Tampilkan postingan dengan label Lazio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lazio. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2020

Take A Look At Lazio 19-20

Sebuah musim yang aneh ketika nonton Lazio maen lebih menyenangkan daripada nonton Barcelona. Itulah yang terjadi di musim ini. Selain karena Barcelona nya memang sulit menemukan permainan cantiknya lagi, Lazio memang sedang bagus-bagusnya. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk euforia karena Lazio untuk sementara berada di peringkat kedua klasemen Serie A, selisih satu poin dengan Juventus. Lazio yang beberapa musim terakhir berjuang untuk masuk zona eropa, saat ini cukup layak untuk membicarakan gelar juara.

(source : sslazio.it)

Sebenarnya apa yang terjadi?

Nggak tau juga, karena itulah saya agak kaget. Cukup lama bagi saya tidak mengikuti perkembangan Lazio, selain karena minimnya tayangan Serie A di televisi, sangat sedikit juga blog atau channel youtube yang membahas perkembangan Lazio. So, mari kita coba kupas sedikit-sedikit jeroan Lazio yang sekarang dilatih oleh Simone Inzaghi sejak 2016 ini.


Ini adalah daftar pemainnya :


No Nama Posisi Umur Tinggi Berat Warga Negara Maen Starter Gol Assist KK KM
17 Immobile, Ciro  F 29 6'1" 80 Italy 26 25 27 7 4 0
1 Strakosha, Thomas  G 23 6'4" 80 Albania 26 26 0 0 1 0
10 Luis Alberto  M 26 6'0" 70 Spain 25 25 4 11 4 0
21 Milinkovic-Savic, Sergej  M 24 6'3" 76 Serbia 25 24 4 4 6 0
33 Acerbi, Francesco  D 31 6'4" 89 Italy 24 24 2 2 4 0
11 Correa, Joaquin  M 24 6'2" 77 Argentina 22 17 7 1 0 0
6 Leiva, Lucas  M 32 5'10" 74 Brazil 22 21 0 1 7 0
26 Radu, Stefan  D 32 6'0" 79 Romania 22 22 1 0 6 0
20 Caicedo, Felipe  F 30 6'0" 81 Ecuador 21 11 8 2 4 0
29 Lazzari, Manuel  M 25 5'9" 67 Italy 21 18 0 2 4 0
19 Lulic, Senad  M 33 6'0" 75 Bosnia & Herzegovina 20 20 0 3 6 0
3 Luiz Felipe  D 21 6'2" 79 Brazil 19 18 1 1 5 0
16 Parolo, Marco  M 34 6'0" 82 Italy 17 6 0 0 5 0
22 Jony  M 27 5'10" 77 Spain 15 6 0 1 2 0
32 Cataldi, Danilo  M 24 5'11" 75 Italy 14 1 1 0 3 0
4 Patric  D 25 6'0" 74 Spain 12 10 0 0 1 0
77 Marusic, Adam  D 26 6'1" 81 Montenegro 10 8 2 0 2 0
15 Bastos  D 27 6'0" 77 Angola 8 3 1 0 2 0
93 Vavro, Denis  D 22 6'3" 0 Slovakia 5 1 0 0 0 0
34 Adekanye, Bobby  F 20 5'7" 0 Netherlands 3 0 1 0 1 0
28 Anderson, Andre  M 19 5'11" 0 Italy 2 0 0 0 0 0
5 Lukaku, Jordan  D 24 5'11" 83 Belgium 2 0 0 1 0 0
7 Berisha, Valon  M 26 5'9" 70 Kosovo 0 0 0 0 0 0
23 Guerrieri, Guido G 24 6'15" 0 Italy 0 0 0 0 0 0
24 Proto, Silvio G 36 6' 0 Belgium 0 0 0 0 0 0

Rata-Rata
26.56









Formasi default Lazio adalah 3-5-2, dengan starter di pertandingan terakhir melawan Bologna adalah sebagai berikut :

(source : livescore.com)

Entah kenapa, Lazio selalu bisa mendapatkan kiper yang bagus-bagus, meskipun tidak termasuk tim yang punya banyak duit. Setelah era Marchegiani dan Peruzzi di masa lalu, Lazio pernah diperkuat oleh Juan Pablo Carrizo, Fernando Muslera, Federico Marchetti, dan saat ini, Thomas Strakosha. Strakosha bahkan didatangkan dengan nyaris gratis, dibina sejak usia muda, dibeli dari Panionios tahun 2012. Sempat dipinjamkan ke Salenitana, Strakosha baru menjadi kiper utama Lazio sejak 2017. Masih berusia 23 dan nyaris tidak ada tekanan sebesar kiper muda lainnya, Donnaruma misalnya, gawang Lazio tampaknya masih aman hingga beberapa tahun ke depan. Kiper yang bagus adalah syarat utama sebuah tim menjadi tim besar.

Deretan pemain belakang relatif tidak memiliki nama besar, dan jarang yang menjadi incaran tim elit eropa. Starter di belakang yang paling sering dipercaya adalah Acerbi, Radu, dan Luiz Felipe. Francesco Acerbi adalah bek timnas Italia yang baru memulai debut di tahun 2014, dan saat ini baru memperoleh 6 caps. Stefan Radu sudah menjadi bek andalan Lazio sejak masih kecil, di tahun 2018, dan pernah jadi kapten di musim 2011-2012. Radu adalah pemain serba bisa, yang bahkan kadang berperan sebagai penyerang sayap. Luiz Felipe bergabung di Lazio sejak 2016, dan sempat dipanggil ke timnas junior Italia, tapi menolak karena bertekad untuk tetap membela negara kelahirannya, Brazil. Ada juga Patric yang adalah lulusan La Masia, berposisi asli bek kanan, tapi juga bisa menjadi pemain tengah atau gelandang bertahan. Sebenarnya Lazio masih punya Jordan Lukaku yang berposisi asli bek kiri, tapi dia sedang bermasalah dengan cidera. Meskipun nama-nama ini relatif kurang terkenal, tapi barisan belakang Lazio sangat kokoh, dengan tingkat kebobolan paling sedikit di Serie A.

Lini tengah adalah kekuatan utama Lazio, dimana Simone Inzaghi menumpuk banyak pemain dengan fungsinya masing-masing. Pemain paling penting, yang mungkin menjadi roh dan jantung permainan Lazio adalah Luis Alberto. Pemain Spanyol ini besar di Sevilla, sempat bermain di Barcelona B, dan pernah mencicipi permainan Premier League ketika dibeli Liverpool. Namun karirnya baru benar benar moncer di Lazio, sejak ditransfer tahun 2016 hanya dengan biaya 4juta euro saja. Dia adalah playmaker yang mengalirkan bola begitu lancarnya, karena memiliki visi yang tajam dan kemampuan memberikan passing yang manis. Luis Alberto menjadi pemuncak sementara pembuat assist di Serie A.
Yang banyak diincar tim besar eropa adalah Sergej Milinkovic-Savic. Pemain dari Serbia ini memiliki gaya permainan ala complete midfielder seperti hybrid antara Paul Pogba dan Yaya Toure. Dengan postur yang tinggi dan kuat, dia cukup baik dalam pergerakan offensive, positional sense, bagus dalam bertahan dan kadangkala membantu tim lewat finishing.
Lalu ada Lucas Leiva, pemain Brazil yang pernah 10 tahun membela Liverpool, pemain tengah yang tidak cepat dan juga tidak skillful, tapi memiliki stamina, workrate, dan antisipasi yang bagus, sehingga bisa ditempatkan sebagai gelandang bertahan dan kadang-kadang menjadi bek tengah dadakan dengan alasan taktis.
Kemudian ada dua pemain muda yang juga bisa diandalkan. Yang pertama adalah mantan pemain SPAL yang sudah punya satu cap timnas Italia, Manuel Lazzari, dan eks andalan Sevilla, Joaquin Correa. Dan tidak lupa kehadiran veteran yang ternyata adalah kapten dan wakil kapten, yaitu Senad Lulic dan Marco Parolo.

Dominasi lapangan tengah tentu tidak bisa menghasilkan output optimal tanpa adanya finisher tajam. Lazio harus berterima kasih banyak kepada top scorer Serie A sementara, yaitu Ciro Immobile. Dengan catatan 27 gol, Immobile unggul 6 gol dari peringkat kedua, Cristiano Ronaldo. Musim ini bisa jadi musim paling produktifnya, karena gol terbanyak sepanjang karirnya terjadi di musim 17/18 dengan 29 gol. Di usia ke 30 ini, Immobile sudah menjalani 39 partai bersama timnas Italia, dan mencetak 10 gol. Immobile bisa berperan sebagai target man ataupun penyerang sayap. Dia memiliki kecepatan dan kekuatan fisik, serta pekerja keras dengan insting finishing yang makin tajam di usia senja. Kelebihan lain Immobile adalah dominan di udara, pergerakan tanpa bola yang bagus, dan punya keunggulan dalam link up play yang membuatnya ada di top 5 daftar pemberi assist Serie A. Lengkap juga ya ternyata. Kok bisa ya masih bertahan di Lazio?
Tandem Immobile adalah Filipe Caicedo. Tidak banyak informasi yang ada tentang striker dengan catatan gol terbanyak kelima sepanjang sejarah timnas Ecuador ini, tapi perannya dalam membuka ruang dan ancaman kedua setelah Immobile rupanya berperan penting dalam skema permainan Lazio.

Mungkin saya musti sedikit kecewa karena entah kapan bisa nonton Lazio lagi mengingat Serie A yang sedang dihentikan karena efek Covid-19, tapi saat ini membicarakan kemungkinan Lazio menjadi juara tidaklah berlebihan, meskipun juga tidak perlu dibesar-besarkan, mengingat kompetisi yang masih menyisakan 12 pertandingan lagi. Ketika artikel ini ditulis, Lazio sedang menjalani unbeaten run terpanjang di lima liga terbaik eropa, dengan catatan 21 pertandingan, thanks to Watford yang menghentikan laju kemenangan Liverpool.

 
-maheinberg, 2020-

08 September 2014

Main Prediksi-Prediksian (Bagian-5-Terakhir)

Setelah sebelumnya saya nulis serial tentang main prediksi-prediksian Piala Dunia di seri satu, dua, tiga, dan empat, sekarang ini adalah Prediksi-Prediksian terakhir, yang bukan tentang Piala Dunianya, tapi tentang bagaimana musim depan bakal berlangsung setelah Piala Dunia lalu.


Cukup excited saya lihat kiprah Van Gaal di Piala Dunia kemarin, karena memang pelatih berkarakter lah yang dibutuhkan oleh Manchester United untuk menggantikan Fergie yang tak bisa lagi dipertanyakan kekuatan karakternya. Van Gaal memenuhi persyaratan soal karakter itu. Masalah yang selanjutnya akan muncul adalah, apakah karakter itu bisa diterima dengan baik di dalam tubuh United sendiri. Dulu, ketika Fergie mendepak Beckham, Stam, Keane, dan bintang-bintang lain, ga peduli seberapa bintangpun mereka, publik tidak terlalu mempermasalahkan. Dulu, United is Fergie. Fergie lah yang bikin lemari piala United jadi penuh sampe tumpe-tumpe, dengan deretan pemain yang hilir mudik gonta ganti. Kini kondisinya tidak lagi begitu. MU sudah menjadi tim elit yang sebelumnya meraih banyak sekali gelar. Sebagian pemain yang sudah dapat banyak gelar itu, masih ada di daftar pemain aktif. Di dalam pikiran dan mentalitas mereka mungkin ada semacam pikiran bahwa mereka adalah pemain berharga yang pernah memenangkan ini, ini, dan ini.

Lalu Van Gaal datang.

Menggantikan Moyes.

Kita bisa mempertanyakan kapasitas Moyes dalam dunia sepakbola. Sebagai pemain maupun pelatih, prestasi Moyes tidak mentereng. Dalam hal ini, Van Gaal sedikit berbeda. Di CV nya Van Gaal ada tulisan pernah juara di liga Belanda, Jerman, dan Spanyol. Plus jadi 2nd runner up Piala Dunia. Plus bumbu mengorbitkan banyak pemain muda yang sebelumnya relatif kurang terkenal. Ya, meskipun ada juga catatan minor seperti gagal membawa Belanda ke Piala Eropa juga sih. Intinya, harapan dibawa membumbung tinggi.

Lalu apa yang dilakukan Van Gaal ketika awal-awal menangani MU?

Pertama, pemain baru. Sejak Van Gaal datang, MU sudah mendatangkan enam pemain dengan nama besar plus harga yang mahal. Membeli Ander Hererra, Luke Shaw, Angel Di Maria, Daley Blind, Marcos Rojo, dan meminjam Radamel Falcao dengan opsi pembelian di akhir musim. Biaya total mendatangkan mereka kurang lebih 150 juta poundsterling. Well, melihat nama-nama yang masuk ini, tidak ada alasan untuk tidak optimis pada perfirma United.

Kedua, strategi baru. Seperti di Timnas Belanda, Van Gaal tampaknya ingin menjadikan pola 3-5-2 sebagai pola utama United. Di pertandingan pra musim, MU tampil sangat meyakinkan dengan formasi ini. LA Galaxy dibantai, Real Madrid dan Liverpool juga dikalahkan.

Ketiga, pengurangan penumpang kapal United. Cleverley, Chicharito, dan Zaha dipinjamkan. Buttner, Vidic, Ferdinand, Bebe, Evra, Kagawa, dan Welbeck dijual.

Namun seperti transisi pada umumnya, ketidakmulusan terjadi di sana sini.

Pertama, transfer pemain masuk mahal-mahal. Ya saya ga ada masalah sama yang satu ini sih. Namanya juga investasi performa dan bisnis kaos. Cuman yang begini relatif jarang banget dilakukan oleh Fergie.

Kedua, tim ini belum sepenuhnya ter-VanGaal. Masih sisa-sisa Fergie dan Moyes. Artinya, jelas perlu ada penyesuaian sana sini masalah sinkronisasi taktik dan stok pemain.

Ketiga, pemain MU kok ya banyak yang kualitasnya "gitu" ya? Bayangkan saja, sudah begitu banyak pemain yang "dikeluarkan", di skuad inti masih ada Anderson, dan Ashley Young. Belum lagi jika ada yang mengklasifikasikan Fellaini dan Valencia sebagai produk (yang taun lalu) gagal.

Jadi prediksi-prediksian nya adalah : MU kembali ke top four, tapi masih berat berjuang untuk jadi juara. Mungkin tahun depan MU kembali jadi tim top Eropa. Champions League challenger.

-----------------------------------

Sekarang ke Barcelona.

Mengakhiri musim tanpa gelar adalah hal yang langka dari Barcelona di tahun-tahun belakangan ini. Kekecewaan itu membuat Tata Martino akhirnya tidak lagi bekerjasama dengan Barcelona, dan kemudian beberapa waktu lalu ditunjuk sebagai manajer timnas Argentina. Solusi yang cukup bagus untuk kedua pihak.

Dan yang dipilih Barcelona untuk menggantikan Tata adalah : Luis Enrique. Satu lagi Manajer yang sebelumnya adalah legenda tim sebagai pemain, sekaligus eks kapten, dan pernah menjadi manajer Barcelona B. So much Guardiola-esque. Untuk pilihan yang satu ini, banyak pihak menilai sebagai transfer terbaik Barcelona selama liburan kompetisi kali ini. Cukup mengenal dan dikenal klub, bersemangat dan dipenuhi jiwa kepemimpinan, pernah berjaya bersama klub, paham potensi pemain muda asli La Masia, dan pengalaman melatih yang cukup.

Konon perubahan besar yang paling nyata sejak adanya Luis "Lucho" Enrique adalah antusiasme, harmoni, dan motivasi di ruang ganti. Hal yang paling terasa lunturnya sejak akhir-akhir era Guardiola, apalagi Puyol sudah ga lagi jadi kapten.

Hal positif kedua adalah di bagian rekrutmen pemain. Valdes dan Pinto yang pergi digantikan dengan tiga kiper yang punya kelebihan masing-masing. Jordi Masip adalah produk asli La Masia yang cukup kenal pakem permainan Barcelona, dan musim lalu bermain sangat bagus untuk Barcelona B. Marc Andre Ter Stegen adalah kiper muda, bersama Courtois, yang dianggap paling berpotensi di dunia. Dan Claudio Bravo, kiper senior yang memiliki jam terbang sangat tinggi, namun tidak langsung kecewa jika saja dicadangkan, mengingat kalibernya yang ga tinggi tinggi banget. Puyol yang memutuskan pensiun digantikan oleh dua bek yang cukup oke, meskipun tidak ekselen. Jeremy Mathieu adalah bek senior yang besar sekaligus cepat, serta cukup baik dalam memainkan bola. Thomas Vermaelen adalah bek tengah yang punya jiwa kepemimpinan oke, meskipun rawan cidera. Kini, Barcelona akhirnya punya empat bek tengah yang bisa diandalkan.

Yang paling oke adalah lini tengah, dengan dipanggilnya lagi Rafinha, dan rekrutmen pemain kunci Sevilla musim lalu, Ivan Rakitic. Dua pemain ini akan menghadirkan alternatif penyerangan dan kreatifitas lini tengah, meskipun Fabregas telah dilepas, dan Xavi tidak lagi jadi pilihan utama. Sebenarnya Deulofeu juga sempat dipulangkan dari peminjaman di Everton, namun kemudian dipinjamkan kembali ke Sevilla, mungkin untuk mempertajam kemampuan defensifnya.

Yang paling fenomenal adalah pembelian striker. Kali ini pembeliannya ga main-main, karena Barcelona berhasil mendatangkan seorang striker dengan kapasitas sebesar Luis Suarez!!! Membayangkan trio Neymar-Messi-Suarez sungguh membuat football enthusiast seperti saya sudah senyum-senyum sendiri bahkan sebelum musim dimulai. Tiga orang ini adalah pendribble terbaik dunia, finisher tajam, sekaligus playmaker handal. Sungguh tidak sabar melihat bagaimana ketiganya bermesraan di lapangan.

Transfer yang kurang dimengerti adalah pembelian bek kanan Sao Paulo, Douglas. Tidak banya informasi yang saya dapat tentang pemain ini. Hanya saja banyak media mengatakan bahwa di Brazil pemain ini justru banyak disepelekan. Namun, menurut board Barca, Douglas menawarkan gaya permainan yang berbeda dengan Alves dan Montoya. Mari kita lihat saja efeknya nanti.

Ada lagi hal yang kembali membuat fans Barcelona girang, yaitu munculnya harapan atas diorbitkannya pemain muda. Di dua pertandingan awal La Liga, Lucho memberikan kesempatan pada dua pemain Barcelona B untuk menunjukkan aksinya. Dua pemain itu adalah Munir El-Haddadi dan Sandro. Ajaibnya, dua pemain ini sama-sama mencetak gol penting di debutnya. Hebatnya lagi, Munir langsung dipanggil Del Bosque ke timnas senior Spanyol, setelah awal tahun ini baru mulai nongol di timnas U-19. Kemudian, Sandro dipanggil ke timnas U-21 untuk menggantikan Munir. Dan menurut artikel di media pro-Barcelona, Munir dan Sandro tidak sendirian. Banyak pemain dengan kapasitas yang tidak kalah hebat sedang menunggu di tim junior Barcelona untuk antinya diorbitkan. Sebut saja misalnya Traore, Samper, Halilovic, Lee, Bagnack, dll. Absolutely exciting!!!

Munir El-Haddadi. Remember this name.


Dengan perombakan tim secara cukup masif oleh Atletico Madrid, dan dilepasnya Alonso dan Di Maria oleh Real Madrid, saya optimis Barcelona akan melenggang jadi juara La Liga di akhir musim ini. Bahkan termasuk top challenger untuk jadi juara Liga Champion. Top contender di Eropa adalah Chelsea yang semakin berevolusi, dipimpin oleh pelatih spesialis parkir bus yang kini makin hebat dalam menyusun barisan ofensif.

-----------------------------------

Sementara itu....

Lazio masih berkutat di papan tengah. Tidak banyak informasi yang beredar, dan sedikit pertandingan yang disiarkan.

Tapi Jersey ketiga yang kemaren dipake lawan Milan keren banget.


-----------------------------------

Dan di Indonesia...

Arema lolos jadi juara grup barat, dan segera menuju babak 8 besar. Jika dilihat dari performa sepanjang musim, Aremania layak optimis. Tapi jika dilihat di beberapa pertandingan terakhir, Suharno dan anak buahnya patut waspada dan tidak kehilangan konsentrasi.

AREMA JUARA !!!

-----------------------------------

Sekian.

31 Mei 2014

Ocehan Akhir Musim

Tidak banyak hal yang membuat saya termotivasi untuk menulis di musim ini. Opini saya untuk MU sudah mentok di tulisan terakhir saya. Tentang Lazio juga tidak banyak karena saya jarang nonton Lazio bermain akibat jarangnya ditayangkan di tivi. Yang sebenarnya cukup dramatis adalah tentang Barcelona. Sempat menyiapkan tulisan ketika Barcelona kalah 3 beruntun sekaligus di tiga kompetisi, namun kemudian niat saya kembali hilang dan lebih tenggelam dalam nuansa muram penuh kesedihan dan menyiapkan bendera setengah tiang. Harapan sempat muncul di partai terakhir La Liga, namun tidak disahkannya gol Messi akhirnya meresmikan kegelapan musim ini bagi Barcelona.

Yang paling cerah di musim ini adalah mengenai kiprah Arema. Bermaterikan pemain yang lebih seimbang dan dalam, Arema berhasil memuncaki klasemen, paling tidak hingga paruh musim. Belakangan, skema permainan Arema rupanya makin bisa dibaca para lawan, dan terlihat tidak lagi setaktis dan secerdas di awal musim. Hal seperti sangatlah wajar dan biasa dalam mengarungi satu musim penuh, sekaligus menghadirkan deg-deg-ser dan adrenalin setiap kali menonton pertandingan-pertandingan ISL, terutama Arema.

Sekarang, sangat menarik menunggu bergulirnya Piala Dunia yang kira-kira dua minggu lagi bakal dimulai, karena selain memang seru, Piala Dunia selalu menjadi etalase para pemain yang siap mempertontonkan keahliannya untuk membawa negaranya berprestasi, dan jika beruntung kapasitas individualnya bisa saja menggoda tim besar Eropa untuk dipinang. Sebuah pinangan yang juga berarti oportuniti popularitas dan kemewahan duniawi. Kelak, semoga saja saya tetap semangat, saya ingin menulis khusus tentang Piala Dunia kali ini ditambah tentang preferensi unggulan saya.

Di tulisan ini saya ingin sejenak ngoceh ngalor ngidul tentang musim yang baru berlalu sekaligus harapan buat musim depan.

Well, musim ini cukup jadi anomali. Messi ga dapet Ballon D'Or dan tidak ada di tim terbaik La Liga, Arsenal dapat gelar, MU ga lolos liga eropa, Real Madrid dapat gelar Liga Champion, tim yang mengalahkan Barcelona tidak juara Champion, juara La Liga bukan Barcelona atau Real Madrid, Liverpool bersaing jadi juara hingga partai terakhir, dan akankah serangkaian anomali ini nantinya diakhiri dengan kesuksesan Inggris menjadi juara dunia? Silakan tertawa sejenak jika memang pingin.

Ini adalah musim terbaik untuk para MU Haters, karena entah mengapa begitu susahnya bagi seseorang yang sebut saja namanya Moyes untuk mengajak para pemain MU rela berjuang untuk cari kemenangan. Skuad yang nyaris sama persis dengan musim lalu itu tampil melempem di sebagian besar pertandingan Liga. Padahal ini skuad juara bertahan. Moyes pun mencatat banyak sekali rekor. Rekor yang sebaiknya tidak perlu lagi diingat-ingat. Rekor yang saya yakin tidak akan lagi ada musim depan, karena MU telah menunjuk pelatih yang lebih teruji. Orang itu adalah Van Gaal. Lebih ada harapan yang bisa digantungkan, mengingat CV Van Gaal cukup tebal. Saya harus mengakui bahwa di musim ini pendapat saya mengenai Fellaini tidak tepat. Entah apa yang akan dilakukan Van Gaal pada si kribo ini, semoga saja di piala dunia dia bisa menemukan lagi semangat dan niat main bolanya yang kemarin-kemarin mungkin nyebur di kali deket merseyside. Jika melihat track record Van Gaal, harapan untuk melihat MU kembali bermain atraktif, kuat, dan mengorbitkan banyak pemain muda jadi kembali melambung tinggi. The old Manchester United is soon arriving.

Dan Barcelona.

Ah, banyak sekali yang ingin saya ocehkan tentang Barcelona ini. Sempat bagus banget di paruh pertama kompetisi, eh kemudian mlempem dan sering banget bermain tanpa intensitas dan seolah tidak terlalu ingin menang. Memang ini adalah musim yang berat, mengingat banyak hal terjadi di dalam dan, lebih lagi, di luar lapangan. Pelatih baru, banyak cidera, Neymar si pemain baru, berkolaborasi dengan serangkaian kasus hukum, presiden mundur, transfer ban, hingga kematian Tito Villanova. Bisa saja ini menjadi alasan terdepan, namun tetap saja sebagai penonton saya tetap berharap lebih. Namun ya begitulah adanya, Barcelona hanya meraih Piala Super Spanyol di awal musim menyingkirkan Atletico Madrid, tim yang tidak pernah dikalahkan Barcelona di enam kali pertemuan musim ini. Perasaan paling mendominasi ketika musim ini berakhir adalah : Lega.

Lega karena musim aneh ini sudah berlalu, dan lega karena wake up call kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dan dengan tidak adanya tropi di akhir musim ini, maka saya merasa dominasi Barca era Guardiola resmi berakhir, sehingga fans Barcelona tidak perlu lagi terjebak di masa itu, dan bisa merasa bahwa sudah waktunya Barcelona berbuat sesuatu yang lebih masif. Penunjukan Luis Enrique adalah langkah awalnya. Sebagai orang yang mengenal Barcelona luar dalam sejak lama, ditambah pengalaman dua tahun melatih tim lain, Lucho punya banyak bekal untuk memoles Barcelona menjadi tim yang kuat, tanpa meninggalkan filosofi mendasar, namun dengan sentuhan baru yang berbeda. Apa bedanya? Entahlah. Semoga saja memang ada yang berbeda. Barcelona effect sudah sangat viral, sehingga begitu dikenal dan dipelajari dengan baik di seluruh dunia, sehingga jadi pe er besar buat Enrique untuk tetap berada di track identitas itu tanpa harus menjadi mudah terbaca.

Lucho juga sangat familiar dengan para pemain muda Barcelona. Ini menjadi modal yang sangat kuat untuk kembali menjadikan La Masia salah satu pabrik pemain hebat yang dicetak dan digunakan oleh Barcelona. Paling tidak pemulangan Deulofeu dan Rafinha yang sangat diinginkan Luis Enrique cukup menjadi sinyal yang lebih baik daripada apa yang dilakukan Tata Martino yang kurang mengenal segudang (literally, maybe) potensi besar di sekolah bola di pelataran halaman Barcelona itu. Kenyataannya, jika sempat melirik ke bawah sebentar, tahun ini tim junior Barcelona mampu meraih 16 gelar yang sangat prestisius di berbagai level. The future is on their hands.

Dua nama yang hilang dari daftar pemain Barcelona musim depan, Puyol dan Valdes, pasti akan membawa pengaruh besar untuk bentuk permainan Barcelona. Kemudian board Barcelona mengatakan akan mendatangkan banyak pemain, terutama dua kiper, dua bek, satu pemain tengah, satu winger, dan satu striker. Bisakah ini disebut revolusi? Puyol adalah playmaker mental yang bisa saja adalah yang terbaik yang pernah dimiliki Barcelona. Valdes, indeed, adalah kiper terbaik sepanjang sejarah klub. Mungkinkah dicari penggantinya? Well, menarik untuk melihat pergerakan manajemen Barcelona bersama dengan Enrique untuk mengatasi hal ini. Berita terakhir mengatakan, club telah mengkonfirmasi mengangkat Puyol sebagai "Assistant to Sport Management". Satu lagi eks pemain sekaligus kapten Barcelona yang berada di jajaran manajemen Barcelona. Mes Que Un Club.

Dan setelah lega, yang mengiringi kemudian adalah : optimis.

For both Barcelona and Manchester United.

Makin excited menunggu musim depan.

Dan menunggu FM 2015.

Terakhir, ada pesan buat yang telah lama terlelap di Italia.
Bangkitlah nak, wahai tim ibukota. Lihatlah tetanggamu yang menguat. Aku ingin melihat kuartet lini tengahmu jadi yang terbaik lagi di Italia. Semoga board mu mulai terketuk hatinya untuk mengembalikanmu ke jalur yang sama dengan yang terjadi 15 tahun yang lalu. Aamiin.

16 Mei 2012

Ah, Prediksi Apaan Ini?

Sekitar sebulan lalu, dengan penuh percaya diri dan disisipi doa serta pengharapan yang kental, saya menuliskan prediksi atas apa yang akan terjadi di akhir musim liga-liga top Eropa. Kesimpulannya, di tulisan itu saya memprediksikan Juventus, Barcelona dan Manchester United akhirnya keluar menjadi juara. Memang rasanya lebih banyak berisi keinginan subyektif daripada prediksi obyektif. Namanya juga fans, bias seperti itu tidak aneh. Hanya ramalan atas Juventus yang terbukti benar, tapi saya bukan fans Juventus. Saya Laziale yang bersyukur Lazio masih bisa finish di urutan keempat, meskipun lagi-lagi harus kecewa karena gagal meraih posisi ketiga, dan tidak bisa berkiprah di Liga Champion musim depan.

Lazio
Sempat menjanjikan di awal musim dengan rekrutmen Djibril Cisse dan Miroslav Klose, namun hanya Klose yang akhirnya tampil meyakinkan dan menjadi pemain kunci. Saking kuncinya, permainan Lazio jauh menurun ketika Klose tidak hadir. Cisse juga dijual di tengah musim ke QPR, yang kemudian memulai debutnya dengan kartu merah. Gosip transfer mengatakan, Lazio akan kembali memulangkan sang pangeran, Alessandro Nesta, dari AC Milan, dan akan menjual beberapa pemain, termasuk Hernanes. Intinya, belum terlihat upaya serius dari board untuk kembali mengangkat Lazio menjadi klub elit Italia, Eropa dan dunia. Sebagai fans, saya hanya bisa menunggu kejutan yang mungkin akan terjadi di musim depan. Sebuah penantian panjang yang belum juga kesampaian sejak era Hernan Crespo.

08 April 2012

Mengintip Peluang Juara Liga Elit Eropa

Liga-liga eropa makin mendekati akhir musim. Kandidat juara semakin mengerucut. Di tiga liga top eropa, pertarungan hanya menyisakan dua kontestan. Barca-Madrid di Spanyol, United-City di Inggris, dan Juve-Milan di Italia. Di penghujung minggu awal April ini, terjadi kejutan di tiga liga itu.

Mari kita mulai dari Italia. Saya laziale, sehingga cukup netral melihat persaingan Milan-Juve. Tapi untuk musim ini, saya lebih mendukung Juve. Mengapa? Sederhana saja, karena Juventus pada dasarnya adalah tim besar Italia yang kehilangan pamor paska calciopoli, sehingga ini waktu yang tepat untuk mulai bangkit. Selain itu, tahun lalu Milan sudah juara, ya tahun ini gantian lah. Hehehehe.
Kejutan Serie-A kali ini adalah dengan kalahnya Milan dari Fiorentina di San Siro. Kekalahan ini seperti 'memberi' Juventus kemudahan untuk menyalip Milan, mungkin lebih mudah dari yang mereka duga. Kekalahan Milan dari Barcelona berlanjut pada performa kurang baik di Serie A. Saya kurang tahu apakah kali ini banyak yang menyalahkan wasit lagi atau tidak. Dari tujuh pertandingan sisa, Juventus masih akan menghadapai Lazio dan Roma, tapi dua-duanya di kandang. Tentunya saya ingin Lazio mengalahkan Juve, tapi saya memprediksikan Juve yang akan menang. Sisanya, Juve akan menghadapi lawan yang relatif tidak berat. Sebenarnya Milan juga memiliki sisa pertandingan yang tidak berat, namun masih ada satu pertandingan tandang melawan Inter Milan. Meskipun partai ini "tidak terlalu tandang"' buat Milan, namun dengan kondisi mental seperti sekarang dan dengan posisi klasemen di bawah Juve, saya rasa agak sulit buat Milan untuk meraih seluruh kemenangan di tujuh laga sisa dan finish di akhir musim sebagai juara. Tahun ini sepertinya akan jadi milik Juventus. Semoga tahun depan Lazio bisa bicara banyak.


09 September 2011

Lazio Will Be Back!!!

Sempat menjadi tim besar yang disegani di Italia di akhir 90an, prestasi Lazio perlahan-lahan menurun, terutama setelah terkena skandal Calciopoli. Setelah meraih gelar juara di Tahun 2000, Lazio kemudian mengalami krisis keuangan parah, konon awalnya disebabkan oleh pembelian Hernan Crespo yang terlalu mahal. Beberapa tahun terakhir bahkan Lazio tidak lagi diperhitungkan sebagai tim elit, dan hanya identik dengan gelar tim medioker. Namun Lazio membuktikan kebangkitannya sejak tahun 2010, dan setahun kemudian Lazio mengakhiri musim 2010/2011 dengan finish di peringkat ke lima. Memang belum membanggakan, tapi cukup menjanjikan. Asa tersebut semakin meninggi jika kita melihat transfer yang dilakukan Lazio pada awal musim 2011/2012.

Hernan Crespo kala masih berseragam Lazio

Meskipun kehilangan kiper utama yang juga kiper pertama Uruguay, Fernando Muslera, yang hijrah ke Galatasaray, serta dipinjamkannya striker Mauro Zarate ke Inter Milan, Lazio kedatangan beberapa pemain yang cukup bagus. Sebagai pengganti Muslera, Lazio berhasil mendatangkan kiper Internasional Italia, Federico Marchetti. Marchetti yang lahir tanggal 7 Februari 1983 ini adalah kiper kedua timnas Italia setelah Gianluigi Buffon. Kiper yang dibeli dari Cagliari ini sebelumnya lebih sering bermain di klub-klub kecil seperti Biellese dan Albinoleffe, namun mampu menyajikan performa memikat, hingga akhirnya dipanggil ke timnas.
Di belakang, Lazio menambahkan eks bek tengah Sampdoria, Marius Stankevicius. Bek jangkung ini sebelumnya dipinjamkan ke Valencia.