24 Februari 2013

Arema, Jersey Simpel, Dan Kelebihan Stok Strikernya

Pertama kali melihat jersey Arema ISL waktu launching nya di TV, saya sempat kecewa. Kecewa karena desainnya yang menurut saya terlalu simpel, plus logo utama di bagian depan yang dalam pandangan saya cukup mengganjal. Anker Sport. Hampir semua orang tahu apa itu Anker. Jika belum tahu, gunakan google.

Ganjalan ini sempat saya sampaikan langsung ketika saya pergi ke Ultras untuk beli jersey asli Arema tersebut, dan bagusnya, ditanggapi dengan sangat positif karena dianggap sebagai masukan. Toh meskipun saya kurang suka, saya tetap beli jersey asli sebagai bentuk dukungan saya terhadap Tim Kebanggaan kota (dan kabupaten) saya ini. Dua kali datang langsung ke Ultras, dua kali itu pula saya kecewa karena stok sedang kosong. Jersey tersebut akhirnya jadi milik saya atas bantuan seorang teman lama yang sekarang punya Toko Jersey sepakbola yang rupanya semakin maju dan tampaknya terpercaya, bahkan punya dua outlet, di Palangkaraya dan di Malang. Lama kelamaan, saya jadi sangat suka dengan desain simpel ini. Terkesan elegan dan kombinasi biru dan sedikit merahnya lama-lama manis juga. Jadi cukup menyesal ketika sempat terbersit pikiran bahwa mungkin desainer kaos kali ini adalah amatiran. Rupanya saya yang justru jauh di bawah level amatiran.

Terlepas dari masalah kaos, materi Arema ISL juga sedikit mengecewakan. Memang diisi banyak sekali nama besar baru seperti Victor Igbonefo, Thiery Gatussi, Egi Melgiansyah, Greg Nwokolo, Cristian Gonzales, Alberto Goncalves, Keith Kayamba Gumbs. Empat nama terakhir adalah barisan striker asing kelas atas di Liga Indonesia, dua diantaranya telah berubah menjadi WNI. Nama besar ini menjadi berkah dan jaminan atas kualitas personal di lini depan, sekaligus menjadi ancaman instabilitas, karena ternyata tidak ditunjang dengan lini tengah yang gemerlap.

Jika kita flashback ke era Sam Trebor, alias Mas Robert (Rene Albert), Arema memiliki materi pemain yang bisa dibilang tidak terlalu mengkilap di awal musim. Bustomi belum gemilang tingkat endonesa, Chmelo masih orang baru, duet Ridhuan-Along tidak sekelas Zah Rahan-Boaz Salossa. Meiga adalah kiper muda yang abis kena sanksi. Dan Purwaka itu siapa? Hasilnya, ekspektasi tidak tinggi, para pemain tidak berlaku dan diperlakukan bak diva, malah justru dibayar dengan permainan super di lapangan.

Oke, sebut saja saya belum bisa move on dari euforia juara Indonesia. Tapi memang ada yang jauh berbeda.

Lini tengah yang tersedia saat ini seperti belum bisa menjanjikan stabilitas permainan yang mampu mengalirkan bola ke depan sekaligus memotong serangan lawan. Playmaker paling oke nampaknya ada di peran yang dimainkan Egi Melgiansyah, namun sayangnya entah karena ciri khas atau memang instruksi pelatih, Egi lebih sering mengirim umpan lambung jauh, yang sayangnya lagi, lebih sering tidak tepat sasaran. Gaya ini terasa sekali ketika partai tandang dimana Arema gagal menghubungkan alur bola dari tengah ke depan, sehingga set-up yang dibangun seringkali gagal sebelum masuk kotak penalti lawan. Rekrutmen satu orang di lini tengah yang punya wibawa dan kemampuan kaliber nasional mungkin bisa jadi satu titik yang menghubungkan serangkaian potensi besar yang dimiliki Arema namun belum tersaji sempurna ini. Mau tidak mau nama pertama yang saya sebut ya Ahmad Bustomi. Tidak lain karena faktor performa plus ke-Malang-annya. Nama selain Bustomi yang ada sepertinya harus menyebut nama pemain asing. Tapi ya paling oke tarik Bustomi lagi lah. Jika musim ini sulit ya musim depan lah, kan kontraknya habis di Kukar. Sekalian menyusun lagi tim yang sempat terbangun sebelum era dualisme. Bahkan dengan lini depan yang jauh lebih garang. Malah bisa bicara banyak di Asia. Kalo disahkan federasi, sih.

Masih dengan doa semoga dualisme segera berakhir, baik dualisme federasi, dualisme kompetisi, maupun dualisme Arema sendiri, Arema ISL cukup menjanjikan hiburan dan performa yang oke. Arema kembali menjadi penantang juara, meskipun belum menjadi kandidat utama.

Apapun yang terjadi, Arema selalu menempati posisi yang berbeda di hati.

29 Januari 2013

Ternyata Valdes Bakal Batal Pensiun Di Barcelona

Secara mengejutkan, Victor Valdes melalui agennya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya yang berakhir tahun 2014. Keputusan ini jelas mengundang beragam komentar, bahkan dari kalangan fanbase Barca sendiri. Mulai dari yang bersyukur, yang menyayangkan, bahkan banyak spekulasi tentang siapa yang akan jadi penggantinya.

Ibarat sebuah titik hitam di tengah kertas putih, Valdes jauh lebih diingat karena kegagalannya mempertahankan bola sehingga diserobot Di Maria pada salah satu El Clasico dan beberapa kali Valdes gagal menghalau bola tendangan Ronaldo di tiang dekat, daripada serangkaian penyelamatannya yang membuatnya memperoleh Tropi Zamora hingga lima kali berturut-turut. Padahal, sebagai pemain binaan Barca sejak kecil, Valdes adalah salah satu kiper tersukses Barcelona yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun, sebuah hal yang gagal dilakukan Roberto Bonano dan Rustu Recber sekalipun. Valdes mampu menjaga konsistensi dan konsentrasi meskipun bola terbilang tidak sering menghampiri gawangnya akibat gaya possession football yang diterapkan Barcelona.

Valdes adalah orang yang paling sering dituding menjadi titik lemah Barcelona oleh para fans, sehingga banyak yang bersyukur ketika Valdes memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Bagi sebagian fans, Keputusan Valdes adalah win-win solution bagi kedua belah pihak. Namun banyak juga yang menyayangkan hal ini, karena bagaimanapun juga Valdes adalah salah satu pilar penting dalam kesuksesan Barcelona selama bertahun-tahun. Ketika Barcelona sedang mengalami siklus sangat positif tak terkalahkan di 19 pertandingan Liga, muncul sebuah potensi pengganggu stabilitas dengan adanya cerita ini. Entah berhubungan atau tidak, kemudian Barcelona meraih hasil tidak memuaskan dengan hasil seri di kandang sendiri melawan Malaga dan kemudian dikalahkan Real Sociedad di partai tandang.

Entah apa yang menjadi alasan Victor Valdes sebenarnya, tapi berbagai media mulai memunculkan analisa tentang calon kiper pengganti yang layak untuk mengisi posisi penting di Barcelona, posisi yang tidak hanya diharuskan untuk memiliki skill ekselen sebagai seorang kiper, tapi juga harus bisa menjadi sweeper di belakang barisan bek, sekaligus memiliki kontrol, passing dan visi bagus sehingga menjadi orang paling belakang dalam memulai konfigurasi possession football khas Barcelona.

Sehubungan dengan keputusan Guardiola untuk membesut Bayern Muenchen mulai musim depan, maka muncul pula dugaan bahwa Valdes bisa saja akan ditarik Guardiola. Meskipun Muenchen sudah memiliki Neuer yang juga merupakan salah satu kiper terbaik dunia, Valdes dianggap akan lebih cocok dengan gaya permainan yang akan diperagakan Guardiola. Jika memang benar demikian, maka Neuer akan terganggu karena tidak lagi menjadi opsi utama di posisinya. Ini akan membuat Barcelona punya peluang untuk mencurinya dan menjadikannya Barca's number 1.

Kemudian muncul juga nama David De Gea dan Thibaut Courtois. Dua-duanya adalah kiper muda yang dimiliki oleh tim elit Liga Inggris dan sedang mengalami performa menawan. De Gea adalah kiper utama Man Utd, Courtois adalah aset masa depan Chelsea yang sedang dipinjamkan ke Atletico Madrid. Ditambah dengan fakta bahwa keduanya telah mengenal dengan baik atmosfir sepakbola Spanyol, maka proses adaptasi akan menjadi lebih mudah.

Ada pula nama Victor Guaita yang sudah muncul bahkan sebelum Valdes belum membuat keputusan tentang kontrak. Kehebatannya di Valencia yang saat ini justru seringkali menjadi pilihan kedua dibawah Diego Alves mampu mengambil hati fans Barca. Awalnya banyak yang meminta Guaita didatangkan untuk menjadi pesaing Valdes di dalam tim, sehingga Valdes mampu tampil lebih kompetitif, namun sekarang Guaita justru bisa menjadi pilihan utama.

Yang relatif kurang dikenal dibanding yang lain mungkin nama Marc-Andre ter Stegen. Kiper jerman yang dimiliki Moenchengladbach ini masih berusia sangat muda, 21 tahun, namun mampu mendapatkan apresiasi positif dari berbagai media karena penampilan konsistennya ditambah kemampuannya untuk mengorganisir lini belakang yang kerap kali diidentikkan dengan idolanya, Oliver Khan. Skill dan karakternya dianggap akan bisa sesuai dengan gaya Barcelona meskipun perlu proses penyesuaian.

Yang paling hot berhubungan dengan isu yang berkembang di tim rival sebelah, setelah Cassllas-Ramos-Alonso meminta kepada presiden klub untuk memilih antara mereka atau Mourinho, seperti diberitakan harian Spanyol, Marca. Meskipun menjadi kiper yang sekian lama mengabdi pada tim rival, Casillas cukup mendapatkan respek tinggi di kalangan penggemar Barcelona, mengingat kiprahnya di Timnas Spanyol, dan persahabatannya dengan para punggawa Barcelona asal Spanyol lainnya, serta sikap elegannya dalam menghadapai rivalitas El Clasico yang jauh berbeda dengan pilihan sikap pelatihnya sendiri. Casillas juga dianggap memiliki skill lebih cakap di bawah mistar daripada Valdes, terbukti dengan perbedaan caps international kedua kiper tersebut.

Bagaimanapun juga, sedikit banyak keputusan Valdes memang menimbulkan riak di dalam dan di luar. Sekali lagi ini menjadi ujian stabilitas performa Barcelona dalam mengarungi musim yang diawali dengan hampir sempurna ini.

20 Desember 2012

Desember's Notes

Bulan Desember, mendekati akhir putaran pertama liga-liga eropa. Banyak hal terjadi yang cukup menarik untuk disimak. Sebagian juga menjadi ketidakseruan di sisi lainnya.

Dari Liga Spanyol, kemenangan Barcelona atas Atletico Madrid memperlebar selisih peringkat pertama dan kedua di klasemen sementara menjadi 9 poin. Ditambah dengan fakta bahwa Real Madrid, yang masih dianggap seteru paling kuat Barcelona, entah mengapa menjadi mlempem meskipun dengan skuad yang kurang lebih sama dengan tahun lalu, maka selisih Barcelona - Real Madrid pun melebar menjadi 13 poin. Ditambah dengan kondisi Barcelona yang masih tampak sangat stabil, sepertinya Tropi La Liga musim ini makin mendekat ke Camp Nou. Simeone pun mengatakan bahwa Barcelona membuat La Liga menjadi membosankan, karena sekarang menjadi one team race. Sebuah sindiran yang sebenarnya adalah pujian dan kekaguman. Namun Barcelona musti tetap hati-hati mengingat kondisi Tito Vilanova yang ternyata kembali harus dioperasi untuk mengangkat tumornya, jelas memerlukan masa recovery.

Pindah ke Inggris, secara mengejutkan Manchester United mampu mengalahkan Manchester City di laga tandangnya. Hasilnya, MU memimpin dengan selisih signifikan, yaitu 6 poin. Saya katakan mengejutkan, karena MU musim ini terbilang labil. Di suatu saat, MU bisa menjadi singa ganas yang mampu melibas tim manapun, tapi di saat yang lain, MU bahkan terdesak ketika melawan tim yang berada di papan bawah klasemen. Melawan City yang kuat, MU malah mampu mengeluarkan potensi terbaiknya. Semoga performa stabil duet Carrick-Cleverley selalu membawa MU tetap stabil di sisa musim ini.

Beralih ke Italia, performa Lazio cukup memuaskan. Terutama karena mampu mengalahkan tim kuat, Inter Milan. Memang belum menjadi kandidat serius peraih Scudetto, tapi cukup menjanjikan untuk kembali bersaing di papan atas. Tampaknya impian berlaga kembali di Liga Champion masih ada dalam jangkauan.



Yang menarik lainnya adalah hasil undian babak knockout Liga Champion. Hasil lengkapnya adalah sebagai berikut :

Rabu, 13-02-13 :
Galatasaray vs Schalke 04
Celtic vs Juventus

Kamis, 14-02-13 :
Arsenal vs Bayern Munich
Shakhtar Donetsk vs Borussia Dortmund

Rabu, 20-02-13 :
AC Milan vs Barcelona
Real Madrid vs Manchester United

Kamis, 21-02-13 :
Valencia vs PSG
Porto vs Malaga

Agak disayangkan ketika Milan langsung bertemu Barcelona, dan Real Madrid langsung bertemu Manchester United. Saya rasa ini adalah dua partai paling penting dan seru di babak pertama knockout ini. Apalagi jadwal memaksa dua partai ini dimainkan di hari dan jam yang sama. Cukup sayang untuk dilewatkan salah satunya. Meskipun Barcelona masih tampil sangat stabil, Milan tentunya akan tetap memberikan perlawanan ketat dengan dipimpin performa ciamik El Sharaawy. Namun, sepertinya Barcelona masih akan tetap lolos.

Di pertandingan satunya, Real Madrid dan Manchester United sedang mengalami kemiripan kondisi meskipun menghadapi kenyataan perbedaan posisi klasemen. Sama-sama diisi bintang-bintang besar, dua tim ini memiliki potensi besar yang mampu melibas tim manapun, sekaligus bisa menjadi tim labil dengan performa sangat biasa. Real Madrid masih Los Galacticos, dipimpin Cristiano Ronaldo yang alumni sekaligus fans MU dan anak didik Opa Fergie. Sayangnya, dikabarkan bahwa kondisi internal Madrid saat ini sedang tidak stabil, antara lain disebabkan goyangan kabar transfer, dan keretakan hubungan antar starter. Sedangkan MU sedang mengalami eskalasi percaya diri hasil serentetan hasil positif. Duet van Persie - Rooney semakin dahsyat didukung Welbeck dan Chicharito dari bangku cadangan. Barisan pertahanan perlahan-lahan pulih dari badai cidera, meninggalkan banyak pilihan bagi Fergie untuk menyusun rapatnya garis belakang. Yang paling positif, duet Carrick dan Cleverley semakin padu dan kreatif. Kesepahaman keduanya bisa dibilang bergerak mendekati kekuatan possession lini tengah Barcelona. Passing pendek satu dua mereka menjadi metronome yang mampu mengalirkan bola secara cepat, sekaligus bisa mempertahankan possession dengan cukup baik. Perlahan-lahan, suatu saat duet ini bisa jadi salah satu duo midfielder terbaik dunia. Sekaligus kabar positif untuk masa depan timnas Inggris.

Sebagai fans MU dan Barcelona, tentu saja saya ingin MU mengeliminasi Real Madrid, untuk kembali menjaga kemungkinan All-My-Fave-Final (sounds cute, isnt it?) di Liga Champion tahun ini, mengulang kisah musim 08/09 dan 10/11. Gelaran final tiap dua tahunan.

Above all, semoga semua Liga dan Liga Champion semakin seru dan menegangkan. Good Football above all fanaticism.

26 November 2012

La Masia XI

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis tentang starter Barcelona yang hanya menyisakan satu pemain non La Masia ketika melawan Getafe. Adriano yang mengisi posisi bek kiri menjadi satu-satunya pemain yang tidak berasal dari pembinaan yang dilakukan Barcelona di sekolahnya. Weekend lalu, Barcelona juga kembali melakukan hal ini, dengan menyisakan Dani Alves sebagai pemain non La Masia di starting lineup. Tapi kemudian menjadi lebih istimewa karena tidak lama setelah kick-off, Martin Montoya masuk menggantikan Dani Alves yang cidera. Kembali cidera nya Dani Alves memang adalah kabar buruk, tapi di balik itu, menjadi blessing in disguise ketika kemudian seluruh pemain Barcelona yang bermain di lapangan adalah produk La Masia. La Masia XI.

(from fcbarcelona.com)

Berita ini bahkan menjadi kabar positif untuk timnas Spanyol, karena hanya Lionel Messi-lah yang tidak berkewarganegaraan utama Spanyol. La Masia XI ini nyaris bisa menjadi Spain XI yang sama kuatnya dengan yang baru saja menjadi Juara Eropa.

Di pertandingan itu, Barcelona mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 4-0, sebuah kemenangan penting karena dimainkan di kandang Levante. Hampir semua pemain bermain gemilang, termasuk duet bek tengah dan Valdes yang belakangan sering jadi sasaran kritik. Paling cemerlang adalah Andres Iniesta yang menyumbang tiga assist dan satu gol untuk dirinya sendiri. Lionel Messi juga mengkreditkan dua gol di saldo rekening golnya, sehingga sekarang hanya berbeda tiga gol dari rekor gol dalam satu tahun kalendar milik Gerd Muller. Dua pemain termuda di pertandingan itu, Martin Montoya dan Jordi Alba bermain solid baik dalam bertahan maupun menyerang. Busquets tampil begitu bagus seperti biasa, dan Xavi-Cesc yang menjadi duet metronom dengan karakter berbeda yang mampu memperkaya variasi serangan Barcelona. Intinya, La Masia XI ini tampil sempurna.

Van Gaal pernah memimpikan sebuah tim yang akan jadi juara Eropa dengan menggunakan jasa pemain yang semuanya adalah hasil binaan sendiri oleh tim tersebut. Dan nampaknya, mimpi Van Gaal itu semakin mendekati kenyataan. Akan segera diwujudkan oleh tim sepakbola yang bukan sekedar klub biasa.

12 Oktober 2012

Messi 2.0

Messi 2.0 : Free Kick Machine - Total Barca



Free Kick Messi melawan Uruguay (TotalBarca)

So, the new level is just entered.

Meskipun telah meraih 3 gelar pemain terbaik dunia secara berturut-turut, banyak yang masih meragukan kemampuan Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia secara de facto. Banyak yang membandingkannya dengan sosok Cristiano Ronaldo, tidak sedikit juga yang mengkomparasikan kemampuannya dengan legenda dunia seperti Maradona dan Pele.

(from @footy_jokes)

Memang akan selalu ada kelemahan pada setiap pemain sepakbola. Messi pun begitu. Kelemahan yang paling sering dialamatkan padanya adalah tubuhnya yang kecil sehingga lemah dalam duel bola atas, trik sepakbola yang kurang lengkap, dan kemampuan tendangan bebas yang meragukan. Khusus untuk yang terakhir, Messi mulai membuktikan pada pengkritiknya bahwa mereka salah.

Belakangan ini, Messi sedang on fire dan sangat menikmati menendang bebas. Coba lihat beberapa video ini :

Free Kick melawan Real Madrid, 29-8-12

Free Kick melawan Real Madrid, 8-10-12

Dan yang terbaru :

Free Kick melawan Uruguay, 13-10-12

Tendangan bebas melengkung yang indah dengan cara yang cerdik. Sedikit mengingatkan kita pada Ronaldinho. Atau mungkin karena Messi memang banyak belajar dari eks rekan setimnya itu. Yang jelas, saat ini para bek harus lebih waspada lagi, bukan hanya dengan sekedar memarking ketat Messi dengan double (atau lebih) team, atau mini zonal defense khusus, atau permainan keras untuk menjatuhkannya, tapi juga harus mengantisipasi tendangan bebasnya yang terbukti sangat berbahaya.

Driblling maut sudah, pergerakan tanpa bola sudah, poacher handal sudah, playmaker sudah, pemberi assist sudah, rekor penampilan sudah, rekor gol sudah, passing pendek dan cepat sudah, lari cepat sudah, gol heading sudah, gol kaki kiri sudah, kini ditambah lagi dengan tendangan bebas menakutkan. Dan Messi masih muda. Potensinya masih bisa bertambah. Usianya bahkan belum mencapai rata-rata usia emas pemain depan dan tengah. Sportskeeda memberikan apresiasi tentang hal ini dengan menyertakan nama Lionel Messi dalam Top 20 Greatest Footballer to grace the beautiful game di posisi 13, sebagai satu dari dua pemain yang masih aktif, dan menyisihkan nama-nama seperti Romario, Marco Van Basten, dan Luis Figo, bahkan ketika usianya masih 25 tahun.

Mungkin sebaiknya kita memberikan kritik keras tentang hal-hal yang tidak bisa dilakukan Messi, supaya dia mendengarnya, lalu membuktikan bahwa kita salah.

Emmm, sudahkah Messi nonton Shaolin Soccer?

09 Oktober 2012

Kareem Abdul-Jabbar

Tulisan tentang basket di blog ini tidak terlalu banyak, apalagi tulisan tentang profil atletnya. Sosok pebasket yang ingin saya selidiki pertama kali melalui internet untuk kemudian saya rangkum di blog ini adalah seorang legenda NBA yang hanya bisa saya kagumi dari legacy-nya, karena saya tidak sempat menyaksikan caranya bermain. Dia adalah Kareem Abdul-Jabbar.

 

Kalimat yang menurut saya paling mendeskripsikan seorang Kareem Abdul-Jabbar adalah : center legendaris LA Lakers yang meninggalkan banyak rekor di NBA yang akan bertahan sangat lama. Memang tidak mewaliki semuanya, karena dia memang memiliki banyak cerita menarik.

Terlahir dengan nama Ferdinand Lewis Alcindor, Jr. di tahun 74, Abdul-Jabbar adalah pemegang rekor poin tertinggi NBA dengan catatan sebanyak 38.387 point, peraih enam cincin juara NBA, enam gelar MVP regular, 19 kali terpilih dalam All-Star dan bermain 18 kali diantaranya. Abdul-Jabbar juga memiliki rekor bertahan yang cukup baik, terbukti sebagai pemegang rekor ke-3 dalam rebound dan block sepanjang sejarah NBA, plus tercatat sebanyak sebelas kali masuk dalam NBA All-Defensive Player.

 Sky Hook Legendaris

Abdul-Jabbar memperkuat Milwaukee Bucks di tahun 1969 hingga 1975, lalu pindah ke LA Lakers hingga pensiun di tahun 1989. Sebagai center, dia memiliki badan yang terhitung kurus. Dengan tinggi 2,18 meter, berat badannya "hanya" sekitar 102 kg. Namun kekurangan ukuran tubuhnya ini mampu ditutupi secara sempurna dengan teknik, kekuatan, dan sky-hook nya yang sangat terkenal.

(Kareem Abdul-Jabbar Top 10 Plays - youtube.com)

Karena terlahir dari seorang ayah yang adalah pemain Jazz, Abdul-Jabbar juga menggemari Jazz. Baginya, Jazz adalah perlambang kegembiraan, meskipun lahir dari lingkungan yang justru jauh dari kebahagiaan itu sendiri. Jazz mampu menghadirkan sebuah perayaan atas sebuah keceriaan meskipun itu kecil. Jazz juga merupakan kombinasi ideal antara improvisasi dan kedinamisan, yang sangat sesuai jika di analogi kan pada permainan basket yang penuh koordinasi sekaligus kreativitas.

Abdul-Jabbar pernah bergelut dengan penyakit yang cukup serius. Selain menderita migrain, dia pernah mengidap leukimia. Namun semangat hidup dan kemauan yang tinggi membuatnya mampu bertahan hidup cukup lama. Bahkan pada Februari 2011 dia menyatakan bahwa leukimia nya telah hilang dan "100% cancer free", meskipun kemudian diralat dengan mengatakan "You're never really cancer-free and I should have known that", dan dilanjutkan dengan "My cancer right now is at an absolute minimum".

Dalam perjalanan hidupnya, Abdul-Jabbar yang tadinya pemeluk Katolik Roma, kemudian berganti keyakinan menjadi seorang Muslim, setelah membaca buku The Autobiography of Malcolm X. Buku itu memberi Abdul-Jabbar sebuah perspektif berbeda tentang monoteisme dan sejarah agama-agama. Baginya, Islam mampu memberikan sebuah fondasi moral.

Abdul-Jabbar berakting dengan Bruce Lee

Selain dikenang dunia sebagai atlet basket legendaris, Kareem Abdul-Jabbar juga pernah menjalani karir di bidang akting, menjadi penulis, dan menjadi asisten pelatih. Buku yang ditulisnya termasuk laris dan sukses di pasaran, dimulai dari autobiografi yang berjudul Giant Steps, hingga yang terbaru berjudul On the Shoulders of Giants: An Audio Journey Through the Harlem Renaissance. 

----

Sumber :

18 September 2012

Closer To The Dream, Mes Que Un Club


Gambar di atas saya ambil dari TotalBarca, dari artikel yang menginspirasi tulisan ini. Dari gambar itu baru saya sadari bahwa starter Barcelona pada pertandingan Getafe vs Barcelona weekend kemarin (15/9), 10 dari 11 nya adalah hasil lulusan akademinya sendiri, yaitu La Masia. Ya, Barcelona memainkan Victor Valdes, Martin Montoya, Gerard Pique, Carles Puyol, Thiago Alcantara, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Pedro Rodriguez, Francesc Fabregas, Cristian Tello, dan Adriano. Yang tidak pernah merasakan La Masia hanya nama yang saya sebut paling akhir. Seandainya Jordi Alba sedang fit, bisa saja 100% starter Barcelona adalah pemain binaan sendiri. Kecuali Fabregas, semua alumni La Masia itu selalu ada di Barcelona sejak awal karir profesionalnya. Hasilnya pun tidak mengecewakan, bahkan bisa dibilang sangat memuaskan, karena Barcelona berhasil mengalahkan Getafe dengan skor 4-1. Lebih memuaskan lagi, kemenangan itu terjadi di kandang Getafe, dimana musim lalu Barcelona menelan kekalahan, dan beberapa minggu lalu giliran Real Madrid gagal meraih poin.