19 Juni 2016

LeBron Memenuhi Takdirnya : Cavs Akhirnya Juara

Tertinggal 1-3 dari pemegang rekor 73 kemenangan di musim reguler, Cavaliers diramalkan segera takluk dan kembali gagal menjadi Juara NBA. Namun sindiran pedas dari Draymond Green dan Klay Thompson sepertinya menjadi cambuk yang membangunkan Om LeBron James sehingga kemudian menjadi gila dan tampil mengerikan yang secara dominan mengambil alih game 5 dan 6 untuk menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Golden State Warriors punya banyak mesin three point yang bisa menembak kapan saja dimana saja oleh siapa saja. Sebagai pemegang cincin juara bertahan, tentu saja bukan lawan ringan, terbukti dari dominannya GSW di dua partai pertama NBA Final 2016. Namun semua terbalik di game 5 dan 6 itu. LeBron James memimpin para rekannya baik dengan cara mencetak poin, memberi assist, blok penting maupun rebound yang agresif. Maka, game ke 7 menjadi sangat seru.

 Cleveland Cavaliers, 2016 NBA Champions
(sumber : NBA.com)

Dan itulah yang terjadi. Sejak awal pertandingan, kejar mengejar skor sangat ketat. Nyaris tidak ada lagi dominasi satu tim atas tim lainnya. Cideranya Andrew Bogut rupanya cukup mempengaruhi kekuatan GSW di dalam, sebagai sebuah kondisi terbalik dari yang dialami Cavs tahun lalu dimana LeBron harus berjuang sendiri ketika ditinggal Kevin Love dan Kyrie Irving cidera. Stephen Curry tidak tampak seperti dirinya ketika bermain stabil di musim reguler. Banyak shoot yang ragu-ragu dan gagal menambah poin, mungkin saja dia bermain sambil menahan cidera. Shumpert yang tampak tidak-ngapa-ngapain-tapi-tetap-dipasang-terus diberi tugas khusus untuk selalu mengganggu Curry supaya nggak shaat shoot shaat shoot melulu dari mana saja secara kurang ajar. Terbukti kawalan ini sukses menggagalkan kekurangajaran Curry. Klay Thompson di game ini juga tidak dominan. Yang mengerikan adalah Draymond Green dengan 5 per 5 three point shoot di awal-awal pertandingan. Saya curiga sebenarnya salah satu strategi Cavaliers untuk menghalangi laju GSW adalah dengan men-trade Anderson Varejao ke GSW, karena ternyata di beberapa momen penting, Varejao justru membuat turnover yang menguntungkan Cavs. Strategi yang cukup brilian.

Ya, saya adalah #teamLeBron semenjak dia kembali ke Cavaliers, berbeda ketika saya menjadi #antiLeBron ketika dia sedang berada di Miami Heat. Saya rasa, dengan nama dan kemampuan sebesar dia yang dianggap sebagai Greatest Player of His Generation, LeBron seharusnya tidak kabur dan mencari rumah lain demi perburuan gelar juara. Dia punya beban moral untuk mengangkat timnya untuk mencapai kasta tertinggi. Maka ketika dia insyaf dan kembali berniat untuk membawa Cavaliers ke level yang lebih tinggi, saya mendadak menjadi fans LeBron. Dengan ini, dia layak untuk mulai disejajarkan dengan para legenda seperti Michael Jordan, Kobe Bryant, dan Tim Duncan, lebih hebat daripada Shaquille O'Neal dan Kevin Garnett.

LeBron menjadi pemain yang berbeda sejak kembalinya dia ke Cleveland, karena dia menjadi lebih seperti pemimpin yang tidak lagi mendominasi permainan. Dikelilingi playmaker lincah macam Kyrie Irving, forward handal macam Kevin Love, bigman dominan seperti Tristan Thompson, plus veteran pencari gelar di usia senja semacam JR Smith dan Richard Jefferson, LeBron James mampu menyatukan mereka dan bekerja sebagai sebuah tim.

Untuk menghentikan Curry dan teman-teman penembak jitunya, individual brilliance tidak cukup. Harus ada kekompakan tim dalam meminimalisir peluang menembak jarak jauh, dan intimidasi dalam berjuang beradu fisik. Hasilnya. Curry hanya sukses mencetak 4 three point, dan Thompson hanya sukses mengeksekusi 2 three point dari 10 percobaan. Total mereka berdua menyumbangkan 31 point, jumlah yang tidak bagus berdasarkan standar mereka, ditambah dengan 7 turnover yang tentu saja krusial.

Cavaliers sebenarnya juga ga tajam-tajam amat. Banyak peluang yang gagal di eksekusi termasuk layup LeBron dan 3pt made yang cuma 24%. Tapi dari sedikit 3 point itu, ada satu shoot penting dari Irving yang menentukan di detik-detik akhir, dan block dahsyat LeBron pada Iguodala sebagai bentuk tanggung jawab nya yang baru saja mencetak turnover. Namun eksplosifitas James memang tak tertandingi di game ini. Iguodala yang pada prinsipnya diberi tugas untuk mengganggu James tidak mampu menandingi kekuatan, kecepatan, dan keakuratannya. Apalagi ketika LeBron sukses melakukan switch sehingga dijaga orang lain seperti Thompson atau Curry. Di game ini tidak banyak momen-momen showtime yang potongan videonya bisa diputar berulang-ulang saking kerennya, tapi ketegangan selama pertandingan bisa jadi merupakan partai final NBA terbaik yang pernah saya lihat selama ini. 

GSW adalah unggulan, sebuah tim muda yang diisi para penembak jitu. Bisa memanage sekian banyak pemain untuk bisa menembak jarak jauh dengan tepat dan konsisten adalah kerja Steve Kerr yang patut diapresiasi. Namun, saya pribadi kurang menikmati gaya permainan mereka. Sebagai penggemar NBA sejak era Michael Jordan, saya sangat menikmati permainan cepat dengan aneka pick-n-roll, give and go, alley oop, drive lincah, dan dunk akrobat. Hal-hal yang jarang dilakukan oleh para pemain Golden State Warriors.

LeBron James jelas jadi nama yang menggaransi hiburan itu, meskipun tidak lagi sesering dulu. Kemenangan Cavaliers bagi saya adalah kemenangan basket sebagai hiburan, karena memang banyak hiburan dari permainan mereka, meskipun di musim ini Cavs pernah mencetak rekor sebagai tim dengan three point terbanyak dalam satu pertandingan. Ya, gelar itu justru diraih Cavs, bukan Warriors.

Cavaliers sudah juara, artinya satu lagi sejarah tercipta karena Cavs memang belum pernah merasakannya. Menjadi juga bersejarah karena yang membawa juara adalah anak didiknya. Dan menuntaskan rasa penasaran saya atas gelar juara LeBron James bersama tim aslinya, meskipun jelas tidak ada apa-apanya dibanding rasa penasaran LeBron sendiri.

Saya senang mengikuti perkembangan Cavaliers musim ini, tapi sebenarnya saya lebih mendukung tim lain untuk maju jauh, dan nyaris tercapai tahun ini. Jadi karena Cavs sudah juara, maka musim depan saya ingin mendukung Oklahoma City Thunder bersama trio Kevin Durant-Russell Westbrook-Serge Ibaka nya. 

Semoga OKC melangkah lebih jauh musim depan.

Namun yang lebih penting, semoga NBA semakin menghadirkan banyak hiburan, karena pencapaian yang bisa saya dapat dari NBA ya hanya rasa senang ketika menonton. 

02 Juni 2016

New Premier League's Era. Atau sebuah tulisan panjang dalam rangka menghibur diri.

Setelah saya sudah cukup bisa melupakan Patah Hati karena Pep, alias Pep-tah hati, saya juga harus menghadapi kenyataan bahwa gosip yang gencar sejak lama itu akhirnya terbukti. Manchester United benar-benar mengkontrak Mourinho sebagai manager. Sejak lama saya salut terhadap kemampuan dan prestasi Mou, tapi tidak pernah suka atas pendekatannya pada sepakbola. Dia adalah mbahnya (meskipun sekarang bukan satu-satunya) sepakbola reaktif di 2010-an ini. Benar-benar antidot atas sepakbola inisiatif ala junjungan saya, Pep Guardiola.

(sumber : manutd.com)

Namun ketika mencoba berpikir jernih dengan penuh penyangkalan atas nama kecintaan pada klub idola, maka sebenarnya ini adalah justru saat yang paling masuk akal bagi Mourinho untuk menangani MU. Sebuah alasan paling manis untuk kenyataan yang sangat pahit itu.

Begini.

Musim depan adalah musim yang membuktikan bahwa Liga Primer Inggris adalah Liga paling glamor sedunia. Saya tidak sedang membicarakan Liga terbaik ya, karena lebih baik dibahas pada tema tersendiri. Namun tidak bisa disangkal jika dilihat dari sisi kemewahan, maka sangat sulit untuk menandingi Liga Inggris. Sejak Chelsea tiba-tiba meraih banyak kesuksesan semenjak disuntik dana oleh papa-gula Abramovich, peta kekuatan Liga Inggris menjadi bergeser, dan menggoda investor lain untuk membeli tim pesaingnya, dan kemudian nongol-lah para syekh itu di belakang kebangkitan Manchester City. Kekuatan masif finansial mereka ternyata mampu mengundang beberapa piala ke rumah mereka, meskipun tidak lantas menjadi raja yang sangat dominan. Liga Inggris lah yang membuat harga para pemain di pasar menjadi sangat overprice, karena tim-tim ini mampu membeli pemain dengan harga mahal hanya karena mereka mampu membelinya. Selain PSG, Barcelona, dan Real Madrid, tim-tim di luar Liga Inggris akan sulit menyaingi kemampuan finansial ini, sehingga para pemain yang dianggap punya potensi besar dan sialnya tidak dilirik oleh tim dengan kejayaan historis macam Barcelona dan Real Madrid, akan memilih untuk bergabung dengan tim Liga Inggris yang menjanjikan persaingan ketat, panggung besar, dan uang yang berlimpah.

Setelah beberapa tahun para tim Liga Inggris dengan seenaknya membajak para pemain berlabel bintang ke tanah Britania Raya, maka musim depan adalah waktunya mereka menghadirkan para arsitek yang belakangan terkenal memiliki karir cemerlang dengan kemampuan teknis yang sangat mumpuni. Strategi teknis adalah salah satu hal yang dianggap kurang dari sepakbola Inggris sehingga belakangan kurang mampu bersaing di Eropa, karena itu dengan kedatangan para ahli strategi ini diramalkan akan mendongkrak nilai hiburan dari tontonan Liga Inggris, bukan hanya dari keglamoran para pemainnya, namun juga adu cerdas meramu taktik.

Kehadiran Klopp di Liverpool telah terbukti mampu mengubah aura tim ini secara keseluruhan. Dengan pemain yang relatif sama, Klopp mampu menginstall semangat juang yang setrong sehingga mampu melaju hingga final Piala UEFA meskipun kalah dari Sevilla. Bayangkan jika musim depan Liverpool telah mengkontrak pemain-pemain yang diinginkan Klopp sendiri. Maka terbayanglah wajah perkasa Borussia Dortmund ketika waktu itu menjadi kekuatan top Eropa.

Akan sangat panjang jika saya membahas Pep Guardiola. Tapi intinya adalah, Pep diyakini akan membawa atmosfir yang benar-benar baru baik di klub yang ditanganinya maupun negara tempat timnya berlaga. Ketika Pep melatih Barcelona, Spanyol menjadi juara dunia. Ketika Pep melatih Bayern Muenchen, Jerman juga menjadi juara dunia. Kebetulan kah? Mungkin saja iya. Namun tidak bisa dipungkiri, pemain kunci dua negara tersebut ketika menjadi juara dunia adalah pemain andalan Pep di timnya, dan kebetulan dua negara tersebut bermain dengan tipe permainan yang cukup banyak persamaan dengan gaya permainan Pep. Perlu diingat bahwa taktik dasar Pep di Barcelona dan Bayern Muenchen mungkin sama, tapi dalam perwujudannya, dua tim ini menjalankan cara yang berbeda. Mampukah Pep menularkan semangat itu ke Manchester City, menginstall sebuah sistem baru yang sesuai, membangun winning team, dan kemudian mampu mengangkat derajat timnas Inggris yang kutukupret itu?

Pelatih hebat lainnya yang ikut join di Liga Inggris adalah Antonio Conte. Kesuksesan besarnya dalam dunia kepelatihan adalah membawa Juventus kembali dominan di Liga Italia, dan membangun kerangka tim yang kembali mampu bersaing di Eropa. Di tangan Conte, Juve tak tertandingi di Italia. Bergabungnya Conte di Chelsea adalah sebuah tantangan seru yang menarik, karena Chelsea sedang dalam posisi sebagai tim yang berisi banyak pemain bintang yang sempat ringsek, tapi kemudian diselamatkan oleh Guus Hiddink. Posisi terakhir memang tidak memuaskan, tapi trend nya sedang menanjak.

Meskipun bukan termasuk pendatang baru, Pochettino tidak boleh dilupakan istimewa-nya. Hotspurs yang tidak diisi pemain bintang dunia kelas satu mampu dibawanya finish di atas City, MU, dan Chelsea. Lebih istimewa lagi ketika prestasi itu sekaligus dibarengi dengan diorbitkannya banyak pemain muda yang sangat berkualitas, yang juga berimbas pada supply pemain bagus untuk timnas Inggris. Dengan persiapan yang matang, plus kesempatan bermain di Liga Champion akan menjadi pembuktian Pochettino untuk berbicara di kancah yang lebih besar.

Secara pribadi saya lebih senang jika Arsene Wenger tidak lagi melatih Arsenal, meskipun tidak harus mendepaknya dari manajemen. Mungkin bisa mengisi posisi seperti football director. Karena Arsenal tidak lagi mampu menjadi tim yang tampil meyakinkan dan garang di bawah asuhan Wenger. Liburan sebentar untuk merenung mungkin akan me refresh intuisi nya dalam mengatur taktik, dan membawa sudut pandang baru yang lebih segar dalam melatih. Runner up Liga Inggris memang tidak buruk, tapi lagi-lagi gagal setelah berkali-kali hampir juara ya masak dianggap memuaskan sih? Atau mungkin ya sudahlah, pensiun saja.

Dan tentunya jangan lupakan Ranieri dengan squad Leicester nya yang murah meriah manjur itu. Sempat dikenal dengan julukan Mr. Runner Up, Ranieri malah berhasil jadi juara ketika menangani tim yang sebelumnya berjuang di sekitar garis degradasi. Yang lebih spesial lagi, perlu diperhatikan bahwa pesaing-pesaing Leicester adalah tim-tim yang berisi pemain-pemain bergaji mahal dengan dukungan materi dan support teknik yang sangat canggih. Sebuah cinderella story yang akan selalu dikenang dalam sejarah sepakbola dunia. Namun apakah si cinderella ini akan tetap digdaya musim depan, ataukah hanya akan menjadi one hit wonder saja? Itulah tes yang sesungguhnya.

Nah, dengan adanya serentetan tim dibawah asuhan para pelatih hebat itulah, Man Utd seharusnya tidak tinggal diam. MU WAJIB mencari pelatih dengan kapasitas teruji yang diharapkan mengubah karakter tim secara keseluruhan. Diawal pengangkatannya, Van Gaal diharapkan mampu menginstall filosofi mendasar itu, namun dalam dua tahun kepelatihannya, belum tampak karakter dan keinginan menang yang meyakinkan, meskipun kadang-kadang tampak keinginannya untuk memainkan sepakbola yang menghibur. Tapi ya pemainnya lebih banyak terlihat bingung ga tau mau ngapain. Nyerang ga tajem, bertahan ga kuat. Untung saja masih ada De Gea disana.

Maka ketika Van Gaal dan MU sepakat untuk jalan sendiri-sendiri, itu adalah momentum untuk mengubah arah karakter tim, yang tidak banyak pelatih bisa melakukan itu. MU adalah tim raksasa dengan sejarah panjang dan prestasi menawan, tapi sedang terpuruk dalam mediokrisi. MU berisi pemain-pemain terkenal dengan gaji tinggi, tapi tidak pernah padu dan tanpa guideline yang jelas. MU memiliki reputasi pengusung pemain-pemain muda hasil didikan akademi sendiri, tapi sedang dalam posisi yang tidak terlalu menguntungkan untuk melakukan coba-coba. Harus ada pelatih ber karakter kuat yang siap untuk berkonfrontasi demi sebuah tujuan yang dia harapkan akan dituju. Pelatih yang mampu mengeluarkan potensi terbaik dari setiap pemainnya. Pelatih yang benar-benar dipercaya dengan penuh antusiasme oleh timnya.

Ada berapa pelatih yang sedang menganggur yang memiliki klasifikasi seperti itu? Saya rasa tidak banyak. Seharusnya memang tidak banyak, karena menjadi manajer Manchester United seharusnya memang tidak mudah. Dari sedikitnya pilihan itu, mau tidak mau harus diakui bahwa Mourinho memenuhi sebagian kriteria nya. Mou terbukti pernah meraih banyak piala di tim yang dia tangani, bahkan pernah head-to-head dengan tim yang dianggap terbaik di dunia (bahkan dalam sejarah) saat itu, yaitu Barcelona-nya Pep. Ketika Mou dipercaya timnya, maka Mou akan mampu membawa tim medioker sekalipun untuk berjuang dan menang melawan tim hebat manapun. Porto? Chelsea? Inter Milan? Real Madrid?

Mourinho memiliki beberapa nilai kurang yang membuat saya tidak menyukai caranya melatih, yaitu kecenderungannya untuk bertahan ketika menghadapi tim besar, dan kekurangannya dalam membentuk pondasi filosofi tim dalam jangka panjang. Serta kesukaan dia untuk berbicara banyak di media yang seringkali bernada arogan yang tidak sejalan dengan jiwa sportifitas. Tapi kalau dilihat dari sisi psikologis sebagai penyembuh jiwa-jiwa yang luka, Mourinho adalah salah satu yang terbaik.

Saat ini di MU nyaris tidak ada pemain bintang yang tak tergantikan. Disana tidak ada Ronaldo atau Messi. Rooney yang tadinya adalah maskot kebanggan MU, tidak lagi menjadi aktor paling penting di tim. Jika harus menyebut pemain paling krusial di tim, maka saya akan menyebut David De Gea. Dan sebagai kiper, tentu saja De Gea tidak bisa menjadi dirijen permainan yang menentukan karakter MU. Hal ini akan memudahkan Mourinho dalam menyusun kerangka tim nya nanti. Menjadi manajer MU adalah keinginan Mou sejak lama, sehingga tentu saja Mou sudah memiliki banyak informasi dan hasil pengamatan tentang tim ini. Perlu diingat bahwa Mourinho pernah membawa Real Madrid juara dengan rekor poin tertinggi dan mencetak banyak gol, maka harapan untuk Mourinho bermain menyerang tetap ada. Sejak dulu saya yakin Mourinho cocok untuk melatih tim medioker, dan tidak cocok menangani tim mapan yang elegan. Mou pasti tidak cocok menangani MU yang dulu, tapi sejak musim-musim terakhir Fergie melatih, MU sudah kehilangan ke-elegan-an itu, dan tidak asik lagi untuk ditonton. Di masa sekarang, ketika tidak jelas MU ini mau dibawa kemana dan mau dilabeli karakter macam apa, maka Mou sangat mungkin akan membawa mentalitas tertentu yang membuat MU kembali punya keinginan kuat untuk merangsek ke papan atas Liga Inggris lagi. Mou bekerja paling pas ketika tidak ada superstar di tim, dan seperti itulah kondisi MU sekarang.

Mungkin saya akan tidak merasa terhibur ketika melihat permainan MU nantinya, tapi Mou seringkali punya jawaban-jawaban atas racikan strategi yang dibuat oleh para pesaingnya yang hebat-hebat, maka saya rasa harapan untuk MU kembali menjadi tim kuat yang meyakinkan cukup bisa menghapus kekecewaan itu.

Atau mungkin tulisan sepanjang  ini adalah sekedar cara pribadi untuk menghibur diri sendiri yang terlanjur Pep-tah Hati.

05 Februari 2016

Pep-tah Hati

Jelang penutupan transfer window januari ini diwarnai dengan berita duka untuk saya. Sebagai fans Barca di Spanyol dan MU di Inggris, berita kepindahan Pep Guardiola dari Bayern Muenchen untuk menjadi manajer Manchester City mulai musim depan benar-benar membuat patah hati.

 
( Sumber : disini )

Bagi saya, melihat tim asuhan Guardiola bermain, mampu mengubah cara berpikir tentang sepakbola. Itulah yang saya rasakan sejak Guardiola melatih Barcelona delapan tahun silam. Possession based attacking football, bukan cuma tentang menang, tapi cara untuk meraih kemenangan.

Saya membaca sebuah komentar menarik di sebuah blog pro-Barcelona, yang kira-kira artinya begini :

Pep adalah pelatih grade A+++ yang telah terbukti.

1. Ketika Pep bergabung bersama Barca, mereka sedang berjuang dengan susah payah di La Liga dan Liga Champion, bukan karena pemain-pemainnya, tapi karena Rijkaard tidak lagi mampu memotivasi timnya. Mereka tidak mampu menjaga keunggulan lima poin dari Real Madrid, mendapat hasil seri melawan Betis dan Espanyol di kandang (ya, Betis dan Espanyol) dan gagal menjadi juara Liga dengan poin yang sama (cara paling menyebalkan untuk gagal di Liga). Plus, Barca tidak meraih tropi besar dalam dua tahun. Barca hanya menang Piala Spanyol di dua musim.

2. Pep memulai melatih di tim divisi 4 Liga Spanyol, dan membawa mereka sukses meraih promosi ke divisi 3 (yang kemudian diambil alih Luis Enrique).

3. Setelah bergabung, Pep mengambil keputusan yang paling sulit bagi pelatih manapun. Dia melepas Ronaldinho dan Deco yang menjadi pemain paling penting di ruang ganti. Dia juga menginginkan Eto'o pergi, tapi ternyata kemudian masih menjalani semusim bersama Pep.

4. Pep memiliki visi dan ide yang jelas. Jika anda membaca kisah musim pertama Pep di Barca, ada sesi percakapan yang sangat menarik bersama Xavi dan Iniesta. Pep berbicara pada mereka apa yang INGIN ia lakukan, dan BAGAIMANA dia ingin memainkannya. Dia bukan hanya sekedar pelatih, dia adalah pelatih dengan ide yang JELAS tentang bagaimana dia ingin bermain dan bagaimana SETIAP PEMAIN seharusnya bermain. Pep ikut andil banyak dalam torehan-torehan sejarah Messi. Dialah yang mulai menempatkan Messi di posisi false-9. Dia menemukan kembali Messi dan membuatnya menjadi seperti sekarang (Pep tidak memberi Messi bakat apapun, tapi dia menyusun sistem yang memungkinkan Messi untuk bersinar).

5. Pep sangat bagus dalam menilai potensi pemain hebat. Busquets dan Pedro yang merupakan pemain andalannya ketika di divisi 4 dibawanya dari Barca B. Sekarang Busquets menjadi pemain paling berpengaruh, penting, dan hebat di posisinya. Tidak ada pemain lain yang mengalahkan apa yang jadi kelebihannya.

6. Tidak ada yang kebetulan untuk Pep. Dia pekerja keras, detil, dan pemipin yang kuat. Itulah yang membawanya meraih 14 tropi dari 19 tropi yang mungkin diraih di Barcelona. Dia mengalahkan Madrid beberapa kali, dan dengan cara yang brutal. 5-0, 6-2, dan 3-1 (semifinal UCL). Semuanya dilakukan dengan total dominasi.

7. Pep setuju untuk bekerjasama dengan Bayern sebelum mereka memenangkan treble. Dia setuju untuk bekerjasama dengan Bayern pada bulan Desember 2012, sedangkan Bayern meraih treble pada Mei/Juni 2013. Pep tidak memilih Bayern karena menanggapnya bakal mudah. Plus Bayern mengontrak Pep karena filosofi sepakbolanya, bukan sekedar untuk tropi.

8. Dan bagaimana bisa menangani Manchester City dianggap mudah? Bukankah mereka tertatih-tatih di Eropa dan Inggris, meskipun memiliki banyak pemain kelas dunia?



Masih dari halaman yang sama, ada yang mengatakan bahwa Pep menciptakan sebuah sistem yang butuh TIGA TAHUN bagi tim lain untuk menemukan cara menghentikannya. Tidak hanya sekedar memainkan para pemain dan memenangkan banyak hal. Pep menghidupkan kembali sistem yang tampak seperti sudah mati suri bertahun-tahun, membangkitkannya, dimodifikasi sana sini, dan meciptakan sistem yang hanya bisa dihentikan dengan satu cara, yaitu dengan tidak bermain sepakbola. Pep menciptakan sistem sepakbola terbaik dalam 20 tahun terakhir. Siapapun manajer yang mampu melakukan itu, meskipun dikelilingi pemain hebat, tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah pelatih hebat.


Inti dari semua itu, Pep adalah salah satu hero saya dalam karir sebagai penikmat sepakbola. Cara Pep memerintahkan anak buahnya bergerak dengan atau tanpa bola, juga caranya untuk mengarahkan pemain lawan untuk bergerak ke arah yang dia mau, tidak bisa dilakukan dengan instan, dan dengan punggawa yang biasa saja. Menyusun sebuah sistem yang rumit memerlukan kecerdasan. Membuat orang lain bisa memahami penjelasannya juga perlu keahlian tersendiri. Begitu juga cara untuk membuat para pemain itu menjalankan semua pengarahan tepat sesuai yang diinginkan tidaklah mudah. Memilih orang-orang yang akan mampu menterjemahkan rencana itu juga sulit. Gabungan dari itu semua membuat Pep menjadi istimewa. Apalagi ketika itu semua dipenuhi dengan memainkan sepakbola sebagaimana seharusnya. Teknik dasar sepakbola yang matang, pemahaman taktik yang oke, permainan menyerang, dan pola pergerakan yang terorganisir rapi. Ya, bertahan dengan baik juga bagian dari teknik sepakbola, tapi permainan dasar bertahan adalah cerminan dari semangat inferior yang reaktif, menunggu kelengahan dari inisiatif lawan untuk kemudian memukulnya ketika mendapat kesempatan. Sementara semangat awal Pep adalah menciptakan sendiri kesempatan itu sebanyak-banyak dan sebaik-baiknya. Ini saya sebut sebagai Sepakbola Inisiatif. Dalam hal Sepakbola Inisiatif, bagi saya tidak ada yang mengalahkan Pep, bahkan Luis Enrique, yang saat ini menangani Barcelona, sekalipun.

Jika ada Master Sepakbola Inisiatif, tentu saja ada antidot nya, yaitu seorang Master Sepakbola Reaktif. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Jose Mourinho. Sosok yang paling menonjol dalam hal meredam kedigdayaan Barcelona di era Pep, adalah Mourinho, terutama dimulai ketika dia di Inter Milan, dan dilanjutkan ketika melatih Real Madrid. Dalam menghadapi Barcelona, Mourinho lebih sering memarkir bis dengan sangat rapi di lini pertahanan, untuk kemudian menunggu bola lepas, dan secepat mungkin bola itu dikirim ke depan dan dikirim ke belakang gawang. Lalu terlintas lah nama Diego Milito dan Ramires di benak saya. Tidak ada yang salah dengan permainan bertahan itu, hanya saja buat saya itu cerminan sikap inferior dan tidak menarik. Masalah selera penonton saja, bukan tentang benar atau tidak.

Masalahnya adalah begini, silakan dibayangkan sejenak. Saya adalah fans Barcelona di Liga Spanyol, sekaligus fans Manchester United di Liga Inggris. Sudahkah anda memahami seberapa patah hatinya saya?

Jika berbicara Barcelona era Pep, maka sulit untuk tidak membicarakan Real Madrid era Mourinho. Saat itu bagi saya Barcelona-lah prototype terbaik bagaimana sepakbola itu harus dimainkan oleh para hero, sementara Real Madrid adalah villain utama karena faktor gaya permainan Mourinho. Nah sekarang, Pep sudah resmi diumumkan oleh rival dari tim favorit saya di Inggris, yang artinya saya harus rela menahan perih hati ketika nanti tim rival itu memainkan Sepakbola Inisiatif yang saya kagumi. Di saat yang sama, rumor digantinya Louis Van Gaal semakin merebak, dan penggantinya, tak lain dan tak bukan, adalah : Mourinho. Semakin membuat saya nantinya menahan perih hati yang makin tercabik tadi.

Ya, nama Mourinho memang identik dengan prestasi. Dia selalu sukses meraih gelar di semua tim yang ditanganinya. Di Porto dia berhasil meraih tropi Liga Champion meskipun sebagai kuda hitam. Di Chelsea dia sempat merajai Liga Inggris. Di Italia, Mou membawa Inter Milan tak tertandingi, dan bahkan meraih treble. Di Spanyol, keberhasilan terbesar Mourinho adalah menghapus inferiority complex Real Madrid saat itu dalam menghadapi Barcelona. Namun, Mourinho tidak meninggalkan legacy dalam hal sepakbola. Peninggalan terbaiknya adalah kumpulan gelar, yang sebagian besar dimenangkan dengan cara yang dalam sudut pandang saya tidak menarik. Fungsi sepakbola sebagai hiburan agak tereduksi disini.

Liga Inggris tahun ini sangat tidak bisa diprediksi, dan tahun depan akan diramaikan dengan  kedatangan para pelatih dengan reputasi menawan. Agak tersedu rasanya hati ini ketika tahu bahwa Liverpool mendatangkan Klopp, City mengontrak Guardiola, Chelsea dikabarkan mulai membuka proses negosiasi dengan Allegri atau Simeone, Leicester nya Ranieri bermain amat sangat cantik, sementara opsi paling memungkinkan bagi MU adalah bekerjasama dengan Mourinho.

Ah, betapa patah hati saya ini. 

Pep-tah hati.

09 Juni 2015

Not The Most Beautiful Barca, But...

Masih terbayang betapa Guardiola pernah mampu memalingkan perhatian dunia para pemerhati sepakbola dengan Barcelona nya waktu itu. One of the best team ever, kata media. Dan memang itulah salah satu alasan saya makin senang mengamati sepakbola. Barcelona nya Guardiola adalah implementasi dari bagaimana sepakbola seharusnya dimainkan. Teknikal, taktis, menyerang, dan menang. Brilian secara individu, dan lebih besar lagi secara tim. Sempurna.


Tapi ternyata kesempurnaan memang tidak ada. Seperti yang diyakini banyak orang, siklus sebuah winning team akan terhenti di tahun keempat. Dan empat tahun itulah lamanya Guardiola menangani Barcelona. Katanya sih dia lelah secara emosional karena sangat intens memikirkan mainan favoritnya itu.

Di tangan Guardiola, Barcelona sangat dominan baik di Spanyol maupun Eropa. Mereka menganut filosofi sepakbola menyerang yang jelas menjadi identitas. Filosofi "pertahanan terbaik adalah menyerang" benar-benar diterapkan. High-line pressing, triangle method, fluid passing, Messi's false nine, dynamic off-the-ball movement, tiki-taka, semua membuat permainan Barcelona menjadi sangat menghibur. Inilah yang saya perlukan dari pertunjukan sepakbola. Hiburan. Permainan mereka sungguh menarik. Sangat cantik.

Sejak akhir siklus empat tahunan itu, Barcelona tidak lagi sama. Tito sukses meraih gelar La Liga dengan tetap mempertahankan filosofi tiki-taka, tapi tidak lagi dominan, kehabisan energi di akhir musim. Tata yang menggantikannya malah gamang dengan apa yang harus dilakukannya. Mau tiki-taka, eh kurang master. Mau nyoba main direct, eh diprotes kanan kiri. Mengingkari identitas, katanya. Gagal deh dia dapet apapun. Mundurlah dia.

Lalu datang Luis Enrique. Sesama mantan pemain Barcelona, dan sama-sama pernah sukses menangani Barcelona B. Bedanya dengan Pep, Luis Enrique sempat mampir dulu di tim lain sebelum menangani Barca senior.

Sama seperti era Tito dan Tata, kedatangan Luis Enrique selalu dinaungi bayangan kesuksesan Pep dan tiki-taka yang melegenda, atas nama identitas. 

Kemudian apa yang dilakukannya?

Para pengamat (baik profesional, amatir, maupun dadakan) sempat mempertanyakan kemampuan taktis Lucho yang dianggap tidak brilian. Kritik juga muncul tentang pilihannya dalam merotasi pemain. Ada juga yang mengkritisi pengkhianatan nya pada identitas Barca karena banyak menggunakan counter attack sebagai senjata. Ketika muncul rumor Lucho kurang akur dengan Messi, maka meledak lah semua, tagar #luchoout muncul dimana-mana. Dan merebaklah label "pelatih medioker".

Lalu sekarang kita berada di bulan Juni. Barcelona berhasil mengambil jatah tiga tropi (semua!!) yang diperebutkan sepanjang musim, untuk dijadikan tambahan isi lemari koleksi. Tim pertama di Eropa yang mampu meraih Treble Winner lebih dari satu kali. Yang jadi manajer mereka masih sama dengan yang sempat disuruh keluar beberapa bulan lalu. Orang yang kurang jenius dalam menyusun taktik itu. Orang yang mengkhianati identitas itu.

Well, dari mata possession-fanatic, Lucho memang bisa dibilang gagal. Soal dominasi penguasaan bola, Barcelona kalah ketika menghadapi Real Madrid (!!) dan Bayern Muenchen yang dilatih mbah nya tiki-taka. Barcelona terlihat agak gugup sewaktu harus menjaga bola tetap dalam kendali ketika menghadapi tekanan tinggi. Tidak ada yang mengisi peran Xavi seperti enam tahun lalu.

Tapi memang mungkin tidak perlu mencari pengganti Xavi.

Kekuatan utama Barcelona saat ini bukan pada possession, meskipun secara umum mereka masih dominan. Bagaimanapun juga Busquets dan Iniesta adalah bagian penting dari dominasi lini tengah Barcelona selama bertahun-tahun. Namun tanpa disadari para Cules, Lucho berhasil menambahkan plan B, plan C, dan seterusnya, sebagaimana dulu pernah diinginkan para fans ketika Guardiola gagal menembus parkir bus, dan tetap bersikeras mencoba meruntuhkan tembok itu dengan satu cara saja, tiki taka. Barcelona kini bisa melakukan counter attack cepat dan mematikan. Barcelona memiliki pertahanan yang solid. Barcelona memiliki kemampuan lebih dalam bola mati, baik menyerang maupun bertahan. Dan yang tak kalah penting, Lucho terbukti mampu menghadirkan suasana kondusif di ruang ganti, dan sukses menjaga kebugaran para pemain sehingga siap sedia untuk dimainkan kapanpun diperlukan. There is no Hlebruary, Maret pun dilalui dengan mulus, dan mayoritas pemain sanggup bermain dengan intensitas tinggi hingga peluit akhir berbunyi. Sungguh bukan hal yang mudah. Coba saja intip daftar cidera di Bayern Muenchen dan Real Madrid.

Barcelona juga tidak ragu untuk menyerahkan pride nya sebagai master penguasaan bola. Lihatlah ketika Juventus mulai nyaman mengendalikan lini tengah, di saat itulah Barcelona mampu mencetak gol kedua, dan juga gol ketiga di akhir pertandingan. Ketika sulit menembus pertahanan melalui tiki-taka, maka biarkan saja mereka yang berkonsentrasi menyerang, lalu hukum mereka dengan counter attack. Toh akhirnya possession total masih menjadi milik Barcelona.

Identitas Barcelona di tangan Guardiola memang menjadi senjata andalan. Namun di sisi lain, itu sekaligus menjadi titik lemah, karena faktor predictable. Ya, Guardiola akan selalu memainkan tiki-taka, tak peduli siapapun lawannya. Secara umum, Guardiola memang berhasil. Hanya satu dua kali saja filosofi itu berhasil diredam, sehingga muncullah anti-Barcelona. Namun dari yang sekali dua kali itulah justru membuat Barcelona kehilangan tropi-tropi penting, dan kadang terlihat sangat membosankan. Untuk hal itu, salahkan Mourinho.

Lucho memang tidak membawa Barcelona selalu bermain indah. Keindahan bukan lagi hasil yang selalu dijanjikan Barcelona dalam permainannya. This is no longer the most beautiful Barcelona. Tapi, bisa jadi ini yang paling seimbang dan paling kuat.

Dari yang paling belakang, mungkin untuk pertama kalinya Barcelona memiliki kombinasi kiper yang lengkap. Claudio Bravo menyediakan pengalaman, ketenangan, dan reflek yang bagus. 20 clean sheet dan penyelamatan membuatnya meraih tropi Zamora pertama dalam karirnya, di musim pertama bersama Barcelona. Marc Andre ter-Stegen adalah kiper muda yang memiliki bakat besar yang dianggap memiliki potential ability lebih tinggi daripada Bravo, dan dilengkapi kemampuan kontrol bola dan passing menggunakan kaki yang tidak kalah dari pemain tengah sekalipun. Satu skill yang sangat diperlukan oleh tim yang membangun pola serangan dari lini paling belakang. Bahkan, di bangku cadangan pun Barcelona memiliki kiper yang cukup tangguh didikan asli La Masia, yaitu Jordi Masip. Meskipun tidak banyak bermain, banyak mantan rekan setimnya yang mengakui kemampuannya. Sungguh sebuah kemewahan.

Gerard Pique dan Javier Mascherano masih berkuasa di depan kiper, tapi sangat berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Jika dulu Pique dianggap sangat menurun karena terlalu banyak goyang bareng Shakira, maka Mascherano adalah hasil eksperimen gagal dalam mengubah peran gelandang bertahan menjadi bek tengah. Kini, setelah sempat diasingkan di bangku cadangan untuk lebih banyak merenung dan memahami arti kehidupan lebih dalam, maka Pique kembali menjadi salah satu bek tengah terbaik dunia, menyisihkan pendatang baru yang terlihat sepuh dan bengal, Jeremy Mathieu. Sementara Mascherano yang memang memiliki pemahaman taktik yang cerdas dan tackling keras yang akurat menjadi pemimpin penting di belakang. Hadirnya Mathieu sendiri selain menjadi penantang penting bagi Pique ternyata juga sangat berharga, karena kemampuannya untuk juga bermain di posisi bek kiri, serta kelihaiannya dalam menjadi target untuk bola mati. Badannya yang tinggi sekaligus cepat dalam berlari sanggup menutupi kelemahannya dalam membaca pergerakan lawan dan melakukan distribusi. Di saat yang sama, Marc Bartra juga mendapatkan waktu bermain yang cukup, meski tidak banyak, yang membuatnya masih betah untuk bertahan, dan mudah-mudahan semakin mendorongnya untuk naik kelas sehingga bisa menjadi starter. Plus pembelian Vermaelen yang sepanjang musim harus berkutat dengan cidera bawaan, sehingga lebih mirip seperti pembelian untuk musim depan. Di masa jayanya, Vermaelen adalah pemimpin di barisan bek Arsenal dan Belgia. Mudah-mudahan dengan recovery yang baik dia bisa mempertebal kedalaman skuad Barcelona.

Masih di belakang, bagian kanan dan kiri relatif lebih fix, karena kenyataannya Jordi Alba dan Dani Alves tetap tak tergantikan. Jordi Alba begitu stabil meng cover pertahanan dan penyerangan sekaligus, meskipun kemudian agak menurun pasca cidera. Sementara Alves kembali menunjukkan kelasnya berkat koneksi telepatik nya dengan Messi dan Rakitic. Messi pun mengakui belum bisa menemukan orang lain dengan kapasitas seperti Alves. Adriano terbukti juga mampu menjadi backup yang siap setiap saat ketika dibutuhkan. Montoya entah mengapa belum berhasil mengambil hati Lucho, serta ada Lord Douglas yang meskipun banyak dikritik, tapi toh dia tetap berstatus juara Piala Champion Eropa juga.

Salah satu perubahan strategi yang penting adalah kemauan Lucho untuk sesekali bermain double pivot, dengan menyandingkan Sergio Busquets dan Javier Mascherano. Dalam urusan membaca permainan, distribusi bola dan pemahaman taktik, konon Busquets adalah yang terbaik di posisinya saat ini. Sementara Mascherano adalah perusak serangan lawan yang dapat diandalkan. Bahkan di tengah musim, muncul pula Sergi Roberto yang dulu disebut-sebut bakal menjadi pengganti Xavi, tapi justru malah tampil cemerlang ketika diminta mengisi posisi Busquets. Ketika menginisiasi serangan, Busquets sendirian di depan barisan bek sungguh tampil sangat sempurna, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi ketika Lucho butuh kestabilan pertahanan untuk menahan serangan lawan, dobel pivot bisa jadi salah satu alternatif.

Lini tengah adalah kekuatan utama Barcelona ketika menguasai dunia di bawah Guardiola. Tidak ada satu tim lain pun yang mampu menandingi kekuatan lini ini dalam meguasai possession dan mengatur segalanya dari tengah. Selain Busquets, duet Xavi-Iniesta adalah salah satu duet terbaik sepanjang masa. Namun tahun ini semua cukup berbeda. Terbukti trio James-Kroos-Modric atau anak-anak asuh Guardiola dari Jerman mampu mengambil alih dominasi itu. Kini, trio utama Barcelona adalah Busquets-Iniesta-Rakitic, dengan peran yang berbeda. Iniesta sedikit banyak lebih mengambil alih peran Xavi, sementara Rakitic mengerjakan semuanya, dari pressing ketat, backup pertahanan yang ditinggal Alves, distribusi bola, assist, mencetak gol, dan menguasai sayap kanan bersama dengan Alves dan Messi. Dengan Busquets yang tetap dominan di posisi itu.

Yang paling banyak mendapat pengakuan adalah lini depan. Trio Messi-Suarez-Neymar terbukti begitu padu sehingga menghasilkan 122 gol yang menjadi sejarah. Tiga orang ini sama-sama memiliki kharisma yang besar, dan memiliki kemampuan yang lengkap. Ketiganya adalah playmaker handal dengan visi hebat, finisher ulung, ahli dribble kelas satu, pengganggu lawan, sekaligus team player yang bisa bergerak tanpa bola dengan sangat cerdas. Sungguh senjata yang membuat para bek lawan jadi punya PR besar sebelum bertanding. Dan jangan lupa, di bangku cadangan ada striker-winger yang juga legendaris dengan karakter yang berbeda, yaitu Pedro. Determinasi dan workrate nya dalam mengejar lawan dan bergerak lincah kemana-mana mampu menutupi kekurangan tekniknya. Belum lagi ketika melihat pemain muda yang sudah antri masuk tim senior. Ada Sandro Rodriguez, Munir El-Hadadi, dan Adama Traore. Jika di manage dengan benar, lini depan Barcelona masih akan sehat dan mengerikan untuk beberapa tahun ke depan.

Komposisi seperti itu membuat Barcelona bisa melakukan banyak hal dalam upaya meraih hasil. Ya, Barcelona masih ingin selalu memanjakan penggemarnya dengan permainan sepakbola indah nan menghibur, tapi dalam titik tertentu, kemenangan lah yang menjadi tujuan utama dalam sebuah kompetisi. It's still about how you win it, but above all, just win it.

Jadi ga sabar menunggu reaksi Mourinho (and Mourinho-like managers) dalam mempersiapkan timnya menghadapi Barcelona. Semakin hebat lawannya, adrenalin akan semakin deras mengalir. Entah berakhir dengan tawa puas atau keluhan kecewa, intensitas pertandingan yang tinggi dengan diiringi drama penuh cerita adalah puncak kenikmatan menyaksikan hiburan pertandingan sepakbola.

Sekarang, khususnya kepada para Fans Barcelona, mari dinikmati sejenak senyum bahagia atas catatan bersejarah ini.


Barcelona, (Double) Treble Winner 2015.

17 April 2015

Its NBA Playoffs Time!!!

Semusimpun telah berlalu. Musim reguler, maksudnya. Musim reguler nya NBA, lebih jelasnya.

Ya, NBA Regular Season 2014/2015 sudah berakhir, dan para peserta Playoff sudah dapat dipastikan. Ini adalah klasemen reguler terakhir per tanggal 17 April 2015 :


Sebagai perbandingan, inilah posisi klasemen NBA di tanggal 26 Januari lalu :


Sejak Januari, Atlanta Hawks dan Golden State Warriors tampil sangat stabil dan menunjukkan diri sangat layak untuk memimpin klasemen di wilayah masing-masing. Dalam rentang 26 Januari hingga saat ini Hawks mampu menghasilkan tambahan 23 kemenangan dan menderita 14 kekalahan. Jika dibandingkan dengan posisi 37-8 di Januari tentu ini merupakan penurunan, apalagi jika melihat 3 kekalahan beruntun menjelang Playoff. 

Ancaman terbesar akan datang dari Cleveland Cavaliers yang mesinnya sedang panas paska proses blending 3 superstar baru mereka. Cavs mampu mencatat 28-9 sejak 26 Januari hingga jelang Playoff, plus berdiri kokoh di posisi runner up wilayah Timur. Cavs tampak stabil dan solid. James-Irving-Love is on fire. Jadi sedikit tamparan bagi Heat yang ketika ditinggal James langsung terlempar keluar dari Playoff, padahal berstatus juara bertahan Wilayah Timur dan Runner Up NBA musim lalu. Feels like Heat is nothing without James, while we can see what James can do in his new (but old) team. Beberapa kali saya mengatakan bahwa sejak James melarikan diri ke Heat, I love to see him failed. Tapi setelah kembali ke Cavs, he is my man now. Saya menjagokan Cavaliers menjadi juara wilayah timur dan melaju ke Final NBA. Ini lebih ke arah harapan dibanding prediksi.

Kemungkinan Hawks untuk melaju ke final wilayah sangat besar, dan akan menghadapi Cavaliers disana, dengan Raptors dan Bulls menemani mereka di semifinal wilayah.



Lha di barat, Golden State Warriors masih sangat solid. Stephen Curry emang gila. Dribble, drive, passing, shooting, steal, playmaking, leading, semuanya dia lakukan dengan baik. Kandidat kuat untuk jadi juara musim ini. Salute to Steve Kerr. Jago juga dia jadi pelatih. Kalo ini adalah prediksi. Lawan terberatnya adalah Spurs, yang kembali melesat paska sehatnya MVP final musim lalu, Kawhi Leonard. Meskipun hanya finish di peringkat 4, soliditas mereka patut diwaspadai. Tapi jika Clippers berhasil mengeliminasi Spurs, maka siapapun lawan yang akan dihapadi Warriors sepanjang Playoff akan cukup merata kekuatannya, tidak ada yang saya lebih unggulkan.

Warriors pertama kali akan menghadapi New Orleans Pelicans dengan Anthony Davis nya. Man, He was superstar in the making. Never forget His name. Di umur 22, kemampuan dan mentalitasnya mengerikan. Dia bisa membawa Pelicans mengalahkan Thunder di akhir-akhir musim reguler dan mengamankan posisi Playoff nyaris seorang diri. Ya memang ga mungkin dia sendirian yang membawa Pelicans ke Playoff, tapi status kebintangannya begitu terang ketika memimpin rekan-rekannya menjadi tim yang layak dihormati, termasuk mengalahkan Warriors belum lama lalu. Dont write them off easily, tapi Warriors masih tetap diunggulkan. Jika Warriors menang, mereka akan menghadapi pemenang antara Blazers dan Grizzlies. Memphis ini akhirnya finish di posisi 5 meskipun sempat menghuni posisi 2 cukup lama. Memphis pun kembang kemphis. Dari 31-12 di 26 Januari menjadi "hanya" 55-27 di April. Selisihnya adalah 24 menang dan 15 kalah. Tidak cukup bagus. Blazers juga turun sedikit peringkatnya dari 3 di Januari menjadi 4 di April. Ini akan menjadi pertarungan yang ketat.

Di sayap barat satunya, ada Clippers vs Spurs, dan Rockets vs Mavericks. James Harden tentunya sudah siap untuk membawa Rocket pergi meroket meninggalkan Spurs. Harden adalah salah satu kandidat MVP reguler yang berhasil bermain spektakuler. Didukung Howard dan Ariza, Rockets punya bekal cukup untuk mengalahkan Mavericks.

Sementara Clippers vs Spurs akan sangat ketat. Saya sangat menyukai hiburan yang disajikan Paul-Griffin-Jordan ketika bermain. So entertaning. I'd love to see them through, but wont be that easy. Karena lawannya adalah Spurs yang dipenuhi kolektifitas. Tampaknya Spurs bisa lolos terus, tapi saya berharap Clippers yang menang. Paling tidak, bisa memberi perlawanan yang berarti.

Baik Timur maupun Barat, tim manapun yang bertanding, akan menyajikan pertandingan seru yang ketat, dan yang paling penting, menghibur. Mudah-mudahan Playoff hingga final tetap ditayangkan di tivi kabel di rumah, jadi kalo nulis disini ga cuman dari hasil rangkuman artikel-artikel lain saja.

Selamat menikmati.


16 April 2015

United Will Be Back!!!

Saya ga sabar nunggu Liga Inggris tahun depan, karena MU mulai kembali berada di performa apik yang mencerminkan kapasitas sesungguhnya sebagai salah satu raksasa Eropa.

( Paling sering Juara EPL. 20 kali. Terakhir dua tahun lalu. Not so long ago. And smells not too far. )

Perlahan-lahan Van Gaal bisa mengolah permainan MU menjadi sangat menarik dan bisa diandalkan. Sebuah hal yang bahkan (IMHO, arguably) gagal dihadirkan Fergie di tahun-tahun terakhirnya, apalagi oleh Moyes. Pertandingan melawan Spurs dan Liverpool menjadi bukti nyatanya. Permainan MU sangat mengalir, kompak, penuh pengertian, dan tampak punya arah jelas. Gol-gol lahir dari open play yang keren. Pertandingan melawan Chelsea akan menjadi salah satu tes terbesar Van Gaal. Bukan untuk mengejar tahta juara, meskipun secara matematis masih mungkin, tapi sebagai bekal bagus untuk menyongsong sisa kompetisi dan persiapan musim depan. Setelah menangani dan mengenal tim selama satu tahun, tentu Van Gaal dan MU sudah sama-sama mengenal, dan kalopun perlu ada transfer tambahan musim depan, itu akan dilakukan dengan penuh pertimbangan, untuk menyusun kerangka tim yang lebih baik. Jika melihat track record Van Gaal dalam menyusun tim dan mempromosikan pemain muda, sangat layak jika para fans MU bersikap optimis.

Saya sendiri merasa sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dengan Chelsea musim ini. Sebagai tim yang disiapkan oleh (yang ngakunya) The Special One sejak musim lalu, tidak heran jika sebagai tim Chelsea lebih padu. Namun kencangnya laju perolehan poin mereka juga didukung oleh tidak adanya saingan berarti. Para kompetitor yang musim lalu edan-edanan mendadak lemes satu persatu. Liverpool balik ke klasemen tengah. City terseok-seok meskipun sudah ada Yaya Toure. Arsenal ya begitulah, kadang super keren, kadang ngos-ngosan. Spurs ga kuat lagi. Southampton belum bisa mengisi lubang yang ditinggal para pemain hebat yang dijual. Dan MU, baru panas di belakang-belakang. Performa Chelsea malah turun sejak pergantian tahun. Yang tadinya dianggap kandidat kuat juara Liga Champion malah tereliminasi di Piala FA, dan gagal lanjut di Liga Champion, bahkan setelah menang meyakinkan di Leg pertama melawan PSG. Duet Fabregas-Costa tidak segarang paruh musim. Fabregas seperti kambuh penyakit lamanya ketika di Barcelona. Kuota langganan main bagusnya udah habis di Desember, ga bisa diisi ulang di Januari dan seterusnya.

Ini juga ujian sesungguhnya buat Mourinho. Tidak bisa disangkal, Mou jadi istimewa karena berhasil mengantarkan tim yang berisi pemain semenjana meraih prestasi sangat optimal. Porto, Chelsea, Inter, adalah buktinya. Dengan strategi bertahan yang luar biasa, Mou mampu membangkitkan hasrat terdalam di lubuk hati para pemainnya untuk memberikan lebih dari 100%. Para pemain Mou tidak takut untuk bertarung, tidak hanya dari sisi sepakbola, tapi juga benar-benar bertarung. Namun Mou kurang oke ketika menangani tim besar yang diisi banyak pemain bintang dengan image besar pula. Coba lihat Real Madrid. Oke, perannya dalam menghapus rasa inferior para pemain Madrid atas Barcelona memang berhasil, namun image yang dibangun Mou tidak cocok dengan brand klub seperti Real Madrid. Madrid menjadi tim antagonis yang tidak simpatik. Bertahan ketat, lalu counter attack cepat. Tidak salah memang, tapi coba lihat apa yang kemudian dilakukan Ancelotti. Tim yang dibangun Mou itu disusun menjadi tim yang elegan dengan memanfaatkan kemampuan teknik sepakbola yang brilian, dan seketika menjadi protagonis. Ya mungkin semi protagonis lah, karena image "villain" yang terlanjur melekat, apalagi di benak fans Barcelona.

Saat ini (ya, hanya mulai musim ini, tidak di musim-musim sebelumnya), Chelsea menjelma menjadi tim elit, tidak pantas lagi digelari underdog. Ketika timnya dipenuhi para pemain yang dilabeli favorit, Mou tidak bisa lagi dengan mudah memerintahkan mereka untuk melakukan apapun. Ada nilai-nilai tertentu yang ingin dijaga oleh pemain-pemain itu. Secara filosofi tim pun, ada gaya tertentu yang ingin diraih. Tidak bisa lagi winning at all cost. Tim elit tidak layak parkir bus. Tim elit harus memainkan sepakbola inisiatif, bukan sepakbola reaktif. Dan Mourinho adalah pelatih reaktif, bukan inisiatif. Mou menjadi sangat jenius ketika harus menghadapi lawan yang hebat, memiliki gaya permainan jelas dengan struktur tim yang kuat. Dia selalu bisa memberikan jawaban. Tapi kadang Mou juga tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika lawan tidak memberikan pertanyaan. Mou bukan penanya yang tajam. Saya ragu Mou akan kembali membawa Chelsea ke masa kejayaannya. Jadi tim hebat? iya. Tim raksasa? tidak.

Itulah kenapa sebagai fans MU saya jadi optimis menghadapi musim depan. Faktor Mourinho akan tetap membuat Chelsea menjadi top contender, tapi musim depan saya rasa ga bakal hebat-hebat amat. Begitu pula dengan Arsenal dan Liverpool. Kemungkinannya ada pada City, tergantung renovasi apa yang mereka lakukan untuk musim depan.

Kini di MU sudah ada Van Gaal.

Lihat bagaimana Ashley Muda dan Marwan Fellaini berubah dari flop tahun lalu menjadi pemain kunci musim ini. Begitu juga duo Spanyol, Juan Mata dan Ander Herrera yang jadi elemen penting dalam formasi 4-1-4-1 atau 4-3-3 ala Van Gaal. Mata adalah mantan pemain terbaik Chelsea yang dibuang Mou, dan Herrera adalah salah satu pemain muda harapan bangsa (spanyol). Jika di timnas Belanda Van Gaal sempat memaksa Dirk Kuyt bermain di posisi bek sayap, maka di MU pemaksaan itu dilakukan pada Antonio Valencia dan Ashley Young. Young akhirnya sering pindah juga ke sayap sih, mengingat di bek kiri ada Daley Blind dan Luke Shaw yang bermasa depan cerah, tapi Valencia tidak mendapat saingan berarti karena Rafael gagal tampil mengesankan. Dan Rooney, selalu jadi pemain kelas dunia yang taktis dan berdeterminasi tinggi. Plus cukup versatil. Disuruh jadi apa aja mau, apalagi sekarang jadi kapten, makin berapi-api lah dia. Jika ada sebuah squad yang membuat pemain bintang sekaliber Falcao, Di Maria, dan Van Persie tidak mendapatkan jaminan menjadi starter, dan berhasil bermain baik, maka tergambar cukup jelas ketajaman dan kedalaman squad tersebut. Ya, MU berhasil melakukannya.

De Gea tidak perlu dibahas banyak, karena tahun lalu pun ketika pertahanan MU sedang loyo, dia menjadi pemain terbaik di tim. Tahun ini tidak banyak berbeda, di usia semuda itu pundak De Gea telah menjadi sandaran harapan lini pertahanan MU. Jika barisan bek tengah bisa diperbaiki dan diperkuat, MU akan makin meyakinkan. Duo Phil Jones dan Chris Smalling so far oke-oke saja, tapi tidak spektakuler. Ingat, good offense will win you a game, good defense will win you a championship. Matt Hummels bisa jadi solusi yang masuk akal, mengingat banyaknya berita yang menceritakan ketertarikan MU padanya, diantaranya minimnya stok bek tengah berkualitas yang tersedia di pasar. Apalagi melihat posisi Dortmund di klasemen Bundesliga tahun ini, plus kepastian perginya Jurgen Klopp di akhir musim.

Saya setuju dengan Gary Neville, bahwa yang dibutuhkan MU adalah bek tengah, satu pemain sayap hebat, dan gelandang kelas dunia. Dengan karisma dan kekuatan karakter Van Gaal, maka bayang-bayang kesuksesan Fergie yang megah itu bisa pelan-pelan dikikis, dan membuat orang lain dan para pemain sadar bahwa yang mereka masuki adalah era baru. Secara historis MU memang tim besar, tapi tanpa usaha dan capaian mereka di masa kini, kebesaran itu hanya akan jadi cerita orang tua ke anak-anaknya.

MU tampak seperti bisa meraih kembali kejayaannya yang hilang musim lalu.

MU tidak akan jadi Arsenal atau Liverpool baru.

26 Januari 2015

Sudah Pada Ngecek Klasemen NBA?

Saya ulangi ya judulnya.

Sudah pada ngecek klasemen NBA?

Nih, saya capture klasemen NBA per tanggal 26 Januari 2015 :
 

Gimana? Udah ngerasa aneh belum?

Mungkin sebagian ada yang menganggap kalau LA Lakers ada di klasemen bagian bawah itu aneh. Tapi sebenarnya itu sudah biasa sejak musim lalu. Pada banyak yang cidera sih. New York Knicks juga sebenarnya kurang cocok ada di dasar klasemen, mengingat ada Carmelo Anthony disana. Plus Phil Jackson yang sekarang jadi Presidennya.

Kejutan yang lebih dari itu adalah, jika kita melihat top three di masing-masing conference, maka buat yang ngikutin NBA cuman sekali-sekali seperti saya, pasti akan merasa heran.

Di timur ada Atlanta Hawks, Washington Wizards, dan Toronto Raptors. Meninggalkan Cleveland-nya LeBron James, Chicago Bulls-nya Derrick Rose, dan Miami Heat-nya Dwyane Wade.

Di barat ada Golden State Warriors, Memphis Grizzlies, dan Portland Trailblazers, nama-nama yang dulu lebih sering ada di bawah. Bahkan San Antonio Spurs yang juara bertahan pun sekedar nongkrong di posisi tujuh. LA Clippers-nya Chris Paul juga cuman di posisi lima. Lha Oklahoma City Thunder malah di luar zona playoff meskipun mepet.

Punya siapa aja sih mereka? Mari coba diintip satu-satu yang top three ini.

Atlanta Hawks cukup meyakinkan hingga saat ini bisa sampe 16 kali winning streak. Sebenarnya relatif tidak ada mega star disini. Pemain yang layak untuk diperhatikan adalah Al Horford, Jeff Teague, Paul Millsap, dan Kyle Korver. Ada juga nama lama seperti Elton Brand dan Thabo Sefolosha. Horford dan Millsap terbukti menjadi duo defender tangguh yang sangat solid, sedangkan Korver berhasil menggunakan keahlian three point nya dengan sangat ampuh, hingga saat ini masih menjadi three pointer terbanyak rata-rata per pertandingan. Selebihnya tidak ada yang terlalu menonjol, artinya secara tim Hawks sangat tangguh. Bisa jadi seperti yang diperlihatkan Spurs musim lalu. Kredit layak disematkan pada Mike Budenholzer, pelatihnya. Kursi pelatih All Star wilayah barat adalah apresiasi yang pantas.

Di Washington Wizards, superstar terbaiknya mungkin adalah John Wall. Terbukti dengan terpilihnya dia jadi starter All Star wilayah timur. Wall juga memimpin dalam pemberi assist, serta yang kedua dalam steal. Kelihaian Wall didukung oleh nama-nama seperti Nene, Marcin Gortat, dan si veteran Paul Pierce. Wizards saat ini dlatih oleh Randy Wittman.

Lalu ada Toronto Raptors. Hingga pertengahan Desember lalu, Raptors masih ada di puncak klasemen wilayah barat, dan sempat mengalami 16 winning streak juga. Namun cidera yang dialami DeMar Derozan membuat kekuatan mereka berkurang. Nama lain yang cukup terkenal adalah Kyle Lowry, pemberi assist terbanyak di tim, yang sukses menjadi starter All Star wilayah timur. Uniknya, tak ada satu namapun di Raptors yang ada di top 5 semua kategori, baik point, rebound, assist, steal, block, maupun 3 point. Dwane Casey adalah yang bertanggung jawab atas performa merata mereka.

Pindah ke barat, Golden State Warriors juga cukup mengejutkan. Dipimpin oleh Stephen Curry, yang menjadi pemuncak voting All Star mengalahkan LeBron James, dan ditemani oleh Klay Thompson, Andrew Bogut, dan Andre Iguodala, posisi playoff tampaknya sudah aman. Tinggal berjuang dimana mereka akan finish di regular season ini. Makin tinggi sedikit banyak akan mempermudah mereka. Anda tahu siapa pelatihnya? The legendary three pointer from Michael Jordan's Chicago Bulls, Steve Kerr.

Memphis Grizzlies sebenarnya sudah solid sejak tahun lalu. Jika tahun lalu Zach Randolph sangat dominan, maka musim ini menjadi tahunnya Marc Gasol. Gasol yang satu ini tidak lagi ada di bawah bayang-bayang Gasol yang Pau. Buktinya mereka berdua sama-sama menjadi starter di All Star tahun ini. Dengan dukungan pengalaman dari veteran macam Tony Allen dan Vince Carter, Grizzlies seperti bisa melangkah lebih jauh dibanding musim lalu. David Joerger did a quite good job.

Yang ketiga adalah Portland Trailblazers. Disini ada LaMarcus Aldridge, Damian Lillard, Robin Lopez, dan Chris Kaman. Nama-nama ini meskipun agak terkenal, tapi bukanlah superstar. Namun dengan cohesion tim yang bagus, tim ini punya potensi untuk melaju jauh. Kredit layak ditujukan pada Terry Stotts sang pelatih.

Dari enam tim tersebut, relatif tidak ada nama-nama yang sangat besar. Artinya, NBA saat ini menjalani fase yang berbeda dari sebelumnya. Biasanya, papan atas klasemen NBA diisi oleh tim yang memiliki satu atau dua atau bahkan tiga nama besar yang menjadi poros permainan. Jika kita ingat, dulu pernah ada Bulls-nya Jordan, Lakers-nya Shaq, Spurs-nya Duncan, Heat-nya James, dan Celtics-nya trio Garnett-Pierce-Allen. Kini, permainan kolektif menjadi kunci utama soliditas tim. Semua game jadi sangat seru, karena kekuatan merata, dan siapa saja bisa menang melawan siapa saja. Secara keseluruhan, NBA menjadi lebih menyenangkan.

Lalu, sebenarnya para mega star pada kemana?

Kita mulai dari Kobe Bryant. Sejak kerjasama gagal nya dengan Dwight Howard, plus ditambah dengan cidera panjang, Lakers menjadi tim yang tidak lagi solid. Saat ini, meskipun ditunjang dengan kekuatan Jeremy Lin dan Carlos Boozer, Lakers masih saja berjuang di dasar klasemen. Tapi ya begitu lah, meskipun timnya ga oke, berhubung namanya udah gede, Bryant masih saja terpilih jadi starter All Star tim barat, meskipun ada keraguan bakal bisa tampil, karena Bryant saat ini masih cidera bahu dan akan dioperasi.

Carmelo Anthony punya kemiripan dengan Kobe Bryant. Miripnya adalah menjadi superstar yang berada di tim yang berjuang di dasar klasemen, sejak musim lalu. Padahal, Melo tampil sangat bersinar di All Star musim lalu. Haruskah yang disalahkan adalah Derek Fisher, sang pelatih?

LeBron James musim ini kembali ke Cleveland. Meninggalkan dua eks partner superstar-nya, Dwyane Wade dan Chris Bosh, untuk bergabung dengan dua bintang lainnya, Kyrie Irving dan Kevin Love. James tampak seperti orang yang sangat berbeda. James terlihat mampu menekan egonya, untuk memberi semangat kepada rekan setimnya dan membangun Cavaliers menjadi tim besar. Hasilnya tidak buruk, karena Cavs ada di tengah zona playoff.

Season Leader di kategori point terbanyak musim ini adalah : James Harden. Houston Rockets saat ini ada di posisi empat wilayah barat, salah satunya berkat kontribusi Harden yang buas. Posisi yang tidak mengecewakan.

Salah satu superstar muda yang menarik adalah si 21 years old, Anthony Davis, di tim yang belum familiar, New Orleans Pelicans. Dia kuat, lincah, solid dan jitu. A megastar in the making. Kalo lagi lihat NBA, coba cari games nya Pelicans, dan enjoy what he can do.

Trio yang selalu stabil adalah Chris Paul-Blake Griffin-DeAndre Jordan yang bekerjasama mengangkat LA Clippers. Ketika kombinasi superstar yang lain mulai menurun atau telah berpisah, mereka tetap solid. Namun ada juga kurangnya. Ketika tim lain memperbaiki (atau mendegradasi) posisi klasemen, Clippers tetap stabil berada di posisi itu. Papan tengah zona playoff. Griffin sekarang lebih komplit. Perimeter shot nya lebih jitu, sehingga gaya bermainnya terlihat lebih "simpel", meskipun kekuatan terbesarnya tetap di power drive dan monster dunk. Paul adalah tukang assist jempolan, dan Jordan menyempurnakan itu dengan rebound dan blok nya.

Pau Gasol dan Marc Gasol mencatat sejarah dengan menjadi dua bersaudara yang pertama kali sama-sama jadi starter di All Star NBA. Di musim reguler, Pau bergabung bersama Derrick Rose di Chicago Bulls, dan Marc jadi pemain penting di Grizzlies.

Dwyane Wade dan Chris Bosh yang masih ada di Miami Heat tidak perlu terlalu lama menangisi kepergian LeBron James, karena Heat kedatangan Luol Deng. Tapi trio baru ini masih jadi versi downgrade dari pendahulunya, karena masih duduk santai di posisi tujuh wilayah timur.

Jika tidak cidera, Kevin Durant seharusnya bisa memimpin Oklahoma City Thunder sejak awal, dan menghindarkan mereka terlempar dari zona playoff. Durant adalah MVP regular musim lalu, dan saat ini masih didukung oleh Serge Ibaka dan Russel Westbrook. Sejak Durant kembali, Thunder pelan-pelan mulai memperbaiki posisinya.

Masih banyak memang yang perlu diintip, misalnya dimana Garnett sekarang, atau kemana Pacers, atau siapa saja yang dipanggil All Star nanti. Terlalu panjang jika semua ditulis dalam satu artikel. Sekarang mari balik lagi nonton di tivi, hal menarik apa lagi yang akan terjadi nanti hingga akhir musim. Playoff tahun ini bisa jadi salah satu Playoff paling ketat dan unpredictable sepanjang sejarah.

Sampai jumpa di tulisan tentang NBA berikutnya.