21 September 2026

Real Madrid, The Next Manchester United?

- Jika tidak segera sadar, Real Madrid akan menjadi Manchester United baru -
- Barcelona telah melewati fase yang dilalui Real Madrid saat ini, dan berhasil bounce back great - 


(Tujuh game terakhir Barcelona di La Liga)
 
Lama banget nggak megang blog. Selain karena format blog sudah nggak relevan dan masih males kalo musti diubah jadi format video, saya merasa dinamika persepakbolaan dunia sedang tidak menggugah hasrat untuk memencet keyboard. Momen paling mendekati mungkin ketika musim lalu Como sukses menembus 4 besar Serie A dan secara bersejarah lolos ke UCL untuk pertama kalinya menyingkirkan tim besar macam Juventus, AC Milan, dan Lazio, tapi akhirnya kembali males lagi.

Dan akhirnya kemalasan itu tergoyahkan saat ini, karena melihat sebuah kondisi luar biasa yang terjadi di Barcelona. 
Dan Real Madrid.
Sebuah perputaran kondisi yang positif di Barcelona. 
Dan negatif di Real Madrid.

Yes, udah jelas saya akan bias ke Barcelona karena memang saya fans Barca, tapi saya mencoba mengupas apa yang sedang terjadi di dua tim yang paling banyak dibahas di dunia ini.

Pertama, Real Madrid dulu. 
Ketika saya menulis ini, Real Madrid baru saja bertandang ke Atletico Madrid dan kalah dengan skor 2-1. Hasil ini sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena yang menang adalah tim kandang dengan skor tipis saja. Tapi menjadi menarik, karena banyak orang, bahkan Mourinho dan akun resmi Real Madrid, lebih memilih untuk mengkritisi kinerja wasit yang dianggap berat sebelah. Bahkan RMTV, yang merupakan stasiun tv resmi Real Madrid, lebih memilih untuk mengangkat bahwa wasit yang memimpin pertandingan adalah teman dari Lamine Yamal, yang seorang pemain Barca.

Wajar saja ketika penikmat sepakbola membahas kinerja wasit yang dianggap memihak salah satu tim lah, harusnya kartu kuning di sini lah, kartu merah di sana lah. Maklum juga kalo kita melihat Mourinho yang melakukan itu, karena memang secara historis gaya komunikasi Mou di konferensi pers ya begitu. Tapi ketika akun resmi melakukan itu, yang muncul adalah kesan putus asa dan frustasi, dan diselesaikan dengan cara tidak anggun. Tidak terasa seperti image tim raksasa, karena publikasi seperti itu hanya akan menjadi penggiringan opini publik. Sikap resmi organisasi harusnya melalui kanal resmi yang telah tersedia, misalnya pengaduan tertulis ke pihak Liga, atau bahkan UEFA.

Kenyataannya, terlepas dari bagaimana performa wasit di game itu, Real Madrid seharusnya lebih concern dengan performa permainan timnya di lapangan.
Real Madrid ini tim raksasa, lho. Pemegang 15 gelar UCL, lho. Pemainnya hebat-hebat, lho. Abis dua musim tanpa gelar, lho. Kok mainnya gitu doang?

Permainan Real Madrid tidak terlihat berpola, tidak terlihat lapar, tidak ada chemistry, tidak berkelas. Masih sering menang, tapi kebanyakan hasil dari permainan individu dari pemain yang memang extraordinary. Dari sudut pandang penggemar tim lawan, sebenarnya terlihat sangat jelas sekali bahwa kekurangan utama Real Madrid adalah : Otak.
Bukan berarti pemain Real Madrid nggak punya otak ya, tapi Madrid nggak punya playmaker yang menjadi pusat kreatifitas permainan, baik dalam bertahan maupun menyerang. Tidak ada figur yang menjadi pemersatu individu-individu luar biasa itu. Tidak ada yang bersedia berjuang dan rela kehilangan spotlight demi kemenangan tim.
Gampangnya, Real Madrid tidak lagi punya Modric-Kroos. Dan Benzema.

Saya heran ketika banyak fans Real Madrid underestimate peran Benzema. Memang jumlah goal Benzema tidak sebanyak Cristiano. Dribble Benz juga tidak terlihat selincah Vini. Tapi Benzema rela berlari, membuka ruang, menarik defender, memberikan assist, supaya rekan setimnya bisa mencetak gol. Tanpa Benzema, Cristiano dan Vini tidak akan secemerlang itu.

Saya juga heran ketika ketidakadaan Modric dan Kroos tidak dianggap sesuatu yang besar. Sebagai fans Barca, selain Benzema, pemain yang saya kagumi di Madrid adalah Modric dan Kroos. Mereka berdua ini bisa mengendalikan permainan, mengontrol tempo, mengatur arah serangan, atau gampangnya, mereka berdua ini otak yang membuat sistem permainan Real Madrid bekerja dengan baik. Passingnya memang brilian, tapi yang mereka lakukan lebih dari itu. 

Tidak adanya pemain yang rela berpikir komprehensif dan berkorban demi kejayaan tim inilah yang menurut saya menjadi faktor utama menurunnya performa Real Madrid dalam 3 tahun terakhir. Sebuah kalimat simpel yang kenyataannya sangat rumit untuk dipecahkan. Di kondisi saat ini, imbalance itu makin sulit untuk diperbaiki.

Vini pernah jadi pemain terbaik kedua dunia, sebagaimana terlihat di capaian Ballon d'Or 2024. Saat itu Vini dianggap menjadi pemain paling penting Real Madrid ketika meraih gelar Liga Championnya yang ke 15. Jelas Vini layak bangga, dan menganggap diri figur utama di Real Madrid, apalagi ketika Benzema, Kroos, dan Modric tidak lagi ada. Dia adalah penyerang kiri terbaik di dunia.
Lalu Madrid mendatangkan seorang pemain bintang. Bintang besar, malah. Prestasinya luar biasa karena sudah mencetak banyak sekali gol, bahkan sudah menjadi juara dunia di usia muda. Dia adalah Kylian Mbappe. Sayangnya, kok Madrid kayak lupa bahwa pemain ini posisi aslinya juga penyerang kiri? Kan posisi itu udah diisi? Oleh pemain terbaik di tim itu, dimana udah pasti menjadi pemain yang paling jarang diganti.
Masalahnya kemudian, secara gengsi keduanya juga sama-sama tinggi. Satunya merasa akamsi yang jadi kunci utama kesuksesan tim, satunya lagi datang dengan status juara dunia yang jadi pemain paling penting di tim sebelumnya. Satu nggak mau ngalah karena akamsi jago, satunya juga nggak mau ngalah karena pemain kaliber dunia. Jadi selain secara posisi mereka sudah berbenturan, secara ego mereka berdua juga susah untuk dinihilkan. Dua-duanya layak untuk memperjuangkan egonya. Sebuah hal yang waktu itu dikritisi oleh Joan Laporta, tapi banyak yang tertawa dan menuduh Laporta iri saja.

Trus kenyataannya siapa yang ngalah?
Eh, ternyata pelatihnya.

Ancelotti, Arbeloa, dan Xabi Alonso sudah jadi korban dari ketidaksepakatan atas posisi terbaik masing-masing.

Selain sayap kiri, Madrid juga punya pemain kelas dunia di posisi nomor 10 atau gelandang serang tengah di belakang striker, yaitu Jude Bellingham. Pemain ini juga extraordinary. Terbukti dia sangat moncer di Dortmund, dan berhasil mencetak banyak gol di awal-awal bergabung di Real Madrid. Lalu Real Madrid menemukan pemain muda yang sangat potensial, dan terbukti bisa menjadi salah satu solusi atas permasalahan kreatifitas serangan. Dia adalah Arda Guler. Masalahnya, Posisi Guler sama dengan Bellingham. Jika Bellingham menjanjikan ancaman ofensif berbahaya, Guler mampu menyajikan kreatifitas serangan yang bisa mengoptimalkan attacker-attacker Madrid yang lain. Jude adalah ancaman, Guler adalah kreator ancaman itu. Sayangnya Real Madrid harus memilih salah satu untuk mengisi posisi nomor 10 itu. Lagi-lagi, Bellingham adalah senior kelas dunia yang nggak mungkin dicadangkan, sementara Guler menjanjikan solusi di masa depan yang harus dipupuk sejak dini. Dan memainkan keduanya bersamaan terbukti tidak menjadi solusi yang baik.

Selain masalah pemain belakang, jika dirangkum Real Madrid memiliki 3 masalah utama:
1. Tidak ada kreator
2. Ada dua pemain sayap kiri yang berbenturan posisi dan ego
3. Pemain no 10 yang dilematis antara ancaman atau kreator

Pemain-pemain kelas dunia dengan gaji besar tapi peran yang tidak pas ini akan mengganggu keseimbangan tim, baik dari sisi permainan maupun kesehatan keuangan. Jika terus-terusan tidak tampil bagus, maka nilai pemain-pemain itu akan turun, dan akan susah terjual mengingat gaji yang berukuran raksasa. Hal ini akan membuat Real Madrid kesulitan menjual dan kemudian mencari pengganti.
Nama besar dan prestasi masa lalu tidak menjadi kelebihan, tapi justru menjadi beban dalam menyusun kembali reputasi tim.

Jika makin lama tidak disadari, Real Madrid akan menjadi Manchester United selanjutnya.

------------------------------------------

Lalu sekarang kita beralih ke Barcelona.

Sebagai fans Barcelona, hari-hari belakangan ini isinya full senyum saja. Permainan menarik, dinamis, powerful, passionate, diisi anak-anak muda yang mayoritas pemain hasil binaan sendiri, pemain cadangan yang tipis sekali perbedaan kualitasnya, dan berbuah kemenangan dengan banyak gol. Begadang menunggu game Barcelona tidak terasa sia-sia. Bang Rhoma nggak akan marah, karena memang begadang yang ini ada artinya.

Memang musim baru mulai, dan Barcelona belum meraih gelar apa-apa, tapi berhasil mencetak 36 gol di 8 pertandingan pertama jelas bukan hal biasa. Ini tim yang jika mencetak tiga gol akan kita sebut dengan "hanya".
Padahal ini tim hanya punya satu bek tengah bagus, tidak punya bek sayap kelas dunia, dan tidak punya penyerang natural. Kondisi yang di tim lain akan menjadi banyak lubang besar.

Toh akhirnya Barca yang dipimpin Hansi Flick membuktikan sebaliknya. Tim yang sudah stabil di dua tahun terakhir makin menemukan keseimbangan. Kunci terbesarnya adalah dengan kedatangan peraih Ballon d'Or 2024, Rodri.
Rodri tidak memiliki dribble menarik, bukan finisher tajam, bukan gelandang berotot yang mengandalkan brute-force, juga bukan pemain tengah eksplosif dengan tendangan-tendangan geledek. Tapi Rodri memiliki kemampuan untuk membaca pola ofensif lawan sehingga mampu mengantisipasi, bisa membereskan sampah-sampah kesalahan rekan setim, dan bisa menjaga dan mengubah tempo permainan sesuai kebutuhan tim. Rodri memiliki fisik tinggi besar sehingga lebih kuat melawan serangan fisik lawan, mampu mengisi kekosongan posisi defensif yang ditinggal bek ketika overlap, dan yang paling penting bisa menjadi koordinator posisi pertahanan yang memberi komando untuk rekan-rekannya. Tugas memotong serangan lawan dan pelapis defense ditumpukan kepada Rodri, sehingga Pedri bisa lebih leluasa berkreasi ke depan untuk memulai variasi serangan. Kehadiran Rodri menjadi akar yang memperkuat pondasi permainan Barcelona, yang bahkan menjadi solusi atas kelemahan Barcelona di musim lalu yaitu tentang bek tengah dan penyerang murni.

Mungkin cukup membingungkan kenapa pemain tengah justru jadi solusi lemahnya bek tengah dan penyerang. Mari kita bahas.

Dalam bertahan dan menyerang, Barcelona tidak mengandalkan permainan individu. Mereka menyerang bersama-sama, dan bertahan bersama-sama. Pertahanan dimulai dari striker yang melakukan press sedini mungkin ke garis pertahanan lawan, dan penyerangan dimulai dari kiper yang bisa mendistribusikan bola baik lewat bola pendek maupun panjang. Artinya, lemah di satu titik berarti mengacaukan pola keseluruhan. Jika kiper dan bek tidak bagus dalam membagi bola, bola mungkin tidak sampai ke depan. Jika striker lambat pressing, maka di belakang akan ter ekspos. Disinilah peran penting Rodri dimulai. Adanya Rodri bisa membuat keseimbangan pola ini terjaga sepanjang pertandingan. Rodri akan membuat pola pertahanan lebih stabil karena dia mampu mengisi posisi-posisi yang ditinggal temannya, Rodri juga membuat pola ofensif lebih bervariasi karena keberadaannya membuat pemain lain lebih tenang. Apalagi Barcelona hampir selalu menerapkan high defensive line dengan offside trap yang berbahaya, sehingga adanya Rodri bisa menjadi komando yang memastikan strategi ini berjalan dengan rapi.

Rodri melengkapi koleksi pemain tengah Barcelona, yang meskipun tidak bisa dibilang elit jika menggunakan POV tim-tim besar lainnya, tapi terbukti efektif dalam menjalankan skema Barcelona. Selain Rodri, sudah ada Pedri, Olmo, Fermin, Gavi, Bernal, dan De Jong. Pemain-pemain ini sudah menjadi pemain kunci Barcelona di tahun-tahun sebelumnya, lalu ditambahkan satu pemain yang arguably lebih hebat dari mereka semua. Bukan hanya lebih hebat, tapi juga mengisi kekosongan peran yang selama ini diharapkan ada selepas kepergian Busquets. Sebenarnya Marc Bernal dianggap berpotensi untuk menuju ke sana, tapi dengan adanya Rodri, diharapkan Bernal bisa belajar banyak, dan kelak bisa lebih matang ketika Rodri sudah pensiun atau pindah dari Barcelona.

Sayap kiri adalah salah satu posisi yang dirasa sangat merosot ketika Raphinha cidera, baik secara teknikal maupun energi. Maka musim ini didatangkanlah dua pemain sekaligus yang memiliki kemampuan berlari cepat, pressing tangguh, dan satu kemampuan yang menjadi ciri khas masing-masing, yaitu Anthony Gordon dengan kemampuannya membawa bola dan memberi assist, serta Karim Adeyemi yang memiliki dribble dan finishing sangat bagus. Dengan adanya dua orang ini, penyerangan tidak lagi hanya berkonsentrasi di kanan. Dan efeknya, variasi serangan ini mampu dituntaskan dengan baik dengan gol-gol dari Raphinha.

Komposisi pemain di Barcelona tidak bisa dibilang elit, tapi dibanding banyak tim raksasa lainnya, bisa dibilang tim ini paling balance.

Keseimbangan tim saat ini adalah buah yang dipetik hasil dari perjuangan bertahun-tahun menghadapi kekacauan finansial yang dibuat oleh Presiden sebelumnya, Sandro Rossel dan Josep Bartomeu. Memang di jaman itu Barcelona meraih prestasi yang juga besar, salah satunya adalah meraih treble bersama trio Messi-Suarez-Neymar, tapi banyak sekali pembelian kacau yang tidak jelas dilakukan untuk apa. Paling menempel di ingatan adalah pembelian Coutinho, Griezmann, dan Dembele.
Oke, mungkin pembelian Dembele paling masuk akal, karena waktu itu butuh pemain sayap yang jago dribble, tapi Coutinho dan Griezmann dibeli ketika Barcelona memainkan pola 433 yang tidak membutuhkan pemain nomor 10 seperti mereka.
Dan dari ketiganya, yang paling tidak masuk akal adalah nilai pembeliannya. Dembele 148 EUR, Coutinho 135EUR, dan Griezmann 120EUR. Pembelian yang luar biasa mahal untuk pemain yang tidak terlalu dibutuhkan. Ditambah gaji yang sudah pasti raksasa, kehadiran mereka mengguncang keuangan Barcelona, karena terbukti adanya mereka tidak langsung berbanding lurus dengan hadirnya tropi juara. 
Bartomeu memiliki peran besar dalam dugaan penggelapan dana transfer mereka bertiga, ditambah pemain lain seperti Malcom dan Neymar, serta adanya dugaan peran Bartomeu dalam kasus Negreira yang jadi panas hingga saat ini.
Efek dari belanja jor-joran itu adalah hancurnya keseimbangan keuangan Barcelona yang membuat Barcelona sulit melakukan pembelian pemain karena harus mempertimbangkan pemasukan untuk menutupi hutang yang telanjur besar sekali.
Sulit menghilangkan dugaan saya bahwa dari transfer-transfer besar tersebut, sebagian uangnya masuk ke Bartomeu atau Rosell, atau perusahaan-perusahaan yang terafiliasi.

Indikasi-indikasi itu juga ditemui di Real Madrid saat ini. Pembelian yang tidak bijak, komposisi gaji yang njomplang, posisi pemain yang tidak sesuai, dan presiden tim yang tampak tidak lagi terlalu peduli pada aspek pure football, menjadikan sulit bagi Real Madrid untuk kembali ke rel yang tepat. Apalagi Florentino Perez baru saja dipilih kembali untuk menjadi Presiden klub, maka arah orientasi tim tidak akan banyak berubah.

Barcelona telah melewati masa kelam, dan bounce back great. Paling tidak telah kembali stabil di Liga, dan saatnya kembali mengejar Juara Liga Champion.

Di titik ini, sebagai fans rival, yang bisa saya sampaikan adalah : Good luck, Real Madrid.