Label "Revolusi" yang terjadi pada PSSI rupanya tidak berakhir dengan manis begitu saja. Sejumlah masalah masih tersisa, termasuk salah satunya adalah adanya dualisme beberapa tim kasta tertinggi Liga Indonesia. Dualisme ini salah satunya terjadi kepada tim favorit saya sepanjang masa, AREMA. Di awal kepengurusan PSSI era Djohar Arifin, berkas pendaftaran Arema dilakukan oleh dua kubu, yang biasa disebut kubu M. Nur dan kubu Rendra Kresna. Setelah melalui proses panjang, PSSI akhirnya mengakui berkas pendaftaran Arema yang dimasukkan oleh kubu M. Nur. Keputusan ini berbuntut cukup serius, karena diikuti oleh hengkangnya sebagian besar pemain Arema seperti Ahmad Bustomi, Purwaka, Juan Revi, Waluyo, Yongki Aribowo, Benny Wahyudi, dan Zulkifli Syukur. Saktiawan Sinaga dan Arif Suyono yang semula telah mengikat kontrak dengan Arema versi Rendra Kresna pun memilih untuk menyusul Ahmad Bustomi ke Mitra Kukar.
Ternyata permasalahan tersebut tidak berhenti disitu. Ketika Liga Indonesia hendak digelar dengan nama Indonesian Premier League, atau yang disingkat sebagai IPL, sejumlah klub menyatakan keberatan atas beberapa keputusan PSSI dalam penyelenggaran liga baru tersebut. Permasalahan pokok yang menjadi poin keberatan antara lain adalah terdapatnya 6 klub yang promosi gratis ke liga kasta tertinggi, jumlah klub peserta yang dinilai terlalu banyak, serta direhabilitasi-nya sejumlah klub yang sedang dikenai sanksi tanpa melalui mekanisme kongres. Kondisi ini diperparah dengan penunjukan badan baru sebagai pengelola Liga, yang sebelumnya dipegang oleh PT. Liga Indonesia. Pengelola baru ini dianggap tidak profesional, salah satunya tercermin lewat draft jadwal Liga yang dikeluarkan, dimana terdapat beberapa jadwal yang tidak masuk akal, seperti bertanding dua hari berturut-turut di tempat yang berjauhan. Hal ini mendorong beberapa klub untuk bersatu menolak Liga yang dikelola oleh PSSI, dan kembali berpihak kepada PT. Liga Indonesia sebagai pengelola Liga yang resmi. Kelompok ini biasa disebut "Kelompok 14" atau "K-14" karena anggota awalnya berjumlah 14 klub. K-14 ini kemudian menggagas sebuah Liga yang dikelola PT. Liga Indonesia, dan sepakat menggunakan nama seperti tahun lalu, yaitu Indonesian Super League, atau ISL.
