segera takluk dan kembali gagal menjadi Juara NBA. Namun sindiran pedas dari Draymond Green dan Klay Thompson sepertinya menjadi cambuk yang membangunkan Om LeBron James sehingga kemudian menjadi gila dan tampil mengerikan yang secara dominan mengambil alih game 5 dan 6 untuk menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Golden State Warriors punya banyak mesin three point yang bisa menembak kapan saja dimana saja oleh siapa saja. Sebagai pemegang cincin juara bertahan, tentu saja bukan lawan ringan, terbukti dari dominannya GSW di dua partai pertama NBA Final 2016. Namun semua terbalik di game 5 dan 6 itu. LeBron James memimpin para rekannya baik dengan cara mencetak poin, memberi assist, blok penting maupun rebound yang agresif. Maka, game ke 7 menjadi sangat seru.

 Cleveland Cavaliers, 2016 NBA Champions
(sumber : NBA.com)

Dan itulah yang terjadi. Sejak awal pertandingan, kejar mengejar skor sangat ketat. Nyaris tidak ada lagi dominasi satu tim atas tim lainnya. Cideranya Andrew Bogut rupanya cukup mempengaruhi kekuatan GSW di dalam, sebagai sebuah kondisi terbalik dari yang dialami Cavs tahun lalu dimana LeBron harus berjuang sendiri ketika ditinggal Kevin Love dan Kyrie Irving cidera. Stephen Curry tidak tampak seperti dirinya ketika bermain stabil di musim reguler. Banyak shoot yang ragu-ragu dan gagal menambah poin, mungkin saja dia bermain sambil menahan cidera. Shumpert yang tampak tidak-ngapa-ngapain-tapi-tetap-dipasang-terus diberi tugas khusus untuk selalu mengganggu Curry supaya nggak shaat shoot shaat shoot melulu dari mana saja secara kurang ajar. Terbukti kawalan ini sukses menggagalkan kekurangajaran Curry. Klay Thompson di game ini juga tidak dominan. Yang mengerikan adalah Draymond Green dengan 5 per 5 three point shoot di awal-awal pertandingan. Saya curiga sebenarnya salah satu strategi Cavaliers untuk menghalangi laju GSW adalah dengan men-trade Anderson Varejao ke GSW, karena ternyata di beberapa momen penting, Varejao justru membuat turnover yang menguntungkan Cavs. Strategi yang cukup brilian.

Ya, saya adalah #teamLeBron semenjak dia kembali ke Cavaliers, berbeda ketika saya menjadi #antiLeBron ketika dia sedang berada di Miami Heat. Saya rasa, dengan nama dan kemampuan sebesar dia yang dianggap sebagai Greatest Player of His Generation, LeBron seharusnya tidak kabur dan mencari rumah lain demi perburuan gelar juara. Dia punya beban moral untuk mengangkat timnya untuk mencapai kasta tertinggi. Maka ketika dia insyaf dan kembali berniat untuk membawa Cavaliers ke level yang lebih tinggi, saya mendadak menjadi fans LeBron. Dengan ini, dia layak untuk mulai disejajarkan dengan para legenda seperti Michael Jordan, Kobe Bryant, dan Tim Duncan, lebih hebat daripada Shaquille O'Neal dan Kevin Garnett.

LeBron menjadi pemain yang berbeda sejak kembalinya dia ke Cleveland, karena dia menjadi lebih seperti pemimpin yang tidak lagi mendominasi permainan. Dikelilingi playmaker lincah macam Kyrie Irving, forward handal macam Kevin Love, bigman dominan seperti Tristan Thompson, plus veteran pencari gelar di usia senja semacam JR Smith dan Richard Jefferson, LeBron James mampu menyatukan mereka dan bekerja sebagai sebuah tim.

Untuk menghentikan Curry dan teman-teman penembak jitunya, individual brilliance tidak cukup. Harus ada kekompakan tim dalam meminimalisir peluang menembak jarak jauh, dan intimidasi dalam berjuang beradu fisik. Hasilnya. Curry hanya sukses mencetak 4 three point, dan Thompson hanya sukses mengeksekusi 2 three point dari 10 percobaan. Total mereka berdua menyumbangkan 31 point, jumlah yang tidak bagus berdasarkan standar mereka, ditambah dengan 7 turnover yang tentu saja krusial.

Cavaliers sebenarnya juga ga tajam-tajam amat. Banyak peluang yang gagal di eksekusi termasuk layup LeBron dan 3pt made yang cuma 24%. Tapi dari sedikit 3 point itu, ada satu shoot penting dari Irving yang menentukan di detik-detik akhir, dan block dahsyat LeBron pada Iguodala sebagai bentuk tanggung jawab nya yang baru saja mencetak turnover. Namun eksplosifitas James memang tak tertandingi di game ini. Iguodala yang pada prinsipnya diberi tugas untuk mengganggu James tidak mampu menandingi kekuatan, kecepatan, dan keakuratannya. Apalagi ketika LeBron sukses melakukan switch sehingga dijaga orang lain seperti Thompson atau Curry. Di game ini tidak banyak momen-momen showtime yang potongan videonya bisa diputar berulang-ulang saking kerennya, tapi ketegangan selama pertandingan bisa jadi merupakan partai final NBA terbaik yang pernah saya lihat selama ini. 

GSW adalah unggulan, sebuah tim muda yang diisi para penembak jitu. Bisa memanage sekian banyak pemain untuk bisa menembak jarak jauh dengan tepat dan konsisten adalah kerja Steve Kerr yang patut diapresiasi. Namun, saya pribadi kurang menikmati gaya permainan mereka. Sebagai penggemar NBA sejak era Michael Jordan, saya sangat menikmati permainan cepat dengan aneka pick-n-roll, give and go, alley oop, drive lincah, dan dunk akrobat. Hal-hal yang jarang dilakukan oleh para pemain Golden State Warriors.

LeBron James jelas jadi nama yang menggaransi hiburan itu, meskipun tidak lagi sesering dulu. Kemenangan Cavaliers bagi saya adalah kemenangan basket sebagai hiburan, karena memang banyak hiburan dari permainan mereka, meskipun di musim ini Cavs pernah mencetak rekor sebagai tim dengan three point terbanyak dalam satu pertandingan. Ya, gelar itu justru diraih Cavs, bukan Warriors.

Cavaliers sudah juara, artinya satu lagi sejarah tercipta karena Cavs memang belum pernah merasakannya. Menjadi juga bersejarah karena yang membawa juara adalah anak didiknya. Dan menuntaskan rasa penasaran saya atas gelar juara LeBron James bersama tim aslinya, meskipun jelas tidak ada apa-apanya dibanding rasa penasaran LeBron sendiri.

Saya senang mengikuti perkembangan Cavaliers musim ini, tapi sebenarnya saya lebih mendukung tim lain untuk maju jauh, dan nyaris tercapai tahun ini. Jadi karena Cavs sudah juara, maka musim depan saya ingin mendukung Oklahoma City Thunder bersama trio Kevin Durant-Russell Westbrook-Serge Ibaka nya. 

Semoga OKC melangkah lebih jauh musim depan.

Namun yang lebih penting, semoga NBA semakin menghadirkan banyak hiburan, karena pencapaian yang bisa saya dapat dari NBA ya hanya rasa senang ketika menonton. 

02 Juni 2016

New Premier League's Era. Atau sebuah tulisan panjang dalam rangka menghibur diri.

Setelah saya sudah cukup bisa melupakan Patah Hati karena Pep, alias Pep-tah hati, saya juga harus menghadapi kenyataan bahwa gosip yang gencar sejak lama itu akhirnya terbukti. Manchester United benar-benar mengkontrak Mourinho sebagai manager. Sejak lama saya salut terhadap kemampuan dan prestasi Mou, tapi tidak pernah suka atas pendekatannya pada sepakbola. Dia adalah mbahnya (meskipun sekarang bukan satu-satunya) sepakbola reaktif di 2010-an ini. Benar-benar antidot atas sepakbola inisiatif ala junjungan saya, Pep Guardiola.

(sumber : manutd.com)

Namun ketika mencoba berpikir jernih dengan penuh penyangkalan atas nama kecintaan pada klub idola, maka sebenarnya ini adalah justru saat yang paling masuk akal bagi Mourinho untuk menangani MU. Sebuah alasan paling manis untuk kenyataan yang sangat pahit itu.

Begini.

Musim depan adalah musim yang membuktikan bahwa Liga Primer Inggris adalah Liga paling glamor sedunia. Saya tidak sedang membicarakan Liga terbaik ya, karena lebih baik dibahas pada tema tersendiri. Namun tidak bisa disangkal jika dilihat dari sisi kemewahan, maka sangat sulit untuk menandingi Liga Inggris. Sejak Chelsea tiba-tiba meraih banyak kesuksesan semenjak disuntik dana oleh papa-gula Abramovich, peta kekuatan Liga Inggris menjadi bergeser, dan menggoda investor lain untuk membeli tim pesaingnya, dan kemudian nongol-lah para syekh itu di belakang kebangkitan Manchester City. Kekuatan masif finansial mereka ternyata mampu mengundang beberapa piala ke rumah mereka, meskipun tidak lantas menjadi raja yang sangat dominan. Liga Inggris lah yang membuat harga para pemain di pasar menjadi sangat overprice, karena tim-tim ini mampu membeli pemain dengan harga mahal hanya karena mereka mampu membelinya. Selain PSG, Barcelona, dan Real Madrid, tim-tim di luar Liga Inggris akan sulit menyaingi kemampuan finansial ini, sehingga para pemain yang dianggap punya potensi besar dan sialnya tidak dilirik oleh tim dengan kejayaan historis macam Barcelona dan Real Madrid, akan memilih untuk bergabung dengan tim Liga Inggris yang menjanjikan persaingan ketat, panggung besar, dan uang yang berlimpah.

Setelah beberapa tahun para tim Liga Inggris dengan seenaknya membajak para pemain berlabel bintang ke tanah Britania Raya, maka musim depan adalah waktunya mereka menghadirkan para arsitek yang belakangan terkenal memiliki karir cemerlang dengan kemampuan teknis yang sangat mumpuni. Strategi teknis adalah salah satu hal yang dianggap kurang dari sepakbola Inggris sehingga belakangan kurang mampu bersaing di Eropa, karena itu dengan kedatangan para ahli strategi ini diramalkan akan mendongkrak nilai hiburan dari tontonan Liga Inggris, bukan hanya dari keglamoran para pemainnya, namun juga adu cerdas meramu taktik.

Kehadiran Klopp di Liverpool telah terbukti mampu mengubah aura tim ini secara keseluruhan. Dengan pemain yang relatif sama, Klopp mampu menginstall semangat juang yang setrong sehingga mampu melaju hingga final Piala UEFA meskipun kalah dari Sevilla. Bayangkan jika musim depan Liverpool telah mengkontrak pemain-pemain yang diinginkan Klopp sendiri. Maka terbayanglah wajah perkasa Borussia Dortmund ketika waktu itu menjadi kekuatan top Eropa.

Akan sangat panjang jika saya membahas Pep Guardiola. Tapi intinya adalah, Pep diyakini akan membawa atmosfir yang benar-benar baru baik di klub yang ditanganinya maupun negara tempat timnya berlaga. Ketika Pep melatih Barcelona, Spanyol menjadi juara dunia. Ketika Pep melatih Bayern Muenchen, Jerman juga menjadi juara dunia. Kebetulan kah? Mungkin saja iya. Namun tidak bisa dipungkiri, pemain kunci dua negara tersebut ketika menjadi juara dunia adalah pemain andalan Pep di timnya, dan kebetulan dua negara tersebut bermain dengan tipe permainan yang cukup banyak persamaan dengan gaya permainan Pep. Perlu diingat bahwa taktik dasar Pep di Barcelona dan Bayern Muenchen mungkin sama, tapi dalam perwujudannya, dua tim ini menjalankan cara yang berbeda. Mampukah Pep menularkan semangat itu ke Manchester City, menginstall sebuah sistem baru yang sesuai, membangun winning team, dan kemudian mampu mengangkat derajat timnas Inggris yang kutukupret itu?

Pelatih hebat lainnya yang ikut join di Liga Inggris adalah Antonio Conte. Kesuksesan besarnya dalam dunia kepelatihan adalah membawa Juventus kembali dominan di Liga Italia, dan membangun kerangka tim yang kembali mampu bersaing di Eropa. Di tangan Conte, Juve tak tertandingi di Italia. Bergabungnya Conte di Chelsea adalah sebuah tantangan seru yang menarik, karena Chelsea sedang dalam posisi sebagai tim yang berisi banyak pemain bintang yang sempat ringsek, tapi kemudian diselamatkan oleh Guus Hiddink. Posisi terakhir memang tidak memuaskan, tapi trend nya sedang menanjak.

Meskipun bukan termasuk pendatang baru, Pochettino tidak boleh dilupakan istimewa-nya. Hotspurs yang tidak diisi pemain bintang dunia kelas satu mampu dibawanya finish di atas City, MU, dan Chelsea. Lebih istimewa lagi ketika prestasi itu sekaligus dibarengi dengan diorbitkannya banyak pemain muda yang sangat berkualitas, yang juga berimbas pada supply pemain bagus untuk timnas Inggris. Dengan persiapan yang matang, plus kesempatan bermain di Liga Champion akan menjadi pembuktian Pochettino untuk berbicara di kancah yang lebih besar.

Secara pribadi saya lebih senang jika Arsene Wenger tidak lagi melatih Arsenal, meskipun tidak harus mendepaknya dari manajemen. Mungkin bisa mengisi posisi seperti football director. Karena Arsenal tidak lagi mampu menjadi tim yang tampil meyakinkan dan garang di bawah asuhan Wenger. Liburan sebentar untuk merenung mungkin akan me refresh intuisi nya dalam mengatur taktik, dan membawa sudut pandang baru yang lebih segar dalam melatih. Runner up Liga Inggris memang tidak buruk, tapi lagi-lagi gagal setelah berkali-kali hampir juara ya masak dianggap memuaskan sih? Atau mungkin ya sudahlah, pensiun saja.

Dan tentunya jangan lupakan Ranieri dengan squad Leicester nya yang murah meriah manjur itu. Sempat dikenal dengan julukan Mr. Runner Up, Ranieri malah berhasil jadi juara ketika menangani tim yang sebelumnya berjuang di sekitar garis degradasi. Yang lebih spesial lagi, perlu diperhatikan bahwa pesaing-pesaing Leicester adalah tim-tim yang berisi pemain-pemain bergaji mahal dengan dukungan materi dan support teknik yang sangat canggih. Sebuah cinderella story yang akan selalu dikenang dalam sejarah sepakbola dunia. Namun apakah si cinderella ini akan tetap digdaya musim depan, ataukah hanya akan menjadi one hit wonder saja? Itulah tes yang sesungguhnya.

Nah, dengan adanya serentetan tim dibawah asuhan para pelatih hebat itulah, Man Utd seharusnya tidak tinggal diam. MU WAJIB mencari pelatih dengan kapasitas teruji yang diharapkan mengubah karakter tim secara keseluruhan. Diawal pengangkatannya, Van Gaal diharapkan mampu menginstall filosofi mendasar itu, namun dalam dua tahun kepelatihannya, belum tampak karakter dan keinginan menang yang meyakinkan, meskipun kadang-kadang tampak keinginannya untuk memainkan sepakbola yang menghibur. Tapi ya pemainnya lebih banyak terlihat bingung ga tau mau ngapain. Nyerang ga tajem, bertahan ga kuat. Untung saja masih ada De Gea disana.

Maka ketika Van Gaal dan MU sepakat untuk jalan sendiri-sendiri, itu adalah momentum untuk mengubah arah karakter tim, yang tidak banyak pelatih bisa melakukan itu. MU adalah tim raksasa dengan sejarah panjang dan prestasi menawan, tapi sedang terpuruk dalam mediokrisi. MU berisi pemain-pemain terkenal dengan gaji tinggi, tapi tidak pernah padu dan tanpa guideline yang jelas. MU memiliki reputasi pengusung pemain-pemain muda hasil didikan akademi sendiri, tapi sedang dalam posisi yang tidak terlalu menguntungkan untuk melakukan coba-coba. Harus ada pelatih ber karakter kuat yang siap untuk berkonfrontasi demi sebuah tujuan yang dia harapkan akan dituju. Pelatih yang mampu mengeluarkan potensi terbaik dari setiap pemainnya. Pelatih yang benar-benar dipercaya dengan penuh antusiasme oleh timnya.

Ada berapa pelatih yang sedang menganggur yang memiliki klasifikasi seperti itu? Saya rasa tidak banyak. Seharusnya memang tidak banyak, karena menjadi manajer Manchester United seharusnya memang tidak mudah. Dari sedikitnya pilihan itu, mau tidak mau harus diakui bahwa Mourinho memenuhi sebagian kriteria nya. Mou terbukti pernah meraih banyak piala di tim yang dia tangani, bahkan pernah head-to-head dengan tim yang dianggap terbaik di dunia (bahkan dalam sejarah) saat itu, yaitu Barcelona-nya Pep. Ketika Mou dipercaya timnya, maka Mou akan mampu membawa tim medioker sekalipun untuk berjuang dan menang melawan tim hebat manapun. Porto? Chelsea? Inter Milan? Real Madrid?

Mourinho memiliki beberapa nilai kurang yang membuat saya tidak menyukai caranya melatih, yaitu kecenderungannya untuk bertahan ketika menghadapi tim besar, dan kekurangannya dalam membentuk pondasi filosofi tim dalam jangka panjang. Serta kesukaan dia untuk berbicara banyak di media yang seringkali bernada arogan yang tidak sejalan dengan jiwa sportifitas. Tapi kalau dilihat dari sisi psikologis sebagai penyembuh jiwa-jiwa yang luka, Mourinho adalah salah satu yang terbaik.

Saat ini di MU nyaris tidak ada pemain bintang yang tak tergantikan. Disana tidak ada Ronaldo atau Messi. Rooney yang tadinya adalah maskot kebanggan MU, tidak lagi menjadi aktor paling penting di tim. Jika harus menyebut pemain paling krusial di tim, maka saya akan menyebut David De Gea. Dan sebagai kiper, tentu saja De Gea tidak bisa menjadi dirijen permainan yang menentukan karakter MU. Hal ini akan memudahkan Mourinho dalam menyusun kerangka tim nya nanti. Menjadi manajer MU adalah keinginan Mou sejak lama, sehingga tentu saja Mou sudah memiliki banyak informasi dan hasil pengamatan tentang tim ini. Perlu diingat bahwa Mourinho pernah membawa Real Madrid juara dengan rekor poin tertinggi dan mencetak banyak gol, maka harapan untuk Mourinho bermain menyerang tetap ada. Sejak dulu saya yakin Mourinho cocok untuk melatih tim medioker, dan tidak cocok menangani tim mapan yang elegan. Mou pasti tidak cocok menangani MU yang dulu, tapi sejak musim-musim terakhir Fergie melatih, MU sudah kehilangan ke-elegan-an itu, dan tidak asik lagi untuk ditonton. Di masa sekarang, ketika tidak jelas MU ini mau dibawa kemana dan mau dilabeli karakter macam apa, maka Mou sangat mungkin akan membawa mentalitas tertentu yang membuat MU kembali punya keinginan kuat untuk merangsek ke papan atas Liga Inggris lagi. Mou bekerja paling pas ketika tidak ada superstar di tim, dan seperti itulah kondisi MU sekarang.

Mungkin saya akan tidak merasa terhibur ketika melihat permainan MU nantinya, tapi Mou seringkali punya jawaban-jawaban atas racikan strategi yang dibuat oleh para pesaingnya yang hebat-hebat, maka saya rasa harapan untuk MU kembali menjadi tim kuat yang meyakinkan cukup bisa menghapus kekecewaan itu.

Atau mungkin tulisan sepanjang  ini adalah sekedar cara pribadi untuk menghibur diri sendiri yang terlanjur Pep-tah Hati.