17 September 2020

Take A Look At Denver Nuggets 19-20

Sebelum NBA musim ini dimulai, para ahli menempatkan LA Clippers sebagai unggulan terkuat meraih juara. Bukan hal yang mengherankan, karena musim lalu ketika Clippers terhitung minim bintang bisa cukup perkasa di wilayah barat, apalagi di musim ini Clippers kedatangan dua orang yang amat sangat jagoan. Yang pertama adalah pemegang 2 MVP finals, Kawhi Leonard, dan satu lagi adalah superstar yang terkenal sebagai salah satu two-way player terbaik di NBA, Paul George. Maka bergabungnya mereka dengan tim yang sudah solid diramalkan akan berpotensi membentuk dinasti baru.
Sayangnya sejauh ini ramalan tersebut bisa dibilang meleset, karena di babak reguler Clippers "hanya" menempati peringkat 3 di NBA, di bawah Bucks dan Lakers. Bukan hal yang cukup untuk bisa disebut membentuk dinasti, meskipun juga tidak bisa dibilang gagal. 
 
Tapi artikel ini bukan dibuat untuk membahas Clippers. Justru untuk mempelajari kulit-kulit dan sedikit kupasan di bawahnya tentang tim yang secara cukup mengejutkan mampu mengalahkan mereka di babak semifinal wilayah, dan (lagi-lagi) mengubur impian mereka untuk tembus ke final wilayah barat.

Tim kejutan itu adalah : Denver Nuggets.
 
(source : clutchpoints.com)
 
Yes, sebelumnya saya juga menulis tentang tim kejutan yang lain dari wilayah timur, yaitu Miami Heat, dan tampaknya kejutan serupa juga menular ke wilayah barat. Jika Miami Heat adalah tim peringkat ke 5 di timur, Denver Nuggets adalah tim peringkat 3 di barat. Memang terhitung dekat dengan Clippers yang ada di peringkat kedua, namun sejak awal Clippers dan Lakers dianggap berada di dimensi yang berbeda dengan tim lain di wilayah barat, maka ketatnya semifinal wilayah barat ini tetap menjadi mengejutkan, paling tidak buat saya.

Denver Nuggets tidaklah lolos dengan mudah. Di babak pertama Playoffs mereka menghadapai Utah Jazz yang juga diperkuat duo maut. Game ini berlangsung amat sangat seru, pertama karena mereka memiliki matchup yang serupa. Dipimpin oleh playmaker muda, yaitu Donovan Mitchell vs Jamal Murray, dan diperkuat oleh dua center terbaik NBA, Rudy Gobert dan Nikola Jokic. Nuggets yang memenangkan game 1 harus deg-degan karena di 3 game berikutnya mereka kalah. Baru di game 5 Nuggets mengambil alih secara tim, karena pemain cadangan mereka juga turut berperan besar dalam memutar balikkan keadaan sehingga berakhir 4-3 untuk Nuggets. Perjuangan yang ketat dan terlihat melelahkan.

Nuggets yang tampak lelah itu lalu harus berhadapan dengan Clippers yang konon kabarnya memiliki skuad yang dalam dan merata, tidak terlalu jauh beda kualitas antara starter dan pemain cadangan, padahal Kawhi Leonard dianggap top three NBA Player saat ini, maka cukup tergambar kedalaman skuad mereka. Nuggets makin tampak terlihat tak berdaya ketika di game 1 dibantai dengan selisih 23 poin. Mungkin beberapa cukup terkejut ketika di game kedua Nuggets ternyata bisa menyamakan skor menjadi 1-1 dengan kemenangan 110-101. Tapi kemudian Clippers menjawab keraguan publik dengan dua kali kemenangan, menjadi 3-1. Nuggets dianggap sudah habis, tidak punya jawaban, dan akan segera angkat koper keluar dari bubble.

Tapi bukan itu yang terjadi. Jokic dan Murray membuktikan bahwa mereka bukanlah pemain yang memiliki mental sembarangan. Secara bergantian mereka menjadi alpha dan memimpin Nuggets untuk memberikan perlawanan sengit pada Clippers. Silakan menganggap Jokic sebagai center kegendutan yang lambat, tapi kecerdasannya dalam memanfaatkan tubuh, ball handling, melihat garis passing dan mengeksekusinya, serta kemampuan shooting jarak jauh akan membuat kita memahami bahwa dia adalah salah satu center terbaik dunia saat ini. Dia bukan pemain paling atletis, tapi kelebihan utamanya ada di otak. Kecerdikannya dalam membaca permainan, meramalkan arah pergerakan kawan, dan mengantisipasi pola serangan Clippers membuat para pemain Clippers frustrasi. Duet maut sekelas Paul George dan Kawhi Leonard saja dibuat tak bisa bicara banyak, hanya mencetak 24 poin digabung. Jamal Murray juga tampak sama sekali tidak gentar ketika harus melawan defender elite sekelas mereka berdua, atau para "tukang pukul" Clippers seperti Patrick Beverley dan Montrezl Harrell. Dia akan meledak di saat yang tepat, ketika Nuggets membutuhkannya. Dua kali bangkit dan berbalik unggul dari ketinggalan 3-1 bukanlah hal yang sepele. Itu menggambarkan kekuatan mental dan semangat juang yang besar. 

Selain peran besar duet Jokic-Murray itu, yang tidak kalah penting dan sering diremehkan adalah peran supporting cast nya. Mari kita lihat dulu bagaimana isi Denver Nuggets ini (urut berdasarkan minute play terbanyak) :

No Name Age G GS MP Pos. Ht (m) Wt (kg) Draft Pick FG% 3P% Reb Ast Pts
1 Nikola Jokić 24 73 73 2336 C      2.13        129 2014 41 52.80% 31.40% 711 512 1456
2 Will Barton 29 58 58 1916 G      1.96           82 2012 40 45.00% 37.50% 365 212 874
3 Jamal Murray 22 59 59 1904 G      1.93           98 2016 7 45.60% 34.60% 236 284 1091
4 Jerami Grant 25 71 24 1892 F      2.03           95 2014 39 47.80% 38.90% 248 88 851
5 Gary Harris 25 56 55 1780 G      1.93           95 2014 19 42.00% 33.30% 163 118 581
6 Monte Morris 24 73 12 1636 G      1.88           83 2017 51 45.90% 37.80% 137 255 660
7 Paul Millsap 34 51 48 1240 F      2.01        117 2006 47 48.20% 43.50% 293 83 591
8 Torrey Craig 29 58 27 1072 F      2.01        100 2014 Und 46.10% 32.60% 189 47 315
9 Mason Plumlee 29 61 1 1057 F/C      2.11        115 2013 22 61.50% 0.00% 317 154 437
10 Michael Porter 21 55 8 903 F      2.08           99 2018 14 50.90% 42.20% 259 46 512
11 PJ Dozier 23 29 0 412 G/F      1.98           93 2017 Und 41.40% 34.70% 55 63 168
12 Keita Bates-Diop 24 7 0 98 F      2.03        104 2018 48 46.40% 33.30% 17 0 37
13 Bol Bol 20 7 0 87 F/C      2.18        100 2019 44 50.00% 44.40% 19 6 40
14 Troy Daniels 28 6 0 76 G      1.93           91 2013 Und 35.70% 30.00% 6 3 26
15 Vlatko Čančar 22 14 0 45 F      2.03        107 2017 49 40.00% 16.70% 10 3 17
16 Noah Vonleh 24 7 0 30 F      2.08        117 2014 9 83.30% 100.00% 8 2 13
17 Tyler Cook 22 2 0 19 F      2.03        116 2019 Und 50.00%   4 0 4

Dari data diatas, terlihat bahwa kemampuan shoot di tim Nuggets sangat merata. Field Goals ada di range 45% an, dan 3pt percentage di sekitar 35%, menyebar di hampir seluruh personil. Dalam hal shooting percentage, tidak jauh beda antara starter dan cadangan. Dari total point yang dicetak, selain Jokic dan Murray, Will Barton dan Jerami Grant adalah penyumbang poin terbanyak di tim, dengan Monte Morris, Paul Millsap, Gary Harris, dan Michael Porter Jr ada di belakangnya.

Will Barton bisa dibilang cukup underrated, karena meskipun kurang dikenal, kontribusinya dalam defense, rebound, dan assist sangat signifikan. Begitu pula dengan Jerami Grant yang di Playoffs ini sering tiba2 muncul lewat shot pentingnya, dan defense yang begitu ketat.

Paul Millsap adalah veteran berpengalaman dan seorang pemain All Star di masanya dulu bersama Atlanta Hawks. Di umur 34, Millsap menghadirkan veteran presence yang biasanya menghadirkan ketenangan ketika yang lain sedang terburu-buru dan kurang hati-hati. Dia pun sukses menghadapi sekaligus mengcounter psywar para "preman" Clippers, sehingga meminimalisir gangguan faktor non teknis.

Jerami Grant memang lebih sering memulai dari bangku cadangan, tapi di usia matangnya ini sumbangan poin, energi dan kemampuan atletis nya sangat berguna dalam bertahan dan menyerang. Di Playoffs ini berkali-kali defense nya yang kuat dan shoot jarak jauhnya mampu menjaga ritme permainan ketika Murray dan Jokic menemui jalan buntu.

Monte Morris, Gary Harris, dan Torrey Craig juga tidak begitu menonjol dan jauh dari sorotan, tapi peran mereka sebenarnya setara dengan supporting cast yang lain baik dari peran defensif maupun akurasi tembakannya. Dengan Jokic yang sering di dalam dengan visi cemerlang, banyaknya rekan yang siap di berbagai sudut dengen kemampuan setara membuat pemain bertahan lawan sangat kesulitan antara memutuskan untuk double team Jokic atau menutup pemain lain yang siap di kejauhan. Belum lagi ada Murray yang siap menyerang menusuk masuk kapan saja.

Jika Jokic sedang butuh istirahat, Nuggets punya backup center yang sebenarnya lebih atletis dan punya kemampuan fisik lebih bagus, yaitu Mason Plumlee. Meskipun tidak secerdas Jokic, adanya Plumlee menghadirkan kekuatan fisik yang lebih baik, dan memberikan waktu istirahat yang cukup bagi Jokic tanpa mendatangkan rasa kuatir.

Dan ada satu lagi anak muda yang sebenarnya sangat potensial, dan konon dulu adalah calon 1st pick di masanya, namun sayangnya musti turun peringkat karena faktor cidera. Orang ini adalah Michael Porter Jr. Memang dia sering cidera, tapi kepercayaan yang diberikan Nuggets rupanya dibayar dengan perfora menjanjikan meskipun performanya kadang labil, sebuah kesalahan wajar di usia muda.

Salah satu faktor penting yang terlihat selama Playoff ini adalah chemistry yang kuat diantara pemain-pemain Nuggets. Mereka saling mepercayai satu sama lain, dan terlihat selalu saling mendukung. Hal yang tidak terlihat di Clippers, terutama di quarter 4 game ke 7 itu. Kawhi menjadi semakin down ketika dia tahu sedang off, tapi tidak bisa mempercayai teman-temannya yang lain. Sementara Jokic terlihat begitu yakin bisa membagi bola ketika dia sedang di double team di dalam, karena rekan-rekannya terus bergerak dan berada di posisi yang siap menerima passingnya untuk kemudian dieksekusi. Dan berhasil.

Denver Nuggets adalah tim yang relatif tidak sering berubah, sebagian besar mereka sudah bersama-sama dalam jangka waktu yang lama. Gary Harris, Will Barton, Nikola Jokic, Jamal Murray, Paul Millsap, dan Mason Plumlee sudah bermain bersama sejak tahun 2017. Tiga nama pertama bahkan sejak 2015. Maka tidak heran ketika mereka bisa menjalin komunikasi yang sangat baik, karena bagaimanapun juga chemistry di luar lapangan akan sangat berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri yang akan tertuang pada permainan di lapangan. Tahun lalu Nuggets nyaris lolos ke Final Wilayah, tapi kalah di game ketujuh dari Blazers. Kepahitan itu sudah terbalas di tahun ini. Seberapa jauhpun mereka musim ini, tidak mengurangi kehebatan pencapaian mereka yang luar biasa.

Di Final Wilayah Barat, Nuggets akan menghadapi Lakers. Bukan lawan yang mudah, tapi Nuggets sudah terbukti punya kemampuan melewati hadangan yang berat. Jika Jokic pernah sukses menang lawan Gobert yang merupakan lawan sepadan, lalu kemudian begitu dominan melawan Clippers yang tidak punya bigman dominan, dia tampaknya harus berkeringat lebih banyak menghadapi Lakers yang punya banyak bigman berpengalaman. Anthony Davis adalah All-NBA first team tahun ini, punya offense yang dahsyat, dan juga runner up DPOY. Davis lebih komplit dibanding Gobert, sekaligus lebih dominan dibanding semua bigman Clippers. Tapi Davis tidak selalu bermain di posisi center, jadi tidak selalu match-up dengan Jokic. Jika Jokic tidak dipegang Davis, dia harus menghadapi salah satu dari McGee atau Howard. Mungkin mereka tidak secerdas Jokic, tapi duo bigman ini punya banyak pengalaman untuk meredam pemain-pemain hebat sebelumnya. Plus jika mereka yang dipasang, mereka bisa full konsentrasi mematikan Jokic, tanpa beban untuk menginisiasi penyerangan.
Jamal Murray pun juga harus berusaha lebih keras, karena Lakers sudah sukses dua kali meredam tim dengan playmaker dan guard kelas atas di NBA. Dame di Blazers dan Harden-Westbrook di Rockets dibuat tidak berdaya ketika Lakers sudah menemukan ritmenya. Well, "tidak berdaya" mungkin terasa berlebihan, terlebih Lakers juga kalah di game 1, tapi coba lihat kembali di game ke 5 Lakers melawan Blazers dan Rockets, mereka dibuat sedemikian frustrasi, terlihat dari ekspresi para pemainnya yang tampak seperti bingung mau berusaha dengan cara apa lagi.
Pengalaman Nuggets untuk comeback dari tepi jurang 3-1 sebanyak dua kali ini menunjukkan mental luar biasa, yang jadi bekal penting untuk menghadapi Lakers yang juga calon juara. Cukup berat sebenarnya, tapi saya menunggu banget kejutan yang mereka hadirkan melalui ledakan Murray, kecerdasan Jokic, dan chemistry para supporting cast lain untuk bersatu padu mengalahkan Lakers yang lebih diunggulkan.

-maheinberg, 2020-

10 September 2020

Take A Look at Miami Heat 19-20

Postingan ini didedikasikan untuk tim underdog yang tidak pernah diunggulkan selama musim reguler, tapi dengan amat sangat meyakinkan berhasil menyingkirkan tim terbaik reguler NBA. Tim kejutan yang istimewa ini adalah : Miami Heat.

clutchpoints.com

Banyak yang menyayangkan langkah Jimmy Butler ketika di musim ini pindah dari Sixers, padahal musim lalu nyaris saja menyingkirkan Raptors di Playoffs. Sebagaimana kita tahu, Raptors akhirnya juara. Jika JimBut bertahan, mungkin saja Sixers jadi serious contender di timur.

Di awal musim ini pula, JimBut juga digosipkan diminati dua tim dari Los Angeles, yang di atas kertas punya kans cukup besar untuk jadi juara. Heat bukanlah destinasi seksi di kala itu, karena diisi pemain-pemain yang relatif lebih medioker. Meski juga harus disadari, bahwa minim bintang juga berarti salary cap yang longgar, sehingga bisa lebih leluasa untuk mengundang satu atau beberapa pemain bintang yang baru.

Lalu kita bisa fast forward ke hari ini, ketika tim yang "biasa-biasa saja" itu baru saja mengalahkan Milwaukee Bucks yang di musim reguler jadi tim terbaik di NBA, bahkan di atas Lakers dan Clippers, yang dipimpin oleh Defensive Player of The Year dan calon MVP dua tahun berturut-turut, Giannis Antetokounmpo. Miami Heat bahkan nyaris menang telak 4-0, setelah sebelumnya menyapu bersih Indiana Pacers dengan cukup mudah.

Sayapun tidak terlalu mengikuti Miami Heat di musim reguler, tapi dengan capaian itu, jelas ada yang istimewa di tim ini. Lets take a look at this team.

Ini adalah daftar pemain Miami Heat, urut dari Minutes Played paling banyak :

No Name Age Pos Ht (m) Wt (kg) Draft Pick G GS MP
1 Bam Adebayo 22 F/C 2.06  116 2017 14 72 72 2417
2 Duncan Robinson 25 F 2.01  98  2018 Und 73 68 2166
3 Kendrick Nunn 24 G 1.88  86  2018 Und 67 67 1962
4 Jimmy Butler 30 F 2.01  104 2011 30 58 58 1959
5 Goran Dragić 33 G 1.91  86  2008 45 59 3 1663
6 Tyler Herro 20 G 1.96  88  2019 13 55 8 1508
7 Derrick Jones 22 F 1.98  95  2016 Und 59 16 1375
8 Kelly Olynyk 28 F/C 2.11  109 2013 13 67 9 1300
9 Meyers Leonard 27 F/C 2.13  118 2012 11 51 49 1034
10 Jae Crowder 29 F 1.98  107 2012 34 20 8 553
11 Andre Iguodala 36 G/F 1.98  98  2004 9 21 0 418
12 Chris Silva 23 F 2.03  106 2019 Und 44 0 346
13 Solomon Hill 28 F 1.98  103 2013 23 11 1 187
14 Gabe Vincent 23 G 1.91  91  2018 Und 9 0 83
15 Udonis Haslem 39 F 2.03  107 2002 Und 4 1 44
16 KZ Okpala 20 G/F 2.03  98  2019 32 5 0 26
17 Kyle Alexander 23 F/C 2.08  98  2019 Und 2 0 13
  Team Totals 26.59           73   17745

Jika sebelumnya saya pernah menulis tentang New Orleans Pelicans yang rata-rata umur pemainnya adalah 24,87 tahun, maka sebenarnya Miami Heat juga termasuk tim muda, dengan rata-rata usia pemain 26,59 tahun, dan rata-rata usia starter 25,6 tahun.
 
Pun ketika saya menulis tentang Milwaukee Bucks yang berisi pemain-pemain yang awalnya dianggap medioker, itupun terjadi pada Miami Heat. Starternya bukanlah para pemudah harapan NBA dimasa draft nya dulu. Dua diantaranya bahkan datang dari undrafted, yaitu Duncan Robinson dan Kendrick Nunn.

Masuknya Jimmy Butler bisa jadi adalah trade terbaik Heat paling tidak dalam 10 musim terakhir, terutama post trio James-Wade-Bosh era. JimBut yang merupakan salah satu two-way player terbaik yang ada di NBA saat ini, sukses menjadi leader bagi anak-anak muda di Heat. Dia bisa jadi playmaker, defender, eksekutor, sekaligus pemacu motivasi di lapangan. Dia membuat rekan-rekannya menuju titik paling optimal.

Bam Adebayo adalah pemain All Star Heat yang lain selain Jimbut. Musim ini dia begitu kuat dan kokoh. Bersama Jae Crowder, dia pun berhasil meredam agresifitas pemain bahkan sekaliber Giannis sekalipun. Saat ini dia adalah pemain dengan menit bermain terbanyak di tim, dan masih menyisakan banyak ruang untuk berkembang, terutama perimeter shootnya, di usia nya yang baru 22.

Goran Dragic menghadirkan veteran presence yang memulai dari bench, lalu menghadirkan kemampuan playmaking dan agresifitas yang sangat efektif. Perannya sangat terasa di Playoff ini dalam berbagi peran memimpin tim dengan JimBut. Sekadar menjadi pengingat bahwa Dragic adalah peraih Most Improved Player di tahun 2014 bersama Suns, dan di tahun 2018 masuk menjadi bagian dari NBA All Star menggantikan Kevin Love yang cidera, serta membawa Slovenia jadi juara dunia basket tahun 2017 sekaligus menjadi MVP.

Duncan Robinson dan Kendrick Nunn adalah duo draft tahun 2018 yang datang ke Miami Heat berawal dari undrafted, lalu bertransformasi menjadi starter yang solid. Nunn mencatat 15,3 PPG, ketiga terbaik di bawah JimBut dan Adebayo, termasuk 112 poin di 5 pertandingan awalnya, rekor terbanyak oleh seorang pemain undrafted. Runner up Rookie Of The Year tidaklah berlebihan buat Nunn. Dia konsisten dan memberikan efek besar. Robinson mendadak menjadi salah satu shooter terbaik NBA dengan 3,7 3PM dan sekitar 45% 3Pt di sekitar 29,7 MPG. 

Ada alumni Boston Celtics murid Brad Stevens yang berpengalaman malang melintang bermain di beberapa tim yang solid, yaitu Jae Crowder dan Kelly Olynyk. Di awal-awal Brad Stevens menggegerkan NBA dengan kemampuannya mengatur deffensive strategy, Jae Crowder adalah salah satu personil pentingnya. Kemampuan bertahan inilah yang jadi salah satu nilai penting Crowder di Heat untuk menyusun tim yang solid. Selain bertahan, Crowder yang datang sebagai free agent ini bisa diandalkan dari luar garis three point dengan catatan sekitar 45%, sebuah 3pt rate yang tinggi. Crowder sangat berguna jika Heat memutuskan untuk bermain small ball, dengan memanfaatkan kekuatan, kecepatan, serta 3nD. Olynyk adalah bigman berpengalaman yang kuat dan cukup bisa diandalkan 3pt nya, ada di rate sekitar 40%.

Veteran free agent berpengalaman yang lain adalah Andre Iguodala. Meskipun sudah berumur 36 tahun, dia adalah pemegang 3 cincin juara sebagai pemain yang sangat penting di Warriors. Kematangannya tidak bisa diragukan, dan kehadirannya penting untuk membimbing para generasi muda. Jangan lupa bahwa meskipun start dari bench, Iguodala adalah MVP Finals di GSW sebelum era Durant.

Satu lagi pemain muda yang cukup menonjol adalah Tyler Herro. Sebagai guard cadangan, kepercayaan dirinya dalam mengeksekusi shooting jarak jauh sangat mengagumkan. Apalagi di umur yang masih 20 yang menyisakan potensi begitu besar. Herro mencetak sejarah sebagai pemain pertama yang lahir di tahun 2000an yang masuk ke final wilayah.

Lalu ada pemain muda undrafted yang mendadak mencuri perhatian publik karena berhasil menjadi juara slam dunk contest, Derrick Jones Jr. Ini anak berbody langsing dengan kecepatan plus vertical jump yang istimewa. Dia cukup solid dalam berperan sebagai pemain cadangan.

Daftar pemain Heat ini relatif tidak se glamor tim lain seperti Lakers, Clippers, ataupun Bucks. Tapi terlihat juga bahwa kedalaman squadnya cukup merata sehingga ketika harus memainkan second unit Heat tetap meyakinkan.

Meskipun jarang disebut, Miami Heat punya defense yang solid dan hustle. Mereka bisa cepat dan kuat sekaligus. Kemampuan defense seperti itu dilengkapi dengan kemampuan offense yang variatif. Ada yang bisa main ISO, bisa attack lewat bigman, ada playmaker yang pass-first sehingga bola bisa mengalir cepat, juga ada shooter-shooter yang termasuk terbaik di NBA. Mereka bisa bermain powerfull, atau small ball yang cepat dan tajam. JimBut bisa bermain dominan dan banyak drive, tapi juga bisa mencetak sedikit poin dan mendistribusikan beban menyerang secara merata ke seluruh personil timnya. Sejauh ini, para supporting cast sangat percaya diri dan amat bisa diandalkan.

Dari awal memang saya memprediksi Miami Heat akan menang 4-0 atas Indiana Pacers di round 1 NBA Playoffs, tapi tidak menduga bahwa mereka akan mengalahkan Milwaukee Bucks dengan cukup mudah. Sekarang saya menjagokan mereka sebagai juara wilayah timur untuk menantang raksasa dari barat, yang kemungkinan adalah salah satu dari dua tim dari Los Angeles itu. Tentu saja setelah melewati hadangan dari pemenang antara Raptors dan Celtics (skor sedang 3-3 ketika artikel ini ditulis), dua tim dengan deffensive efficiency tertinggi di Playoffs NBA.

Tim ini berubah sangat cepat dari tim potensial di masa depan, menjadi salah satu kandidat juara.
 
They deserve it.

-maheinberg, 2020-

10 Maret 2020

Take A Look At New Orleans Pelicans 19-20

Setelah Lakers dan Bucks yang sepertinya akan jadi pemuncak klasemen di Wilayah Barat dan Timur NBA musim ini, saya sangat tertarik mengamati tim yang sedang berjuang menuju zona playoff : New Orleans Pelicans.

(source : here)

Yang pertama adalah Anthony Davis effect. Kepergiannya menuju Lakers yang ditukar dengan Lonzo Ball dan Brandon Ingram membuat Pelicans menjadi tim yang benar-benar baru. Davis adalah superstar NBA yang telah menjadi franchise player Pelicans selama tujuh tahun. Sedangkan Ball dan Ingram adalah top picks hasil rekrutmen Lakers yang masih berstatus pemain muda masa depan, belum benar-benar memenuhi ekspektasi. Brandon Ingram awalnya dimirip-miripkan dengan Kevin Durant. Pemain tinggi ceking yang cepat, dengan kemampuan shoot yang bagus. Kita tahu bahwa Durant yang sehat adalah (arguably) the best finisher di NBA saat ini, yang bisa mengatasi segala jenis pemain bertahan yang menghadangnya. Pemain yang besar akan dilawan dengan kecepatan, pemain cepat akan dilawan dengan menggunakan kelebihan tinggi badannya. Durant juga memiliki shoot jarak dekat dan jauh yang luar biasa. Ingram belum sampai ke titik itu. Tiga musimnya bersama Lakers belum bisa disebut berhasil karena belum pernah membawa Lakers menuju Playoff. Sedangkan Lonzo Ball pada masa draftnya dianggap salah satu calon mega bintang, selain karena kelebihannya dalam visi bermain diharapkan akan membuat semua rekannya lebih berkembang, Ayahnya adalah outspoken person yang menjadi motivator sekaligus biang masalah di media. Di Lakers dia juga tidak berhasil memenuhi ekspektasi itu, salah satu yang menjadi sorotan adalah shooting form nya yang aneh.
Separuh musim berlalu, Ingram dan Ball seperti berubah menjadi orang baru. Ingram layak jadi nominator Most Improved Player yang akhirnya memperoleh status sebagai pemain All Star. Dia mencetak 24.25 Points Per Game, 47% Field Goals Percentage, 39% 3Point Percentage, 6.5 Rebound Per Game, dan 4.3 Assists Per Game. Lonzo Ball juga berkembang. Kelebihan Ball yang tetap menonjol adalah kemampuan defense nya, dan yang terlihat berubah adalah shooting form nya yang sekarang terlihat lebih "normal". Musim ini Ball mencetak 12.41 Points Per Game, 41% Field Goal Percentage, 6.2 Rebounds Per Game, 7 Assists Per Game, dan 1.4 Steals Per Game.

Yang kedua tentu saja karena masuknya one of the most hyped rookie of all time, Zion Williamson. Sejak draft prediction, nama Zion sering banget disebut karena bentuk badannya yang unik dan gaya mainnya yang dominan. Dia tidak terlalu tinggi untuk ukuran bigman, "hanya" 1,98 m, tapi berat badannya 129 kg. Sekilas dia tampak obesitas, tapi dari caranya bermain, body berat seperti truk tronton itu menjadi sebuah keuntungan dalam gaya menyerangnya, karena ternyata dia tetap lincah dan eksplosif. Awalnya keberhasilan Pelicans mendapatkan jatah 1st pick di draft tahun 2019 menjadi setitik kecil cahaya bagi Pelicans untuk mempertahankan Anthony Davis, tapi ternyata Davis lebih memilih untuk pergi bergabung bersama LeBron James. Sayang sekali duet Davis-Williamson tidak jadi terwujud.
Banyak kalangan menilai Zion ini rare breed, sekaligus banyak yang meragukan karirnya kelak di NBA akan berumur panjang ketika dia harus bermain melawan bigman lain yang tidak kalah kuat dan jauh lebih berpengalaman. Dikhawatirkan eksplosifitasnya membuat Zion rentan cidera dan tidak memiliki karir yang lama di NBA. Kekhawatiran itu langsung diperkuat ketika Zion mengalami cidera di pramusim. Beberapa expert kemudian menyarankan Zion untuk mengubah caranya berjalan dan berlari untuk mengubah titik tumpunya, sehingga tidak terlalu membebani bagian otot-otot tertentu.
Tapi ternyata performa setelah kembali dari cidera cukup memberi bukti. Di pertandingan pertamanya, Pelicans memang kalah dari Spurs, tapi Zion mencetak 22 poin, 7 rebound, 3 assist, hanya dalam waktu 18 menit, dipermanis dengan empat kali three point sukses dari empat kali percobaan. Setelah itu, performanya cukup menakjubkan. Dalam 19 pertandingan terakhir, dia mencetak 23.57 Points Per Game dengan hanya tiga kali dibawah 20 poin, 6.7 Rebounds Per Game, dan 2.1 Assists Per Game. Semua itu dihasilkan dengan dominasi di bawah ring yang sangat menonjol ketika berhadapan dengan siapapun. Kedatangannya juga membawa harapan besar untuk Pelicans, karena performa tim meningkat dari 17-27 pre-Zion, menjadi 11-9 post-Zion. Kombinasinya dengan Ingram membuat Pelicans memiliki variasi serangan yang lebih kaya. Duet rare breed ini menghasilkan ancaman cepat, kuat dan tajam sekaligus. Ingram menjadi ancaman dari luar dan perimeter, Zion menakutkan di dalam.

Yang ketiga adalah kombinasi para pemain mudanya. Rata-rata usia pemain Pelicans adalah 24.87, starternya bahkan hanya 24, yang tertua adalah Jrue Holiday yang berusia 29 tahun, plus eks starter Utah Jazz berusia 28 tahun, Derick Favors. Berikut adalah komposisi pemain Pelicans :


No Name Pos Height Weight Age Draft Pick Games Start Min Played
1 Jrue Holiday G 191 82 29 2009 17 55 55 1922
2 Brandon Ingram F 201 89 22 2016 2 56 56 1919
3 Lonzo Ball G 198 86 22 2017 2 56 47 1817
4 Josh Hart F 196 93 24 2017 30 57 14 1563
5 J.J. Redick G 191 86 35 2006 11 54 35 1425
6 Derrick Favors C 206 112 28 2010 3 45 43 1089
7 Jaxson Hayes F/C 211 100 19 2019 8 51 5 958
8 E'Twaun Moore G 191 87 30 2011 55 56 12 951
9 Nicolò Melli F 206 107 29 2019 Und 52 6 889
10 Kenrich Williams F 198 95 25 2018 Und 35 18 779
11 Frank Jackson G 191 93 21 2017 31 51 1 656
13 Zion Williamson F 198 129 19 2019 1 19 19 565
12 Nickeil Alexander-Walker G 196 93 21 2019 17 41 0 501
14 Jahlil Okafor C 208 122 24 2015 3 28 9 424
15 Zylan Cheatham F 196 100 24 2019 Und 3 0 31
16 Josh Gray G 183 82 26 2016 Und 2 0 23

Team Average


24.875





Hanya ada dua pemain yang berusia 30 tahun keatas. Dua veteran ini jadi pembimbing adik-adiknya yang penuh semangat menggelora. JJ Redick juga jadi role player tukang three point, dimana ketenangan khas pemain senior sangat diperlukan di saat-saat genting. Memiliki core player yang berusia muda, berarti masa depan Pelicans sangat bagus, dengan catatan para pemain muda ini belum mencapai titik permainan terbaiknya. Tim ini sekilas mengingatkan saya pada Oklahoma City Thunder ketika diperkuat Durant-Westbrook-Harden-Ibaka pada masa jayanya.

Berbeda dengan Bucks yang berisi pemain-pemain yang awalnya tidak diunggulkan, Pelicans ini justru dipenuhi bibit-bibit unggul. Lima diantara roster mereka tadinya adalah top five draft pick. Hanya saja semuanya belum benar-benar bertransformasi menjadi superstar. Di tangan pelatih yang tepat dan didikan senior yang berpengalaman, para wonderkid ini berpotensi untuk menjadi satu tim yang solid dan menakutkan.

Saat ini Pelicans masih menempati posisi ke-9 di wilayah barat, 4 Game Behind untuk menyalip posisi 8. Saingan di atasnya adalah Memphis Grizzlies yang dipimpin oleh calon kuat Rookie Of The Year, Ja Morant. Dengan tren positif post-Zion ini, persaingan memperebutkan posisi ke-8 masih terbuka. Selain demi meraih tiket Playoff, finish di atas Grizzlies akan meningkatkan peluang Zion Williamson untuk menikung Ja Morant dari pole position ROY. Musim reguler masih akan bergulir hingga 15 April, banyak pertandingan seru yang akan terjadi. Pelicans sudah pernah menang melawan Celtics, Grizzlies, Heat, Pacers dan Blazers, maka kekuatannya sudah cukup teruji untuk bisa bersaing melawan tim kuat.

-maheinberg, 2020-