12 April 2013

Jerman Lawan Spanyol, Dan Jerman Lawan Spanyol

Bayern Muenchen vs Barcelona

Borussia Dortmund vs Real Madrid


Bukan skenario yang paling ideal berdasarkan draft saya (yang fans Barcelona ini), karena saya merasa saat ini Bayern Muenchen adalah unggulan pertama di babak semifinal. Muenchen memiliki skuad yang kuat dari belakang sampai depan, dari mas kiper sampai deretan lini depan yang tajam.

Unggulan kedua (di draft saya) adalah Real Madrid, karena kecepatan dan kekuatan serangan baliknya, plus kehebatan Mourinho dalam beradapatasi dengan strategi lawan. Apalagi dengan hasil positif mereka ketika menghadapi Barcelona dalam 4 pertemuan terakhir, maka tadinya saya berharap Barcelona bertemu dengan : Dortmund.

Memang terhitung sebagai partai "aman", sekaligus berharap Madrid menjajal dulu kekuatan Muenchen. Tapi sepertinya skenario yang barusan terjadi ini oke juga.

Muenchen memang kuat, cepat, dan kokoh. Terbayang ketika mereka menyusun rapat barisan pertahanan, kemudian secepat kilat menyusun serangan balik lewat Ribery, Robben, Kroos, maupun Gomez. Untungnya Mandzukic harus absen di leg pertama karena akumulasi kartu, karena peran Mandzukic sebagai defensive forward cukup mengerikan. Lini belakang Barcelona yang belakangan rapuh, kecuali di leg 2 melawan Milan, sangat menggoda para striker cepat yang mematikan. Krisis cidera dan inkonsistensi menjadi concern utama Barcelona dalam usaha merebut kembali piala Champion. Muenchen, adalah tantangan yang sangat jelas kualitasnya. Lolos dari Muenchen, berarti Barcelona sudah menemukan solusi mempertebal baris pertahanan, atau paling tidak mencegah hilangnya possession di detik-detik krusial dengan mempersolid jaringan tiki taka penguasa bola. Barcelona akan kembali menakutkan jika ditambah pertahana tebal dan kokoh.

Jika lolos, sebagai fans Barca saya berharap Barca akan melawan Dortmund, tapi tidak bisa dikesampingkan bahwa El Clasico di final Liga Champion musim ini akan menjadi sangat menegangkan dengan tensi tinggi. Kemenangan Madrid akan menjadi semacam tamparan di muka dan pembalasan dendam atas kekalahan (yang sebentar lagi terjadi) di La Liga. Meraih La Decima dengan mengalahkan rival terbesar akan menjadi kenangan yang sangat manis. Bagi Barcelona, menahan ambisi Madrid meraih gelar Liga Champion ke sepuluh nya akan menjadi kemenangan KO yang sangat telak setelah sebelumnya (akan) mengalahkan perburuan gelar juara Liga Lokal.

Dan jika akhirnya bertemu Dortmund di final, akan menjadi tontonan yang menarik, karena Dortmund yang dalam prediksi saya adalah unggulan terbawah di babak semifinal ini, memiliki banyak hal untuk bisa memberi kejutan bagi Barcelona.

Tapi jika Barcelona tidak bisa lolos dari hadangan Muenchen, yaaaa sudah. Emmm, tapi kayanya lolos sih. Aamiin. Ini lebih ke doa dan harapan ya.

Di tempat lain, pertemuan Dortmund dan Real Madrid adalah pengulangan babak penyisihan grup, dimana Madrid lolos di peringkat kedua, dibawah Dortmund. Meskipun pernah kalah, saya yakin Mourinho akan cepat beradaptasi dan memikirkan strategi untuk memetik hasil positif di semifinal kali ini. Prediksi saya, Real Madrid akan lolos. Doa saya, Dortmund yang melenggang. Suara Fans Barca versus Suara Fans Sepakbola.

Yang menarik lainnya, ini adalah penegasan dominasi sepakbola Spanyol dan Jerman yang memang sangat menjanjikan akhir-akhir ini. Berkembangnya para pemain muda dengan skill, filosofi dan visi bermain yang matang menjadi cerminan proses pengembangan pemain muda yang berhasil di dua negara itu. Sistem yang mungkin perlu ditiru oleh negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, dan Argentina. 

Indonesia? Ya kalo mau sih bisa. Tapi yaaa.... Sudahlah...

30 Maret 2013

Mengidolakan Figur, Cara Termudah Menyukai Dunia Baru

Saya rasa, cara paling mudah untuk mulai menyukai sebuah olahraga yang menurut kita baru, adalah dengan mengidolakan figur atlit nya. Pertama kali saya suka basket karena melihat aksi Michael Jordan di Chicago Bulls. Pertama kali suka badminton karena kesuksesan Susi-Alan mengawinkan emas olimpiade. Pertama saya menyukai Formula 1 karena ketangguhan Mika Hakkinen menghadang Michael Schumacher. Pertama kali benar-benar tertarik pada MotoGP karena kiprah Valentino Rossi yang menjanjikan duel ketat meskipun start dari posisi tengah. Awal-awal saya menikmati tontonan sepakbola juga karena figur. Beberapa diantaranya adalah Ronaldo dan Zinedine Zidane.

Ketika SMA, cukup banyak teman-teman cewek saya yang melek bola. Bahkan beberapa diantaranya justru jadi tempat saya bertanya. Mayoritas karena mengidolakan figurnya. Saat itu yang paling terkenal adalah tiga orang bernomor punggung tujuh yang memang level kegantengannya hanya sedikit di atas saya. David Beckham di Manchester United, Raul Gonzales di Real Madrid, dan Andriy Schevchenko di AC Milan. Jarang sekali saya temui teman cewek yang mengidolakan Ronaldo atau Ronaldinho.

Dari kekaguman personal ini ada yang sangat fanatik sehingga kemudian menyukai setiap tim tempat sosok tersebut bergabung. Seperti misalnya ada fans Chelsea yang kemudian memperhatikan Inter Milan dan Real Madrid ketika Jose Mourinho pindah kesana. Atau sebagian fans Manchester United yang ikut mengidolakan Real Madrid karena faktor David Beckham atau Cristiano Ronaldo.

Namun banyak juga yang memulai dengan menyukai figur lalu kemudian tergiring perhatiannya untuk sedikit demi sedikit mencari hal-hal yang berhubungan dengannya, seperti latar belakang, riwayat masa kecil, interests-nya, dan di klub mana dia dikontrak serta alasan kenapa dia ada disana. Figur menggiring pada klub, sehingga kemudian mulai muncul fanatisme pada klub atau tim tertentu. Fanatisme itu bisa berupa mencintai, bisa juga membenci. Seperti saya yang dulu begitu mengidolakan Manchester United dan membenci Inter Milan. Ketika mulai mencintai sebuah klub atau tim, maka hampir secara otomatis akan ikut mengidolakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Those who loves Michael Jordan will loves Scottie Pippen, Dennis Rodman, and Phil Jackson too. Fans MU mungkin pernah merasakan kehilangan Jaap Stam dan David Beckham, dan mungkin juga pernah "terpaksa" menyukai Cristiano Ronaldo.

Bisa juga kesukaan pada figur selanjutnya membawa kita menyukai bidang yang dia geluti lebih dari sekedar fanatisme pemain atau klub. Betapa nikmatnya pernah menyaksikan pertarungan Rooney dan van Persie yang kemudian justru menjadi teman satu tim. Betapa asiknya menyaksikan Cristiano Ronaldo ditangani eks pelatih tim rivalnya. Luar biasa rasanya melihat tim yang diisi Veron dan Nedved bersaing ketat dengan enam tim lainnya dalam memperebutkan Gelar Juara Liga Italia. Betapa manisnya romantisme juara di menit akhir ala MU-Muenchen atau getirnya kehilangan gelar, juga di menit akhir ala rivalitas MU-City. Rasa bahagia sepanjang masa ketika Ahmad Bustomi dan teman-teman Arema-nya menjadi juara Liga Super Indonesia. Dan mungkin saja suatu saat akan ada sebuah legenda kisah epic keruwetan pengurusan sepakbola yang berhasil terurai, dan Indonesia akhirnya lolos ke Piala Dunia.

Kemanapun akhirnya rasa suka itu terbawa, menyukai figur adalah cara termudah memasuki sebuah dunia baru. Apalagi sepakbola, dunia yang sangat menarik tidak hanya bagi para pelaku, tapi juga penggemar dan analis.

United, Semoga....

Sejak kuartet Giggs-Scholes-Keane-Bechkam tidak lagi menjadi kerangka utama Manchester United, bisa dibilang lini tengah MU kehilangan gemerlap dan dominasi. Memang MU masih berprestasi di Inggris, termasuk mengambil alih tahta pengkoleksi gelar juara EPL terbanyak dari Liverpool, tapi jika dibandingkan dengan klub-klub lain, baik di Inggris maupun di eropa lainnya, MU terbilang tidak terlalu menakutkan. Sebagai contoh, Chelsea. Sejak Chelsea memasuki era sugardaddy-nya, lini tengah Chelsea tergolong seram. Dikomandani sang kapten legendaris Frank Lampard, pernah didampingi nama-nama seperti Makelele-Essien-Robben atau sekarang Mata-Hazard-Oscar-Ramires. Belum lagi jika dibandingkan dengan klub tetangga, Manchester City yang tidak kalah mahalnya. Kurang mengkilap apalagi kombinasi Silva-Toure-Nasri-Barry? Belum lagi nama seperti De Jong, Vieira, dan Wright-Philips. Belum termasuk jika dibandingkan dengan tim-tim rival MU di eropa seperti Bayern Munich, Barcelona, dan Real Madrid.

Memang, MU pernah membeli Juan Sebastian Veron, Owen Hargreaves, Kleberson, Djemba-djemba, tapi semuanya gagal bersinar. Bintang paling gemerlap pastilah lahir dan berkembangnya si monster Cristiano Ronaldo, yang justru kemudian membuat MU menjadi Ronaldo-sentris. Beberapa tahun belakangan, MU seringkali tidak bermain indah dan penuh semangat seperti dulu, bahkan kadang terlihat cukup puas dengan kemenangan tipis tanpa bernafsu lagi untuk menambah gol. Tapi si Jekyll United juga punya sisi Hyde. Dalam kondisi tertentu, MU bisa berubah menjadi tim dengan determinasi sangat tinggi dan permainan menyerang yang menakutkan. Terutama ketika dalam posisi tertinggal. Jekyll United bisa susah payah melawan Southampton untuk kemudian Hyde United menang besar lawan Chelsea.

Sebagai fans dari sebuah tim besar Inggris yang stabil dari sisi performa, prestasi, basis fans, dan keuangan, tentunya saya berharap MU bisa kembali memiliki skuad lini tengah yang menjanjikan dominasi dan keindahan permainan. Cleverley menjanjikan permainan cepat dengan passing pendek akurat, tapi perlu lebih banyak jam terbang. Kagawa sepertinya akan diusahakan Fergie untuk bisa didapuk pada posisi false 9. Carrick memang sudah menjadi destroyer dan pemula serangan. Valencia adalah pemain sayap klasik yang kadang tidak stabil. Young punya kecepatan menyisir pinggir lapangan. Dan Giggs memiliki segudang pengalaman. Namun semuanya belum membentuk sebuah unit sempurna ala Iniesta-Xavi-Busquet atau Alonso-Ozil-Ronaldo atau Schweni-Robben-Ribbery.

Dengan memiliki Rooney-RvP-Welbeck-Chicharito, saya rasa stok lini depan MU cukup garang. De Gea pun semakin menanjak. Deretan bek-bek muda MU juga makin matang. MU perlu memperhebat Cleverley, mengeluarkan potensi Kagawa, atau membeli pemain tengah yang berkarakter kuat, seperti misalnya Fellaini-nya Everton atau Alonso-nya Madrid dengan harapan akan terjalin stabilitas attack-defense yang menggaransi rekan-rekan lain untuk berkreasi maksimal. Sebuah peran yang dulu dilakukan dengan sangat baik oleh Roy Keane.

Semoga kelak MU kembali menjadi tim paling dominan dunia, dan berhasil membalaskan dendam atas kekalahan menyakitkan atas tim besar seperti Barcelona dan Real Madrid, tanpa harus menunggu masa kejayaan mereka berakhir. Serta kembali menghasilkan pemain-pemain bintang berusia muda yang mengkilap, gemerlap, dan dominan.

24 Februari 2013

Arema, Jersey Simpel, Dan Kelebihan Stok Strikernya

Pertama kali melihat jersey Arema ISL waktu launching nya di TV, saya sempat kecewa. Kecewa karena desainnya yang menurut saya terlalu simpel, plus logo utama di bagian depan yang dalam pandangan saya cukup mengganjal. Anker Sport. Hampir semua orang tahu apa itu Anker. Jika belum tahu, gunakan google.

Ganjalan ini sempat saya sampaikan langsung ketika saya pergi ke Ultras untuk beli jersey asli Arema tersebut, dan bagusnya, ditanggapi dengan sangat positif karena dianggap sebagai masukan. Toh meskipun saya kurang suka, saya tetap beli jersey asli sebagai bentuk dukungan saya terhadap Tim Kebanggaan kota (dan kabupaten) saya ini. Dua kali datang langsung ke Ultras, dua kali itu pula saya kecewa karena stok sedang kosong. Jersey tersebut akhirnya jadi milik saya atas bantuan seorang teman lama yang sekarang punya Toko Jersey sepakbola yang rupanya semakin maju dan tampaknya terpercaya, bahkan punya dua outlet, di Palangkaraya dan di Malang. Lama kelamaan, saya jadi sangat suka dengan desain simpel ini. Terkesan elegan dan kombinasi biru dan sedikit merahnya lama-lama manis juga. Jadi cukup menyesal ketika sempat terbersit pikiran bahwa mungkin desainer kaos kali ini adalah amatiran. Rupanya saya yang justru jauh di bawah level amatiran.

Terlepas dari masalah kaos, materi Arema ISL juga sedikit mengecewakan. Memang diisi banyak sekali nama besar baru seperti Victor Igbonefo, Thiery Gatussi, Egi Melgiansyah, Greg Nwokolo, Cristian Gonzales, Alberto Goncalves, Keith Kayamba Gumbs. Empat nama terakhir adalah barisan striker asing kelas atas di Liga Indonesia, dua diantaranya telah berubah menjadi WNI. Nama besar ini menjadi berkah dan jaminan atas kualitas personal di lini depan, sekaligus menjadi ancaman instabilitas, karena ternyata tidak ditunjang dengan lini tengah yang gemerlap.

Jika kita flashback ke era Sam Trebor, alias Mas Robert (Rene Albert), Arema memiliki materi pemain yang bisa dibilang tidak terlalu mengkilap di awal musim. Bustomi belum gemilang tingkat endonesa, Chmelo masih orang baru, duet Ridhuan-Along tidak sekelas Zah Rahan-Boaz Salossa. Meiga adalah kiper muda yang abis kena sanksi. Dan Purwaka itu siapa? Hasilnya, ekspektasi tidak tinggi, para pemain tidak berlaku dan diperlakukan bak diva, malah justru dibayar dengan permainan super di lapangan.

Oke, sebut saja saya belum bisa move on dari euforia juara Indonesia. Tapi memang ada yang jauh berbeda.

Lini tengah yang tersedia saat ini seperti belum bisa menjanjikan stabilitas permainan yang mampu mengalirkan bola ke depan sekaligus memotong serangan lawan. Playmaker paling oke nampaknya ada di peran yang dimainkan Egi Melgiansyah, namun sayangnya entah karena ciri khas atau memang instruksi pelatih, Egi lebih sering mengirim umpan lambung jauh, yang sayangnya lagi, lebih sering tidak tepat sasaran. Gaya ini terasa sekali ketika partai tandang dimana Arema gagal menghubungkan alur bola dari tengah ke depan, sehingga set-up yang dibangun seringkali gagal sebelum masuk kotak penalti lawan. Rekrutmen satu orang di lini tengah yang punya wibawa dan kemampuan kaliber nasional mungkin bisa jadi satu titik yang menghubungkan serangkaian potensi besar yang dimiliki Arema namun belum tersaji sempurna ini. Mau tidak mau nama pertama yang saya sebut ya Ahmad Bustomi. Tidak lain karena faktor performa plus ke-Malang-annya. Nama selain Bustomi yang ada sepertinya harus menyebut nama pemain asing. Tapi ya paling oke tarik Bustomi lagi lah. Jika musim ini sulit ya musim depan lah, kan kontraknya habis di Kukar. Sekalian menyusun lagi tim yang sempat terbangun sebelum era dualisme. Bahkan dengan lini depan yang jauh lebih garang. Malah bisa bicara banyak di Asia. Kalo disahkan federasi, sih.

Masih dengan doa semoga dualisme segera berakhir, baik dualisme federasi, dualisme kompetisi, maupun dualisme Arema sendiri, Arema ISL cukup menjanjikan hiburan dan performa yang oke. Arema kembali menjadi penantang juara, meskipun belum menjadi kandidat utama.

Apapun yang terjadi, Arema selalu menempati posisi yang berbeda di hati.

29 Januari 2013

Ternyata Valdes Bakal Batal Pensiun Di Barcelona

Secara mengejutkan, Victor Valdes melalui agennya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya yang berakhir tahun 2014. Keputusan ini jelas mengundang beragam komentar, bahkan dari kalangan fanbase Barca sendiri. Mulai dari yang bersyukur, yang menyayangkan, bahkan banyak spekulasi tentang siapa yang akan jadi penggantinya.

Ibarat sebuah titik hitam di tengah kertas putih, Valdes jauh lebih diingat karena kegagalannya mempertahankan bola sehingga diserobot Di Maria pada salah satu El Clasico dan beberapa kali Valdes gagal menghalau bola tendangan Ronaldo di tiang dekat, daripada serangkaian penyelamatannya yang membuatnya memperoleh Tropi Zamora hingga lima kali berturut-turut. Padahal, sebagai pemain binaan Barca sejak kecil, Valdes adalah salah satu kiper tersukses Barcelona yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun, sebuah hal yang gagal dilakukan Roberto Bonano dan Rustu Recber sekalipun. Valdes mampu menjaga konsistensi dan konsentrasi meskipun bola terbilang tidak sering menghampiri gawangnya akibat gaya possession football yang diterapkan Barcelona.

Valdes adalah orang yang paling sering dituding menjadi titik lemah Barcelona oleh para fans, sehingga banyak yang bersyukur ketika Valdes memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Bagi sebagian fans, Keputusan Valdes adalah win-win solution bagi kedua belah pihak. Namun banyak juga yang menyayangkan hal ini, karena bagaimanapun juga Valdes adalah salah satu pilar penting dalam kesuksesan Barcelona selama bertahun-tahun. Ketika Barcelona sedang mengalami siklus sangat positif tak terkalahkan di 19 pertandingan Liga, muncul sebuah potensi pengganggu stabilitas dengan adanya cerita ini. Entah berhubungan atau tidak, kemudian Barcelona meraih hasil tidak memuaskan dengan hasil seri di kandang sendiri melawan Malaga dan kemudian dikalahkan Real Sociedad di partai tandang.

Entah apa yang menjadi alasan Victor Valdes sebenarnya, tapi berbagai media mulai memunculkan analisa tentang calon kiper pengganti yang layak untuk mengisi posisi penting di Barcelona, posisi yang tidak hanya diharuskan untuk memiliki skill ekselen sebagai seorang kiper, tapi juga harus bisa menjadi sweeper di belakang barisan bek, sekaligus memiliki kontrol, passing dan visi bagus sehingga menjadi orang paling belakang dalam memulai konfigurasi possession football khas Barcelona.

Sehubungan dengan keputusan Guardiola untuk membesut Bayern Muenchen mulai musim depan, maka muncul pula dugaan bahwa Valdes bisa saja akan ditarik Guardiola. Meskipun Muenchen sudah memiliki Neuer yang juga merupakan salah satu kiper terbaik dunia, Valdes dianggap akan lebih cocok dengan gaya permainan yang akan diperagakan Guardiola. Jika memang benar demikian, maka Neuer akan terganggu karena tidak lagi menjadi opsi utama di posisinya. Ini akan membuat Barcelona punya peluang untuk mencurinya dan menjadikannya Barca's number 1.

Kemudian muncul juga nama David De Gea dan Thibaut Courtois. Dua-duanya adalah kiper muda yang dimiliki oleh tim elit Liga Inggris dan sedang mengalami performa menawan. De Gea adalah kiper utama Man Utd, Courtois adalah aset masa depan Chelsea yang sedang dipinjamkan ke Atletico Madrid. Ditambah dengan fakta bahwa keduanya telah mengenal dengan baik atmosfir sepakbola Spanyol, maka proses adaptasi akan menjadi lebih mudah.

Ada pula nama Victor Guaita yang sudah muncul bahkan sebelum Valdes belum membuat keputusan tentang kontrak. Kehebatannya di Valencia yang saat ini justru seringkali menjadi pilihan kedua dibawah Diego Alves mampu mengambil hati fans Barca. Awalnya banyak yang meminta Guaita didatangkan untuk menjadi pesaing Valdes di dalam tim, sehingga Valdes mampu tampil lebih kompetitif, namun sekarang Guaita justru bisa menjadi pilihan utama.

Yang relatif kurang dikenal dibanding yang lain mungkin nama Marc-Andre ter Stegen. Kiper jerman yang dimiliki Moenchengladbach ini masih berusia sangat muda, 21 tahun, namun mampu mendapatkan apresiasi positif dari berbagai media karena penampilan konsistennya ditambah kemampuannya untuk mengorganisir lini belakang yang kerap kali diidentikkan dengan idolanya, Oliver Khan. Skill dan karakternya dianggap akan bisa sesuai dengan gaya Barcelona meskipun perlu proses penyesuaian.

Yang paling hot berhubungan dengan isu yang berkembang di tim rival sebelah, setelah Cassllas-Ramos-Alonso meminta kepada presiden klub untuk memilih antara mereka atau Mourinho, seperti diberitakan harian Spanyol, Marca. Meskipun menjadi kiper yang sekian lama mengabdi pada tim rival, Casillas cukup mendapatkan respek tinggi di kalangan penggemar Barcelona, mengingat kiprahnya di Timnas Spanyol, dan persahabatannya dengan para punggawa Barcelona asal Spanyol lainnya, serta sikap elegannya dalam menghadapai rivalitas El Clasico yang jauh berbeda dengan pilihan sikap pelatihnya sendiri. Casillas juga dianggap memiliki skill lebih cakap di bawah mistar daripada Valdes, terbukti dengan perbedaan caps international kedua kiper tersebut.

Bagaimanapun juga, sedikit banyak keputusan Valdes memang menimbulkan riak di dalam dan di luar. Sekali lagi ini menjadi ujian stabilitas performa Barcelona dalam mengarungi musim yang diawali dengan hampir sempurna ini.

20 Desember 2012

Desember's Notes

Bulan Desember, mendekati akhir putaran pertama liga-liga eropa. Banyak hal terjadi yang cukup menarik untuk disimak. Sebagian juga menjadi ketidakseruan di sisi lainnya.

Dari Liga Spanyol, kemenangan Barcelona atas Atletico Madrid memperlebar selisih peringkat pertama dan kedua di klasemen sementara menjadi 9 poin. Ditambah dengan fakta bahwa Real Madrid, yang masih dianggap seteru paling kuat Barcelona, entah mengapa menjadi mlempem meskipun dengan skuad yang kurang lebih sama dengan tahun lalu, maka selisih Barcelona - Real Madrid pun melebar menjadi 13 poin. Ditambah dengan kondisi Barcelona yang masih tampak sangat stabil, sepertinya Tropi La Liga musim ini makin mendekat ke Camp Nou. Simeone pun mengatakan bahwa Barcelona membuat La Liga menjadi membosankan, karena sekarang menjadi one team race. Sebuah sindiran yang sebenarnya adalah pujian dan kekaguman. Namun Barcelona musti tetap hati-hati mengingat kondisi Tito Vilanova yang ternyata kembali harus dioperasi untuk mengangkat tumornya, jelas memerlukan masa recovery.

Pindah ke Inggris, secara mengejutkan Manchester United mampu mengalahkan Manchester City di laga tandangnya. Hasilnya, MU memimpin dengan selisih signifikan, yaitu 6 poin. Saya katakan mengejutkan, karena MU musim ini terbilang labil. Di suatu saat, MU bisa menjadi singa ganas yang mampu melibas tim manapun, tapi di saat yang lain, MU bahkan terdesak ketika melawan tim yang berada di papan bawah klasemen. Melawan City yang kuat, MU malah mampu mengeluarkan potensi terbaiknya. Semoga performa stabil duet Carrick-Cleverley selalu membawa MU tetap stabil di sisa musim ini.

Beralih ke Italia, performa Lazio cukup memuaskan. Terutama karena mampu mengalahkan tim kuat, Inter Milan. Memang belum menjadi kandidat serius peraih Scudetto, tapi cukup menjanjikan untuk kembali bersaing di papan atas. Tampaknya impian berlaga kembali di Liga Champion masih ada dalam jangkauan.



Yang menarik lainnya adalah hasil undian babak knockout Liga Champion. Hasil lengkapnya adalah sebagai berikut :

Rabu, 13-02-13 :
Galatasaray vs Schalke 04
Celtic vs Juventus

Kamis, 14-02-13 :
Arsenal vs Bayern Munich
Shakhtar Donetsk vs Borussia Dortmund

Rabu, 20-02-13 :
AC Milan vs Barcelona
Real Madrid vs Manchester United

Kamis, 21-02-13 :
Valencia vs PSG
Porto vs Malaga

Agak disayangkan ketika Milan langsung bertemu Barcelona, dan Real Madrid langsung bertemu Manchester United. Saya rasa ini adalah dua partai paling penting dan seru di babak pertama knockout ini. Apalagi jadwal memaksa dua partai ini dimainkan di hari dan jam yang sama. Cukup sayang untuk dilewatkan salah satunya. Meskipun Barcelona masih tampil sangat stabil, Milan tentunya akan tetap memberikan perlawanan ketat dengan dipimpin performa ciamik El Sharaawy. Namun, sepertinya Barcelona masih akan tetap lolos.

Di pertandingan satunya, Real Madrid dan Manchester United sedang mengalami kemiripan kondisi meskipun menghadapi kenyataan perbedaan posisi klasemen. Sama-sama diisi bintang-bintang besar, dua tim ini memiliki potensi besar yang mampu melibas tim manapun, sekaligus bisa menjadi tim labil dengan performa sangat biasa. Real Madrid masih Los Galacticos, dipimpin Cristiano Ronaldo yang alumni sekaligus fans MU dan anak didik Opa Fergie. Sayangnya, dikabarkan bahwa kondisi internal Madrid saat ini sedang tidak stabil, antara lain disebabkan goyangan kabar transfer, dan keretakan hubungan antar starter. Sedangkan MU sedang mengalami eskalasi percaya diri hasil serentetan hasil positif. Duet van Persie - Rooney semakin dahsyat didukung Welbeck dan Chicharito dari bangku cadangan. Barisan pertahanan perlahan-lahan pulih dari badai cidera, meninggalkan banyak pilihan bagi Fergie untuk menyusun rapatnya garis belakang. Yang paling positif, duet Carrick dan Cleverley semakin padu dan kreatif. Kesepahaman keduanya bisa dibilang bergerak mendekati kekuatan possession lini tengah Barcelona. Passing pendek satu dua mereka menjadi metronome yang mampu mengalirkan bola secara cepat, sekaligus bisa mempertahankan possession dengan cukup baik. Perlahan-lahan, suatu saat duet ini bisa jadi salah satu duo midfielder terbaik dunia. Sekaligus kabar positif untuk masa depan timnas Inggris.

Sebagai fans MU dan Barcelona, tentu saja saya ingin MU mengeliminasi Real Madrid, untuk kembali menjaga kemungkinan All-My-Fave-Final (sounds cute, isnt it?) di Liga Champion tahun ini, mengulang kisah musim 08/09 dan 10/11. Gelaran final tiap dua tahunan.

Above all, semoga semua Liga dan Liga Champion semakin seru dan menegangkan. Good Football above all fanaticism.

26 November 2012

La Masia XI

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis tentang starter Barcelona yang hanya menyisakan satu pemain non La Masia ketika melawan Getafe. Adriano yang mengisi posisi bek kiri menjadi satu-satunya pemain yang tidak berasal dari pembinaan yang dilakukan Barcelona di sekolahnya. Weekend lalu, Barcelona juga kembali melakukan hal ini, dengan menyisakan Dani Alves sebagai pemain non La Masia di starting lineup. Tapi kemudian menjadi lebih istimewa karena tidak lama setelah kick-off, Martin Montoya masuk menggantikan Dani Alves yang cidera. Kembali cidera nya Dani Alves memang adalah kabar buruk, tapi di balik itu, menjadi blessing in disguise ketika kemudian seluruh pemain Barcelona yang bermain di lapangan adalah produk La Masia. La Masia XI.

(from fcbarcelona.com)

Berita ini bahkan menjadi kabar positif untuk timnas Spanyol, karena hanya Lionel Messi-lah yang tidak berkewarganegaraan utama Spanyol. La Masia XI ini nyaris bisa menjadi Spain XI yang sama kuatnya dengan yang baru saja menjadi Juara Eropa.

Di pertandingan itu, Barcelona mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 4-0, sebuah kemenangan penting karena dimainkan di kandang Levante. Hampir semua pemain bermain gemilang, termasuk duet bek tengah dan Valdes yang belakangan sering jadi sasaran kritik. Paling cemerlang adalah Andres Iniesta yang menyumbang tiga assist dan satu gol untuk dirinya sendiri. Lionel Messi juga mengkreditkan dua gol di saldo rekening golnya, sehingga sekarang hanya berbeda tiga gol dari rekor gol dalam satu tahun kalendar milik Gerd Muller. Dua pemain termuda di pertandingan itu, Martin Montoya dan Jordi Alba bermain solid baik dalam bertahan maupun menyerang. Busquets tampil begitu bagus seperti biasa, dan Xavi-Cesc yang menjadi duet metronom dengan karakter berbeda yang mampu memperkaya variasi serangan Barcelona. Intinya, La Masia XI ini tampil sempurna.

Van Gaal pernah memimpikan sebuah tim yang akan jadi juara Eropa dengan menggunakan jasa pemain yang semuanya adalah hasil binaan sendiri oleh tim tersebut. Dan nampaknya, mimpi Van Gaal itu semakin mendekati kenyataan. Akan segera diwujudkan oleh tim sepakbola yang bukan sekedar klub biasa.