Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan

27 Mei 2018

Bukan Saat Yang Tepat Untuk Berbahagia (Fans Barcelona Lagi Ngomel)

Ini adalah masa-masa sulit sebagai Fans Barcelona. Bahkan domestic double pun tidak mampu mengurangi kemuramannya.
( gambar dari : sini )

Yang harus disalahkan pertama adalah Pep Guardiola. Dia bersalah karena sempat meletakkan standar yang begitu tinggi dan ideal yang nyaris tercapai. Guardiola lah yang bertanggung jawab pada permainan kolektif yang sangat menghibur, dan membawa Barcelona menjadi tim yang dominan, merajai dunia, serta menjadi standar bagaimana sepakbola itu harus dimainkan. Dalam prosesnya, Guardiola membangun pondasi permainan tim dari pemain-pemain yang berasal dari akademi sendiri, sekaligus mempersiapkan beberapa pemain lain dari La Masia untuk diharapkan menjadi pemain kunci di masa yang akan datang. Permainan menghibur, bintang-bintang besar, diisi pemain akademi sendiri, dominan, dan prestasi yang terus mengalir yang juga berarti banyak penghasilan untuk klub, sebuah kombinasi yang mengundang banyak orang untuk mencintai, yang datang dengan ekspektasi sangat tinggi, tanpa sadar bahwa kondisi seperti itu belum tentu datang 10 tahun sekali. Standar tinggi itu selalu terpatri di benak mayoritas fans Barcelona, sehingga sulit menjadi bahagia dan dibahagiakan. Bayangkan, Luis Enrique berhasil membawa Barcelona mendapatkan treble, tapi banyak yang memintanya untuk dipecat. Valverde sukses mendapat gelar La Liga dan Copa Del Rey, tapi hashtag #ValverdeOut juga merebak bahkan sejak tengah musim, padahal sepanjang musim hanya sekali kalah di Liga.

Yang bersalah kedua adalah Real Madrid. Ya tentu saja dari kacamata fans Real Madrid ini bukanlah kesalahan. Terbayang betapa ringannya jadi fans Real Madrid. Sepuluh tahun hanya dapat satu gelar Liga adalah hal yang biasa saja, toh semua tertutupi dengan empat gelar Liga Champion dalam 5 tahun terakhir. Barcelona dapat tujuh, lho. TUJUH. Tujuh banding satu ya lumayan lah ya. Bandingkan dengan Liga Champion, dalam 10 tahun terakhir Barcelona bisa mengumpulkan tiga, dibandingkan dengan empat milik Madrid. Tidak terlalu jauh memang, tapi Madrid melakukan itu dengan dahsyat, karena tiga diantaranya berturut-turut, ditengah mitos sebelumnya bahwa sekedar mempertahankan juara saja sangat sulit. Bahkan (arguably) The Best Barcelona in history saja empot-empotan dalam mengejar itu tanpa pernah meraihnya. Dalam rentang 10 tahun itu pula, Barcelona meraih dua treble, yang salah satunya sapu bersih seluruh kompetisi lainnya. Itupun bukan hal yang istimewa-istimewa amat di mata fans Barcelona, selama mereka tidak bermain dengan indah, dalam standar masing-masing tentunya. Perbedaan standar kebahagiaan ini membuat hidup fans Barcelona sebenarnya dipersulit sendiri. Ya, saya juga.

Ketiga, faktor Zinedine Zidane. Awalnya banyak yang menganggap bahwa Zidane akan menjadi Guardiola-nya Madrid. Legenda di timnya, pernah menanangani tim junior, lalu membawa tim senior menuju kejayaan. Bedanya kemudian, Zidane lebih terlihat menonjol dalam man management yang mampu membuat para pemainnya percaya dan mengeluarkan kemampuan optimalnya, namun tidak mencatatkan identitas pada pola permainannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kelemahan, tapi lama-lama bisa jadi itulah kelebihannya. Semua lawan Real Madrid selalu menduga apa yang akan dilakukan Zidane, bisa baik dan juga bisa buruk. Bahkan di kalangan fanbase, termasuk fanbase Real Madrid sendiri, Zidane tidaklah dikenal sebagai tactical genius. Tadinya sayapun meremehkan kemampuan Zidane, dan menganggap kejayaan Real Madrid di Liga Champion banyak didukung faktor kebetulan. Tapi kalo bisa konsisten meraih juara hingga empat kali dalam lima tahun, keyakinan terhadap kebetulan tersebut harus dipertanyakan. Mungkin Zidane sengaja menjebak pikiran semua orang bahwa dia agak abal-abal, tapi kemudian menghajar siapapun yang meremehkan dia.

Keempat, Cristiano Ronaldo. Untuk sebagian fans Barcelona, perbandingan Messi vs Ronaldo tidak pernah ada, karena sekedar dibandingkan aja udah nggak pantes. Messi sejak awal sudah tak tertandingi tak sekedar karena kemampuannya mencetak gol, tapi juga memahami permainan, kemampuan memberikan assist, kebisaan playmaking khas La Masia, dan membawa timnya menjadi dominan siapapun yang ada di sekitarnya, bahkan dengan mengisi posisi yang berbeda-beda. Ibaratnya, ketika ada yang menganggap bahwa Ronaldo bisa disejajarkan dengan Messi, maka orang itu sudah dianggap beda "agama" dan pemahaman dalam sepakbola, sehingga debat tidak perlu dilanjutkan karena hanya akan meributkan "keyakinan", dan nggak bakal ada ujungnya. Sayangnya, Ronaldo pernah berprestasi besar dengan negaranya dengan meraih Piala Eropa, meskipun di final dia hanya berjuang dari pinggir lapangan. Sementara Messi yang membawa timnya yang semenjana menuju final turnamen penting tiga kali berturut-turut tetap dianggap fraud karena selalu gagal menjadi juara. Ronaldo juga berhasil menyamai raihan Ballon D'Or Messi, sehingga tema ini tidak lagi bisa jadi bahan untuk disombongkan. Di saat yang sama, ketika Messi sudah melewati Ronaldo dalam meraih sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak eropa, hal itu menjadi hal biasa saja, padahal seharusnya ini juga membuktikan bahwa "Ronaldo is the better scorer" tidak lagi valid. Lagi-lagi semua agak tertutup kenyataan ketika Ronaldo sudah memegang lima piala Liga Champion, sementara Messi baru tiga. Nah, ketimpangan antara keyakinan dan tulisan raihan itu cukup mengganggu tidur malam hari.

Kelima, barisan pengurus Barcelona. Well, yang ini lebih serius sekaligus mengawang-awang, karena sumber informasinya hanya dari berita. Dulu, jaman Real Madrid mengumpulkan para superstar sehingga akhirnya dijuluki Los Galacticos, Florentino Perez dianggap hanya mementingkan marketing tim tanpa benar-benar mengejar prestasi. Buktinya, pemain yang dibeli adalah para pemain bintang, tapi prestasi biasa saja, tidak istimewa. Tapi sekarang berbeda, ketika filosofi Los Galacticos tidak lagi dianut, Real Madrid justru banyak percaya pada pemain muda yang sebagian berasal dari akademi sendiri, dan banyak merawat pemain asli Spanyol, dengan otak permainan tetap bertumpu pada pemain tengah yang mampu mendikte permainan dan sangat hebat dalam mempertahankan bola. Sebuah filosofi yang "sangat Barcelona". Lalu lihatlah Barcelona sekarang. Semua dimulai dengan dijualnya Thiago ke Bayern Muenchen. Bukan benar-benar dijual sih, tapi klausul kontrak menyatakan bahwa release clause Thiago cukup rendah, namun akan menjadi tinggi jika memenuhi jumlah jam main tertentu. Kemudian Thiago jarang dimainkan, dan dia bebas memilih bermain di manapun, karena jelas tawaran yang datang tidak sedikit. Kemudian bertahun-tahun kemudian disusul dengan lepasnya Dani Alves yang ketika keluar menyatakan kekecewaannya pada pengurus. Lalu Xavi, lalu Iniesta, tanpa benar-benar direncanakan siapa yang akan meneruskan tugas mereka yang tadinya menjadi nyawa permainan indah Barcelona. Entah apa yang akan terjadi di Barcelona kelak ketika Messi tak lagi disana. Lalu Sandro Rosell dipenjara sehubungan dengan proses transaksi Neymar, posisinya sebagai Presiden diganti Bartomeu. Di 2015, mengingat prestasi Barcelona yang masih mentereng, Bartomeu kembali terpilih menjadi Presiden mengalakan Joan Laporta, sebuah hasil yang diprediksi banyak pihak akan membawa Barcelona menuju kemunduran dalam beberapa tahun ke depan. Awal musim 17/18 sesungguhnya sudah bisa menjadi tolak ukur dimana Barcelona hanya memperkuat lini tengahnya dengan pemain yang pernah gagal di Inggris, dan kemudian menjalani karir di Liga Cina, tanpa menghadirkan pemain tengah yang mampu menjadi pengatur permainan ala Xavi atau Modric. Padahal telah muncul beberapa nama, salah satunya Jean Michael Seri yang pada akhirnya juga gagal didaratkan di Camp Nou. Sementara Real Madrid yang tahun sebelumnya menjadi double winner justru dianggap memiliki skuad yang sangat lengkap dan seimbang. Superstar yang siap jadi starter, dan sekumpulan anak muda potensial yang tidak keberatan dicadangkan, tapi siap meledak ketika diperlukan. Real Madrid diprediksi akan dominan, sementara Barcelona adalah underdog. Sebuah posisi yang terbalik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tapi ya sudahlah, inilah kenikmatan menggemari sepakbola. Apalagi dengan rivalitas sengit seperti ini, drama yang dihasilkan cukup mengaduk-aduk perasaan, itu yang paling penting. At least Barcelona kembali punya tujuan besar untuk dikejar. Kalo lagi maen Football Manager, masih ada sembilan musim lagi untuk semangat menyalip raihan Liga Champion. Kembali dominan seperti era Guardiola tampaknya terlalu berlebihan dan hanya menjadi semacam ilusi, yang penting menjaga agar tetap kompetitif dan semoga dipersiapkan dari sekarang jika kelak Messi pensiun. Liga domestik adalah uji konsistensi, Liga Champion adalah uji eksplosifitas. Terbukti Real Madrid belum konsisten untuk menjadi eksplosif di tangan Zidane meskipun dikawal pemain-pemain dengan nama besar, hal ini bisa dilihat dari hebatnya Real Madrid di Liga Champion, tapi sering kalah atau seri di La Liga melawan tim-tim kecil. Namun Barcelona juga gagal untuk menjadi eksplosif di sejumlah kecil pertandingan, tapi di masa yang sangat krusial, seperti ketika melawan AS Roma di Olimpico. Musim depan akan menjadi tes yang baru lagi, dengan kemungkinan drama yang baru pula. Saingan utama Barcelona masih Real Madrid, baik di Spanyol maupun Eropa. Mungkin akan ada Bayern Muenchen, Manchester City, Juventus, atau PSG, tapi masih sedikit tertinggal di belakang duo tim Spanyol ini. 

Momen-momen seperti inilah makin membuat saya jatuh cinta pada sepakbola.

Enjoy the moment, salam olahraga.

09 Juni 2015

Not The Most Beautiful Barca, But...

Masih terbayang betapa Guardiola pernah mampu memalingkan perhatian dunia para pemerhati sepakbola dengan Barcelona nya waktu itu. One of the best team ever, kata media. Dan memang itulah salah satu alasan saya makin senang mengamati sepakbola. Barcelona nya Guardiola adalah implementasi dari bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan. Teknikal, taktis, menyerang, dan menang. Brilian secara individu, dan lebih besar lagi secara tim. Sempurna.


Tapi ternyata kesempurnaan memang tidak ada. Seperti yang diyakini banyak orang, siklus sebuah winning team akan terhenti di tahun keempat. Dan empat tahun itulah lamanya Guardiola menangani Barcelona. Katanya sih dia lelah secara emosional karena sangat intens memikirkan mainan favoritnya itu.

Di tangan Guardiola, Barcelona sangat dominan baik di Spanyol maupun Eropa. Mereka menganut filosofi sepakbola menyerang yang jelas menjadi identitas. Filosofi "pertahanan terbaik adalah menyerang" benar-benar diterapkan. High-line pressing, triangle method, fluid passing, Messi's false nine, dynamic off-the-ball movement, tiki-taka, semua membuat permainan Barcelona menjadi sangat menghibur. Inilah yang saya perlukan dari pertunjukan sepakbola. Hiburan. Permainan mereka sungguh menarik. Sangat cantik.

Sejak akhir siklus empat tahunan itu, Barcelona tidak lagi sama. Tito sukses meraih gelar La Liga dengan tetap mempertahankan filosofi tiki-taka, tapi tidak lagi dominan, kehabisan energi di akhir musim. Tata yang menggantikannya malah gamang dengan apa yang harus dilakukannya. Mau tiki-taka, eh kurang master. Mau nyoba main direct, eh diprotes kanan kiri. Mengingkari identitas, katanya. Gagal deh dia dapet apapun. Mundurlah dia.

Lalu datang Luis Enrique. Sesama mantan pemain Barcelona, dan sama-sama pernah sukses menangani Barcelona B. Bedanya dengan Pep, Luis Enrique sempat mampir dulu di tim lain sebelum menangani Barca senior.

Sama seperti era Tito dan Tata, kedatangan Luis Enrique selalu dinaungi bayangan kesuksesan Pep dan tiki-taka yang melegenda, atas nama identitas. 

Kemudian apa yang dilakukannya?

Para pengamat (baik profesional, amatir, maupun dadakan) sempat mempertanyakan kemampuan taktis Lucho yang dianggap tidak brilian. Kritik juga muncul tentang pilihannya dalam merotasi pemain. Ada juga yang mengkritisi pengkhianatan nya pada identitas Barca karena banyak menggunakan counter attack sebagai senjata. Ketika muncul rumor Lucho kurang akur dengan Messi, maka meledak lah semua, tagar #luchoout muncul dimana-mana. Dan merebaklah label "pelatih medioker".

Lalu sekarang kita berada di bulan Juni. Barcelona berhasil mengambil jatah tiga tropi (semua!!) yang diperebutkan sepanjang musim, untuk dijadikan tambahan isi lemari koleksi. Tim pertama di Eropa yang mampu meraih Treble Winner lebih dari satu kali. Yang jadi manajer mereka masih sama dengan yang sempat disuruh keluar beberapa bulan lalu. Orang yang kurang jenius dalam menyusun taktik itu. Orang yang mengkhianati identitas itu.

Well, dari mata possession-fanatic, Lucho memang bisa dibilang gagal. Soal dominasi penguasaan bola, Barcelona kalah ketika menghadapi Real Madrid (!!) dan Bayern Muenchen yang dilatih mbah nya tiki-taka. Barcelona terlihat agak gugup sewaktu harus menjaga bola tetap dalam kendali ketika menghadapi tekanan tinggi. Tidak ada yang mengisi peran Xavi seperti enam tahun lalu.

Tapi memang mungkin tidak perlu mencari pengganti Xavi.

Kekuatan utama Barcelona saat ini bukan pada possession, meskipun secara umum mereka masih dominan. Bagaimanapun juga Busquets dan Iniesta adalah bagian penting dari dominasi lini tengah Barcelona selama bertahun-tahun. Namun tanpa disadari para Cules, Lucho berhasil menambahkan plan B, plan C, dan seterusnya, sebagaimana dulu pernah diinginkan para fans ketika Guardiola gagal menembus parkir bus, dan tetap bersikeras mencoba meruntuhkan tembok itu dengan satu cara saja, tiki taka. Barcelona kini bisa melakukan counter attack cepat dan mematikan. Barcelona memiliki pertahanan yang solid. Barcelona memiliki kemampuan lebih dalam bola mati, baik menyerang maupun bertahan. Dan yang tak kalah penting, Lucho terbukti mampu menghadirkan suasana kondusif di ruang ganti, dan sukses menjaga kebugaran para pemain sehingga siap sedia untuk dimainkan kapanpun diperlukan. There is no Hlebruary, Maret pun dilalui dengan mulus, dan mayoritas pemain sanggup bermain dengan intensitas tinggi hingga peluit akhir berbunyi. Sungguh bukan hal yang mudah. Coba saja intip daftar cidera di Bayern Muenchen dan Real Madrid.

Barcelona juga tidak ragu untuk menyerahkan pride nya sebagai master penguasaan bola. Lihatlah ketika Juventus mulai nyaman mengendalikan lini tengah, di saat itulah Barcelona mampu mencetak gol kedua, dan juga gol ketiga di akhir pertandingan. Ketika sulit menembus pertahanan melalui tiki-taka, maka biarkan saja mereka yang berkonsentrasi menyerang, lalu hukum mereka dengan counter attack. Toh akhirnya possession total masih menjadi milik Barcelona.

Identitas Barcelona di tangan Guardiola memang menjadi senjata andalan. Namun di sisi lain, itu sekaligus menjadi titik lemah, karena faktor predictable. Ya, Guardiola akan selalu memainkan tiki-taka, tak peduli siapapun lawannya. Secara umum, Guardiola memang berhasil. Hanya satu dua kali saja filosofi itu berhasil diredam, sehingga muncullah anti-Barcelona. Namun dari yang sekali dua kali itulah justru membuat Barcelona kehilangan tropi-tropi penting, dan kadang terlihat sangat membosankan. Untuk hal itu, salahkan Mourinho.

Lucho memang tidak membawa Barcelona selalu bermain indah. Keindahan bukan lagi hasil yang selalu dijanjikan Barcelona dalam permainannya. This is no longer the most beautiful Barcelona. Tapi, bisa jadi ini yang paling seimbang dan paling kuat.

Dari yang paling belakang, mungkin untuk pertama kalinya Barcelona memiliki kombinasi kiper yang lengkap. Claudio Bravo menyediakan pengalaman, ketenangan, dan reflek yang bagus. 20 clean sheet dan penyelamatan membuatnya meraih tropi Zamora pertama dalam karirnya, di musim pertama bersama Barcelona. Marc Andre ter-Stegen adalah kiper muda yang memiliki bakat besar yang dianggap memiliki potential ability lebih tinggi daripada Bravo, dan dilengkapi kemampuan kontrol bola dan passing menggunakan kaki yang tidak kalah dari pemain tengah sekalipun. Satu skill yang sangat diperlukan oleh tim yang membangun pola serangan dari lini paling belakang. Bahkan, di bangku cadangan pun Barcelona memiliki kiper yang cukup tangguh didikan asli La Masia, yaitu Jordi Masip. Meskipun tidak banyak bermain, banyak mantan rekan setimnya yang mengakui kemampuannya. Sungguh sebuah kemewahan.

Gerard Pique dan Javier Mascherano masih berkuasa di depan kiper, tapi sangat berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Jika dulu Pique dianggap sangat menurun karena terlalu banyak goyang bareng Shakira, maka Mascherano adalah hasil eksperimen gagal dalam mengubah peran gelandang bertahan menjadi bek tengah. Kini, setelah sempat diasingkan di bangku cadangan untuk lebih banyak merenung dan memahami arti kehidupan lebih dalam, maka Pique kembali menjadi salah satu bek tengah terbaik dunia, menyisihkan pendatang baru yang terlihat sepuh dan bengal, Jeremy Mathieu. Sementara Mascherano yang memang memiliki pemahaman taktik yang cerdas dan tackling keras yang akurat menjadi pemimpin penting di belakang. Hadirnya Mathieu sendiri selain menjadi penantang penting bagi Pique ternyata juga sangat berharga, karena kemampuannya untuk juga bermain di posisi bek kiri, serta kelihaiannya dalam menjadi target untuk bola mati. Badannya yang tinggi sekaligus cepat dalam berlari sanggup menutupi kelemahannya dalam membaca pergerakan lawan dan melakukan distribusi. Di saat yang sama, Marc Bartra juga mendapatkan waktu bermain yang cukup, meski tidak banyak, yang membuatnya masih betah untuk bertahan, dan mudah-mudahan semakin mendorongnya untuk naik kelas sehingga bisa menjadi starter. Plus pembelian Vermaelen yang sepanjang musim harus berkutat dengan cidera bawaan, sehingga lebih mirip seperti pembelian untuk musim depan. Di masa jayanya, Vermaelen adalah pemimpin di barisan bek Arsenal dan Belgia. Mudah-mudahan dengan recovery yang baik dia bisa mempertebal kedalaman skuad Barcelona.

Masih di belakang, bagian kanan dan kiri relatif lebih fix, karena kenyataannya Jordi Alba dan Dani Alves tetap tak tergantikan. Jordi Alba begitu stabil meng cover pertahanan dan penyerangan sekaligus, meskipun kemudian agak menurun pasca cidera. Sementara Alves kembali menunjukkan kelasnya berkat koneksi telepatik nya dengan Messi dan Rakitic. Messi pun mengakui belum bisa menemukan orang lain dengan kapasitas seperti Alves. Adriano terbukti juga mampu menjadi backup yang siap setiap saat ketika dibutuhkan. Montoya entah mengapa belum berhasil mengambil hati Lucho, serta ada Lord Douglas yang meskipun banyak dikritik, tapi toh dia tetap berstatus juara Piala Champion Eropa juga.

Salah satu perubahan strategi yang penting adalah kemauan Lucho untuk sesekali bermain double pivot, dengan menyandingkan Sergio Busquets dan Javier Mascherano. Dalam urusan membaca permainan, distribusi bola dan pemahaman taktik, konon Busquets adalah yang terbaik di posisinya saat ini. Sementara Mascherano adalah perusak serangan lawan yang dapat diandalkan. Bahkan di tengah musim, muncul pula Sergi Roberto yang dulu disebut-sebut bakal menjadi pengganti Xavi, tapi justru malah tampil cemerlang ketika diminta mengisi posisi Busquets. Ketika menginisiasi serangan, Busquets sendirian di depan barisan bek sungguh tampil sangat sempurna, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi ketika Lucho butuh kestabilan pertahanan untuk menahan serangan lawan, dobel pivot bisa jadi salah satu alternatif.

Lini tengah adalah kekuatan utama Barcelona ketika menguasai dunia di bawah Guardiola. Tidak ada satu tim lain pun yang mampu menandingi kekuatan lini ini dalam meguasai possession dan mengatur segalanya dari tengah. Selain Busquets, duet Xavi-Iniesta adalah salah satu duet terbaik sepanjang masa. Namun tahun ini semua cukup berbeda. Terbukti trio James-Kroos-Modric atau anak-anak asuh Guardiola dari Jerman mampu mengambil alih dominasi itu. Kini, trio utama Barcelona adalah Busquets-Iniesta-Rakitic, dengan peran yang berbeda. Iniesta sedikit banyak lebih mengambil alih peran Xavi, sementara Rakitic mengerjakan semuanya, dari pressing ketat, backup pertahanan yang ditinggal Alves, distribusi bola, assist, mencetak gol, dan menguasai sayap kanan bersama dengan Alves dan Messi. Dengan Busquets yang tetap dominan di posisi itu.

Yang paling banyak mendapat pengakuan adalah lini depan. Trio Messi-Suarez-Neymar terbukti begitu padu sehingga menghasilkan 122 gol yang menjadi sejarah. Tiga orang ini sama-sama memiliki kharisma yang besar, dan memiliki kemampuan yang lengkap. Ketiganya adalah playmaker handal dengan visi hebat, finisher ulung, ahli dribble kelas satu, pengganggu lawan, sekaligus team player yang bisa bergerak tanpa bola dengan sangat cerdas. Sungguh senjata yang membuat para bek lawan jadi punya PR besar sebelum bertanding. Dan jangan lupa, di bangku cadangan ada striker-winger yang juga legendaris dengan karakter yang berbeda, yaitu Pedro. Determinasi dan workrate nya dalam mengejar lawan dan bergerak lincah kemana-mana mampu menutupi kekurangan tekniknya. Belum lagi ketika melihat pemain muda yang sudah antri masuk tim senior. Ada Sandro Rodriguez, Munir El-Hadadi, dan Adama Traore. Jika di manage dengan benar, lini depan Barcelona masih akan sehat dan mengerikan untuk beberapa tahun ke depan.

Komposisi seperti itu membuat Barcelona bisa melakukan banyak hal dalam upaya meraih hasil. Ya, Barcelona masih ingin selalu memanjakan penggemarnya dengan permainan sepakbola indah nan menghibur, tapi dalam titik tertentu, kemenangan lah yang menjadi tujuan utama dalam sebuah kompetisi. It's still about how you win it, but above all, just win it.

Jadi ga sabar menunggu reaksi Mourinho (and Mourinho-like managers) dalam mempersiapkan timnya menghadapi Barcelona. Semakin hebat lawannya, adrenalin akan semakin deras mengalir. Entah berakhir dengan tawa puas atau keluhan kecewa, intensitas pertandingan yang tinggi dengan diiringi drama penuh cerita adalah puncak kenikmatan menyaksikan hiburan pertandingan sepakbola.

Sekarang, khususnya kepada para Fans Barcelona, mari dinikmati sejenak senyum bahagia atas catatan bersejarah ini.


Barcelona, (Double) Treble Winner 2015.

08 September 2014

Main Prediksi-Prediksian (Bagian-5-Terakhir)

Setelah sebelumnya saya nulis serial tentang main prediksi-prediksian Piala Dunia di seri satu, dua, tiga, dan empat, sekarang ini adalah Prediksi-Prediksian terakhir, yang bukan tentang Piala Dunianya, tapi tentang bagaimana musim depan bakal berlangsung setelah Piala Dunia lalu.


Cukup excited saya lihat kiprah Van Gaal di Piala Dunia kemarin, karena memang pelatih berkarakter lah yang dibutuhkan oleh Manchester United untuk menggantikan Fergie yang tak bisa lagi dipertanyakan kekuatan karakternya. Van Gaal memenuhi persyaratan soal karakter itu. Masalah yang selanjutnya akan muncul adalah, apakah karakter itu bisa diterima dengan baik di dalam tubuh United sendiri. Dulu, ketika Fergie mendepak Beckham, Stam, Keane, dan bintang-bintang lain, ga peduli seberapa bintangpun mereka, publik tidak terlalu mempermasalahkan. Dulu, United is Fergie. Fergie lah yang bikin lemari piala United jadi penuh sampe tumpe-tumpe, dengan deretan pemain yang hilir mudik gonta ganti. Kini kondisinya tidak lagi begitu. MU sudah menjadi tim elit yang sebelumnya meraih banyak sekali gelar. Sebagian pemain yang sudah dapat banyak gelar itu, masih ada di daftar pemain aktif. Di dalam pikiran dan mentalitas mereka mungkin ada semacam pikiran bahwa mereka adalah pemain berharga yang pernah memenangkan ini, ini, dan ini.

Lalu Van Gaal datang.

Menggantikan Moyes.

Kita bisa mempertanyakan kapasitas Moyes dalam dunia sepakbola. Sebagai pemain maupun pelatih, prestasi Moyes tidak mentereng. Dalam hal ini, Van Gaal sedikit berbeda. Di CV nya Van Gaal ada tulisan pernah juara di liga Belanda, Jerman, dan Spanyol. Plus jadi 2nd runner up Piala Dunia. Plus bumbu mengorbitkan banyak pemain muda yang sebelumnya relatif kurang terkenal. Ya, meskipun ada juga catatan minor seperti gagal membawa Belanda ke Piala Eropa juga sih. Intinya, harapan dibawa membumbung tinggi.

Lalu apa yang dilakukan Van Gaal ketika awal-awal menangani MU?

Pertama, pemain baru. Sejak Van Gaal datang, MU sudah mendatangkan enam pemain dengan nama besar plus harga yang mahal. Membeli Ander Hererra, Luke Shaw, Angel Di Maria, Daley Blind, Marcos Rojo, dan meminjam Radamel Falcao dengan opsi pembelian di akhir musim. Biaya total mendatangkan mereka kurang lebih 150 juta poundsterling. Well, melihat nama-nama yang masuk ini, tidak ada alasan untuk tidak optimis pada perfirma United.

Kedua, strategi baru. Seperti di Timnas Belanda, Van Gaal tampaknya ingin menjadikan pola 3-5-2 sebagai pola utama United. Di pertandingan pra musim, MU tampil sangat meyakinkan dengan formasi ini. LA Galaxy dibantai, Real Madrid dan Liverpool juga dikalahkan.

Ketiga, pengurangan penumpang kapal United. Cleverley, Chicharito, dan Zaha dipinjamkan. Buttner, Vidic, Ferdinand, Bebe, Evra, Kagawa, dan Welbeck dijual.

Namun seperti transisi pada umumnya, ketidakmulusan terjadi di sana sini.

Pertama, transfer pemain masuk mahal-mahal. Ya saya ga ada masalah sama yang satu ini sih. Namanya juga investasi performa dan bisnis kaos. Cuman yang begini relatif jarang banget dilakukan oleh Fergie.

Kedua, tim ini belum sepenuhnya ter-VanGaal. Masih sisa-sisa Fergie dan Moyes. Artinya, jelas perlu ada penyesuaian sana sini masalah sinkronisasi taktik dan stok pemain.

Ketiga, pemain MU kok ya banyak yang kualitasnya "gitu" ya? Bayangkan saja, sudah begitu banyak pemain yang "dikeluarkan", di skuad inti masih ada Anderson, dan Ashley Young. Belum lagi jika ada yang mengklasifikasikan Fellaini dan Valencia sebagai produk (yang taun lalu) gagal.

Jadi prediksi-prediksian nya adalah : MU kembali ke top four, tapi masih berat berjuang untuk jadi juara. Mungkin tahun depan MU kembali jadi tim top Eropa. Champions League challenger.

-----------------------------------

Sekarang ke Barcelona.

Mengakhiri musim tanpa gelar adalah hal yang langka dari Barcelona di tahun-tahun belakangan ini. Kekecewaan itu membuat Tata Martino akhirnya tidak lagi bekerjasama dengan Barcelona, dan kemudian beberapa waktu lalu ditunjuk sebagai manajer timnas Argentina. Solusi yang cukup bagus untuk kedua pihak.

Dan yang dipilih Barcelona untuk menggantikan Tata adalah : Luis Enrique. Satu lagi Manajer yang sebelumnya adalah legenda tim sebagai pemain, sekaligus eks kapten, dan pernah menjadi manajer Barcelona B. So much Guardiola-esque. Untuk pilihan yang satu ini, banyak pihak menilai sebagai transfer terbaik Barcelona selama liburan kompetisi kali ini. Cukup mengenal dan dikenal klub, bersemangat dan dipenuhi jiwa kepemimpinan, pernah berjaya bersama klub, paham potensi pemain muda asli La Masia, dan pengalaman melatih yang cukup.

Konon perubahan besar yang paling nyata sejak adanya Luis "Lucho" Enrique adalah antusiasme, harmoni, dan motivasi di ruang ganti. Hal yang paling terasa lunturnya sejak akhir-akhir era Guardiola, apalagi Puyol sudah ga lagi jadi kapten.

Hal positif kedua adalah di bagian rekrutmen pemain. Valdes dan Pinto yang pergi digantikan dengan tiga kiper yang punya kelebihan masing-masing. Jordi Masip adalah produk asli La Masia yang cukup kenal pakem permainan Barcelona, dan musim lalu bermain sangat bagus untuk Barcelona B. Marc Andre Ter Stegen adalah kiper muda, bersama Courtois, yang dianggap paling berpotensi di dunia. Dan Claudio Bravo, kiper senior yang memiliki jam terbang sangat tinggi, namun tidak langsung kecewa jika saja dicadangkan, mengingat kalibernya yang ga tinggi tinggi banget. Puyol yang memutuskan pensiun digantikan oleh dua bek yang cukup oke, meskipun tidak ekselen. Jeremy Mathieu adalah bek senior yang besar sekaligus cepat, serta cukup baik dalam memainkan bola. Thomas Vermaelen adalah bek tengah yang punya jiwa kepemimpinan oke, meskipun rawan cidera. Kini, Barcelona akhirnya punya empat bek tengah yang bisa diandalkan.

Yang paling oke adalah lini tengah, dengan dipanggilnya lagi Rafinha, dan rekrutmen pemain kunci Sevilla musim lalu, Ivan Rakitic. Dua pemain ini akan menghadirkan alternatif penyerangan dan kreatifitas lini tengah, meskipun Fabregas telah dilepas, dan Xavi tidak lagi jadi pilihan utama. Sebenarnya Deulofeu juga sempat dipulangkan dari peminjaman di Everton, namun kemudian dipinjamkan kembali ke Sevilla, mungkin untuk mempertajam kemampuan defensifnya.

Yang paling fenomenal adalah pembelian striker. Kali ini pembeliannya ga main-main, karena Barcelona berhasil mendatangkan seorang striker dengan kapasitas sebesar Luis Suarez!!! Membayangkan trio Neymar-Messi-Suarez sungguh membuat football enthusiast seperti saya sudah senyum-senyum sendiri bahkan sebelum musim dimulai. Tiga orang ini adalah pendribble terbaik dunia, finisher tajam, sekaligus playmaker handal. Sungguh tidak sabar melihat bagaimana ketiganya bermesraan di lapangan.

Transfer yang kurang dimengerti adalah pembelian bek kanan Sao Paulo, Douglas. Tidak banya informasi yang saya dapat tentang pemain ini. Hanya saja banyak media mengatakan bahwa di Brazil pemain ini justru banyak disepelekan. Namun, menurut board Barca, Douglas menawarkan gaya permainan yang berbeda dengan Alves dan Montoya. Mari kita lihat saja efeknya nanti.

Ada lagi hal yang kembali membuat fans Barcelona girang, yaitu munculnya harapan atas diorbitkannya pemain muda. Di dua pertandingan awal La Liga, Lucho memberikan kesempatan pada dua pemain Barcelona B untuk menunjukkan aksinya. Dua pemain itu adalah Munir El-Haddadi dan Sandro. Ajaibnya, dua pemain ini sama-sama mencetak gol penting di debutnya. Hebatnya lagi, Munir langsung dipanggil Del Bosque ke timnas senior Spanyol, setelah awal tahun ini baru mulai nongol di timnas U-19. Kemudian, Sandro dipanggil ke timnas U-21 untuk menggantikan Munir. Dan menurut artikel di media pro-Barcelona, Munir dan Sandro tidak sendirian. Banyak pemain dengan kapasitas yang tidak kalah hebat sedang menunggu di tim junior Barcelona untuk antinya diorbitkan. Sebut saja misalnya Traore, Samper, Halilovic, Lee, Bagnack, dll. Absolutely exciting!!!

Munir El-Haddadi. Remember this name.


Dengan perombakan tim secara cukup masif oleh Atletico Madrid, dan dilepasnya Alonso dan Di Maria oleh Real Madrid, saya optimis Barcelona akan melenggang jadi juara La Liga di akhir musim ini. Bahkan termasuk top challenger untuk jadi juara Liga Champion. Top contender di Eropa adalah Chelsea yang semakin berevolusi, dipimpin oleh pelatih spesialis parkir bus yang kini makin hebat dalam menyusun barisan ofensif.

-----------------------------------

Sementara itu....

Lazio masih berkutat di papan tengah. Tidak banyak informasi yang beredar, dan sedikit pertandingan yang disiarkan.

Tapi Jersey ketiga yang kemaren dipake lawan Milan keren banget.


-----------------------------------

Dan di Indonesia...

Arema lolos jadi juara grup barat, dan segera menuju babak 8 besar. Jika dilihat dari performa sepanjang musim, Aremania layak optimis. Tapi jika dilihat di beberapa pertandingan terakhir, Suharno dan anak buahnya patut waspada dan tidak kehilangan konsentrasi.

AREMA JUARA !!!

-----------------------------------

Sekian.

31 Mei 2014

Ocehan Akhir Musim

Tidak banyak hal yang membuat saya termotivasi untuk menulis di musim ini. Opini saya untuk MU sudah mentok di tulisan terakhir saya. Tentang Lazio juga tidak banyak karena saya jarang nonton Lazio bermain akibat jarangnya ditayangkan di tivi. Yang sebenarnya cukup dramatis adalah tentang Barcelona. Sempat menyiapkan tulisan ketika Barcelona kalah 3 beruntun sekaligus di tiga kompetisi, namun kemudian niat saya kembali hilang dan lebih tenggelam dalam nuansa muram penuh kesedihan dan menyiapkan bendera setengah tiang. Harapan sempat muncul di partai terakhir La Liga, namun tidak disahkannya gol Messi akhirnya meresmikan kegelapan musim ini bagi Barcelona.

Yang paling cerah di musim ini adalah mengenai kiprah Arema. Bermaterikan pemain yang lebih seimbang dan dalam, Arema berhasil memuncaki klasemen, paling tidak hingga paruh musim. Belakangan, skema permainan Arema rupanya makin bisa dibaca para lawan, dan terlihat tidak lagi setaktis dan secerdas di awal musim. Hal seperti sangatlah wajar dan biasa dalam mengarungi satu musim penuh, sekaligus menghadirkan deg-deg-ser dan adrenalin setiap kali menonton pertandingan-pertandingan ISL, terutama Arema.

Sekarang, sangat menarik menunggu bergulirnya Piala Dunia yang kira-kira dua minggu lagi bakal dimulai, karena selain memang seru, Piala Dunia selalu menjadi etalase para pemain yang siap mempertontonkan keahliannya untuk membawa negaranya berprestasi, dan jika beruntung kapasitas individualnya bisa saja menggoda tim besar Eropa untuk dipinang. Sebuah pinangan yang juga berarti oportuniti popularitas dan kemewahan duniawi. Kelak, semoga saja saya tetap semangat, saya ingin menulis khusus tentang Piala Dunia kali ini ditambah tentang preferensi unggulan saya.

Di tulisan ini saya ingin sejenak ngoceh ngalor ngidul tentang musim yang baru berlalu sekaligus harapan buat musim depan.

Well, musim ini cukup jadi anomali. Messi ga dapet Ballon D'Or dan tidak ada di tim terbaik La Liga, Arsenal dapat gelar, MU ga lolos liga eropa, Real Madrid dapat gelar Liga Champion, tim yang mengalahkan Barcelona tidak juara Champion, juara La Liga bukan Barcelona atau Real Madrid, Liverpool bersaing jadi juara hingga partai terakhir, dan akankah serangkaian anomali ini nantinya diakhiri dengan kesuksesan Inggris menjadi juara dunia? Silakan tertawa sejenak jika memang pingin.

Ini adalah musim terbaik untuk para MU Haters, karena entah mengapa begitu susahnya bagi seseorang yang sebut saja namanya Moyes untuk mengajak para pemain MU rela berjuang untuk cari kemenangan. Skuad yang nyaris sama persis dengan musim lalu itu tampil melempem di sebagian besar pertandingan Liga. Padahal ini skuad juara bertahan. Moyes pun mencatat banyak sekali rekor. Rekor yang sebaiknya tidak perlu lagi diingat-ingat. Rekor yang saya yakin tidak akan lagi ada musim depan, karena MU telah menunjuk pelatih yang lebih teruji. Orang itu adalah Van Gaal. Lebih ada harapan yang bisa digantungkan, mengingat CV Van Gaal cukup tebal. Saya harus mengakui bahwa di musim ini pendapat saya mengenai Fellaini tidak tepat. Entah apa yang akan dilakukan Van Gaal pada si kribo ini, semoga saja di piala dunia dia bisa menemukan lagi semangat dan niat main bolanya yang kemarin-kemarin mungkin nyebur di kali deket merseyside. Jika melihat track record Van Gaal, harapan untuk melihat MU kembali bermain atraktif, kuat, dan mengorbitkan banyak pemain muda jadi kembali melambung tinggi. The old Manchester United is soon arriving.

Dan Barcelona.

Ah, banyak sekali yang ingin saya ocehkan tentang Barcelona ini. Sempat bagus banget di paruh pertama kompetisi, eh kemudian mlempem dan sering banget bermain tanpa intensitas dan seolah tidak terlalu ingin menang. Memang ini adalah musim yang berat, mengingat banyak hal terjadi di dalam dan, lebih lagi, di luar lapangan. Pelatih baru, banyak cidera, Neymar si pemain baru, berkolaborasi dengan serangkaian kasus hukum, presiden mundur, transfer ban, hingga kematian Tito Villanova. Bisa saja ini menjadi alasan terdepan, namun tetap saja sebagai penonton saya tetap berharap lebih. Namun ya begitulah adanya, Barcelona hanya meraih Piala Super Spanyol di awal musim menyingkirkan Atletico Madrid, tim yang tidak pernah dikalahkan Barcelona di enam kali pertemuan musim ini. Perasaan paling mendominasi ketika musim ini berakhir adalah : Lega.

Lega karena musim aneh ini sudah berlalu, dan lega karena wake up call kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dan dengan tidak adanya tropi di akhir musim ini, maka saya merasa dominasi Barca era Guardiola resmi berakhir, sehingga fans Barcelona tidak perlu lagi terjebak di masa itu, dan bisa merasa bahwa sudah waktunya Barcelona berbuat sesuatu yang lebih masif. Penunjukan Luis Enrique adalah langkah awalnya. Sebagai orang yang mengenal Barcelona luar dalam sejak lama, ditambah pengalaman dua tahun melatih tim lain, Lucho punya banyak bekal untuk memoles Barcelona menjadi tim yang kuat, tanpa meninggalkan filosofi mendasar, namun dengan sentuhan baru yang berbeda. Apa bedanya? Entahlah. Semoga saja memang ada yang berbeda. Barcelona effect sudah sangat viral, sehingga begitu dikenal dan dipelajari dengan baik di seluruh dunia, sehingga jadi pe er besar buat Enrique untuk tetap berada di track identitas itu tanpa harus menjadi mudah terbaca.

Lucho juga sangat familiar dengan para pemain muda Barcelona. Ini menjadi modal yang sangat kuat untuk kembali menjadikan La Masia salah satu pabrik pemain hebat yang dicetak dan digunakan oleh Barcelona. Paling tidak pemulangan Deulofeu dan Rafinha yang sangat diinginkan Luis Enrique cukup menjadi sinyal yang lebih baik daripada apa yang dilakukan Tata Martino yang kurang mengenal segudang (literally, maybe) potensi besar di sekolah bola di pelataran halaman Barcelona itu. Kenyataannya, jika sempat melirik ke bawah sebentar, tahun ini tim junior Barcelona mampu meraih 16 gelar yang sangat prestisius di berbagai level. The future is on their hands.

Dua nama yang hilang dari daftar pemain Barcelona musim depan, Puyol dan Valdes, pasti akan membawa pengaruh besar untuk bentuk permainan Barcelona. Kemudian board Barcelona mengatakan akan mendatangkan banyak pemain, terutama dua kiper, dua bek, satu pemain tengah, satu winger, dan satu striker. Bisakah ini disebut revolusi? Puyol adalah playmaker mental yang bisa saja adalah yang terbaik yang pernah dimiliki Barcelona. Valdes, indeed, adalah kiper terbaik sepanjang sejarah klub. Mungkinkah dicari penggantinya? Well, menarik untuk melihat pergerakan manajemen Barcelona bersama dengan Enrique untuk mengatasi hal ini. Berita terakhir mengatakan, club telah mengkonfirmasi mengangkat Puyol sebagai "Assistant to Sport Management". Satu lagi eks pemain sekaligus kapten Barcelona yang berada di jajaran manajemen Barcelona. Mes Que Un Club.

Dan setelah lega, yang mengiringi kemudian adalah : optimis.

For both Barcelona and Manchester United.

Makin excited menunggu musim depan.

Dan menunggu FM 2015.

Terakhir, ada pesan buat yang telah lama terlelap di Italia.
Bangkitlah nak, wahai tim ibukota. Lihatlah tetanggamu yang menguat. Aku ingin melihat kuartet lini tengahmu jadi yang terbaik lagi di Italia. Semoga board mu mulai terketuk hatinya untuk mengembalikanmu ke jalur yang sama dengan yang terjadi 15 tahun yang lalu. Aamiin.

24 Maret 2014

What A Reality Show!! (sebuah catatan tentang El Clasico)

Setelah sekian lama, akhirnya El Clasico mampu mengembalikan sepakbola pada fitrahnya, yaitu sebagai reality show terbaik yang pernah ada. Passion, intensitas, determinasi, teknik, strategi, harapan, dan drama. Semua lengkap. Sebagai fans Barca, tentunya saya sangat senang ketika melihat hasilnya, 4-3 untuk kemenangan Barcelona, di hadapan ribuan madridista di kandangnya. Tapi buat saya, sedikit lebih dari itu.
(Image : Javier Lizón)

------------

Real Madrid = 70 poin dan pimpinan klasemen.
Barcelona = tertinggal 4 poin meski pernah memimpin 8 poin.
Next match : El Clasico.
Venue : Santiago Bernabeu.
Real Madrid's last 5 matches : WWDWW. Tak terkalahkan dalam 31 pertandingan.
Barcelona's last 5 matches : LWLWW. Termasuk kalah dari Real Sociedad dan Real Valladolid.

Para netral akan condong menebak Real Madrid yang akan menang. Jika ada yang menebak Barcelona menang, kemungkinan besar atas nama keseruan Liga Spanyol semata.

Bahkan fans Barca sendiri ada yang meragukan Barcelona. Saya salah satunya.

Untuk bisa memenangi ball possession dan mengimbangi permainan, tentu saja Barcelona mampu. Tapi untuk menang? Saya ragu. Seri paling mungkin.

Ternyata, toh saya salah. Barcelona menang. Dengan cukup meyakinkan. Dengan passion yang menggelora. Dengan determinasi yang dulu pernah jadi identitas. Dan yang ga ketinggalan, dengan drama.

Man of the match menurut saya adalah : Andres Iniesta. Ya, Messi memang mencetak hattrick dan satu assist, sudah seharusnya begitu, tapi itu semua bisa saja tidak terjadi tanpa adanya imajinasi seorang Iniesta. Pergerakan dengan dan tanpa bolanya menakjubkan, dan semuanya dilakukan dengan ringan dan elegan. Big player for big games. Sebuah momen untuk mengingat kembali final piala dunia 2010. Hanya saja kali ini bukan dengan gol, tapi pergerakannya yang membuat Xabi Alonso gemes, sehingga terpaksa menjepit Iniesta yang sebelumnya sudah dijaga Carvajal. Ini adalah pelanggaran yang bisa didebatkan berhari-hari. Tapi kontak memang terjadi, dan ingat, Iniesta (and Messi) don't dive. Dan keputusan wasit telah dibuat. End of story.

Keputusan wasit bisa diperdebatkan. Pelanggaran pada Neymar, penalti Ronaldo, kartu merah Ramos, dua penalti Messi, dll, dll. Dua-duanya dirugikan. Kepemimpinan wasit kurang baik, itu saja. Pembahasan panjang tidak akan mengubah hasil pertandingan. Dan drama semacam ini adalah bumbu yang membuat sepakbola begitu sedap. Kadang berbuah manis karena menang, kadang juga sangat pahit. Itulah nikmatnya menonton sepakbola.

Kenyataannya, Barcelona memang tampil berbeda dibandingkan performa secara umum di tahun ini, dengan mengecualikan performa melawan Manchester City dan Osasuna. Barcelona yang kemarin, dengan menambah sistem pertahanan yang lebih baik, akan bersaing dengan Bayern Muenchen menjadi kandidat utama tim terbaik eropa. Sementara Real Madrid, menjadi sedikit "berbeda" dengan minimnya peran Bale dan Ronaldo. Man of the match dari Real Madrid tentu saja Angel Di Maria. Orang ini sejak dulu memang selalu menyulitkan. Lincah, ngotot, cepat. Tapi Ramos tetap Ramos, dan Pepe tetap Pepe. Plus Modric yang sukses diminimalisir perannya oleh Busquets, maka saya rasa Barcelona memang layak menang. Dengan hasil yang seperti ini. Dengan Real Madrid yang bertarung gagah berani seperti ini. Bukan seperti Real Madrid di era... ah, sudahlah....

Selanjutnya adalah : memenangkan semua sisa pertandingan La Liga, menunggu Real Madrid tercecer, memenangkan match terakhir melawan Atletico Madrid, menyingkirkan Real Madrid di Copa Del Rey, dan mengeliminir Atletico Madrid dari Liga Champion. Dan bersiap melawan Bayern Muenchen.

Semua seru.

Mengasyikkan.

What a reality show!!!

03 September 2013

Happy Transfer-Deadline Day !!!



Daaaan, drama seru perebutan pemain lewat episode transfer sudah ditutup. Seperti biasa ada beberapa transfer mendadak yang mengejutkan, tapi overall semua sudah terprediksi.

Yang paling menghebohkan tentunya adalah mega transfer Gareth Bale. Ditransfer seharga 86 juta Pound dari Tottenham Hotspurs, Bale memecahkan rekor transfer pemain termahal sebelumnya, yang kini juga menjadi rekan setimnya, Cristiano Ronaldo seharga 80 juta Pound (meskipun dengan mempertimbangkan inflasi, harga Bale masih di bawah Ronaldo). Bagi saya yang fan Barcelona, ini adalah berita gembira yang sangat menarik. Mahalnya transfer Bale akan menyinggung ego nya yang (apabila dilihat dari sikapnya di Spurs) cukup besar. Di Spurs, dia adalah bintangnya. Semua perhatian tertuju padanya. Transfer termahal artinya adalah afirmasi akan status kebintangannya. Memang, Bale adalah pemain terbaik Liga Inggris versi Para Pemain dan versi para wartawan, yang sekaligus pemain muda terbaik, namun Bale belum mencapai level yang telah dilalui Ronaldo ketika memecahkan rekor transfer tersebut, karena waktu itu Ronaldo telah menjadi juara Liga Inggris, Liga Champion, dan pemain terbaik dunia. Dengan nilai mencengangkan seperti itu, relakah Bale diperlakukan sama dengan pemain lain, sebut saja, Di Maria atau Modric? Siapkah dia tidak menjadi pilihan utama? Dan untuk Madrid nya sendiri, harmoniskah proses penyautan Bale ke tim utama? Jika tidak, siapkah Madrid mencadangkan calon pencetak uang barunya itu? Saya sendiri tidak yakin poros permainan Madrid akan beralih dari Ronaldo, jadi seperti apa Bale akan dipergunakan akan menjadi cerita yang asik. Mari ditunggu apa yang bisa dilakukan Don Carlo dalam menangani Real Madrid. Tentu saja dia memiliki segudang pengalaman dan kemampuan, dan ini adalah tes yang sesungguhnya.

Jika berita Bale ke Madrid adalah menyenangkan, maka berita dijualnya Ozil adalah icing on the cake. Bagi saya, Ozil adalah pemain terbaik Madrid dalam dua tahun terakhir, sedikit diatas Ronaldo. Seperti yang saya tulis di twitter, jika Ronaldo adalah Andhika, maka Ozil adalah Dodhy-nya. Beberapa memprotes perumpamaan ini, tapi lebih kepada contoh figurnya, bukan esensinya, jadi tidak perlu saya ganti dengan nama tokoh lain seperti misalnya HediYunus-YovieWidianto, atau AriLasso-AhmadDhani, atau Sammy-Badai, atau Axl-Slash, dan lain-lain. Ozil adalah maestro kreativitas pergerakan cepat Ronaldo-DiMaria-Benzema. Ozil adalah pemain Madrid pertama yang sangat saya inginkan untuk bergabung dengan Barcelona atau Manchester United. Memang sudah ada Isco, tapi dia bukan Ozil. Madrid akan memiliki gaya yang baru. Sayangnya, Manchester United tidak terlalu bernafsu untuk mengejarnya, sehingga Ozil memilih untuk bergabung dengan Arsenal. Ya, Arsenal. Sekali lagi, Arsenal. Rekor transfer pula. Rekor tim, sih. 42,5 Pound. Bukan bermaksud meremehkan, tapi transfer mahal bukanlah kebiasaan Arsenal. Dengan transfer ini, Arsenal sangat berpeluang untuk kembali garang dan bukan lagi penyemarak peserta Liga Champion musim depan. Smart spend.

Sebagai fans Manchester United, saya sangat menyayangkan tidak direkrutnya Ozil ini. Mungkin karena harga yang terlalu mahal, atau memang Moyes merasa tidak memerlukannya. Namun ada juga kabar baik yang menjadi penghias senyum di kalangan Manchunian, yaitu dengan direkrutnya Belgian International, Marouane Fellaini. Sejak awal tahun ini, saya merasa MU membutuhkan seorang pemain tengah yang berkarakter dan tak kenal lelah, seperti yang cukup ditunjukkan Fellaini di Everton beberapa tahun terakhir. Menarik untuk menyaksikan duet Carrick-Fellaini dalam memimpin lini tengah MU. Semoga ini juga menjadi lecutan semangat untuk Cleverley dan Anderson supaya bisa tampil lebih baik, serta menjadi panutan pemain muda lainnya untuk menjadi semakin matang dan siap dipromosikan ke tim utama.

Dan membicarakan transfer, maka kurang afdol jika tidak membicarakan Barcelona. Barcelona sudah memboyong Neymar jauh hari sebelumnya, dan kemudian hingga Transfer Deadline, Barcelona berhasil memboyong....  

No one!!!

Banyak fans yang berteriak akan pentingnya perekrutan bek tengah yang handal, namun ternyata Tata Martino tidak berpikir demikian, dan merasa sudah cukup untuk mempercayakan lini belakang pada barisan bek yang sudah ada. Pique, Mascherano, Puyol, dan Bartra. Memang cukup membuat fans Barca deg deg ser, karena musim lalu Pique terlihat sangat lamban dan sering salah posisi, Mascherano bukanlah bek tengah asli dan sering kalah duel udara, Puyol makin rawan cidera, dan Bartra belum cukup punya pengalaman. Hingga jendela transfer ditutup, Tata benar-benar tidak melakukan transfer baru lagi. Door closed.

Maka Barcelona pun menjalani musim dengan skuad musim lalu, plus Neymar (dan Cuenca serta Affelay). Tidak langsung diturunkan menjadi starter, Neymar diperkenalkan pelan-pelan pada sistem permainan Barcelona sekaligus menjadi tanda bahwa tim adalah segalanya, berada di atas puja puji pada individu. Ketika dimainkan, Neymar menunjukkan potensi cukup besar untuk menyatu dalam sistem sekaligus menawarkan sesuatu yang baru, dan juga mempertontonkan aksi kreatifitasnya dalam memperoleh kartu kuning yang tidak perlu (sigh!). Dalam tiga laga awal di La Liga, Barcelona memperoleh nilai sempurna dengan catatan 11 gol dan kemasukan 2 gol. Hal positif yang disajikan Tata sejauh ini adalah kembalinya hasrat dan determinasi tim untuk melakukan pressing ketat, kemampuan dan kemauannya untuk melakukan rotasi pemain (bahkan Messi sekalipun), kepercayaannya pada pemain muda, menonjolnya peran Fabregas dalam membagi bola-bola vertikal yang cerdas sebagaimana yang menjadi ciri khasnya, serta munculnya kembali Valdes sebagai kiper kelas dunia yang bisa tetap menjaga konsentrasi penuh meskipun sepanjang pertandingan lebih banyak menganggur. Hasil ini membuat duka akibat tidak adanya transfer bek tengah (dan juga striker murni) menjadi cukup terobati.

01 Mei 2013

What Was Wrong With Barcelona?

2012/2013 UCL Semifinal's Aggregate :
Barcelona 0 - 7 Bayern Muenchen

What was wrong with Barcelona?
Nothing new, Muenchen was just a beast.

Tanpa parkiran bus, Bayern sanggup menghajar gawang Barcelona dan bertahan tanpa kebobolan. Sebuah kejadian yang dalam 5 tahun terakhir tergolong langka. Memang Barcelona tidak benar-benar tak terkalahkan, namun mayoritas kekalahan Barcelona terjadi ketika lawan menggunakan taktik bertahan ketat dan mengandalkan serangan balik cepat. Tapi tidak dengan Bayern Muenchen.

Muenchen mampu mengimbangi possession Barcelona dengan keseimbangan semua lini nyaris tanpa cacat, baik vertikal maupun horizontal. Mario Gomez berhasil mengeksploitasi kelemahan rata-rata tinggi badan pemain Barcelona, Mandzukic berhasil mengganggu tugas Alex Song, Tiga orang di belakang striker bisa melakukan serangan menakutkan baik dari kedua sayap maupun tengah. Duet Schweni-Martinez mampu memutus alur bola secara konsisten, sekaligus memulai serangan dengan akurat, Lahm adalah dirigen di belakang dengan Alaba yang tak canggung bertahan dan menyerang meskipun masih sangat muda, duet Dante/Boateng dan van Buyten sangat tangguh yang membuat tak ada satupun serangan Barcelona menjadi berbahaya, dan Neuer yang nyaris tidak terancam secara signifikan.

Yes, Muenchen was just a beast. Nuff said.

Hasil terburuk Barcelona dalam paling tidak 7 tahun terakhir. Seharusnya tidak berhenti disini, karena sesuai pesan almarhum Uje, selalu ada hikmah di balik musibah, atau dalam kasus ini, hikmah itu harus dicari.

First of all, Barcelona still holding their philosophy which is recently well-known and well-studied. Ketika disebut-sebut sebagai salah satu tim terbaik yang pernah ada, Barcelona mengejutkan dunia dengan filosofi yang sebenarnya tidak baru, bahkan selalu dilakukan sejak di akademi, yaitu memaksimalkan possession dan menerapkan high pressing line, namun diperbaiki melalui tangan Pep Guardiola. Barcelona memiliki sekumpulan pemain dengan kemampuan mempertahankan bola dan melakukan passing yang sangat bagus. Kemudian dunia terkena wabah Barcelona Effect.

Tiga tahun setelah Pep memperlihatkan kapabilitasnya dengan meraih semua gelar yang ada di musim pertamanya, Barcelona harus kehilangan gelar liga domestik, dan kemudian ditinggalkan oleh Pep yang merasa kehilangan passion. Era Barcelona dianggap telah berakhir. Sejarah juga menceritakan, tim hebat memiliki siklus empat tahunan. Hanya saja "berakhir"nya era Barcelona itu terjadi ketika Barcelona sedang menjadi juara dunia, plus meraih satu gelar Copa Del Rey. Sebuah "akhir era" yang benar-benar berstandar tinggi. Jika keluarnya Pep adalah masa-masa ketika Barca-era dianggap berakhir, maka era Tito adalah "sisa-sisa" kejayaan Barcelona. Dan di sisa-sisa era tersebut, Barcelona (baca: Messi) memecahkan banyak rekor. Sayangnya, rekor itu termasuk rekor kekalahan terbesar di semifinal Liga Champion. Dengan tersingkirnya Barca dari Piala Raja, maka peluang terbesar gelar yang akan didapat hanya tinggal La Liga. Sangat mungkin didapat, meskipun peluang untuk tergelincir masih ada.

Sejak ditangani Tito Villanova, muncul beberapa kelemahan yang membuat Barcelona tidak lagi menjadi tim dominan di Eropa, bahkan juga kehilangan dominasi atas rival abadi, Real Madrid. Barcelona terlalu bergantung pada Messi, tidak memiliki variasi serangan beragam, dan tidak lagi berbahaya dari kanan dan kiri. Hanya Messi. Trio genius Iniesta-Xavi-Busquets dipaksa untuk sampai pada tepi-tepi kejeniusannya. Yang paling terlihat, kelemahan Barcelona terletak di lini belakang. Ketika dua fullback menyerang, tersisa lubang besar di belakang mereka. Rentetan cidera dan menurunnya performa Pique membuat Barcelona menjadi tim bagus, tapi tidak hebat. Karena Vince Lombardi pernah mengatakan "Good offense will win you games, but good defense will win you championships". Terlihat juga hilangnya peran pemimpin di belakang ketika Puyol tidak ada.

Tapi yang paling vital dari semuanya adalah : hilangnya motivasi dan rasa lapar gelar.

Mayoritas pemain Barcelona saat ini sudah merasakan semua gelar yang bisa diraih, baik dalam level klub, maupun di negaranya. Nyaris tidak ada lagi yang bisa digantungkan 5cm di depan mata mereka untuk dikejar. Pressing para pemain tidak se agresif dulu, dan pergerakan tanpa bolanya tidak setaktis dan se mobile 2-3 tahun lalu. Clean sheet juga lantas menjadi hal yang cukup langka.

Kekalahan telak dari Bayern Muenchen seharusnya bisa menjadi wake up call terbesar untuk Barcelona. Harus diakui dan dihormati bahwa Muenchen tadi pagi memang lebih baik, dan banyak hal yang bisa diperbaiki Barcelona untuk meraih kembali dominasi di Eropa. Humiliation ini seharusnya bisa diubah menjadi pemberi motivasi terbesar untuk meraih kembali prestasi-prestasi besar di masa yang akan datang, sekaligus menjadi bahan evaluasi yang mendasari strategi belanja pemain musim depan. Lini belakang jelas paling mendesak, dan menambah opsi penyerangan yang bisa melebur dalam permainan khas Barcelona tanpa harus merombak filosofi. Siapa saja seharusnya? Biar board dan staf manajemen Barcelona yang mengevaluasi. Sepertinya kali ini akan benar-benar dipertimbangkan secara serius, mungkin saja akan mengejutkan, lebih dari isu Hummels-Neymar.

12 April 2013

Jerman Lawan Spanyol, Dan Jerman Lawan Spanyol

Bayern Muenchen vs Barcelona

Borussia Dortmund vs Real Madrid


Bukan skenario yang paling ideal berdasarkan draft saya (yang fans Barcelona ini), karena saya merasa saat ini Bayern Muenchen adalah unggulan pertama di babak semifinal. Muenchen memiliki skuad yang kuat dari belakang sampai depan, dari mas kiper sampai deretan lini depan yang tajam.

Unggulan kedua (di draft saya) adalah Real Madrid, karena kecepatan dan kekuatan serangan baliknya, plus kehebatan Mourinho dalam beradapatasi dengan strategi lawan. Apalagi dengan hasil positif mereka ketika menghadapi Barcelona dalam 4 pertemuan terakhir, maka tadinya saya berharap Barcelona bertemu dengan : Dortmund.

Memang terhitung sebagai partai "aman", sekaligus berharap Madrid menjajal dulu kekuatan Muenchen. Tapi sepertinya skenario yang barusan terjadi ini oke juga.

Muenchen memang kuat, cepat, dan kokoh. Terbayang ketika mereka menyusun rapat barisan pertahanan, kemudian secepat kilat menyusun serangan balik lewat Ribery, Robben, Kroos, maupun Gomez. Untungnya Mandzukic harus absen di leg pertama karena akumulasi kartu, karena peran Mandzukic sebagai defensive forward cukup mengerikan. Lini belakang Barcelona yang belakangan rapuh, kecuali di leg 2 melawan Milan, sangat menggoda para striker cepat yang mematikan. Krisis cidera dan inkonsistensi menjadi concern utama Barcelona dalam usaha merebut kembali piala Champion. Muenchen, adalah tantangan yang sangat jelas kualitasnya. Lolos dari Muenchen, berarti Barcelona sudah menemukan solusi mempertebal baris pertahanan, atau paling tidak mencegah hilangnya possession di detik-detik krusial dengan mempersolid jaringan tiki taka penguasa bola. Barcelona akan kembali menakutkan jika ditambah pertahana tebal dan kokoh.

Jika lolos, sebagai fans Barca saya berharap Barca akan melawan Dortmund, tapi tidak bisa dikesampingkan bahwa El Clasico di final Liga Champion musim ini akan menjadi sangat menegangkan dengan tensi tinggi. Kemenangan Madrid akan menjadi semacam tamparan di muka dan pembalasan dendam atas kekalahan (yang sebentar lagi terjadi) di La Liga. Meraih La Decima dengan mengalahkan rival terbesar akan menjadi kenangan yang sangat manis. Bagi Barcelona, menahan ambisi Madrid meraih gelar Liga Champion ke sepuluh nya akan menjadi kemenangan KO yang sangat telak setelah sebelumnya (akan) mengalahkan perburuan gelar juara Liga Lokal.

Dan jika akhirnya bertemu Dortmund di final, akan menjadi tontonan yang menarik, karena Dortmund yang dalam prediksi saya adalah unggulan terbawah di babak semifinal ini, memiliki banyak hal untuk bisa memberi kejutan bagi Barcelona.

Tapi jika Barcelona tidak bisa lolos dari hadangan Muenchen, yaaaa sudah. Emmm, tapi kayanya lolos sih. Aamiin. Ini lebih ke doa dan harapan ya.

Di tempat lain, pertemuan Dortmund dan Real Madrid adalah pengulangan babak penyisihan grup, dimana Madrid lolos di peringkat kedua, dibawah Dortmund. Meskipun pernah kalah, saya yakin Mourinho akan cepat beradaptasi dan memikirkan strategi untuk memetik hasil positif di semifinal kali ini. Prediksi saya, Real Madrid akan lolos. Doa saya, Dortmund yang melenggang. Suara Fans Barca versus Suara Fans Sepakbola.

Yang menarik lainnya, ini adalah penegasan dominasi sepakbola Spanyol dan Jerman yang memang sangat menjanjikan akhir-akhir ini. Berkembangnya para pemain muda dengan skill, filosofi dan visi bermain yang matang menjadi cerminan proses pengembangan pemain muda yang berhasil di dua negara itu. Sistem yang mungkin perlu ditiru oleh negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, dan Argentina. 

Indonesia? Ya kalo mau sih bisa. Tapi yaaa.... Sudahlah...

26 November 2012

La Masia XI

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis tentang starter Barcelona yang hanya menyisakan satu pemain non La Masia ketika melawan Getafe. Adriano yang mengisi posisi bek kiri menjadi satu-satunya pemain yang tidak berasal dari pembinaan yang dilakukan Barcelona di sekolahnya. Weekend lalu, Barcelona juga kembali melakukan hal ini, dengan menyisakan Dani Alves sebagai pemain non La Masia di starting lineup. Tapi kemudian menjadi lebih istimewa karena tidak lama setelah kick-off, Martin Montoya masuk menggantikan Dani Alves yang cidera. Kembali cidera nya Dani Alves memang adalah kabar buruk, tapi di balik itu, menjadi blessing in disguise ketika kemudian seluruh pemain Barcelona yang bermain di lapangan adalah produk La Masia. La Masia XI.

(from fcbarcelona.com)

Berita ini bahkan menjadi kabar positif untuk timnas Spanyol, karena hanya Lionel Messi-lah yang tidak berkewarganegaraan utama Spanyol. La Masia XI ini nyaris bisa menjadi Spain XI yang sama kuatnya dengan yang baru saja menjadi Juara Eropa.

Di pertandingan itu, Barcelona mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 4-0, sebuah kemenangan penting karena dimainkan di kandang Levante. Hampir semua pemain bermain gemilang, termasuk duet bek tengah dan Valdes yang belakangan sering jadi sasaran kritik. Paling cemerlang adalah Andres Iniesta yang menyumbang tiga assist dan satu gol untuk dirinya sendiri. Lionel Messi juga mengkreditkan dua gol di saldo rekening golnya, sehingga sekarang hanya berbeda tiga gol dari rekor gol dalam satu tahun kalendar milik Gerd Muller. Dua pemain termuda di pertandingan itu, Martin Montoya dan Jordi Alba bermain solid baik dalam bertahan maupun menyerang. Busquets tampil begitu bagus seperti biasa, dan Xavi-Cesc yang menjadi duet metronom dengan karakter berbeda yang mampu memperkaya variasi serangan Barcelona. Intinya, La Masia XI ini tampil sempurna.

Van Gaal pernah memimpikan sebuah tim yang akan jadi juara Eropa dengan menggunakan jasa pemain yang semuanya adalah hasil binaan sendiri oleh tim tersebut. Dan nampaknya, mimpi Van Gaal itu semakin mendekati kenyataan. Akan segera diwujudkan oleh tim sepakbola yang bukan sekedar klub biasa.

18 September 2012

Closer To The Dream, Mes Que Un Club


Gambar di atas saya ambil dari TotalBarca, dari artikel yang menginspirasi tulisan ini. Dari gambar itu baru saya sadari bahwa starter Barcelona pada pertandingan Getafe vs Barcelona weekend kemarin (15/9), 10 dari 11 nya adalah hasil lulusan akademinya sendiri, yaitu La Masia. Ya, Barcelona memainkan Victor Valdes, Martin Montoya, Gerard Pique, Carles Puyol, Thiago Alcantara, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Pedro Rodriguez, Francesc Fabregas, Cristian Tello, dan Adriano. Yang tidak pernah merasakan La Masia hanya nama yang saya sebut paling akhir. Seandainya Jordi Alba sedang fit, bisa saja 100% starter Barcelona adalah pemain binaan sendiri. Kecuali Fabregas, semua alumni La Masia itu selalu ada di Barcelona sejak awal karir profesionalnya. Hasilnya pun tidak mengecewakan, bahkan bisa dibilang sangat memuaskan, karena Barcelona berhasil mengalahkan Getafe dengan skor 4-1. Lebih memuaskan lagi, kemenangan itu terjadi di kandang Getafe, dimana musim lalu Barcelona menelan kekalahan, dan beberapa minggu lalu giliran Real Madrid gagal meraih poin.

29 Agustus 2012

Some Positives Out Of The Defeat

Supercopa de España.
El Clasico.

Lets not talk about Valdes' blunder.
Lets not talk about Alves' sudden injury.
Lets not talk about Adriano's deserved red card.
Lets not talk about Sanchez' another so-so performance.
Lets not talk about that terrible first 20-minute of the second leg that cost Barca the trophy.

Yes, Barca didnt win it, Real Madrid did. Congratulation for madridista for that.
Tight game, tremendous quality from both team, the game of even-a-small-mistake-not-allowed.



Saya lebih ingin membicarakan hal-hal positif atas hasil tadi pagi.

16 Mei 2012

Ah, Prediksi Apaan Ini?

Sekitar sebulan lalu, dengan penuh percaya diri dan disisipi doa serta pengharapan yang kental, saya menuliskan prediksi atas apa yang akan terjadi di akhir musim liga-liga top Eropa. Kesimpulannya, di tulisan itu saya memprediksikan Juventus, Barcelona dan Manchester United akhirnya keluar menjadi juara. Memang rasanya lebih banyak berisi keinginan subyektif daripada prediksi obyektif. Namanya juga fans, bias seperti itu tidak aneh. Hanya ramalan atas Juventus yang terbukti benar, tapi saya bukan fans Juventus. Saya Laziale yang bersyukur Lazio masih bisa finish di urutan keempat, meskipun lagi-lagi harus kecewa karena gagal meraih posisi ketiga, dan tidak bisa berkiprah di Liga Champion musim depan.

Lazio
Sempat menjanjikan di awal musim dengan rekrutmen Djibril Cisse dan Miroslav Klose, namun hanya Klose yang akhirnya tampil meyakinkan dan menjadi pemain kunci. Saking kuncinya, permainan Lazio jauh menurun ketika Klose tidak hadir. Cisse juga dijual di tengah musim ke QPR, yang kemudian memulai debutnya dengan kartu merah. Gosip transfer mengatakan, Lazio akan kembali memulangkan sang pangeran, Alessandro Nesta, dari AC Milan, dan akan menjual beberapa pemain, termasuk Hernanes. Intinya, belum terlihat upaya serius dari board untuk kembali mengangkat Lazio menjadi klub elit Italia, Eropa dan dunia. Sebagai fans, saya hanya bisa menunggu kejutan yang mungkin akan terjadi di musim depan. Sebuah penantian panjang yang belum juga kesampaian sejak era Hernan Crespo.

24 April 2012

Ujian Sesungguhnya Untuk Guardiola

Saat ini, dua manajer yang paling populer karena kejeniusannya, paling tidak menurut saya, adalah Jose Mourinho dan Josep Guardiola. Jose Mourinho karena prestasinya yang tidak bisa diragukan, termasuk menjadi juara di Eropa, Liga Portugal, Inggris, Italia, dan tak lama lagi, Spanyol. Josep Guardiola karena kiprah gemilang di awal karirnya bersama Barcelona yang berhasil meraih semua gelar yang mungkin direbut, dan keberhasilannya mengorbitkan pemain muda.

Perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat diantara keduanya akan menjadi diskusi panjang tak berkesudahan. Sama seperti ketika membandingkan Pele dan Maradona, Ronaldo dan Zidane, Cristiano Ronaldo dan Messi. Masing-masing mempunyai kelebihan yang sekaligus bisa menjadi kekurangan jika dipandang dari sudut pandang berbeda. Kelebihan utama Mourinho adalah pembuktiannya dalam selalu membawa prestasi pada tim manapun yang dilatihnya. Kelebihan Guardiola adalah kesuksesannya membangun pondasi tim dengan karakter kuat dan bermodal pemain binaan sendiri sehingga mendatangkan berbagai tropi. Mourinho tidak pernah berada di satu tim dalam jangka waktu yang lama, dan belum terbukti mampu membangun pondasi tim yang kuat dalam jangka panjang. Guardiola belum membuktikan diri bisa membawa prestasi di tim yang lain, tanpa alien-alien yang kini dididiknya. Ini adalah bahan perdebatan yang tak kunjung usai. Tapi sebentar, adakah pelatih yang pernah melatih dalam jangka waktu yang lama dalam sebuah tim, dan menjuarai berbagai Liga di berbagai negara sekaligus? Is it possible? Saya rasa tidak.

21 April 2012

Finally Mou Has The Answers Right


Ah, bukan hal menyenangkan untuk menulis ini. Ketika diharapkan bisa mengikis selisih poin menjadi satu saja, Barcelona justru kalah di kandang dalam laga penting El Clasico. Gol Khedira hasil kelengahan bek Barca mengantisipasi tendangan sudut, dan gol Ronaldo dari assist Ozil hasil serangan balik cepat khas Madrid hanya bisa dibalas sebuah gol Sanchez yang memanfaatkan kemelut di depan gawang. Tidak hanya kalah gengsi, kekalahan ini membuat selisih poin Madrid dan Barca menjadi tujuh, dan memperbesar kans Real Madrid untuk menjuarai La Liga musim ini.

First of all, selamat buat Real Madrid dan fansnya. Barcelona tampak bermain kurang fokus, sehingga sering salah passing. Turunnya Tello sebagai starter juga cukup aneh, karena yang dihadapi adalah Real Madrid. Kelemahan utama Barcelona dalam menghadapi set piece berhasil dimanfaatkan Madrid sebaik-baiknya. Madrid juga sukses mempersolid pertahanan dengan efektif dan tidak kasar. Finally, Mourinho has the answers right. Tapi saya yakin, Guardiola pasti akan punya "pertanyaan" yang baru. Menarik untuk menyimak apa yang terjadi setelah ini, meskipun saat ini terasa cukup menyesakkan. Peluang gelar terbesar ada di Copa Del Rey dan Liga Champion. Mengalahkan Athletic Bilbao dan membalik defisit 1 gol dari Chelsea bukan hal yang mudah. Tapi kegagalan di La Liga bisa menjadi motivasi extra.

18 April 2012

Chelsea 1-0 Barcelona

Barcelona dikalahkan Chelsea pada leg pertama babak semifinal Liga Champion musim ini (11/12). Satu-satunya shot on goal dari Drogba menjadi gol penentu kemenangan. Meskipun mendominasi sepanjang pertandingan dengan menguasai possession sebesar 72%, Barcelona akhirnya harus rela menghadapi leg kedua dengan defisit satu gol.

Barcelona Melawan Tembok Tebal
Chelsea bermain dalam, dengan menempatkan hampir seluruh pemain di daerah pertahanannya. Aroma catenaccio khas Italia sangat terasa di permainan mereka. Pola pertahanan yang rapat dan disiplin, sukses mematikan Messi, dan cemerlangnya penampilan Petr Cech menjadi faktor utama yang membuat Barcelona tidak mampu menembus gawang Chelsea, bahkan beberapa kali kehilangan fokus. Gol Drogba diawali dari Messi yang kehilangan bola, kemudian bola diarahkan kepada Ramires yang dengan cepat berlari ke depan dan mengirimkan umpan silang pada Drogba yang hanya perlu satu sentuhan untuk mengecoh barisan bek Barcelona. Chelsea sukses memotong aliran umpan yang mengarah ke gawangnya, dan berhasil mematikan pergerakan para pemain Barcelona, terutama Messi. Hasil dari minimnya pergerakan itu, tidak ada permainan kasar, tidak banyak tekling terlambat, tidak ada penalti, tidak ada kartu merah, dan hanya ada dua kartu kuning untuk masing-masing tim. Melawan Barcelona, memang strategi seperti inilah yang harus diterapkan.

08 April 2012

Mengintip Peluang Juara Liga Elit Eropa

Liga-liga eropa makin mendekati akhir musim. Kandidat juara semakin mengerucut. Di tiga liga top eropa, pertarungan hanya menyisakan dua kontestan. Barca-Madrid di Spanyol, United-City di Inggris, dan Juve-Milan di Italia. Di penghujung minggu awal April ini, terjadi kejutan di tiga liga itu.

Mari kita mulai dari Italia. Saya laziale, sehingga cukup netral melihat persaingan Milan-Juve. Tapi untuk musim ini, saya lebih mendukung Juve. Mengapa? Sederhana saja, karena Juventus pada dasarnya adalah tim besar Italia yang kehilangan pamor paska calciopoli, sehingga ini waktu yang tepat untuk mulai bangkit. Selain itu, tahun lalu Milan sudah juara, ya tahun ini gantian lah. Hehehehe.
Kejutan Serie-A kali ini adalah dengan kalahnya Milan dari Fiorentina di San Siro. Kekalahan ini seperti 'memberi' Juventus kemudahan untuk menyalip Milan, mungkin lebih mudah dari yang mereka duga. Kekalahan Milan dari Barcelona berlanjut pada performa kurang baik di Serie A. Saya kurang tahu apakah kali ini banyak yang menyalahkan wasit lagi atau tidak. Dari tujuh pertandingan sisa, Juventus masih akan menghadapai Lazio dan Roma, tapi dua-duanya di kandang. Tentunya saya ingin Lazio mengalahkan Juve, tapi saya memprediksikan Juve yang akan menang. Sisanya, Juve akan menghadapi lawan yang relatif tidak berat. Sebenarnya Milan juga memiliki sisa pertandingan yang tidak berat, namun masih ada satu pertandingan tandang melawan Inter Milan. Meskipun partai ini "tidak terlalu tandang"' buat Milan, namun dengan kondisi mental seperti sekarang dan dengan posisi klasemen di bawah Juve, saya rasa agak sulit buat Milan untuk meraih seluruh kemenangan di tujuh laga sisa dan finish di akhir musim sebagai juara. Tahun ini sepertinya akan jadi milik Juventus. Semoga tahun depan Lazio bisa bicara banyak.


27 Januari 2012

Mourinho Di Balik Sukses Barcelona

Tidak banyak yang menyangkal bahwa Barcelona saat ini adalah tim terbaik dunia, bahkan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Kombinasi antara pemain-pemain kelas dunia yang mayoritas hasil binaan sendiri, pelatih jenius, filosofi permainan dan attitude yang bagus, prestasi nyata, klub yang mapan, dan dukungan suporter yang luas dan fanatik, membuat Barcelona di era Josep Guardiola menjadi sangat superior. Meskipun tentu saja, ini bukan hasil karya Josep Guardiola semata, melainkan hasil binaan secara konsisten dan terus menerus oleh banyak orang hebat yang pernah in charge di Barcelona.

Selain dukungan sekian banyak faktor tersebut, saya tertarik untuk membahas peran seseorang yang sangat penting bagi perkembangan permainan Barcelona saat ini. Dia adalah seorang pelatih yang pernah berada di dalam lingkungan Barcelona, namun tidak pernah memanajeri Barcelona secara langsung. Dia adalah : Jose Mourinho.

25 Januari 2012

Mourinho Almost Did It, But Not Yet.

Untuk pertama kalinya, Real Madrid di bawah Mourinho played football like a men di El Clasico. Menurut saya, ini adalah permainan terbaik Real Madrid-nya Mourinho dari seluruh edisi El Clasico. Menurunkan Higuain sebagai penyerang tengah dan trio Ronaldo-Ozil-Kaka di belakangnya, Madrid sudah menciptakan banyak peluang sejak menit-menit awal. Formasi Barcelona tidak banyak berubah, namun tampak sekali bahwa lini belakang dan kiper cukup lengah. Pinto seringkali teledor, dan di saat yang sama melakukan penyelamatan yang mengamankan gawang Barcelona. Barcelona baru mulai menguasai pertandingan di pertengahan babak pertama. Messi memang tidak mencetak gol, tapi Messi cukup bebas berkreasi. Gol pertama Barcelona lahir akibat terlalu berkonsentrasinya para bek Madrid dalam menjaga Messi, sehingga meninggalkan Pedro, Fabregas, dan Sanchez tak terjaga. Messi pun berhasil mengirimkan bola ke Pedro yang kemudian dikonversikan menjadi gol.


18 Januari 2012

Oops, Barcelona Did It Again

Sekali lagi Barcelona berhasil memenangi El Clasico, kali ini di leg 1 babak perempat final Copa Del Rey. Sebuah serangan balik yang cepat dari Real Madrid berhasil dikonversi oleh Cristiano Ronaldo melalui tendangan yang cerdik berhasil mengelabui Pique dan Pinto di menit 11. Memulai babak kedua dengan tertinggal 1-0, Barcelona akhirnya membalikkan keadaan melalui sundulan Puyol hasil tendangan sudut Xavi, dan drive Abidal hasil umpan terobosan lambung dari Messi. Hasil akhir : Madrid 1-2 Barcelona.

(dari youtube)

Babak pertama berjalan alot. Seperti biasa, Barcelona selalu mendominasi possession. Real Madrid melakukan pressing ketat sejak dari daerah pertahanan Barcelona. Gol Ronaldo lahir berkat kecepatan serangan balik dan kualitas finishing, serta kelengahan Pique dan kurang sigapnya Pinto. Rupanya Pique belum bisa mematikan Ronaldo seperti yang biasa dilakukan Puyol atau Alves, dan Pinto tidak sesigap Valdes. Di babak pertama banyak keputusan wasit yang sepertinya kurang tepat. Kartu kuning untuk Pepe dan Pique, dan beberapa keputusan offside saya rasa sangat debatable. Halftime ditutup dengan defisit satu gol bagi Barca.

16 Januari 2012

El Clasico, Istimewa Yang Makin Biasa Saja

Benar kata Casillas, bahwa dengan semakin seringnya El Clasico terjadi, maka rasa spesialnya akan semakin berkurang. Tanggal 18 Januari esok Real Madrid akan kembali menjamu Barcelona di Copa Del Rey. Setelah menjalani 5 El Clasico yang sangat mendebarkan musim lalu, musim ini El Clasico malah ada peluang terjadi hingga delapan kali. Dua di Piala Super Spanyol sudah terlewati, empat sudah pasti terjadi di La Liga dan Copa Del Rey, dan dua lagi mungkin terjadi di Liga Champion nanti. Ketika tersaji terlalu sering, makanan senikmat apapun perlahan-lahan akan menjadi biasa. Begitu juga El Clasico. Meskipun begitu, yang namanya El Clasico akan tetap saja, Istimewa. Istimewa yang kali ini makin biasa saja.

Musim ini Real Madrid begitu hebatnya. Memimpin klasemen La Liga dengan keunggulan lima poin dari Barcelona cukup menggambarkan itu. Ditambah dengan Cristiano Ronaldo yang nangkring di puncak daftar pencetak gol terbanyak, diikuti Higuain dan Benzema yang tidak jauh dari situ, Real Madrid tampak tak terkalahkan. Sementara di saat yang sama, Barcelona yang menjadi Team To Beat bagi semua tim di Spanyol sering menemui ganjalan. Telah mengalami lima kali seri plus satu kekalahan membuat Barcelona cukup keteteran mengejar Real Madrid. Namun, Barcelona seperti masih terlalu tangguh bagi Real Madrid jika berhadapan langsung. Di El Clasico pertama musim ini, Real Madrid harus tersungkur di kandangnya oleh Barcelona dengan skor 1-3. Saat itu Mourinho menginstruksikan Real Madrid untuk memainkan "sepakbola" tanpa faktor-faktor X. Faktor X yang saya maksud bisa disimak dari tulisan saya tentang Jose Mourinho dan opini tentang El Clasico lalu.