Tampilkan postingan dengan label Figures. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figures. Tampilkan semua postingan

25 Juni 2018

Another Pep Effect

Fase grup Piala Dunia 2018 sebentar lagi berakhir, melahirkan banyak sekali drama yang cukup mengejutkan. Spanyol nyaris tidak lolos grup, Argentina harus tanding mati-matian lawan Nigeria, Brazil-Jerman-Perancis pun susah payah. Yang tampil digdaya justru Belgia dan Inggris, dua tim yang diisi bintang-bintang Liga Inggris. Buat saya ini cukup menarik.

Pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, yang jadi juara dunia adalah Spanyol. Kala itu Spanyol bermain sangat cantik, dimotori oleh trio pemain kunci Barcelona, yaitu Iniesta-Xavi-Busquets. Di saat yang sama itu pula, Barcelona sedang gila-gilanya, dominan di Liga dan di Eropa dengan identitas gaya permainan sepakbola yang melegenda. Pemain Barcelona mendominasi susunan roster timnas Spanyol. Selain tiga pemain tadi juga ada Pique, Puyol, Pedro, dan Valdes. Rasa-rasanya waktu itu Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol, tinggal kasih satu instruksi sederhana : bermainlah seperti Barcelona. VdB tinggal duduk manis setelah itu, dan hasilnya : juara.

Kemudian di Brazil, Piala Dunia 2014 dimenangi oleh Jerman. Jerman yang sangat kolektif didominasi oleh para pemain Bayern Muenchen, seperti Muller, Lahm, Kroos, Neuer, Gotze, Boateng, dan Schweinsteiger. Kekompakan para pemain itu di level klub bisa tertular ke timnas, sehingga lebih mudah untuk menciptakan kohesi dan chemistry, lalu sukses membawa Jerman ke pencapaian tertinggi di tahun itu.

Dua negara itu, Spanyol di 2010 dan Jerman di 2014, memiliki satu kesamaan yang menarik, yaitu Liga lokal negara-negara itu sedang didominasi oleh tim yang dilatih oleh satu orang yang sama : Josep Guardiola. Ya, Pep adalah pelatih Barcelona di 2010, yang baru saja memborong 6 tropi di awal musim, dan kembali jadi juara liga di akhir musim. Pep juga pelatih Bayern Muenchen di tahun 2014, dimana Pep selalu dominan di Bundesliga meskipun selalu gagal di Liga Champion.


Photo by Gareth Copley/Getty Images

Di tahun 2018 ini, kondisi yang mirip kembali terulang, dimana Pep Guardiola sedang melatih sebuah klub yang sangat dominan di Liga lokalnya, padahal dalam beberapa tahun terakhir Liga itu sedang sangat kompetitif dan tak terduga. Pep Guardiola sedang menjadi manajer dari Manchester City, yang baru saja jadi juara Liga Inggris dengan berlari ngebut sendirian meninggalkan para rival di belakang. Pep Guardiola sedang mengubah Liga Inggris menjadi Liga Perancis atau Liga Jerman. Perbedaan yang paling mencolok dibanding dua kondisi sebelumnya adalah bahwa kali ini pemain-pemain kunci Pep di klubnya bukanlah tulang punggung tim nasional. Jika waktu itu di Spanyol dan Jerman diisi 7 pemain dari klub yang sedang ditangani Pep, di Piala Dunia kali ini timnas Inggris hanya dihuni empat pemain Manchester City, yaitu John Stones dan Kyle Walker sebagai pemain belakang, Fabian Delph di tengah (atau belakang), dan Raheem Sterling di depan. Memang Walker-Stones-Sterling adalah starter yang berperan penting, namun di timnas Inggris tidak berperan sebagai otak permainan.

Timnas Inggris tahun ini sebenarnya relatif kurang bertabur bintang jika dibandingkan era-era sebelumya. Pemain yang paling bersinar adalah Harry Kane. Inggris tidak punya superstar macam Messi, Ronaldo, De Bruyne, Neymar, Modric, ataupun Pogba. Namun dalam dua pertandingan awalnya, permainan Inggris yang menang tipis di game pertama melawan Tunisia kemudian bangkit dan sukses menghajar Panama. Memang kemenangan lawan Panama belum terlalu bisa dibanggakan, tapi paling tidak Inggris sudah menemukan ritme yang lebih baik di game kedua mereka. Bisa jadi soliditas lini belakang yang dikomandoi duo Manchester City berperan penting disana.  Menarik sekali untuk melihat game ketiga Inggris nanti ketika menghadapi Belgia yang sama-sama eksplosif, dan sama-sama dipenuhi pemain yang bermain di Liga Inggris.

Jika berpatokan pada pola sejarah, dan memperhatikan kesamaan-kesamaan itu, bukan tidak mungkin Inggris bisa menghapus kutukan mediokrisi yang selama ini menjangkiti mereka di gelaran Piala Dunia, dan melaju cukup jauh. Apalagi didukung dengan permainan kurang meyakinkan dari tim-tim unggulan.

Pep Guardiola bisa menularkan auranya pada Spanyol di tahun 2010 dan Jerman di 2014, maka tidaklah berlebihan jika Inggris yang tadinya dikenal dengan tim medioker meski bertabur bintang, di tahun ini berubah menjadi tim bintang meski berisi pemain-pemain muda medioker. Saya bukan fans timnas Inggris, atau malah bukan fans timnas manapun di Piala Dunia kali ini, tapi melihat tim seperti Belgia dan Inggris bermain bagus dan menang, saya cukup bahagia.

Setelah sekian lama, para fans Inggris mungkin bisa berharap pada Another Pep Effect.
 
-maheinberg, 2019-

05 Februari 2016

Pep-tah Hati

Jelang penutupan transfer window januari ini diwarnai dengan berita duka untuk saya. Sebagai fans Barca di Spanyol dan MU di Inggris, berita kepindahan Pep Guardiola dari Bayern Muenchen untuk menjadi manajer Manchester City mulai musim depan benar-benar membuat patah hati.

 
( Sumber : disini )

Bagi saya, melihat tim asuhan Guardiola bermain, mampu mengubah cara berpikir tentang sepakbola. Itulah yang saya rasakan sejak Guardiola melatih Barcelona delapan tahun silam. Possession based attacking football, bukan cuma tentang menang, tapi cara untuk meraih kemenangan.

Saya membaca sebuah komentar menarik di sebuah blog pro-Barcelona, yang kira-kira artinya begini :

Pep adalah pelatih grade A+++ yang telah terbukti.

1. Ketika Pep bergabung bersama Barca, mereka sedang berjuang dengan susah payah di La Liga dan Liga Champion, bukan karena pemain-pemainnya, tapi karena Rijkaard tidak lagi mampu memotivasi timnya. Mereka tidak mampu menjaga keunggulan lima poin dari Real Madrid, mendapat hasil seri melawan Betis dan Espanyol di kandang (ya, Betis dan Espanyol) dan gagal menjadi juara Liga dengan poin yang sama (cara paling menyebalkan untuk gagal di Liga). Plus, Barca tidak meraih tropi besar dalam dua tahun. Barca hanya menang Piala Spanyol di dua musim.

2. Pep memulai melatih di tim divisi 4 Liga Spanyol, dan membawa mereka sukses meraih promosi ke divisi 3 (yang kemudian diambil alih Luis Enrique).

3. Setelah bergabung, Pep mengambil keputusan yang paling sulit bagi pelatih manapun. Dia melepas Ronaldinho dan Deco yang menjadi pemain paling penting di ruang ganti. Dia juga menginginkan Eto'o pergi, tapi ternyata kemudian masih menjalani semusim bersama Pep.

4. Pep memiliki visi dan ide yang jelas. Jika anda membaca kisah musim pertama Pep di Barca, ada sesi percakapan yang sangat menarik bersama Xavi dan Iniesta. Pep berbicara pada mereka apa yang INGIN ia lakukan, dan BAGAIMANA dia ingin memainkannya. Dia bukan hanya sekedar pelatih, dia adalah pelatih dengan ide yang JELAS tentang bagaimana dia ingin bermain dan bagaimana SETIAP PEMAIN seharusnya bermain. Pep ikut andil banyak dalam torehan-torehan sejarah Messi. Dialah yang mulai menempatkan Messi di posisi false-9. Dia menemukan kembali Messi dan membuatnya menjadi seperti sekarang (Pep tidak memberi Messi bakat apapun, tapi dia menyusun sistem yang memungkinkan Messi untuk bersinar).

5. Pep sangat bagus dalam menilai potensi pemain hebat. Busquets dan Pedro yang merupakan pemain andalannya ketika di divisi 4 dibawanya dari Barca B. Sekarang Busquets menjadi pemain paling berpengaruh, penting, dan hebat di posisinya. Tidak ada pemain lain yang mengalahkan apa yang jadi kelebihannya.

6. Tidak ada yang kebetulan untuk Pep. Dia pekerja keras, detil, dan pemipin yang kuat. Itulah yang membawanya meraih 14 tropi dari 19 tropi yang mungkin diraih di Barcelona. Dia mengalahkan Madrid beberapa kali, dan dengan cara yang brutal. 5-0, 6-2, dan 3-1 (semifinal UCL). Semuanya dilakukan dengan total dominasi.

7. Pep setuju untuk bekerjasama dengan Bayern sebelum mereka memenangkan treble. Dia setuju untuk bekerjasama dengan Bayern pada bulan Desember 2012, sedangkan Bayern meraih treble pada Mei/Juni 2013. Pep tidak memilih Bayern karena menanggapnya bakal mudah. Plus Bayern mengontrak Pep karena filosofi sepakbolanya, bukan sekedar untuk tropi.

8. Dan bagaimana bisa menangani Manchester City dianggap mudah? Bukankah mereka tertatih-tatih di Eropa dan Inggris, meskipun memiliki banyak pemain kelas dunia?



Masih dari halaman yang sama, ada yang mengatakan bahwa Pep menciptakan sebuah sistem yang butuh TIGA TAHUN bagi tim lain untuk menemukan cara menghentikannya. Tidak hanya sekedar memainkan para pemain dan memenangkan banyak hal. Pep menghidupkan kembali sistem yang tampak seperti sudah mati suri bertahun-tahun, membangkitkannya, dimodifikasi sana sini, dan meciptakan sistem yang hanya bisa dihentikan dengan satu cara, yaitu dengan tidak bermain sepakbola. Pep menciptakan sistem sepakbola terbaik dalam 20 tahun terakhir. Siapapun manajer yang mampu melakukan itu, meskipun dikelilingi pemain hebat, tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah pelatih hebat.


Inti dari semua itu, Pep adalah salah satu hero saya dalam karir sebagai penikmat sepakbola. Cara Pep memerintahkan anak buahnya bergerak dengan atau tanpa bola, juga caranya untuk mengarahkan pemain lawan untuk bergerak ke arah yang dia mau, tidak bisa dilakukan dengan instan, dan dengan punggawa yang biasa saja. Menyusun sebuah sistem yang rumit memerlukan kecerdasan. Membuat orang lain bisa memahami penjelasannya juga perlu keahlian tersendiri. Begitu juga cara untuk membuat para pemain itu menjalankan semua pengarahan tepat sesuai yang diinginkan tidaklah mudah. Memilih orang-orang yang akan mampu menterjemahkan rencana itu juga sulit. Gabungan dari itu semua membuat Pep menjadi istimewa. Apalagi ketika itu semua dipenuhi dengan memainkan sepakbola sebagaimana seharusnya. Teknik dasar sepakbola yang matang, pemahaman taktik yang oke, permainan menyerang, dan pola pergerakan yang terorganisir rapi. Ya, bertahan dengan baik juga bagian dari teknik sepakbola, tapi permainan dasar bertahan adalah cerminan dari semangat inferior yang reaktif, menunggu kelengahan dari inisiatif lawan untuk kemudian memukulnya ketika mendapat kesempatan. Sementara semangat awal Pep adalah menciptakan sendiri kesempatan itu sebanyak-banyak dan sebaik-baiknya. Ini saya sebut sebagai Sepakbola Inisiatif. Dalam hal Sepakbola Inisiatif, bagi saya tidak ada yang mengalahkan Pep, bahkan Luis Enrique, yang saat ini menangani Barcelona, sekalipun.

Jika ada Master Sepakbola Inisiatif, tentu saja ada antidot nya, yaitu seorang Master Sepakbola Reaktif. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Jose Mourinho. Sosok yang paling menonjol dalam hal meredam kedigdayaan Barcelona di era Pep, adalah Mourinho, terutama dimulai ketika dia di Inter Milan, dan dilanjutkan ketika melatih Real Madrid. Dalam menghadapi Barcelona, Mourinho lebih sering memarkir bis dengan sangat rapi di lini pertahanan, untuk kemudian menunggu bola lepas, dan secepat mungkin bola itu dikirim ke depan dan dikirim ke belakang gawang. Lalu terlintas lah nama Diego Milito dan Ramires di benak saya. Tidak ada yang salah dengan permainan bertahan itu, hanya saja buat saya itu cerminan sikap inferior dan tidak menarik. Masalah selera penonton saja, bukan tentang benar atau tidak.

Masalahnya adalah begini, silakan dibayangkan sejenak. Saya adalah fans Barcelona di Liga Spanyol, sekaligus fans Manchester United di Liga Inggris. Sudahkah anda memahami seberapa patah hatinya saya?

Jika berbicara Barcelona era Pep, maka sulit untuk tidak membicarakan Real Madrid era Mourinho. Saat itu bagi saya Barcelona-lah prototype terbaik bagaimana sepakbola itu harus dimainkan oleh para hero, sementara Real Madrid adalah villain utama karena faktor gaya permainan Mourinho. Nah sekarang, Pep sudah resmi diumumkan oleh rival dari tim favorit saya di Inggris, yang artinya saya harus rela menahan perih hati ketika nanti tim rival itu memainkan Sepakbola Inisiatif yang saya kagumi. Di saat yang sama, rumor digantinya Louis Van Gaal semakin merebak, dan penggantinya, tak lain dan tak bukan, adalah : Mourinho. Semakin membuat saya nantinya menahan perih hati yang makin tercabik tadi.

Ya, nama Mourinho memang identik dengan prestasi. Dia selalu sukses meraih gelar di semua tim yang ditanganinya. Di Porto dia berhasil meraih tropi Liga Champion meskipun sebagai kuda hitam. Di Chelsea dia sempat merajai Liga Inggris. Di Italia, Mou membawa Inter Milan tak tertandingi, dan bahkan meraih treble. Di Spanyol, keberhasilan terbesar Mourinho adalah menghapus inferiority complex Real Madrid saat itu dalam menghadapi Barcelona. Namun, Mourinho tidak meninggalkan legacy dalam hal sepakbola. Peninggalan terbaiknya adalah kumpulan gelar, yang sebagian besar dimenangkan dengan cara yang dalam sudut pandang saya tidak menarik. Fungsi sepakbola sebagai hiburan agak tereduksi disini.

Liga Inggris tahun ini sangat tidak bisa diprediksi, dan tahun depan akan diramaikan dengan  kedatangan para pelatih dengan reputasi menawan. Agak tersedu rasanya hati ini ketika tahu bahwa Liverpool mendatangkan Klopp, City mengontrak Guardiola, Chelsea dikabarkan mulai membuka proses negosiasi dengan Allegri atau Simeone, Leicester nya Ranieri bermain amat sangat cantik, sementara opsi paling memungkinkan bagi MU adalah bekerjasama dengan Mourinho.

Ah, betapa patah hati saya ini. 

Pep-tah hati.

26 Januari 2015

Messi Dan Cristiano

Saya tidak cukup beruntung, karena tidak pernah menyaksikan (sekedar lewat tivi sekalipun) kiprah pemegang rekor pencetak skor tertinggi sepanjang masa di NBA, yaitu Kareem Abdul-Jabbar. Namun di saat yang sama, saya merasa cukup beruntung karena bisa menyaksikan legenda NBA lainnya, seperti Michael Jordan, Shaquille O'Neal, Kobe Bryant, Allen Iverson, LeBron James, dan pemain lain yang punya potensi untuk menjadi besar seperti Chris Paul, Derrick Rose, dan Kevin Durant. Kelak jika saya nonton NBA bareng anak, atau bahkan cucu, saya bisa bercerita banyak tentang mereka.

Saya juga agak kecewa karena tidak pernah menyaksikan secara utuh permainan nama-nama besar sepakbola misalnya seperti Michel Platini, Lev Yashin, Franz Beckenbauer, Alfredo Di Stefano, dan dua nama yang dianggap terbesar sepanjang masa, Pele dan Maradona.

Namun sesungguhnya saya harus merasa beruntung, karena hidup di masa dimana ada dua pemain besar yang punya potensi besar untuk menggusur Pele dan Maradona sebagai "best ever" di masa depan.

Tentu saja dua nama itu adalah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Lionel Messi
(sumber : reuters)

Dua orang ini menjadi bahan yang paling sering jadi bahan perbincangan untuk dibanding-bandingkan. Makin seru ketika perbandingan itu membawa fanatisme klub tempat mereka berdua bermain. Saya fans Barcelona, jelas saya senang melihat permainan Messi. Tapi saya juga fans berat Manchester United, tempat Ronaldo pertama kali mendapat gelar pemain terbaik dunia, meskipun dulu sempat jengah melihat gayanya yang (banyak dibilang) arogan.

Ya, saya sangat senang ketika melihat Messi mendapatkan gelar pemain terbaik dunia keempatnya, sekaligus kuatir apabila Ronaldo berhasil menyusulnya tahun depan. Saya termasuk yang deg-degan di musim ini karena Ronaldo sedang hebat-hebatnya, plus Real Madrid sedang bagus-bagusnya.

Messi, dianggap sebagai pemain dengan bakat besar yang sangat natural. Ketika melakukan dribble, gerakannya sangat susah dibaca, dengan keseimbangan yang sangat tinggi. Bahkan lima orangpun seringkali berhasil dilewati dengan cara yang terlihat sangat mudah. Messi jarang terjatuh, dan nyaris tidak pernah melakukan diving. Messi juga memiliki visi permainan yang hebat, sehingga juga cocok menjadi playmaker dengan passing-passing ajaib. Dengan badan kecil dan begitu seringnya menjadi incaran bek lawan, apa yang mampu dilakukan Messi hingga saat ini sangatlah luar biasa. Hebatnya lagi, dengan capaian prestasi yang begitu banyak, usianya saat ini baru 27 tahun. Kekurangan terbesarnya adalah prestasi bersama Timnas Argentina. Meskipun sempat jadi finalis Piala Dunia 2014, kekurangan amunisi di lini belakang menjadi hambatan Messi untuk membawa negaranya terbang tinggi.

Cristiano Ronaldo
(sumber : Dailymail)

Nama Cristiano Ronaldo lebih baik disebut dua kata, karena banyak yang lebih rela jika nama Ronaldo diabadikan sebagai panggilan untuk legenda Brazil yang juga dianggap salah satu yang terbaik di masanya sebelum kecanduan seks dan cidera lutut menghancurkan karirnya. Atau kalaupun disebut satu kata, lebih baik menggunakan nama depannya. Atau banyak juga yang lebih akrab dengan branding bekennya, CR7. Lebih dari permasalahan penyebutan nama, Cristiano adalah seorang atlit yang sangat ideal. Postur tubuhnya sangat oke, tinggi, kuat, cepat, dan tampan (??). Kelebihan utama Cristiano adalah teknik yang luar biasa atraktif. Jika Messi dianggap sangat berbakat, maka Cristiano adalah contoh dari manifestasi kerja keras. Kakinya mampu bergaya dengan lincah, step over nya sangat cepat, sprint nya juga ngebut, vertical jump nya sangat tinggi, tendangannya keras, free kick nya khas dan berbahaya, dan memiliki stamina yang ga habis-habis. Konon dia memang gila latihan. Selalu datang sebelum pemain lain dan pulang jauh setelah yang lain pergi. Dan dia tidak pernah puas. Itu yang membuatnya tampak sangat berambisi dan agak arogan.

Ketika Cristiano mendapat gelar pemain terbaik dunia nya yang pertama, Messi masih ada di bayang-bayang Ronaldinho. Tahun selanjutnya, Messi dianugerahi tim Barcelona yang legendaris dibawah arahan Guardiola. Empat gelar pemain terbaik dunia berturut-turut diambil Messi. Kemudian, ketika Barcelona sedang berputar-putar dibawah bayang-bayang kesuksesannya sendiri, Real Madrid justru ditangani secara tepat, sehingga bisa membawa Cristiano semakin giat mencetak gol. Messi harus rela melihat panggung pemain terbaik dunia menjadi tempat Cristiano meraih gelar keduanya. Tahun inipun rasa-rasanya gelar itu bakal jatuh ke salah satu dari dua orang ini.

Meskipun para diehard fans dua orang ini sering sekali berperang opini dalam meyakini kehebatan pujaan masing-masing, Messi dan Cristiano malah tampak seperti sepasang sejoli yang saling menginspirasi dan rival yang saling menghormati. Seorang seperti Messi yang sejak muda sudah ada di puncak, tentu perlu hal besar yang membuatnya selalu ingin maju. Cristiano adalah penguntit terbesarnya. Cristiano adalah 5 cm nya. 5 cm di belakang, tentunya. Cristiano bisa jadi merupakan pembangkit motivasi utama Messi. Begitupun sebaliknya. Meskipun lebih tua, prestasi Cristiano tidak sementereng Messi. Dalam kondisi lain, Cristiano mungkin saja adalah orang nomor satu yang akan dibicarakan dimana-mana dalam dunia sepakbola. Kenyataannya, hambatannya adalah satu nama, Messi. Messi pun jadi 5 cm nya Cristiano. Di depan.

Persaingan ini ternyata membuat atmosfir persepakbolaan menjadi begitu hidup. Padahal saat ini juga ada pemain-pemain seperti Franck Ribery, Gianluigi Buffon, Arjen Robben, Gareth Bale, Wayne Rooney, Marco Reus, Zlatan Ibrahimovic, dan segudang lagi pemain legendaris lainnya, namun Messi dan Cristiano tetap ada di posisi teratas. Bisa terbayang seberapa hebatnya dua orang ini. Dan buat saya sebagai penggemar sepakbola, hal ini sangat keren. Menyaksikan rivalitas Messi dan Cristiano adalah hal yang harus saya nikmati, untuk kelak dikenang sebagai cerita seru.

Silakan saja sampean berdebat tanpa ujung untuk menentukan siapa yang terbaik dari mereka berdua. Saya memilih untuk duduk di depan tivi dan komputer untuk menikmati sajian hiburan yang mereka tampilkan.

Kelak saya akan bercerita pada anak cucu saya, bahwa mungkin memang saya ga tau Pele dan Maradona, tapi duduklah disini, mari dengarkan cerita tentang hebatnya pemain terhebat sepanjang masa, Lionel Messi.

Dan pesaing terberatnya, Cristiano Ronaldo.

Teuteup.

Sekian.

15 Desember 2014

Damn You, Ancelotti!!!

Ancelotti membuat saya jadi cukup males buat nulis. Ancelotti berhasil membuat saya cukup malu karena prediksi yang berkebalikan dengan kenyataan. Kesuksesan Ancelotti adalah kegundahan saya.

Musim lalu, saya memperkirakan Bale tidak bisa nge-blend di Madrid. Hasilnya? Decima. Musim ini saya excited dengan kepergian Alonso dan Di Maria. Hasilnya? Tim yang tampak lebih solid daripada musim lalu. Damn banget kan Don Carlo ini?

(source : dailymail.co.uk)

Well, tentu tidak buat madridista, tapi iya buat saya.  Real Madrid di tangan Ancelotti berubah menjadi tim elit yang elegan, dengan kemampuan passing yang cepat dan akurat, counter attack mengerikan, dihiasi kemampuan individu mengkilap, dan squad yang dalam dan variatif. Real Madrid kembali menemukan kehormatannya yang seperti hilang beberapa tahun ini, terlebih ketika ditangani Mourinho. Real Madrid kembali menjadi respectable.

Soal counter attack, Real Madrid memang yang terbaik sejak lama. Kini, Madrid malah bisa mengalahkan Barcelona dalam possession. Anomali.

Dulu, Guardiola berani menyingkirkan Deco, Ronaldinho, dan Eto'o, meskipun nama-nama ini dianggap sebagai dewa di Barcelona, dan kemudian menaikkan nama Busquets, Pedro, Messi, dan Pique. Barcelona menjadi tim paling elegan sedunia. Ancelotti melakukan hal yang pada prinsipnya sama. Menyngkirkan nama besar, dan mendatangkan nama besar lainnya, kemudian menyatukan mereka dengan sangat harmonis.

Tadinya saya tidak terlalu memperhitungkan Ancelotti. AC Milan dan Chelsea tidaklah segahar Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Muenchen. Namun sekarang, Don Carlo bahkan sukses melakukan hal yang gagal dilakukan Mourinho. Menyatukan para pemain elit di sebuah tim elit, with dignity. Ancelotti tampak sangat siap untuk menandai sebuah era. 

Apakah kemudian Real Madrid yang ini bisa tercatat sebagai tim yang mampu mengubah sepakbola seperti yang pernah dilakukan Ajax, AC Milan, dan Barcelona?

Saya harap tidak.

17 Juli 2014

Messi Dan Ribut-Ribut Golden Ball Nya

Ga nyangka Golden Ball nya Messi jadi begitu hebohnya karena saking banyaknya yang ga setuju. Yes, secara statistik banyak yang ada di atas Messi, tapi saya sendiri bisa memahami kenapa Messi yang dapet itu piala.

 
(Kalo diliat dari mukanya sih dia ga pengen-pengen amat)

Pertama, saya fans Barcelona, yang hampir otomatis jadi fans Messi. Sebenernya kemarin pingin banget Messi dapet Piala Dunia biar status Best Footballer Ever nya semakin sah. Tapi ya apa boleh buat, masih belum waktunya.

Kedua, Messi adalah korban. Berkorban sih lebih tepatnya. Messi bermain di posisi yang bukan favoritnya, demi mengangkat performa tim secara keseluruhan. Argentina sekarang kekurangan pemain tengah yang kreatif. Generasi playmaker ini sepertinya sudah habis ketika Veron dan Riquelme pensiun. Dan dari opsi yang ada saat ini, yang paling mumpuni tak lain dan tak bukan adalah Messi. Messi lah yang menjadi missing puzzle untuk meraih kemampuan tim secara optimal. Inilah yang membuat dia lebih baik daripada Schweni, Ronaldo, Rodriguez, dan Robben.

Ketiga, Messi adalah kapten. Well, banyak yang meragukan kepemimpinannya memang, termasuk juga saya. Dalam hal ngomel-ngomel dan membangkitkan semangat lewat kata-kata, Mascherano jauh lebih cocok menjalankannya. Tapi Messi berbicara dan menginspirasi dengan caranya sendiri. Dia menunjukkan kreatifitas, menciptakan peluang, dan menjadi distraksi untuk mencipta ruang bagi rekan-rekannya. Mengorbankan kemampuan utamanya, yaitu finishing, untuk harus rela dilakukan teman yang lain. Muller dan Kroos tidak menjalankan peran ini.

Keempat, Messi dapet 4 Man of The Match di 4 pertandingan awal berturut-turut. Benar memang lawan Argentina di fase grup tidak terlalu berat. Tapi untuk tampil konsisten seperti itu juga tetap tidak mudah. Argentina ada di pundaknya (arguably) sendirian. Tidak ada pemain lain yang menyamainya.

Kelima, peran dan efek Messi secara individu berpengaruh besar pada tim untuk keseluruhan. Jika jerman punya tim yang kompak dan nyaris semua pemainnya memiliki peran besar pada performa stabilnya, Argentina tidak. Jika perlu menyebut kunci, ada dua nama yang paling menonjol. Yang satu adalah Mascherano karena peran vitalnya dalam bertahan, yang kedua adalah Messi sebagai pemula setiap serangan, dan yang mencegah lawan untuk terus2an menyerang karena tetap harus waspada pada kemampuannya. Jika melihat angka, cukup sulit untuk mengukur peran Mascherano, sehingga Messi lebih banyak diapresiasi. Robben, Ronaldo, Neymar, Rooney, dan individu-individu kunci lainnya tidak mampu membawa timnya melangkah sejauh yang telah dilakukan oleh Messi.

Keenam, catatan statistiknya tidak jelek. Gol nya ada 4, dan 1 assist cantik, plus berlaga hingga babak Final. Ya, catatan ini tidak fenomenal, masih kalah dibanding Muller dan Rodriguez, namun jika diperhatikan kelebihan-kelebihan lainnya, Messi tetap layak disebut terdepan.

Saya ga bilang bahwa Muller atau yang lain lebih buruk dari Messi. Jika merujuk ke individu banyak juga yang memiliki berbagai catatan positif nya masing-masing. Tapi jika memang Messi yang dipilih, itu pun tidak terlalu dibuat-buat. Ibarat diving, ini adalah tipe yang memang benar ada kontak, meskipun bukan hantaman keras. Kita bisa menganggap tidak terjadi pelanggaran, tapi wasit pun punya dasar untuk meniup peluitnya.

30 Juni 2013

Neymar, Football World's Justin Bieber. They said.


Konon kabarnya, Neymar adalah "The most marketable sportperson in the world", bahkan sejak sebelum bergabung dengan Barcelona. Nama Neymar tercatat diatas Lionel Messi, Usain Bolt, Novak Djokovic, dan Cristiano Ronaldo. Sebagai pemain di Liga Brazil, tentu saja tidak banyak yang pernah menyaksikan aksinya, sehingga kebanyakan (termasuk saya) ingin membuktikan siapa-itu-neymar lewat cara yang paling mudah, yaitu youtube.

Ini adalah beberapa yang saya temukan :




Di video-video itu Neymar memang terlihat sangat brilian dalam memperlihatkan skill-nya, termasuk ketika Neymar berhasil menggunakan tekniknya untuk melewati lawan dengan mencungkil bola melalui belakang kepala, atau mirip seperti teknik double heel shoot yang biasa digunakan Kazuhiro Hiramatsu di komik Shoot!

Meskipun demikian, banyak orang meragukan kemampuan Neymar sebenarnya, apalagi jika kelak mengikuti kompetisi di Eropa yang terkenal sangat ketat. Mahalnya nilai transfer, ngototnya Barcelona menggaet si wonderkid yang dianggap berlebihan, over-hyped, ngetop di youtube, tapi belum terbukti kemampuannya, membuat Neymar disamakan dengan Justin Bieber, yang juga sangat ngetop bermula dari internet, dan (dianggap) tidak mempunyai kualitas beneran. Apalagi diperkuat dengan fakta bahwa ketika Santos melawan Barcelona di final Piala Dunia Antar Klub, ternyata Neymar tidak bisa berbuat apa-apa.

Well, saya harus berterima kasih pada Piala Konfederasi, karena disinilah saya bisa menyaksikan apa yang bisa dilakukan Neymar. Sejauh yang saya amati, Neymar memang memiliki kemampuan first touch, teknik, dan footwork yang bagus. Dia juga cepat. Dan yang paling mengesankan adalah kemampuannya untuk mengetahui kapan waktunya kemampuan itu TIDAK digunakan. Di turnamen internasional, Neymar mencetak 3 gol dan assist penting yang membawa Brazil ke final, termasuk di antaranya mengalahkan Italia.

Bekal skill mumpuni, mobilitas tinggi, visi bagus, free kick ciamik, determinasi tinggi, akan menjadi bekal yang sangat cukup untuk bergabung dengan para playmaker di Barcelona, dan akan menjadi nilai lebih yang jika dilihat dari kerendahan hatinya ketika memperkenalkan diri untuk bisa bekerjasama saling menguntungkan dengan Messi. Neymar dan Barcelona akan sama-sama berkembang dengan lebih baik. Paling tidak, pertanda kesana terlihat cukup nyata.

Terlebih lagi jika dicermati kiprahnya sebagai "Atlit Terlaku" di Pasar, maka kehadiran Neymar akan menjadi marketing boost yang menjadi pesaing serius Cristiano Ronaldo di bidang non-sepakbola itu. Neymar juga akan membuat Alexis Sanchez berusaha lebih keras untuk membuktikan bahwa kritikan terhadapnya salah, serta akan mendorong Pedro untuk berusaha kembali pada puncak performanya. Villa? Mungkin akan bisa ditempatkan sebagai True 9. Tello, Cuenca, Deulofeu? Waktunya belajar langsung dari para ahli, dan kemudian membuktikan diri layak menjadi starter, atau harus rela tidak lagi berkostum blaugrana. Tampaknya pembelian Neymar ini akan jadi pembelian besar yang sukses.

Semoga saja.

29 Januari 2013

Ternyata Valdes Bakal Batal Pensiun Di Barcelona

Secara mengejutkan, Victor Valdes melalui agennya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya yang berakhir tahun 2014. Keputusan ini jelas mengundang beragam komentar, bahkan dari kalangan fanbase Barca sendiri. Mulai dari yang bersyukur, yang menyayangkan, bahkan banyak spekulasi tentang siapa yang akan jadi penggantinya.

Ibarat sebuah titik hitam di tengah kertas putih, Valdes jauh lebih diingat karena kegagalannya mempertahankan bola sehingga diserobot Di Maria pada salah satu El Clasico dan beberapa kali Valdes gagal menghalau bola tendangan Ronaldo di tiang dekat, daripada serangkaian penyelamatannya yang membuatnya memperoleh Tropi Zamora hingga lima kali berturut-turut. Padahal, sebagai pemain binaan Barca sejak kecil, Valdes adalah salah satu kiper tersukses Barcelona yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun, sebuah hal yang gagal dilakukan Roberto Bonano dan Rustu Recber sekalipun. Valdes mampu menjaga konsistensi dan konsentrasi meskipun bola terbilang tidak sering menghampiri gawangnya akibat gaya possession football yang diterapkan Barcelona.

Valdes adalah orang yang paling sering dituding menjadi titik lemah Barcelona oleh para fans, sehingga banyak yang bersyukur ketika Valdes memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Bagi sebagian fans, Keputusan Valdes adalah win-win solution bagi kedua belah pihak. Namun banyak juga yang menyayangkan hal ini, karena bagaimanapun juga Valdes adalah salah satu pilar penting dalam kesuksesan Barcelona selama bertahun-tahun. Ketika Barcelona sedang mengalami siklus sangat positif tak terkalahkan di 19 pertandingan Liga, muncul sebuah potensi pengganggu stabilitas dengan adanya cerita ini. Entah berhubungan atau tidak, kemudian Barcelona meraih hasil tidak memuaskan dengan hasil seri di kandang sendiri melawan Malaga dan kemudian dikalahkan Real Sociedad di partai tandang.

Entah apa yang menjadi alasan Victor Valdes sebenarnya, tapi berbagai media mulai memunculkan analisa tentang calon kiper pengganti yang layak untuk mengisi posisi penting di Barcelona, posisi yang tidak hanya diharuskan untuk memiliki skill ekselen sebagai seorang kiper, tapi juga harus bisa menjadi sweeper di belakang barisan bek, sekaligus memiliki kontrol, passing dan visi bagus sehingga menjadi orang paling belakang dalam memulai konfigurasi possession football khas Barcelona.

Sehubungan dengan keputusan Guardiola untuk membesut Bayern Muenchen mulai musim depan, maka muncul pula dugaan bahwa Valdes bisa saja akan ditarik Guardiola. Meskipun Muenchen sudah memiliki Neuer yang juga merupakan salah satu kiper terbaik dunia, Valdes dianggap akan lebih cocok dengan gaya permainan yang akan diperagakan Guardiola. Jika memang benar demikian, maka Neuer akan terganggu karena tidak lagi menjadi opsi utama di posisinya. Ini akan membuat Barcelona punya peluang untuk mencurinya dan menjadikannya Barca's number 1.

Kemudian muncul juga nama David De Gea dan Thibaut Courtois. Dua-duanya adalah kiper muda yang dimiliki oleh tim elit Liga Inggris dan sedang mengalami performa menawan. De Gea adalah kiper utama Man Utd, Courtois adalah aset masa depan Chelsea yang sedang dipinjamkan ke Atletico Madrid. Ditambah dengan fakta bahwa keduanya telah mengenal dengan baik atmosfir sepakbola Spanyol, maka proses adaptasi akan menjadi lebih mudah.

Ada pula nama Victor Guaita yang sudah muncul bahkan sebelum Valdes belum membuat keputusan tentang kontrak. Kehebatannya di Valencia yang saat ini justru seringkali menjadi pilihan kedua dibawah Diego Alves mampu mengambil hati fans Barca. Awalnya banyak yang meminta Guaita didatangkan untuk menjadi pesaing Valdes di dalam tim, sehingga Valdes mampu tampil lebih kompetitif, namun sekarang Guaita justru bisa menjadi pilihan utama.

Yang relatif kurang dikenal dibanding yang lain mungkin nama Marc-Andre ter Stegen. Kiper jerman yang dimiliki Moenchengladbach ini masih berusia sangat muda, 21 tahun, namun mampu mendapatkan apresiasi positif dari berbagai media karena penampilan konsistennya ditambah kemampuannya untuk mengorganisir lini belakang yang kerap kali diidentikkan dengan idolanya, Oliver Khan. Skill dan karakternya dianggap akan bisa sesuai dengan gaya Barcelona meskipun perlu proses penyesuaian.

Yang paling hot berhubungan dengan isu yang berkembang di tim rival sebelah, setelah Cassllas-Ramos-Alonso meminta kepada presiden klub untuk memilih antara mereka atau Mourinho, seperti diberitakan harian Spanyol, Marca. Meskipun menjadi kiper yang sekian lama mengabdi pada tim rival, Casillas cukup mendapatkan respek tinggi di kalangan penggemar Barcelona, mengingat kiprahnya di Timnas Spanyol, dan persahabatannya dengan para punggawa Barcelona asal Spanyol lainnya, serta sikap elegannya dalam menghadapai rivalitas El Clasico yang jauh berbeda dengan pilihan sikap pelatihnya sendiri. Casillas juga dianggap memiliki skill lebih cakap di bawah mistar daripada Valdes, terbukti dengan perbedaan caps international kedua kiper tersebut.

Bagaimanapun juga, sedikit banyak keputusan Valdes memang menimbulkan riak di dalam dan di luar. Sekali lagi ini menjadi ujian stabilitas performa Barcelona dalam mengarungi musim yang diawali dengan hampir sempurna ini.

12 Oktober 2012

Messi 2.0

Messi 2.0 : Free Kick Machine - Total Barca



Free Kick Messi melawan Uruguay (TotalBarca)

So, the new level is just entered.

Meskipun telah meraih 3 gelar pemain terbaik dunia secara berturut-turut, banyak yang masih meragukan kemampuan Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia secara de facto. Banyak yang membandingkannya dengan sosok Cristiano Ronaldo, tidak sedikit juga yang mengkomparasikan kemampuannya dengan legenda dunia seperti Maradona dan Pele.

(from @footy_jokes)

Memang akan selalu ada kelemahan pada setiap pemain sepakbola. Messi pun begitu. Kelemahan yang paling sering dialamatkan padanya adalah tubuhnya yang kecil sehingga lemah dalam duel bola atas, trik sepakbola yang kurang lengkap, dan kemampuan tendangan bebas yang meragukan. Khusus untuk yang terakhir, Messi mulai membuktikan pada pengkritiknya bahwa mereka salah.

Belakangan ini, Messi sedang on fire dan sangat menikmati menendang bebas. Coba lihat beberapa video ini :

Free Kick melawan Real Madrid, 29-8-12

Free Kick melawan Real Madrid, 8-10-12

Dan yang terbaru :

Free Kick melawan Uruguay, 13-10-12

Tendangan bebas melengkung yang indah dengan cara yang cerdik. Sedikit mengingatkan kita pada Ronaldinho. Atau mungkin karena Messi memang banyak belajar dari eks rekan setimnya itu. Yang jelas, saat ini para bek harus lebih waspada lagi, bukan hanya dengan sekedar memarking ketat Messi dengan double (atau lebih) team, atau mini zonal defense khusus, atau permainan keras untuk menjatuhkannya, tapi juga harus mengantisipasi tendangan bebasnya yang terbukti sangat berbahaya.

Driblling maut sudah, pergerakan tanpa bola sudah, poacher handal sudah, playmaker sudah, pemberi assist sudah, rekor penampilan sudah, rekor gol sudah, passing pendek dan cepat sudah, lari cepat sudah, gol heading sudah, gol kaki kiri sudah, kini ditambah lagi dengan tendangan bebas menakutkan. Dan Messi masih muda. Potensinya masih bisa bertambah. Usianya bahkan belum mencapai rata-rata usia emas pemain depan dan tengah. Sportskeeda memberikan apresiasi tentang hal ini dengan menyertakan nama Lionel Messi dalam Top 20 Greatest Footballer to grace the beautiful game di posisi 13, sebagai satu dari dua pemain yang masih aktif, dan menyisihkan nama-nama seperti Romario, Marco Van Basten, dan Luis Figo, bahkan ketika usianya masih 25 tahun.

Mungkin sebaiknya kita memberikan kritik keras tentang hal-hal yang tidak bisa dilakukan Messi, supaya dia mendengarnya, lalu membuktikan bahwa kita salah.

Emmm, sudahkah Messi nonton Shaolin Soccer?

09 Oktober 2012

Kareem Abdul-Jabbar

Tulisan tentang basket di blog ini tidak terlalu banyak, apalagi tulisan tentang profil atletnya. Sosok pebasket yang ingin saya selidiki pertama kali melalui internet untuk kemudian saya rangkum di blog ini adalah seorang legenda NBA yang hanya bisa saya kagumi dari legacy-nya, karena saya tidak sempat menyaksikan caranya bermain. Dia adalah Kareem Abdul-Jabbar.

 

Kalimat yang menurut saya paling mendeskripsikan seorang Kareem Abdul-Jabbar adalah : center legendaris LA Lakers yang meninggalkan banyak rekor di NBA yang akan bertahan sangat lama. Memang tidak mewaliki semuanya, karena dia memang memiliki banyak cerita menarik.

Terlahir dengan nama Ferdinand Lewis Alcindor, Jr. di tahun 74, Abdul-Jabbar adalah pemegang rekor poin tertinggi NBA dengan catatan sebanyak 38.387 point, peraih enam cincin juara NBA, enam gelar MVP regular, 19 kali terpilih dalam All-Star dan bermain 18 kali diantaranya. Abdul-Jabbar juga memiliki rekor bertahan yang cukup baik, terbukti sebagai pemegang rekor ke-3 dalam rebound dan block sepanjang sejarah NBA, plus tercatat sebanyak sebelas kali masuk dalam NBA All-Defensive Player.

 Sky Hook Legendaris

Abdul-Jabbar memperkuat Milwaukee Bucks di tahun 1969 hingga 1975, lalu pindah ke LA Lakers hingga pensiun di tahun 1989. Sebagai center, dia memiliki badan yang terhitung kurus. Dengan tinggi 2,18 meter, berat badannya "hanya" sekitar 102 kg. Namun kekurangan ukuran tubuhnya ini mampu ditutupi secara sempurna dengan teknik, kekuatan, dan sky-hook nya yang sangat terkenal.

(Kareem Abdul-Jabbar Top 10 Plays - youtube.com)

Karena terlahir dari seorang ayah yang adalah pemain Jazz, Abdul-Jabbar juga menggemari Jazz. Baginya, Jazz adalah perlambang kegembiraan, meskipun lahir dari lingkungan yang justru jauh dari kebahagiaan itu sendiri. Jazz mampu menghadirkan sebuah perayaan atas sebuah keceriaan meskipun itu kecil. Jazz juga merupakan kombinasi ideal antara improvisasi dan kedinamisan, yang sangat sesuai jika di analogi kan pada permainan basket yang penuh koordinasi sekaligus kreativitas.

Abdul-Jabbar pernah bergelut dengan penyakit yang cukup serius. Selain menderita migrain, dia pernah mengidap leukimia. Namun semangat hidup dan kemauan yang tinggi membuatnya mampu bertahan hidup cukup lama. Bahkan pada Februari 2011 dia menyatakan bahwa leukimia nya telah hilang dan "100% cancer free", meskipun kemudian diralat dengan mengatakan "You're never really cancer-free and I should have known that", dan dilanjutkan dengan "My cancer right now is at an absolute minimum".

Dalam perjalanan hidupnya, Abdul-Jabbar yang tadinya pemeluk Katolik Roma, kemudian berganti keyakinan menjadi seorang Muslim, setelah membaca buku The Autobiography of Malcolm X. Buku itu memberi Abdul-Jabbar sebuah perspektif berbeda tentang monoteisme dan sejarah agama-agama. Baginya, Islam mampu memberikan sebuah fondasi moral.

Abdul-Jabbar berakting dengan Bruce Lee

Selain dikenang dunia sebagai atlet basket legendaris, Kareem Abdul-Jabbar juga pernah menjalani karir di bidang akting, menjadi penulis, dan menjadi asisten pelatih. Buku yang ditulisnya termasuk laris dan sukses di pasaran, dimulai dari autobiografi yang berjudul Giant Steps, hingga yang terbaru berjudul On the Shoulders of Giants: An Audio Journey Through the Harlem Renaissance. 

----

Sumber :

04 Mei 2012

Gracies Pep

 
Saya menulis ini dengan semangat yang tipis sekali. Ya, meskipun keputusan itu sudah dibuat sejak akhir April lalu, saya baru benar-benar berniat untuk menggerakkan jari saya hari ini. Selain merupakan hal yang cukup menyedihkan, topik panas akhir pekan lalu juga membuat artikel saya sebelumnya menjadi (hampir) tak berguna. Ya, sutradara utama yang berhasil membawa Barcelona menjadi salah satu tim terbaik dalam sejarah itu memutuskan untuk berhenti sementara dari gemerlap dunia sepakbola. Josep "Pep" Guardiola i Sala memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Barcelona. Sebuah keputusan yang sangat disayangkan tidak hanya oleh para pemain dan mayoritas fans Barca, tapi juga para pengamat dan penikmat sepakbola. Disayangkan bukan hanya karena keberhasilannya yang selama ini mendatangkan banyak prestasi, tapi juga filosofi dan pendekatannya kepada permainan dan attitude pemain yang berhasil diterapkan kepada para pemain Barcelona. Setelah era Milan-nya Sachhi dan Barcelona-nya Cruijf, Guardiola dianggap mampu menghadirkan kembali sebuah sepakbola indah sebagai perwujudan filosofi permainan sepakbola yang sesungguhnya.

01 Januari 2012

Cristiano Ronaldo Sang Shredder Rock Dan Xavi Si Pemain Jazz

Saya penggemar berat musik.

Hampir segala jenis musik saya suka. Bagi saya, tidak ada jenis musik yang buruk. Mungkin ada beberapa musisi yang karyanya belum bisa saya nikmati, tapi saya tidak pernah membenci sebuah genre musik. Sejak kecil, saya yang lahir tahun 80an sangat menyukai musik rock klasik. Selain karena saat itu musik rock sedang mengalami kejayaan, rock juga beredar di sekeliling kehidupan saya. Kakak saya drummer sebuah band yang sering memainkan lagu Metallica. Ayah saya penggemar berat Scorpions. Om saya kolektor kaset, dan pernah memberi hadiah kaset album Adegan dan God Bless kepada keluarga saya. Debut pertama saya tampil di panggung pun identik dengan rock. Waktu TK kelas Nol Besar, di sebuah acara perpisahan sekolah ibu saya (yang guru sma), saya menyanyikan lagu Bianglala-nya Mel Shandy.

Pun begitu ketika mulai bermain band di smp, rujukan pertama saya sekitar rock klasik. Mr. Big, Van Halen, Firehouse, Extreme, dan Iron Maiden terasa sangat keren. Bagi saya kekuatan utama sebuah band rock klasik adalah gitarisnya. Semua band rock klasik wajib memiliki gitaris yang bisa bermain cepat dan skillful, penuh solo gitar di setiap lagunya, terutama di bagian tengah lagu. Gitaris tipe ini konon disebut sebagai shredder. Buat saya, para shredder adalah dewa musik.

Sejak SMA, saya mulai menyukai jazz, setelah seorang teman memperkenalkan saya kepada Incognito. Bassline Still a Friend Of Mine menjadi jembatan dari kegemaran saya pada shredding, dengan pola jazz yang lebih dinamis. Lama-lama saya temukan bahwa musik jazz tidak bisa dinimati dengan cara rock. Jika ingin mencari permainan solo gitar dan bass yang cepat, ruwet, dan njlimet, apalagi secara berpola di intro-tengah-&-akhir, maka cukup sulit untuk menemukannya di jazz. Jazz bukan tentang pamer skill individu. Jazz lebih dari itu. Band jazz memerlukan beberapa pemain yang memiliki skill oke, dan harus memiliki chemistry satu sama lain. Bisa saja ada tiga pemain musik berkualitas tinggi, namun tidak mampu menghadirkan nuansa jazz karena 'ga nyambung'. Sebaliknya, jika ada 4 player berkualitas sedang, tapi mampu membangun chemistry, maka garis jazz nya akan terbentuk. Kadang kala jazz menampilkan pola permainan sederhana, namun disajikan dengan cara yang tepat, sehingga dihasilkan musik yang canggih, mewah, dan dahsyat.

27 Desember 2011

The Super One, Sir Alex Ferguson

Jose Mourinho boleh disebut The Special One, Josep Guardiola boleh disebut salah satu yang paling jenius, namun mereka berdua belum pernah mengalami fase yang dialami oleh seorang Sir Alex Ferguson. Fergie yang telah menangani Manchester United sejak tahun 1985 sudah pernah melalui berbagai macam pasang surut prestasi tim ini. Hebatnya, dalam jangka waktu sekian lama itu, MU mampu meraih prestasi yang stabil baik di Inggris maupun di Eropa, dan menjadi salah satu tim terkaya di dunia. Generasi paling sukses tentunya angkatan class of 92 yang mampu merebut Treble, dimana saat itu Manchester United diisi oleh 11 orang (bahkan lebih) yang terdiri dari bintang-bintang besar. Mereka adalah Dream Team di masanya. Selain generasi emas tersebut, secara kontinyu dan konsisten Fergie selalu mampu menghasilkan tim yang kuat sekaligus mampu mengorbitkan pemain-pemain muda yang sebelumnya kurang dikenal menjadi seorang bintang. Ketika satu bintang pergi, bintang baru muncul dengan sebuah kisah yang baru dan prestasi baru pula.

Sir Alex Ferguson
(taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Sir_Alex_Ferguson)

Sergio Busquets, The Underrated "Diver"

Sergio Busquets adalah salah satu nama yang tidak menonjol di Barcelona. Jika dibandingkan dengan Messi, Sanchez, Xavi, dan Iniesta, maka Busquets jarang sekali memperlihatkan showmanship-nya. Bahkan dia lebih sering dibahas di banyak forum hanya sebagai diver dan aktor. Act better than play football, lebih layak di Holywood daripada di Catalan. Tak hanya mengundang cibiran dari Barca-haters, banyak pula fans Barca sendiri yang tidak menyukai Busquets. Dia dianggap tidak memiliki peran signifikan bagi kegemilangan Barcelona, dan timnas Spanyol. Namun jika memang benar begitu, bagaimana dia bisa rutin mengisi starting lineup Barcelona? Bagaimana pula Busquets selalu menjadi starter untuk Spanyol di Piala Dunia 2010 lalu?


Setelah Xavi dan Puyol, Busquets adalah satu orang lagi yang Underrated, bahkan lebih diremehkan dari keduanya. Namun jika kita melihat kiprahnya, nampaknya peran yang diembannya begitu besar dan sangat vital. Bahkan mungkin yang terbaik di posisinya saat ini. Coba saja simak beberapa video yang diupload di youtube berikut ini :

Sergio Busquets' Skill

Briliance of Busquets

Jika cukup malas untuk buffering, saya tuliskan beberapa quote menarik dari beberapa tokoh sepakbola mengenai Busquets yang ditulis di video itu :
  • Vicente Del Bosque : "If I was a footballer, I would like to be like Busquets."
  • Pique : "He is very precise with his passes, he never miss them, he never makes errors when passing the ball"
  • Xavi : "He's also the first give you the ball and you think : how he has seen me? It's just not possible."
  • Iniesta : "Busi often reads a game so well that I can't believe it when he sees a move so early."
  • Luis Menotti : "The first time I saw him I called a friend and told him I saw a kind of football player that had dissapear."
  • Pep Guardiola : "First name on the Barcelona team sheet? Sergio Busquets."
Sebagai gelandang bertahan, tugas utama Busquets pastilah memperkuat barisan pertahanan. Dalam menjalankan tugas ini, Busquets mampu melakukan tackling sempurna, marking dan pressing yang ketat, merebut bola dengan baik, dan positioning yang tepat. Didukung postur tubuh yang tinggi dan cepat, Busquets-lah yang berperan paling vital dalam memutus pergerakan bola lawan, berperan sebagai ball winning midfielder. Sebagai pemain tengah, dia memiliki kemampuan melakukan passing yang cepat dan akurat, ball-keeping yang bagus, serta kebisaan membaca posisi dan pergerakan, baik lawan maupun kawan. Tak heran jika Xavi dan Iniesta yang jago passing pun cukup terkesima dengan kecepatan reaksi Busquets dalam menerima dan mendistribusikan bola.

Busquets juga seringkali diplot sebagai bek tengah, baik secara terang-terangan maupun praktek di lapangan. Ketika kekurangan bek tengah, Busquets pernah diposisikan sebagai bek tengah murni. Hal itu membuat Busquets tidak canggung ketika dalam prakteknya menjadi bek tengah atau bahkan sweeper, mengisi celah di antara dua bek tengah murni yang bergerak melebar, meskipun awalnya ditempatkan sebagai gelandang bertahan. Adanya Busquets juga membuat Guardiola cukup tenang ketika memainkan formasi 3-4-3, karena kesigapannya berubah posisi untuk lebih mundur, dan mengubah formasi menjadi 4-3-3.

Maka tak berlebihan jika Xavi lantas menyebut Busquets sebagai kunci keberhasilan Barcelona sehingga bisa seperti saat ini. Oke, kadang dia memang melakukan diving dan reaksi berlebihan ketika dilanggar (atau bahkan ketika tidak dilanggar), namun skill seorang Sergio Busquets tetap sangat layak diapresiasi, bahkan dengan level yang tidak lebih rendah daripada para pemain fairrated lainnya seperti Xavi dan Iniesta. Apalagi di usia yang belum menginjak 25, masa depan Busquets, Barcelona, dan timnas Spanyol masih terbentang luas dengan cahaya yang cerah.

20 Desember 2011

Messi BUKAN The Next Maradona

Maradona memang salah satu legenda terbesar dalam sepakbola dunia. Lari yang gesit, dribble cantik, dan insting gol hebat, plus sederet tropi yang dia menangkan membuatnya dipuji oleh dunia, dan menjadi debat kusir yang tak kunjung habis ketika membandingkannya dengan Pele, legenda dunia lainnya. Kemampuannya memimpin timnas Argentina menjuarai Piala Dunia di tahun 1986 membuat Maradona menjadi figur nomor satu dalam sejarah Argentina. Setelah Maradona pensiun, para pemain muda Argentina yang menjanjikan seringkali dilabeli "The Next Maradona", dengan harapan pemain tersebut mampu menjadi legenda yang lain, dan membawa kejayaan pada Argentina. Pemain-pemain yang pernah dijuluki The Next Maradona antara lain : Juan Roman Riquelme, Javier Saviola, Ariel Ortega, Pablo Aimar, dan Sergio Aguero. Namun dari sekian nama itu, yang dianggap paling cocok adalah : Lionel Messi.

Aksi Maradona memang tidak terekam banyak seperti era sepakbola saat ini. Aksinya yang paling melegenda dan cukup diingat adalah ketika mencetak gol tangan tuhan dan mencetak gol setelah melakukan dribble melewati lima pemain bertahan Inggris. Uniknya, dua hal itu telah dilakukan pula Messi. Ditambah badan kecil dan kecepatan drible menawan, Messi dirasa paling mewakili sosok Maradona di jaman ini. Namun saya sangat tidak setuju. Kenapa? Mari kita bahas.

Pertama, Maradona dan Messi berjaya di jaman yang berbeda, sehingga tidak akan pernah terjadi perbandingan apple to apple. Bayangkan jika Maradona hidup di masa sekarang, mampukah dia melakukan aksi-aksi hebatnya itu? Saat ini ada banyak sekali pemain bertahan yang memiliki kemampuan lebih dalam membaca pergerakan striker cepat, baik dengan man to man marking, maupun zone defense. Pada masanya Maradona bebas berkelit-kelit, tapi sekarang? Sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab. Kedua, saya ragu bahwa Maradona bisa melakukan magic-nya secara konsisten. Oke, gerakan dribble mautnya melewati lima pemain bertahan itu memang menawan, tapi apakah dia melakukan itu secara terus menerus, melawan tim manapun? Ketiga, dokumentasi yang terbatas tentang segala hal mengenai Maradona membuat kisah heroik Maradona hanya tersebar dari mulut ke mulut. Hal ini akan menyebabkan bias. Keempat, karir Maradona sebagai pemain sudah berakhir, sementara Messi bahkan belum berada di usia emas. Kelima, Maradona memiliki kepribadian yang cukup berbeda dengan Messi. Maradona pernah tergantung pada narkoba, sementara Messi hingga saat ini mempunyai kehidupan pribadi yang lempeng-lempeng saja.

Oke, Maradona memang legenda tak terbantahkan dan pastinya sangat hebat. Ketika Messi mulai menanjak, bisa jadi Messi dianggap sebagai penyandang gelar "The Next Maradona" paling sesuai. Namun kini Messi tidak lagi layak disebut demikian. Messi ya Messi, bukan "The Next Blablabla". Gelar "The Next" berarti pemain baru itu selalu berada di bayang-bayang pemain lama. Messi sudah mencapai level legenda yang sama dengan semua legenda sepakbola dunia lainnya. Sebut saja Maradona, Pele, Marco Van Basten, Ferenc Puskas, Lothar Mattheus, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Zinedine Zidane. Messi adalah pemain yang memiliki karakter berbeda dengan pemain-pemain lain. Dia bisa menampilkan sihirnya melalui permainan sederhana namun sangat efektif, efisien, dan konsisten. Meskipun para pemain bertahan sudah mengantisipasi dan mengetahui gerakannya, Messi tetap sulit untuk dihadang. Seringkali Messi harus dijaga 2 hingga 5 orang sekaligus, atau pemain bertahan harus menjatuhkan Messi untuk menghentikannya. Messi juga seorang team player yang pandai membaca pergerakan rekan setim. Kekurangan Messi yang paling sering dibicarakan adalah ketidakmampuannya membawa Argentina ke level tertinggi. Namun jika terpaksa kita bandingkan, Maradona meraih gelar juara dunia satu-satunya ketika berusia 26 tahun. Sementara saat ini Messi masih berusia 24 tahun. Karirnya masih terbentang panjang, dan masih banyak yang bisa terjadi.

Di usia yang belum mencapai peak performance ini, Messi telah mengumpulkan seluruh gelar yang mungkin diraih bersama Barcelona. Secara individupun Messi telah mendapat pengakuan dunia melalui gelar pemain terbaik dunia dua kali berturut-turut, dan belum berhenti. Mari kita tidak mengesampingkan peran rekan-rekan setim dan para pelatih Barcelona, namun tak bisa dipungkiri bahwa Messi punya peran yang sangat penting. Barcelona memang tetap hebat tanpa Messi, namun bersama Messi Barcelona memiliki dimensi permainan yang berbeda.
So, menurut saya saat ini Maradona tak lagi layak untuk menyebut Messi sebagai titisan dirinya. Messi tidak lebih rendah darinya. Messi (paling tidak) sejajar, atau bahkan lebih tinggi. Messi is "The New Messi".

11 Desember 2011

Carles Puyol, Sang Playmaker Mental

Messi adalah superstar barca peraih 2 gelar pemain terbaik dunia berturut-turut. Xavi adalah maestro dari permainan sempurna Barcelona yang seringkali luput dari perhatian. Jika Messi sudah diakui semua orang sebagai pemain ekselen, maka Xavi seringkali underrated, dan tidak disadari betapa penting peran yang dia mainkan dalam sistem permainan Total Football ala Barcelona. Xavi adalah sosok playmaker yang mengatur tempo permainan Barcelona, mampu menyuruh rekan timnya untuk bergerak sesuai keinginannya dengan passing-passing yang terukur dan terarah, sebagai inti dimulainya permainan menyerang Barcelona, dan tempat kembalinya bola jika pemain lain mengalami stagnasi.

Carles Puyol

Namun sejatinya ada sosok yang tak kalah penting, dan lebih underrated daripada seorang Xavi. Dia adalah : Carles Puyol. Ya, dia memang beberapa kali mendapat gelar defender terbaik baik Eropa dan Dunia. Ya, dia adalah kapten barcelona sejak 2004. Ya, dia adalah salah satu pemain paling senior di starting lineup barcelona, namun sejatinya peran Puyol lebih besar dari itu. Jika Messi adalah superstar terpenting, jika Xavi adalah playmaker pengatur permainan, maka Puyol adalah 'playmaker mental' para pemain Barcelona. Sehebat apapun seorang pemain, kemampuannya tak akan tampil optimal tanpa kondisi mental yang baik. Xavi yang jenius pun tidak akan berfungsi baik jika tidak ada rekannya yang percaya. Deretan pemain belakang terbaik juga tidak akan efektif tanpa koordinasi yang baik. Seorang Puyol mampu menjaga itu semua. Puyol adalah pemain yang dihormati seluruh pemain, mampu memberikan kepercayaan sekaligus dipercaya, mampu menyatukan keinginan para pemain dalam satu visi, mengkoordinir pertahanan, serta membangkitkan semangat pemain ketika melakukan kesalahan, sehingga menjadi kembali termotivasi untuk memperbaiki kesalahan tersebut, dan justru menjadi hal positif untuk tim.

Mungkin ada pemain bertahan lain yang memiliki kualitas permainan Puyol, namun tidak banyak yang mampu menggantikan peran psikologisnya. Seringkali Barcelona bermain kurang greget dan tidak stabil meskipun bermain full team, karena absennya Puyol. Sebaliknya, adanya Puyol mendorong pemain yang diturunkan untuk bermain baik, siapapun dia, baik senior maupun junior. Simak saja kondisi Barcelona ketika ditinggal Puyol karena cidera di beberapa pertandingan awal La Liga musim ini. Beberapa kali Barcelona bermain standar dan mengecewakan. Kondisi berbeda terjadi di El Clasico tanggal 10 Desember 2012 lalu. Ketika Barcelona tertinggal lebih dulu lewat gol Benzema akibat keteledoran Valdes dalam menendang bola, yang dilakukan pertama kali oleh Puyol adalah memberikan semangat, menyampaikan pada rekannya bahwa kesalahan ini sudah terjadi, dan harus tetap menjaga fokus untuk lebih konsentrasi agar kesalahan tersebut segera ditebus. Memanfaatkan momen negatif untuk hal yang lebih positif, bukan sekedar menyesali atau bahkan menyalahkan rekan. Pique pernah berpendapat tentang Puyol : "He's someone who, even if you're winning 3–0 and there's a few seconds left in the game will shout at the top of his voice at you if he thinks your concentration is going". Ditambahkan juga oleh rekan yang lain : "Even four goals down he thinks we can still win".

Peran pemimpin seperti ini sangat vital untuk sebuah tim agar bisa menjadi besar, karena pemain seperti ini bisa menularkan karakter kepada seluruh elemen dalam tim. Banyak sekali tim bernama besar yang berisi pemain-pemain hebat yang tidak mampu menjadi tim berkarakter karena kurangnya leadership di lapangan. Real Madrid adalah salah satu contohnya. Manchester United juga hingga sekarang belum mampu mengatasi kehilangan Roy Keane. Saya rasa itu pula yang terjadi pada timnas Inggris, Argentina dan Portugal.

Di Barcelona sendiri, Messi masih akan bersinar dalam jangka waktu yang cukup lama, Xavi juga sudah cukup bisa digantikan nanti oleh Fabregas atau Thiago. Skuad yang lain pun rata-rata masih berusia muda. Yang harus lebih diantisipasi dan dipersiapkan dengan baik demi stabilitas prestasi Barcelona adalah pengganti Puyol nanti, bukan dari sisi individu, namun pada peran Puyol sebagai seorang 'Playmaker Mental'.

10 November 2011

Arthur Irawan, (Bisa Jadi) Nakata-nya Indonesia

Pagi hari di tanggal 11-11-11 diwarnai dengan berita menyenangkan mengenai kabar seorang anak muda Indonesia yang dikontrak sebuah tim sepakbola elit eropa, yaitu Espanyol. Memang Espanyol bukan tim langganan juara Liga Spanyol ataupun Liga Champion Eropa, tapi cukup lama malang melintang di EURO Cup (dulu Piala UEFA), dan menjadi seteru abadi Barcelona karena berasal dari satu kota. Berita tersebut bisa dibaca disini :

Anak muda itu adalah Arthur Irawan. Besar dan belajar sepakbola di Jakarta, Arthur sempat menarik minat Manchester United, namun orangtuanya belum mengiyakan karena mengutamakan sekolah sang anak. Dan kini, akhirnya dia direkrut oleh Espanyol yang menyebutnya sebagai "A young pearl of Indonesian Football". Saya rasa ini adalah sebuah harapan besar, mengingat tidak banyak pemain asia tenggara yang direkrut oleh tim besar eropa, apalagi tim di liga tertinggi di negara juara dunia. Memang ada banyak alasan sebuah tim sepakbola menggaet pemain dari negara "antah berantah". Yang pertama bisa jadi karena pesanan sang pemilik klub. Untuk yang ini sepertinya Arthur tidak mungkin. Yang kedua bisa karena untuk mendongkrak jumlah penggemar di negara asal pemain, sehingga bisa meningkatkan penjualan merchandise demi keuangan klub. Ini bisa saja menjadi alasan perekrutan Arthur, dan bermakna positif bahwa Asia Tenggara, terutama Indonesia adalah pasar yang dianggap potensial oleh Espanyol. Namun alasan ketigalah yang terasa lebih mungkin, bahwa Espanyol memang melihat adanya bakat besar dalam diri Arthur. Meskipun saya sendiri belum pernah melihat kiprah Arthur baik secara langsung maupun lewat televisi, namun jika Espanyol pun tertarik, maka besar kemungkinan Arthur memang sangat berbakat.

Satu dari sedikit cerita tentang Arthur adalah ketika dia dipanggil seleksi Timnas U-23, dan ternyata GAGAL!!! Ini juga sebuah pertanda bagus. Selain karena faktor usia Arthur yang terlalu muda, artinya pemain-pemain Indonesia yang lain juga memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding Arthur. Jika Arthur mampu menarik perhatian tim Eropa, artinya Indonesia juga masih punya banyak pemain yang seharusnya bisa memikat tim Eropa lainnya. Yah itu memang logika sederhana dan serampangan, namun jika dilihat dari cara Espanyol mendeskripsikan Indonesia sebagai "A country to be discovered on a football level", maka generasi muda Indonesia menjanjikan sebuah masa depan prestasi sepakbola yang mengkilap. Lihatlah Tim Tunas Garuda yang menang di Arsenal, All Star Indonesia mampu mengalahkan Milan All Star, SAD Indonesia era Syamsir Alam yang menuai banyak pujian, dan banyak yang memprediksikan timnas U-23 akan meraih meraih medali emas SeaGames 2011.

Arthur bisa jadi seperti Hidetoshi Nakata. Bukan dari sisi skill dan prestasi individu, tapi sebagai SIMBOL. Ketika nama Nakata mencuat kala bermain di Perugia, sepakbola Jepang juga mengalamai ekskalasi prestasi. Era Nakata seperti menjadi sebuah pijakan awal sepakbola Jepang untuk tidak lagi sekedar dominan di Asia, tapi juga layak bersaing di tingkat dunia. Saat ini Jepang diisi banyak sekali pemain hebat, dan menjadi tim tangguh dunia, dan prestasi tersebut masih bisa selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kita harapkan Arthur nantinya bisa serupa, sebagai perwakilan dari sederet permain berbakat Indonesia, yang nantinya bersama-sama membawa Indonesia melewati prestasi tertinggi selama ini.

Semoga saja.

02 November 2011

Jose Mourinho. Kagum Tanpa Mengidolakan.

The Special One

Saya rasa tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa Manajer tim sepakbola paling happening saat ini adalah Jose Mourinho. Ada banyak alasan yang membuat manajer berkewarganegaraan Portugal yang lahir tanggal 26 Januari 1963 ini sangat menarik untuk disimak. Berikut adalah opini saya sebagai seorang fans Manchester United dan Barcelona tentang Mourinho.

1. Identik Dengan Prestasi
Karir kepelatihan Jose Mourinho menjadi sangat fenomenal ketika dia menangani klub langganan juara Liga Portugal, Porto. Di musim pertama, Porto dibawanya finish di peringkat tiga Liga Portugal dengan rekor menjanjikan, padahal Mourinho hanya menangani Porto sejak tengah musim, sehingga banyak yang menjagokan Porto akan menjadi juara tahun depannya. Prediksi tersebut ternyata tepat. Di bawah asuhan Mou Porto berhasil meraih juara di tahun 2003 dengan rekor 86 poin dan catatan M-S-K : 27-5-2. Hasil bagus ini dilanjutkan dengan kemenangan di Piala Portugal dan meraih juara Piala UEFA setelah menyingkirkan Celtic di final.