15 November 2011

[FM] Tipe-Tipe Attacking Midfielder Center

Setelah mengupas Tipe-Tipe Pemain Depan, sekarang kita bahas tipe-tipe gelandang serang tengah alias Attacking Midfielder Center (AMC), sebagai berikut :


1. Attacking Midfielder

Attacking Midfielder standar ini diminta untuk selalu mencari ruang bagi dirinya dan mensupport serangan. Ia bisa saja menyeruak masuk ke dalam kotak penalti untuk mencetak gol tetapi ia juga bisa diam di ruang kosong strategis untuk menerima umpan dan mengirimkannya lagi ke rekannya yang lain. Seperti halnya Central Midfielder, Attacking Midfielder biasanya tidak mempunyai talenta yang terlalu menonjol dalam atributnya, tetapi ia adalah pemain AMC yang solid dan serba bisa. Dan seperti keterangan di dalam game, dengan tugas Attacking ia akan selalu melihat peluang untuk bisa masuk ke dalam kotak penalti dan mencetak gol dan jika diberi tugas Support maka ia akan mundur sedikit ke belakang menjemput bola atau melakukan tendangan jarak jauh ketika ada peluang untuk itu.

Atribut Kunci : First Touch, Technique, Creativity, Flair, Decisions


2. Advanced Playmaker

Sangat mirip dengan versi MC dari Advanced Playmaker, kecuali kemampuan untuk bertahan kini semakin sedikit diperlukan. Selain itu versi AMC ini juga akan lebih banyak diam di ruang kosong strategis untuk menerima bola dan mengumpankannya lagi ke siapapun rekannya yang mempunyai posisi terbaik. Posisi AMC adalah merupakan posisi favorit bagi Advanced Playmaker klasik. Ini adalah role dimana Zinedine Zidane bermain sangat mengagumkan pada akhir 90-an dan awal dekade 2000-an. Selain Zidane, pemain hebat lainnya  adalah Juan Roman Riquelme dan Didi, sedangkan contoh untuk dewasa ini: Kaka dan Luca Modric. Karena Advanced Playmaker yang selalu bergerak mencari ruang kosong kadang bahkan sampai jauh meninggalkan pos aslinya, maka jelas ia membutuhkan gelandang lain untuk mensupportnya agar formasi tim tetap kompak atau bisa juga demi kepentingan mempertahankan possesion.

Atribut Kunci : Passing, Technique, Creativity, Flair, Long Shots, Strength, First Touch, Anticipation, Off the Ball, Decisions, Dribbling, Teamwork



3. Trequarista


Trequartista adalah "penyerang 3/4 lapangan" atau "three-quarter forward"; adalah versi menyerang dari Deep-Lying Playmaker. Yang membedakannya dari Advanced Playmaker adalah ia sebetulnya lebih lekat sebagai seorang penyerang dan bukan seorang gelandang. Namun ia juga bukan seorang penyerang murni karena posisinya yang lebih di belakang. TQ memanfaatkan kreativitasnya yang memang tinggi untuk menciptakan peluang bagi gelandang lain maupun striker rekannya.
Karena perannya, seorang Trequartista bisa disebut sebagai gelandang atau juga penyerang sekaligus. Di dalam Football Manager, TQ diberi instruksi untuk 'roaming' dan akan selalu mencari ruang kosong bahkan lebih daripada yang dilakukan seorang Advanced Playmaker. Dengan pemain yang tepat, ini bisa menjadi role yang mematikan. TQ juga menjadi role kunci dengan menjadi 'penyerang bayangan' dalam formasi 4-6-0 seperti yang dilakoni oleh Francesco Totti di AS Roma. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang TQ biasanya hampir tak akan membantu pertahanan timnya kala bertahan.

Atribut Kunci : Creativity, Off The Ball, Passing, Technique, Flair, First Touch, Anticipation, Decisions, Dribbling, Teamwork


4. Inside Forward


Berbeda dengan versi AML/R-nya, Inside Forward versi AMC adalah penyerang yang dimundurkan posisinya. Ia tidak perlu memotong dari pinggir karena ia berangkat sudah dari posisi ini. Contoh jelas role ini adalah di dalam formasi 4-4-1-1, satu pemain di belakang striker biasanya diberikan role Inside Forward yang klasik. Ia akan bergerak (roam)lebih banyak dari seorang Attacking Midfield normal, tetapi sebenarnya jelas ia adalah seorang penyerang yang dimundurkan posisinya. Oleh karena itu ia butuh atribut seorang penyerang seperti Finishing, Composure dan Technique, plus Creativity dan Passing yang baik untuk bisa maju berpartner bersama rekan striker-nya. Role ini mungkin kelihatan seperti seorang Triquartista, bedanya prioritas utama seorang Inside Forward adalah bagaimana mencetak gol; sementara prioritas utama TQ adalah bagaimana merancang peluang gol bagi rekan-rekannya.

Atribut Kunci : Finishing, Composure, Technique, Creativity, Passing, First Touch


sumber : http://fmunity.com/content/player-role-fm-2010-attacking-midfield-centre

14 November 2011

[FM] Tipe-Tipe Pemain Depan

Salah satu yang menarik dari game Football Manager sekarang ini adalah mengenai detil posisi tiap pemain yang cukup menggambarkan kondisi sebenarnya. Pemain di posisi yang sama bisa memainkan peran yang berbeda sesuai atribut pemain dan kebutuhan tim. Berdasarkan penjelasan di situs fmunity.com, mari kita bahas masing-masing posisi tersebut, dimulai dari posisi paling depan, yaitu striker. Peran Striker atau Forward dibagi sebagai berikut :


1. Deep Lying Forward (DLF)

Deep-lying Forward cenderung untuk mundur ke lini tengah untuk menjemput bola, dan kemudian mendistribusikan kembali ke rekannya yang bermain di belakang dia, atau mencoba menahan bola sampai rekan-rekannya bisa bergerak maju ke depannya. Role ini sangat berguna baik kala diterapkan pada striker tunggal maupun pada salah satu striker. DLF biasanya musti memiliki ketangguhan (atribut strength) yang baik dan sedikit kreatif (creativity). Ia juga harus bisa diharapkan saat peluang mencetak gol datang.
Seperti layaknya Target Man, ia juga cenderung untuk bermain membelakangi gawang lawan (Back to Goal) dan cenderung lebih banyak menggunakan kaki dibandingkan menggunakan tinggi badannya untuk menyundul bola. Biasanya seorang DLF tidak akan mencetak banyak gol, namun sebagai striker tunggal ia bisa menciptakan peluang dan ruang bagi rekannya untuk mencetak gol. Contoh paling gamblang adalah Stéphane Guivarc'h, striker tunggal Perancis saat mereka menjuarai Piala Dunia 1998 atau Teddy Sheringham di tim nasional Inggris saat diduetkan dengan Alan Shearer (akhir dekade 1990-an).

Atribut Kunci : Strength, Creativity, Stamina, Jumping, Heading, First Touch, Long Shots.


2.  Target Man

Target Man adalah penyerang tinggi besar yang bisa ditugaskan untuk menahan bola (hold up ball) atau membelokkan umpan kepada rekan strikernya. Dengan kemampuannya yang istimewa saat meloncat menyundul bola (jumping, heading, strength), ia adalah pemain yang tepat saat ditujukan umpan-umpan lambung. Ia bisa meneror pertahanan lawan dengan keunggulan fisiknya saat umpan silang (crossing) datang. Seorang Target Man tidak perlu menjadi penyerang tertajam di dunia atau mempunyai skil teknik yang memukau. Dengan keistimewaan fisiknya ia bisa membuat pertahanan lawan terbuka dengan menahan bola selama mungkin sampai rekannya yang lebih kreatif datang untuk mencetak gol.
Sebaiknya jangan memberi role Target Man pada seorang striker tunggal, tanpa support yang berada dekat dengannya berarti sia-sia usahanya untuk membuka ruang. Akan jauh lebih efektif jika ia dipasang untuk berduet dengan striker lainnya, terutama dengan Advanced Forward atau Poacher.

Atribut Kunci : Strength, Stamina, Jumping, Heading, First Touch, Anticipation, Bravery, Decisions, Teamwork, Work Rate.


3. Poacher

Poacher adalah salah satu role yang semakin langka untuk bisa ditemukan dalam level atas sepakbola modern. Kenyataanya, sepakbola modern kini lebih 'menghargai' penyerang yang tidak hanya bisa mencetak gol saja tetapi bisa juga membantu rekan gelandangnya, kreatif dan terus bergerak demi menciptakan ruang bagi rekan-rekannya. Sedangkan Poacher hanya bisa melakukan sedikit dari tugas-tugas diatas.
Tugas seorang Poacher memang 'hanya' berkeliaran di sekitar kotak penalti lawan, menciptakan sedikit ruang bagi dirinya sendiri saat menyambut umpan terobosan atau umpan silang demi mencetak gol. Seorang Poacher yang bagus bisa mencetak 30 gol lebih semusimnya, tetapi seluruh tim harus mau 'berkorban' untuknya. Poacher juga selalu membutuhkan partner penyerang, jika tidak maka ia akan 'kesepian' di depan sendirian. Rekan gelandangnya harus banyak mensuplai bola ke kotak penalti untuk menciptakan peluang gol baginya. Seorang Poacher harus 'berdarah dingin', tajam luar biasa saat di depan gawang, punya pergerakan tanpa bola yang brilian dan sangat konsisten.

Atribut Kunci : Composure, Shooting, Off The Ball, Speed, Acceleration, Dribbling, Flair, First Touch, Decisions


4. Advanced Forward

Penyerang jenis ini biasanya sering berdiri sejajar dengan bek lawan terakhir demi mengharapkan umpan terobosan dari rekannya, baik dari gelandang maupun dari partner strikernya. Oleh karena itu ia bisa terisolasi di depan jika tidak dibantu oleh rekan gelandang menyerang atau duetnya sesama penyerang. Advanced Forward biasanya cepat, lumayan bagus dalam skil teknik, dan yang pastinya sangat tajam dalam mencetak gol. Advanced Forward bisa dibilang "Poacher" yang mempunyai skil lebih, ia bisa mundur sedikit jika dibutuhkan untuk memberi tekanan pada centre back lawan ataupun untuk menerima umpan. Advanced Forward diplot untuk menjadi titik fokus bagi rekannya saat menyerang dan diharapkan bisa menjadi top skor bagi timnya. Oleh karena itu ia harus bisa diandalkan dan dapat menangani tekanan dengan baik.

Atribut Kunci : Composure, Shooting, Off The Ball, Speed, Acceleration, Flair, First Touch, Decisions, Creativity, Technique, Dribbling


 5. Complete Forward

Terkadang sebuah tim bisa sangat beruntung saat mendapatkan seorang penyerang yang lengkap; pemain bertubuh tinggi, tangguh saat di udara, cepat, brilian saat membawa bola, dan sekaligus pencetak gol handal. Complete Forward yang serba bisa tak canggung saat diminta menjadi striker tunggal ataupun dipasangkan dengan penyerang lain. Ia bisa bermain membelakangi gawang lawan (back-to-goal) ataupun mencoba 'menempel' bek terakhir lawan guna menyongsong umpan terobosan. Intinya, dengan memberinya role 'Complete Forward' berarti memberinya ijin untuk melakukan apapun yang dirasanya perlu untuk  membantu lini tengah, mencetak gol ataupun memberi assist kepada rekannya.

Atribut Kunci : Strength, Stamina, Composure, Shooting, Off The Ball, Speed, Acceleration, Flair, First Touch, Decisions, Creativity, Technique, Dribbling, Jumping, Heading, Anticipation


6. Defensive Forward

Defensive Forward bisa dikatakan sebagai versi defensif dari 'Deep-Lying Forward'. Ketika sebuah tim bermain melawan musuh yang jauh lebih kuat, maka pertahanan kita akan selalu membutuhkan bantuan ekstra sebanyak mungkin. Salah satu pilihan adalah meminta striker untuk turun sejauh mungkin dan ikut memberi 'pressure' pada lini tengah lawan. Dengan melakukan ini memang serangan tim akan kurang menggigit, namun ini mungkin lebih baik daripada kalah telak dari lawan. Seorang Defensive Forward membutuhkan stamina dan tackling yang cukup baik, dan bersedia bekerja ekstra keras. Jika dimainkan sebagai striker tunggal maka ia membutuhkan bantuan dari rekan gelandangnya untuk menciptakan peluang. Jika dipasangkan dengan striker lain, maka ia akan berusaha keras mensupport rekannya tersebut.

Atribut Kunci : Work rate, Stamina, Shooting, Tackling, Speed, Acceleration


7. Trequarista

Seperti versi AMC-nya, TQ di posisi forward akan banyak bergerak guna menciptakan ruang yang bisa dimanfaatkan rekan-rekannya. Formasi 4-6-0 dari AS Roma misalnya mungkin lebih tepat disebut 4-5-1 dengan Francesco Totti bermain sebagai seorang Trequartista. Trequartista di posisi Forward sekilas hampir sama dengan seorang 'Inside Forward', tetapi bedanya seorang Trequartista lebih memprioritaskan bagaimana menciptakan peluang dan baru mencetak gol ketika peluang itu datang. Sementara bagi seorang Inside Forward adalah kebalikannya.

Atribut kunci : Creativity, Off The Ball, Passing, Technique, Flair, First Touch, Anticipation, Decisions, Dribbling, Teamwork



sumber : http://fmunity.com/content/player-role-fm-2010-forward-centre

10 November 2011

Arthur Irawan, (Bisa Jadi) Nakata-nya Indonesia

Pagi hari di tanggal 11-11-11 diwarnai dengan berita menyenangkan mengenai kabar seorang anak muda Indonesia yang dikontrak sebuah tim sepakbola elit eropa, yaitu Espanyol. Memang Espanyol bukan tim langganan juara Liga Spanyol ataupun Liga Champion Eropa, tapi cukup lama malang melintang di EURO Cup (dulu Piala UEFA), dan menjadi seteru abadi Barcelona karena berasal dari satu kota. Berita tersebut bisa dibaca disini :

Anak muda itu adalah Arthur Irawan. Besar dan belajar sepakbola di Jakarta, Arthur sempat menarik minat Manchester United, namun orangtuanya belum mengiyakan karena mengutamakan sekolah sang anak. Dan kini, akhirnya dia direkrut oleh Espanyol yang menyebutnya sebagai "A young pearl of Indonesian Football". Saya rasa ini adalah sebuah harapan besar, mengingat tidak banyak pemain asia tenggara yang direkrut oleh tim besar eropa, apalagi tim di liga tertinggi di negara juara dunia. Memang ada banyak alasan sebuah tim sepakbola menggaet pemain dari negara "antah berantah". Yang pertama bisa jadi karena pesanan sang pemilik klub. Untuk yang ini sepertinya Arthur tidak mungkin. Yang kedua bisa karena untuk mendongkrak jumlah penggemar di negara asal pemain, sehingga bisa meningkatkan penjualan merchandise demi keuangan klub. Ini bisa saja menjadi alasan perekrutan Arthur, dan bermakna positif bahwa Asia Tenggara, terutama Indonesia adalah pasar yang dianggap potensial oleh Espanyol. Namun alasan ketigalah yang terasa lebih mungkin, bahwa Espanyol memang melihat adanya bakat besar dalam diri Arthur. Meskipun saya sendiri belum pernah melihat kiprah Arthur baik secara langsung maupun lewat televisi, namun jika Espanyol pun tertarik, maka besar kemungkinan Arthur memang sangat berbakat.

Satu dari sedikit cerita tentang Arthur adalah ketika dia dipanggil seleksi Timnas U-23, dan ternyata GAGAL!!! Ini juga sebuah pertanda bagus. Selain karena faktor usia Arthur yang terlalu muda, artinya pemain-pemain Indonesia yang lain juga memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding Arthur. Jika Arthur mampu menarik perhatian tim Eropa, artinya Indonesia juga masih punya banyak pemain yang seharusnya bisa memikat tim Eropa lainnya. Yah itu memang logika sederhana dan serampangan, namun jika dilihat dari cara Espanyol mendeskripsikan Indonesia sebagai "A country to be discovered on a football level", maka generasi muda Indonesia menjanjikan sebuah masa depan prestasi sepakbola yang mengkilap. Lihatlah Tim Tunas Garuda yang menang di Arsenal, All Star Indonesia mampu mengalahkan Milan All Star, SAD Indonesia era Syamsir Alam yang menuai banyak pujian, dan banyak yang memprediksikan timnas U-23 akan meraih meraih medali emas SeaGames 2011.

Arthur bisa jadi seperti Hidetoshi Nakata. Bukan dari sisi skill dan prestasi individu, tapi sebagai SIMBOL. Ketika nama Nakata mencuat kala bermain di Perugia, sepakbola Jepang juga mengalamai ekskalasi prestasi. Era Nakata seperti menjadi sebuah pijakan awal sepakbola Jepang untuk tidak lagi sekedar dominan di Asia, tapi juga layak bersaing di tingkat dunia. Saat ini Jepang diisi banyak sekali pemain hebat, dan menjadi tim tangguh dunia, dan prestasi tersebut masih bisa selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kita harapkan Arthur nantinya bisa serupa, sebagai perwakilan dari sederet permain berbakat Indonesia, yang nantinya bersama-sama membawa Indonesia melewati prestasi tertinggi selama ini.

Semoga saja.

07 November 2011

Asa Garuda Muda


Timnas U-23 Indonesia mengawali Sea Games dengan meyakinkan, berhasil menggilas kamboja 6-0. Gol-gol tersebut dicetak Titus Bonay, Patrich Wanggai (2 gol), Gunawan Dwi Cahyo, Andik Vermansyah, dan Ramdhani Lestaluhu. Para striker tampil sangat mengesankan, didukung dengan pergerakan sayap yang sangat cepat. Ferdinand Sinaga dan Okto Maniani bermain sangat baik, begitupun ketika Andik Vermansyah masuk menggantikan Ferdinand Sinaga.

Skuad timnas U-23 kali ini memang sangat menjanjikan. Hampir di semua lini terdapat pemain dengan label pemain bintang di klub masing-masing. Bahkan saking bagusnya, Irfan Bachdim dan Johan Juansyah yang pernah mencicipi menjadi bagian dari skuad timnas seniorpun kalah seleksi dari pemain-pemain lain. Yang paling mentereng adalah barisan penyerang. Titus Bonay, Patrich Wanggai, Yongki Aribowo, Syamsir Alam, dan Irfan Bachdim adalah pemain-pemain yang masuk seleksi, dan semuanya dahsyat. Irfan Bachdim akhirnya harus dicoret karena terkena sanksi lantaran terlambat bergabung, sedangkan Syamsir Alam dicoret karena waktu bergabungnya yang terlalu mepet, selain juga karena terbatasnya slot pemain inti yang bisa didaftarkan.
Di barisan pemain tengah ada nama-nama yang cukup familiar. Okto Maniani sudah bermain mengkilap ketika memperkuat timnas senior di Piala AFF, kali ini sudah menjadi lebih baik karena Okto mengurangi egoisme nya, serta mampu bermain sama baiknya di sayap kiri maupun kanan. Ferdinand Sinaga yang mampu bermain sebagai striker lebih sering dipasang Rahmad Darmawan di sayap kiri. Masih ada Andik Vermansyah yang sangat cepat dalam menyerang melalui sayap. Di tengah ada Egi Melgiansyah yang tak tergantikan sebagai playmaker, ditemani kompatriotnya yang cukup tangguh, Mahadirga Lasut, Hendro Siswanto, atau Stevie Bonsapia.
Lini pertahanan menampilkan sosok brilian yang bertubuh sangat ideal, tinggi dan kekar, Abdul Rahman. Duetnya dengan Gunawan Dwi Cahyo ataupun Septia Hadi seagai tandem, didukung oleh pemain seperti Diego Michels dan Hasyim Kipuw cukup layak untuk bersaing bahkan dengan pemain senior.
Lebih tenang lagi jika melihat stok kiper muda Indonesia. Kurnia Meiga yang pernah terpilih sebagai pemain terbaik ISL dan dipercaya sebagai kiper utama tim sebesar Arema memiliki saingan yang tidak kalah bagusnya dalam diri Andritany.
Dengan dibesut pelatih berprestasi sekaliber Rahmad Darmawan, maka optimisme kembali muncul dalam benak masyarakat pecinta bola Indonesia.

Barca Kurang Motivasi



Pekan ke-11 La Liga....

Real Madrid menggilas Osasuna 7-1, Barcelona hanya bermain seri 2-2 di kandang Athletic Bilbao. Selisih poin melebar jadi tiga, selisih gol Real Madrid jadi lebih baik. Memang lawan Real Madrid bukan tim elit, plus kartu merah pula, namun kecepatan dan determinasi para pemain Real Madrid harus diacungi jempol. Mereka terlihat sangat termotivasi dan bersemangat. Satu hal yang tampak hilang dari Barcelona.

02 November 2011

AREMA-ku Jadi Dua, Tapi Tetap Satu Jiwa

Label "Revolusi" yang terjadi pada PSSI rupanya tidak berakhir dengan manis begitu saja. Sejumlah masalah masih tersisa, termasuk salah satunya adalah adanya dualisme beberapa tim kasta tertinggi Liga Indonesia. Dualisme ini salah satunya terjadi kepada tim favorit saya sepanjang masa, AREMA. Di awal kepengurusan PSSI era Djohar Arifin, berkas pendaftaran Arema dilakukan oleh dua kubu, yang biasa disebut kubu M. Nur dan kubu Rendra Kresna. Setelah melalui proses panjang, PSSI akhirnya mengakui berkas pendaftaran Arema yang dimasukkan oleh kubu M. Nur. Keputusan ini berbuntut cukup serius, karena diikuti oleh hengkangnya sebagian besar pemain Arema seperti Ahmad Bustomi, Purwaka, Juan Revi, Waluyo, Yongki Aribowo, Benny Wahyudi, dan Zulkifli Syukur. Saktiawan Sinaga dan Arif Suyono yang semula telah mengikat kontrak dengan Arema versi Rendra Kresna pun memilih untuk menyusul Ahmad Bustomi ke Mitra Kukar.

Ternyata permasalahan tersebut tidak berhenti disitu. Ketika Liga Indonesia hendak digelar dengan nama Indonesian Premier League, atau yang disingkat sebagai IPL, sejumlah klub menyatakan keberatan atas beberapa keputusan PSSI dalam penyelenggaran liga baru tersebut. Permasalahan pokok yang menjadi poin keberatan antara lain adalah terdapatnya 6 klub yang promosi gratis ke liga kasta tertinggi, jumlah klub peserta yang dinilai terlalu banyak, serta direhabilitasi-nya sejumlah klub yang sedang dikenai sanksi tanpa melalui mekanisme kongres. Kondisi ini diperparah dengan penunjukan badan baru sebagai pengelola Liga, yang sebelumnya dipegang oleh PT. Liga Indonesia. Pengelola baru ini dianggap tidak profesional, salah satunya tercermin lewat draft jadwal Liga yang dikeluarkan, dimana terdapat beberapa jadwal yang tidak masuk akal, seperti bertanding dua hari berturut-turut di tempat yang berjauhan. Hal ini mendorong beberapa klub untuk bersatu menolak Liga yang dikelola oleh PSSI, dan kembali berpihak kepada PT. Liga Indonesia sebagai pengelola Liga yang resmi. Kelompok ini biasa disebut "Kelompok 14" atau "K-14" karena anggota awalnya berjumlah 14 klub. K-14 ini kemudian menggagas sebuah Liga yang dikelola PT. Liga Indonesia, dan sepakat menggunakan nama seperti tahun lalu, yaitu Indonesian Super League, atau ISL.

Jose Mourinho. Kagum Tanpa Mengidolakan.

The Special One

Saya rasa tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa Manajer tim sepakbola paling happening saat ini adalah Jose Mourinho. Ada banyak alasan yang membuat manajer berkewarganegaraan Portugal yang lahir tanggal 26 Januari 1963 ini sangat menarik untuk disimak. Berikut adalah opini saya sebagai seorang fans Manchester United dan Barcelona tentang Mourinho.

1. Identik Dengan Prestasi
Karir kepelatihan Jose Mourinho menjadi sangat fenomenal ketika dia menangani klub langganan juara Liga Portugal, Porto. Di musim pertama, Porto dibawanya finish di peringkat tiga Liga Portugal dengan rekor menjanjikan, padahal Mourinho hanya menangani Porto sejak tengah musim, sehingga banyak yang menjagokan Porto akan menjadi juara tahun depannya. Prediksi tersebut ternyata tepat. Di bawah asuhan Mou Porto berhasil meraih juara di tahun 2003 dengan rekor 86 poin dan catatan M-S-K : 27-5-2. Hasil bagus ini dilanjutkan dengan kemenangan di Piala Portugal dan meraih juara Piala UEFA setelah menyingkirkan Celtic di final.