Tidaklah mengherankan ketika Milwaukee Bucks jadi tim yang kuat di musim ini, tapi tetap saja banyak yang kaget ketika dia jadi sangat dominan, dan untuk sementara menempati posisi teratas di seluruh NBA. Hingga artikel ini ditulis, rekor menang kalah Bucks adalah 53-9. Tadinya Bucks malah sempat diperkirakan bisa menyaingi rekor 73-9 GSW di musim 15/16, tapi menjadi agak sulit ketika Miami Heat memberikan kekalahan ke 9 untuk Bucks.
Yang menarik bagi saya, berbeda dengan Lakers yang diisi para mega bintang dan eks pemain bintang, Bucks ini disusun dari pemain-pemain yang awalnya dianggap medioker saja, tapi bisa membentuk tim yang solid dalam bertahan, yang dibuktikan menjadi yang teratas di defensive rating (101.0) NBA saat ini, serta tetap ganas dalam menyerang, posisi ke empat dalam offensive rating (112.8) NBA. Selain itu, Bucks juga memimpin di kategori lain seperti : Rebound Percentage, Player Impact Percentage, dan Pace.
Benarkah para pemain Bucks ini awalnya medioker? Mari kita lihat statistik di bawah ini :
No
Name
Pos
Height
Weight
Age
Draft
Pick
Games
Start
Min Played
1
Giannis Antetokounmpo
F
211
110
25
2013
15
56
56
1727
2
Khris Middleton
F
201
101
28
2012
39
53
50
1582
3
Brook Lopez
C
213
122
31
2008
10
59
58
1566
4
Eric Bledsoe
G
195
97
30
2010
18
54
54
1460
5
Wesley Matthews
G
193
100
33
2009
Und
59
59
1453
6
Donte DiVincenzo
G
193
92
23
2018
17
57
22
1308
7
George Hill
G
191
85
33
2008
26
51
0
1087
8
Pat Connaughton
G
196
95
27
2015
41
58
0
1053
9
Ersan İlyasova
F
206
107
32
2005
36
54
7
864
10
Robin Lopez
C
213
127
31
2008
15
57
3
815
11
Kyle Korver
G
201
96
38
2003
51
47
0
782
12
Sterling Brown
G/F
196
99
24
2017
46
44
0
629
13
D.J. Wilson
F
208
105
23
2017
17
30
0
259
14
Marvin Williams
F
203
108
33
2005
2
9
0
157
15
Dragan Bender
F/C
213
113
22
2016
4
7
0
91
16
Thanasis Antetokounmpo
F
198
99
27
2014
51
17
1
73
17
Frank Mason
G
180
86
25
2017
34
5
0
23
Team Average
28.53
Starter utama Bucks bukanlah top pick pada masanya dulu. Pick tertinggi adalah Brook Lopez, yaitu ke 10 yang waktu itu di pick oleh New Jersey Nets. BroLo kemudian sempat ke Lakers, dan kurang berkembang disana. Di Bucks, dia jadi bigman yang sangat berguna dalam skema serangan Bucks, bahkan hanya dengan berdiri menjauh dari ring. Posisinya sebagai center yang handal dalam menembak three point membuat bigman lawan harus memilih antara menjaganya keluar yang artinya menyisakan lubang di tengah yang bisa dieksploitasi Giannis, atau tetap bertahan under basket untuk mencegah drive masuk, tapi tentu akan meninggalkan BroLo terbuka di luar.
Berikutnya tentu saja adalah si MVP, Giannis "Greek Freak" Antetokounmpo. Mengeja namanya memang cukup susah, tapi tidak seberapa dibanding kesusahan dalam menjaga pergerakannya. Giannis yang dulunya tinggi cungkring berubah menjadi pemain yang sangat atletis dengan kemampuan komplit. Setelah sebelumnya terkenal karena langkahnya yang panjang dan loncatannya yang tinggi, kini Giannis melengkapi senjatanya dengan kemampuan three point dan perimeter shoot. Dan tampaknya dia belum mencapai potensi tertingginya. Pemain yang besar akan dilawannya dengan kecepatan, pemain cepat akan dilawan dengan kekuatan badannya, maka kemampuan shoot dari jarak jauh akan membuatnya unstoppable, karena double/triple team akan membuat rekannya bebas dari penjagaan.
Eric Bledsoe adalah pick ke 18 di tahun 2010. Dia adalah primary ball handler di Bucks yang memiliki kecepatan sekaligus kekuatan. Bersama Giannis, Bledsoe masuk All-Defensive First Team NBA tahun 2019.
Khris Middleton telah berubah dari pemain 2nd round draft pick menjadi pemain All Star. Musim ini dia sudah mengemas 128 three point sukses dari 43% success rate. Trio Giannis-Bledsoe-Middleton adalah trio yang sangat menakutkan.
Starter terakhir adalah Wesley Matthews. Lebih "parah" dari Middleton yang 2nd round pick player, Matthews malah Undrafted ketika diambil oleh Utah Jazz di 2009, dan kemudian nyaris selalu menjadi starter dimanapun dia bermain.
Dari seluruh roster, pick tertinggi justru adalah Marvin Williams, yang meskipun di tahun 2005 adalah draft nomor 2 dan sempat membuat Atlanta Hawks kembali menjadi tim langganan playoff, di Bucks hanya mendapatkan menit sedikit. Lalu juga ada Dragan Bender yang bahkan sudah di trade ke GSW.
Sekedar sebagai pembanding, mari kita lihat statistik "Super Team" Golden State Warriors di musim 2015-2016 yang masih memegang rekor kemenangan terbanyak babak reguler NBA.
No
Name
Pos
H
W
Age
Draft
Pick
1
Draymond
Green
F
198
104
25
2012
35
2
Stephen
Curry
G
191
84
27
2009
7
3
Klay
Thompson
G
198
98
25
2011
11
4
Harrison
Barnes
F
203
102
23
2012
7
5
Andre
Iguodala
F
198
98
32
2004
9
6
Shaun
Livingston
G
201
87
30
2004
4
7
Andrew
Bogut
C
213
118
31
2005
1
8
Leandro
Barbosa
G
191
91
33
2003
28
9
Brandon Rush
G
198
100
30
2008
13
10
Marreese
Speights
C
206
116
28
2008
16
11
Festus
Ezeli
C
211
120
26
2012
30
12
Ian Clark
G
191
79
24
2013
Und
13
James
Michael McAdoo
F
206
109
23
2014
Und
14
Anderson
Varejão
C
211
124
33
2004
30
15
Jason
Thompson
C
211
113
29
2008
12
16
Kevon
Looney
F
206
101
19
2015
30
Team Average
27.38
Tidak ada personil tim ini yang ada di top 5 draft pick, tapi di tangan Steve Kerr bisa diolah menjadi super team yang sangat dominan melawan tim manapun. Tim ini adalah tim bersejarah yang mampu mengubah cara bermain banyak tim di NBA, dan kembali mempopulerkan pola permainan small ball.
Lalu akan menjadi seberapa besarkah impact Milwaukee Bucks di musim ini di NBA? Tentunya kita harus menunggu hingga akhir musim, mengingat musim lalu ketika mereka sudah menjadi yang terbaik di Wilayah Timur, mereka akhirnya dikalahkan oleh Raptors yang dipimpin oleh Kawhi Leonard. Meskipun musim ini rekor mereka 2-0 ketika melawan Raptors yang sudah tidak lagi diperkuat Kawhi, namun mereka masih mencatat 1-1 melawan Celtics yang punya defense bagus, dan 0-2 ketika berhadapan dengan Miami Heat. Artinya di timur pun Bucks belum bisa santai.
Tetap kita patut angkat topi untuk Coach Mike Budenholzer yang mampu meramu tim ini menjadi solid dan memiliki masa depan cerah, paling tidak untuk satu dua tahun ke depan. Tim yang awalnya ada di posisi ketiga di prediksi awal musim, di bawah Clippers dan Lakers, kini jadi paling favorit untuk jadi juara.
So, prediksi Final NBA tahun ini, masih, Bucks vs Lakers. Duel tim minim star yang hustle, melawan pemain-pemain matang yang perlu pembuktian.
Well, it's been a while. Ternyata musti nunggu setahun biar bisa tergerak nulis sesuatu disini. Blog masih relevan gak sih? Apa harus pindah ke youtube? Yah, buat kali ini bodo amat lah. Lagi pingin nulis aja.
Sebagai swing fan NBA yang klub idolanya ganti-ganti setiap musim, musim ini ada excitement tersendiri yang cukup berbeda. Bursa transfer awal musim ini mengubah banyak sekali peta kekuatan NBA. Setelah menjadi bagian dari Raptors yang juara tahun lalu, Kawhi Leonard pindah ke Clippers untuk bergabung bersama Paul George. Musim lalu Clippers adalah tim underdog yang bermental baja, maka ekspektasi publik akan makin kuat dengan berkumpulnya salah dua two-way players terbaik dunia. Di awal musim, LA Clippers ada di puncak bursa taruhan.
Raptors yang ditinggal Kawhi ternyata masih tampil meyakinkan, dan saat artikel ini ditulis, Raptors masih nyaman di posisi 4 wilayah timur. Franchise record 13 kemenangan beruntun, bahkan. Pascal Siakam makin panas, dan Lowry tetap membara.
Milawukee Bucks yang menguat signifikan. Hingga minggu ke 13, NBA power ranking nya masih teratas. Giannis yang sudah powerfull, ditambah makin bagus shoot 3 point nya. Ketika Giannis, Middleton, dan Bledsoe maen bareng, susah dibendung mereka ini. Sama seperti musim lalu, Bucks masih memimpin di wilayah timur. Saat ini malah masih terbaik di NBA, diatas semua tim dari barat.
Miami Heat adalah kejutan besar di timur. Jimmy Butler keluar saripati nya, jadi leader, eksekutor, playmaker, sekaligus nyawa utama di tim yang minim bintang. Kendrick Nunn dan Tyler Herro adalah rookie yang tadinya jarang disebut, jadi bersinar terang. Bam Adebayo malah masuk All Star.
Mega-swap yang juga menarik adalah pertukaran Russell Westbrook dan Chris Paul. Westbrook yang sejak lama jadi franchise player OKC Thunder memutuskan untuk bergabung dengan teman lamanya, James Harden di Rockets untuk membentuk super duo. Memang sedikit menimbulkan tanda tanya karena dua orang ini selama ini dikenal sebagai stat padder yang lebih tertarik mencatat rekor pribadi dibanding prestasi tim. Tapi bagaimanapun dua-duanya adalah mantan MVP, jika bisa diselaraskan Rockets akan makin berbahaya. Dari kepindahan itu OKC Thunder mendapatkan playmaker senior, Chris Paul. Belakangan ternyata bersama Shai Gilgeous-Alexander yang didapat dari hasil pertukaran Paul George ke Clippers, dan Denis Schroder yang sudah bergabung setahun sebelumnya, mereka membentuk trio playmaker-attacker yang susah dibendung.
Tapi dari semua kejutan itu, yang paling menyenangkan adalah menonton LA Lakers bermain. Sejak GSW begitu perkasa dibawah pimpinan Stephen Curry, kemampuan three point menjadi skill yang amat sangat diperlukan oleh sebuah tim untuk bisa dominan. Maka gaya bermain di NBA juga mengalami perubahan signifikan, bahkan para bigman pun sekarang jadi pada jago three point. Memang tidak salah dan tidak jelek, tapi bagi saya pribadi, ada excitement yang hilang ketika para pemain lebih banyak melakukan shoot jarak jauh. Sebagai "orang lama", saya begitu bahagia ketika melihat para pemain-pemain top dunia ini terbang-terbang menyerang ring basket, hal yang saya rasa berkurang di Curry-era ini. Musim ini, ada tim yang berhasil memunculkan kebahagiaan itu, dengan tetap menjadi dominan, paling tidak untuk saat ini. Tim itu adalah LA Lakers.
Lakers tahun ini dirombak hampir total. Musim lalu, meskipun sudah ada LeBron James, Lakers masih berlabel tim muda potensial. Roster nya diisi pemain muda seperti Brandon Ingram, Lonzo Ball, Josh Hart, dan Kyle Kuzma. Tahun ini, Lakers berisi megabintang dan mantan megabintang yang kuat di semua lini. Yang pertama adalah Anthony Davis. Davis adalah salah satu pemain terbaik di NBA yang selama ini seakan terpenjara di Pelicans. Tinggi besar dengan shoot yang bagus dan bisa attack the rim, AD bisa mengisi posisi 4 dan 5, bisa menjadi scorer utama, sekaligus bisa bertahan dengan sangat baik. Enam kali all star, tiga kali all-NBA first team, beberapa kali masuk NBA all-defensive team plus tiga kali jadi NBA Blocks Leader, AD jadi aset paling berharga Lakers di transfer tahun ini, sangat sebanding dengan keluarnya para anak muda berbakat yang awalnya dianggap akan mengubah wajah Lakers beberapa tahun ke depan.
AD pun masih didukung dua bigman yang juga memiliki nama besar, yaitu JaVale McGee dan Dwight Howard. JaVale McGee bagaimanapun juga adalah juara NBA yang menjadi salah satu punggawa GSW ketika mendominasi NBA. Meskipun dulu lebih sering dibahas karena seringnya dia ada di Shaqtin' A Fool, McGee ini cukup atletis dan mempunyai vertical jump yang bagus dalam mengantisipasi pergerakan lawan di bawah ring.
Sebenarnya ada satu lagi pemain bintang yang seharusnya bersaing dengan McGee di posisi center, yaitu DeMarcus Cousins. Sayangnya dia kembali cidera setelah tahun lalu sempat comeback di akhir-akhir musim bersama Warriors. Akhirnya Boogie digantikan dengan center bernama besar yang sempat mendominasi para bigman pada jamannya, Dwight Howard. Howard memang pernah bergabung dengan Lakers dengan ekspektasi besar lalu dianggap gagal total, sehingga bergabungnya dia kembali dengan Lakers banyak menimbulkan keraguan. Nyatanya, meskipun tidak lagi seatletis dulu, kemampuannya dalam bertahan, vertical jump dan perannya dalam pick and roll masih sangat berguna dalam roster Lakers. Jadi ketika McGee harus beristirahat, Lakers masih punya center yang handal dan tidak marah ketika harus memulai dari bangku cadangan.
Adanya Davis, McGee dan Howard ini membuat Lakers punya banyak opsi dalam rebound dan attack the rim, sekaligus bisa menyajikan dunk dan alley-oop dunk yang mampu membangkitkan gelora seisi lapangan. Terbukti Lakers bisa bermain cerdik, pick and roll atau transisi cepat, passing lambung, loncat, dan powerfull dunk. Sungguh nikmat sekali menyaksikan itu lagi. Showtime.
Tapi, sehebat-hebatnya para pemain itu meloncat, bola tidak akan sampai dengan manis ke tangan mereka jika tanpa adanya peran dari : Playmaker.
Lakers juga diisi playmaker-playmaker cerdas. Posisi asli LeBron James mungkin Small Forward, tapi LBJ sering memegang bola. Sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah NBA, kemampuan paling menonjol LBJ adalah visi permainan. Hal itu bisa membuat dia mampu membuat lawan waspada, bahkan menarik beberapa pemain bertahan untuk keluar, serta bisa membaca arah pergerakan teman, dan kemudian melakukan passing ke arah yang tidak terbaca oleh lawan tapi nyampe dengan mulus ke arah gerak temannya. Lalu terciptalah ooh dan aah itu.
Ada pula Rajon Rondo. Rondo adalah salah satu underrated hero yang membawa Boston Celtics juara di tahun 2008. Memang big three nya adalah Kevin Garnett, Ray Allen, dan Paul Pierce, tapi Rajon Rondo lah yang banyak bertanggung jawab atas lancarnya aliran bola. Rondo juga memiliki visi bermain yang cerdas, susah ditebak, dan mampu memberikan banyak assist. Meskipun sudah termasuk veteran, adanya Rondo mampu memberikan dimensi permainan yang berbeda ketika dimainkan dari bangku cadangan.
Lalu ada pemain kecintaan para pembuat meme sedunia, yaitu Alex Caruso. Kisah Caruso ini seperti Lakers nggak sengaja nemu duit di jalan. Tidak diperhitungkan, bahkan dibuang oleh tim lain, tapi kemudian punya peran penting di tim sekaliber LA Lakers. Caruso masuk NBA di 2016 undrafted, dan diambil oleh OKC Thunder, lalu di waive setahun kemudian. Di summer league 2017, Caruso join ke Lakers dan ternyata bermain bagus ketika menggantikan Lonzo Ball. Dia kemudian mendapatkan two-way contract bersama Lakers. Musim lalu, dia mencetak rekor pribadi 32 point ketika menang melawan Clippers, dan rekor 11 assist ketika melawan Jazz. Dari undrafted, dia berevolusi menjadi relevant role player. Sejak awal musim ini, dia resmi dikontrak dua tahun oleh Lakers, dan kepercayaan itu dibayar dengan perannya sebagai salah satu playmaker, yang ternyata juga dilengkapi dengan kemampuan three point, plus beberapa dunk yang selalu disambut gegap gempita oleh para penonton.
Tim dengan banyak bigman yang sering menyerang ring, akan diantisipasi dengan banyaknya pemain bertahan yang menumpuk di sekitar bawah ring. Untuk itu, diperlukan ancaman dari luar untuk menarik para pemain bertahan. Lakers juga punya pemain andalan untuk menyerang dari luar garis three point.
Yang utama adalah Danny Green.
Danny Green adalah teman lama LeBron di Cavaliers dulu, meskipun kemudian jadi juara NBA dua kali justru bersama Spurs dan Raptors. Dengan mendapatkan Green, artinya Lakers mempunyai starter shooting guard yang jago three-point dan seorang perimeter defender handal. Dengan parkirnya Green di pojokan akan memecah konsentrasi defender lawan untuk memperketat paint atau keluar menjaga garis three point, sekaligus menjadi pengganggu playmaker atau shooter lawan ketika sedang bertahan. Two way player seperti Green ini adalah aset yang sangat berharga terutama untuk tim yang ingin juara.
Selain Green, Lakers juga punya Kentavious Caldwell-Pope, Avery Bradley, Kyle Kuzma, dan tentu saja LeBron James untuk membidik dari luar garis three point. Dan tidak bisa diremehkan juga kemampuan AD, Rondo, Caruso, serta Quinn Cook (jika dimainkan) untuk memberi efek kejutan, juga dari jarak jauh. Yang cukup mengagetkan, musim ini JaVale McGee dan Dwight Howard juga bisa sukses mengeksekusi three point, yang secara otomatis mengundang gemuruh penonton, mengingat kemampuan shoot mereka yang aslinya biasa-biasa saja, bahkan free throw pun sering gagal.
Semenghibur apapun permainan sebuah tim, akan menjadi hambar ketika tidak berprestasi. Percuma dong sekedar menyenangkan penonton, tapi gagal lagi gagal lagi. Nah, Lakers tahun ini punya bekal yang cukup untuk mengejar juara NBA, karena mereka memiliki defender-defender handal. Ingat kata coach Bear Bryant, "offense wins games, defense wins championships". Tanpa defense yang handal, akan sangat susah sebuah tim untuk jadi juara, sehebat apapun offense mereka.
Danny Green sudah jadi juara NBA berkat kemampuan defense nya. Avery Bradley adalah salah satu figur penting dalam sistem defense Boston Celtics di bawah asuhan Brad Stevens, hingga pernah disebut Damian Lillard sebagai the best perimeter defender di NBA. Dan ternyata, Avery Bradley pernah memenangkan sebuah dunk contest di tahun 2009, mengalahkan Mason Plumlee dan Derick Favors. Duet starter Green dan Bradley diharapkan akan menutup ketat pintu pertahanan Lakers dari serbuan playmaker-playmaker cerdik dan shooter-shooter jitu.
Di bawah ring, Lakers dipenuhi pemain-pemain bertahan yang juga hebat. Anthony Davis adalah bagian dari All-NBA defensive team. Kehadirannya di sekitar ring tentu akan menjadi tantangan besar untuk lawan yang berencana menyerang ke dalam. Musim ini AD mencatat rata-rata 9,4 rebounds per game, dan 2,6 blocks per game.
Dwight Howard di masa jayanya adalah defender kokoh. Saat ini, meskipun memiliki menit bermain lebih terbatas, Howard mencatat rata-rata 7,3 rebound per game dan 1,5 block per game.
JaVale McGee termasuk lincah untuk ukuran bigman, terutama setelah menjadi vegan di masa keemasannya bersama Warriors. Meskipun menitnya juga terbatas karena berbagi dengan Howard, McGee masih secara konstan menghadang penetrasi dan shoot-shoot di sekitar paint area.
Baik Davis, McGee, maupun Howard masuk di daftar top 20 blocks per game musim ini.
Saat ini, defensive rating Lakers ada di peringkat tiga dibawah Bucks dan Raptors.
Faktor penting lainnya dalam mengarungi musim kompetisi setahun penuh adalah deretan pemain cadangan. Di bagian ini, Lakers termasuk dianugerahi kemewahan. Selain starter Green-Bradley-James-Davis-McGee, Lakers juga punya nama-nama yang sudah dikupas sebelumnya seperti Howard, Rondo, dan Caruso. Dan jangan lupa disana juga ada KCP alias Kentavious Caldwell-Pope, Kyle Kuzma, Troy Daniels, Jared Dudley dan Quinn Cook.
KCP sebelumnya terkenal karena inkonsistensinya, tapi musim ini tampaknya berkat dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh teman-teman setimnya, terutama LeBron James, KCP menjelma menjadi pemain yang handal, bisa menggantikan Avery Bradley ketika cidera, bertahan dengan baik, dan mencetak skor baik lewat shoot jarak jauh maupun transisi yang cepat. Musim ini 3pt percentage nya lebih dari 40%.
Kyle Kuzma adalah pemuda potensial yang tertinggal. Sempat dianggap best-draft-steal, musim ini Kuzma belum benar-benar optimal pasca cidera. Memang belum stabil benar, tapi Kuzma mampu menghadirkan energi anak muda dan backup yang tidak mengecewakan ketika LeBron James sedang istirahat atau tidak bermain. Dengan 43.6 FG% dan 34,6 3PT%, Kuzma diharapkan jadi backup scorer yang bisa diandalkan.
Troy Daniels memang hanya mendapatkan menit per game sekitar 11,7, namun sebagai pemain dari bangku cadangan, 39,8 FG% dan 35,7 3PT% cukup penting artinya bagi keseluruhan tim.
Quinn Cook adalah salah satu pemain cadangan Warriors ketika jadi juara tahun 2018. Senjata utama Cook adalah kemampuan shootingnya, plus kemampuan playmaking ketika playmaker utama sedang istirahat, meskipun Cook hanya bermain 26 kali dengan rata-rata 12,8 menit per game.
Kehadiran Jared Dudley di ruang ganti sebagai veteran berpengalaman rasanya cukup penting. Ya memang jarang dimainkan, tapi pemain 34 tahun ini bisa menjadi veteran presence yang menghadirkan kematangan, dan mungkin juga jaga-jaga kalo tiba-tiba butuh bodyguard untuk berantem.
(Jared Dudley, berantem tanpa alasan)
Kombinasi para pemain LA Lakers itu membuat saya (semakin) antusias nonton NBA lagi, karena semua jenis hiburan yang membuat saya jatuh cinta pada basket makin banyak muncul. Dunk, alley opp, assist, block, lockdown defense, three point, off the ball movement.
Makin hepi lagi, ketika faktanya Lakers nggak segitu dominannya. Tim-tim lain pun begitu kompetitif. Sebagian besar tim NBA sekarang jadi menarik untuk ditonton, baik karena permainan, reputasi pemain, maupun drama-drama di sekelilingnya. Tiap game makin ketat.
Meninggalnya Kobe Bryant adalah kesedihan semua penikmat olahraga di dunia, tidak hanya basket. Tapi buat Lakers pasti nilainya berbeda, jauh lebih dalam, bisa jadi motivasi ekstra untuk menjadi juara di musim ini.
Well, Lakers tentu nantinya akan sangat susah payah berjuang di barat dalam menghadapi LA Clippers dengan bench nya yang sangat dalam, lalu jika lolos akan menghadapi juara wilayah timur, yang kemungkinan adalah Bucks setelah mengalahkan Raptors. Apapun itu, NBA musim ini bagi saya pribagi terasa semakin ceria lagi.
Apalagi setelah minggu lalu nonton All Star. Best All Star game I've ever seen. Dan itu bukan hiperbola. Dan bukan saya saja yang berpendapat demikian.
Tulisan tentang All Star sebentar lagi. Kalo sempet.
Sebelumnya, selamat tahun baru 2019, sodara-sodara.
Ada
dua hal yang bikin saya excited di dunia sepakbola di sebulan terakhir.
Yang pertama adalah menggeliatnya perhatian banyak pihak akan match fixing di sepakbola Indonesia. Pengaturan skor bukanlah hal baru di sepakbola, apalagi di Indonesia.
Tapi dari dulu tidak pernah ada tindakan-tindakan yang bisa memunculkan
optimisme di kalangan suporter bola tentang hal ini. Baru kali ini,
dipicu oleh acara Mata Najwa yang mengangkat episode "PSSI Bisa Apa?"
dan dilanjutkan dengan "PPSI Bisa Apa Jilid 2",
tema pengaturan skor terangkat lagi. Ada runner angkat bicara, manajer
klub sepakbola mulai bernyanyi, beberapa pentolan PSSI di masa lalu
mulai banyak bercerita, para pemain mulai mengutarakan isi pikirannya,
twitter dan instagram makin menggelora yang menggoda PSSI untuk
mengundangnya, hingga pihak kepolisian yang membentuk satgas khusus
untuk menangani ini. Secara skeptis, bisa saja ini ditunggangi
orang-orang demi kepentingan politik, atau kepentingan lain selain
sepakbola. Tapi dengan sebegitu ramainya dibicarakan, dan dengan mulai
ditangkapnya beberapa nama yang disebut-sebut orang-orang penting
dibalik skandal pengaturan skor, kita sebagai penikmat sepakbola bisalah
sedikit punya optimisme bahwa masalah match fixing bisa
dipetakan secara lebih detil dan jelas, sehingga akan sangat membantu
untuk menanggulanginya. Ujung-ujungnya akan menghasilkan dunia sepakbola
yang profesional dan menarik. Pemain bagus, masa depan cerah, dan liga
yang menarik untuk ditonton. Terus terang, saya sendiri sudah sangat
lama tidak mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, selain timnas
junior yang moncer itu.
Hal menarik kedua ini lebih menyenangkan : Akhirnya Manchester United memecat Mourinho!!!!!
Sebagai salah satu pengikut Nabi Pep Guardiola,
saya tidak suka dengan cara Mourinho menanamkan filosofi permainan pada
timnya, meskipun tetap menaruh respek. Tidak suka karena sudah terbukti
Mourinho hanya spesial ketika menangani tim semenjana yang memainkan
sepakbola dengan pertahanan super solid dan minim inisiatif menyerang.
Saya menyebutnya sebagai sepakbola reaktif, yang menunggu lawan
menyerang, diredam dengan pertahanan tebal, lalu secepatnya menyerang
balik, dan kemudian bertahan kembali. Namun tetap respek, karena bisa
mengatur pertahanan se rapi itu pun tidaklah mudah, perlu ditanamkan
karakter tertentu pada para pemainnya. Dan pertahanan super itulah yang
membuat pola menyerang ala Pep bisa mendapatkan tantangan yang
sebanding, untuk kemudian berkembang lagi karena selalu mencari cara
untuk menembus tembok itu. Maka terwujudlah tim Barcelona yang
legendaris itu.
Ya,
saya tidak suka Mourinho karena saya rasa karakter permainannya hanya
cocok ketika diterapkan di tim semenjana. Porto adalah kuda hitam di
Eropa. Chelsea kala itu juga belum menjadi tim papan atas karena selalu
di bawah bayang-bayang kehebatan Manchester United dan Arsenal. Inter
dibawa meraih treble winner karena saat itu Liga Italia bukan lagi liga
papan atas Eropa, dan berhasil memenangkan Liga Champion dengan bermain
bertahan. Lagi-lagi saya katakan bahwa itu bukanlah hal buruk, tapi
bukan permainan yang saya sukai untuk ditonton. Ketika Mou kembali ke
Chelsea, dia tak bisa sukses lagi, karena Chelsea sudah jadi tim papan
atas Liga Inggris, yang pride nya cukup terganggu ketika harus bermain
bertahan.
Begitupun ketika melatih
Real Madrid. Memang Real Madrid sukses menghilangkan inferioritasnya
atas Barcelona, namun selain itu tidaklah ada yang istimewa. Friksinya
dengan Casillas yang mempengaruhi keharmonisan timnas Spanyol menjadi
salah satu bukti bahwa yang paling utama untuk Mourinho adalah kejayaan
pribadi, entah bagaimanapun caranya. Bagi saya, kiprah Mou di Real
Madrid adalah kegagalan.
Karena itu ada aneka perasaan campur aduk ketika dulu MU mengontrak Mou sebagai manager, sebagaimana pernah saya tulis disini.
Tim cinta pertama saya dilatih oleh manager yang paling tidak saya
sukai. Padahal Liverpool mengontrak Klopp, dan City mengontrak Pep. MU
tampak suram sekali. Hingga hampir dua tahun kemudian, belum ada
tanda-tanda munculnya optimisme pada permainan MU, padahal Chelsea,
Arsenal, Spurs, dan Liverpool menunjukkan perbaikan performa signifikan.
Maka sebegitu bahagianya saya ketika Mou dipecat.
Memang
nggak akan bisa menjadikan MU ada di jalur juara Liga Inggris tahun
ini, tapi minimal ada peluang untuk memiliki harapan baru yang sudah
mentok di era Mou. Apalagi ketika yang diangkat jadi caretaker adalah si
babyfaced assassin, Ole Gunnar Solksjaer. Meskipun bukan pemain
inti, Solkajer adalah legenda. Striker cadangan yang sangat produktif,
tidak tertinggal jauh dari duo Andy Cole dan Dwight Yorke. Tidak ada
fans MU yang tidak ingat golnya (dan gol Teddy Sheringham) di final Liga
Champion melawan Bayern Muenchen.
Solksjaer
memang belum punya pengalaman melatih tim besar, namun kiprahnya ketika
melatih di tim masa kecilnya, Molde, cukup menarik perhatian. Di bawah
kepemimpinannya, Molde meraih juara Liga Norwegia untuk pertama kalinya.
Dan salah satu hal yang sangat menarik buat saya, dalam menjalankan
kepelatihannya, kadang dia menggunakan game simulasi sepakbola paling terkenal, Football Manager,
untuk mengantisipasi cara-cara mengalahkan lawannya. Sebuah kabar baik
untuk orang-orang sok tau yang merasa paling hebat karena bertahun-tahun
sukses menjadi manager sepakbola virtual di game itu, seperti saya.
Solksjaer
ada di MU ketika MU menjadi salah satu tim terhebat di Eropa dengan
gaya permainan menyerang yang sangat menghibur. 91 golnya di Manchester
United meskipun memulai dari bangku cadangan bukanlah catatan yang
buruk. Bagi saya itu cukup menggambarkan kemampuannya membaca arah
permainan, dan kemudian memanfaatkan celah-celah yang tersedia meski
tidak dibekali kemampuan fisik dan teknis yang superior dibanding
pemain-pemain lain. Semangat pemenang dan kemampuannya membaca
pertandingan, ditambah dengan susahnya strateginya diantisipasi lawan
karena relatif kurang dikenal, akan membuat MU menjadi agak susah untuk
diprediksi.
Selalu
menang di lima laga awalnya, memunculkan kembali kebahagiaan ketika
menonton permainan MU. MU tampil menyerang, maka mendorong para
pemainnya untuk menjadi kreatif dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala
potensi yang dimiliki. MU diisi banyak pemain muda yang memiliki potential ability
diatas rata-rata, akan sangat sayang apabila ditanami filosofi
sepakbola bertahan. Saya yang sudah lama absen menonton pertandingan MU
live di tivi, mulai memiliki keinginan untuk sesering mungkin mengintip
cara Solksjaer memimpin adik-adiknya itu. Membayangkan Pogba yang
trengginas ditemani Juan Mata yang cerdik, Herrera yang cerdas, atau
Matic yang solid, menjadi inisiator serangan yang di eksekusi oleh para
young guns yang fit dan bertenaga seperti Rashford, Martial, Lukaku,
Lingard atau Alexis Sanchez. Potensinya sangat besar, berharap bisa
melihat pola serangan yang mengalir, kreatif, dan enerjik.
Pun begitu di lini pertahanan. David De Gea sudah bertahun-tahun menjadi tulang punggung pertahanan MU. Luke Shaw pernah jadi wonderkid, ini adalah waktunya untuk menjadi world class fullback setelah sekian lama dibekap cidera. Valencia dan Ashley Young memang bukan fullback murni,
tapi pengalamannya menjadi pemain sayap yang suka ngebut bisa jadi
bekal dalam menjadi playmaker dari sayap terluar. Juga masih ada Darmian
dan Dalot yang juga pemuda berbakat. Duet starter bek tengah mungkin
masih akan dihuni Lindelof dan Phil Jones, dan dibantu oleh Bailly dan
Smalling.
Tidak berlebihan jika saya berharap para pemain ini bisa direvitalisasi oleh si pembunuh berwajah bayi ini.
Sungguh di tahun baru ini menjadi semangat yang juga baru karena melihat MU yang baru. Mari kita tunggu.
Fase grup Piala Dunia 2018 sebentar lagi berakhir, melahirkan banyak sekali drama yang cukup mengejutkan. Spanyol nyaris tidak lolos grup, Argentina harus tanding mati-matian lawan Nigeria, Brazil-Jerman-Perancis pun susah payah. Yang tampil digdaya justru Belgia dan Inggris, dua tim yang diisi bintang-bintang Liga Inggris. Buat saya ini cukup menarik.
Pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, yang jadi juara dunia adalah Spanyol. Kala itu Spanyol bermain sangat cantik, dimotori oleh trio pemain kunci Barcelona, yaitu Iniesta-Xavi-Busquets. Di saat yang sama itu pula, Barcelona sedang gila-gilanya, dominan di Liga dan di Eropa dengan identitas gaya permainan sepakbola yang melegenda. Pemain Barcelona mendominasi susunan roster timnas Spanyol. Selain tiga pemain tadi juga ada Pique, Puyol, Pedro, dan Valdes. Rasa-rasanya waktu itu Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol, tinggal kasih satu instruksi sederhana : bermainlah seperti Barcelona. VdB tinggal duduk manis setelah itu, dan hasilnya : juara.
Kemudian di Brazil, Piala Dunia 2014 dimenangi oleh Jerman. Jerman yang sangat kolektif didominasi oleh para pemain Bayern Muenchen, seperti Muller, Lahm, Kroos, Neuer, Gotze, Boateng, dan Schweinsteiger. Kekompakan para pemain itu di level klub bisa tertular ke timnas, sehingga lebih mudah untuk menciptakan kohesi dan chemistry, lalu sukses membawa Jerman ke pencapaian tertinggi di tahun itu.
Dua negara itu, Spanyol di 2010 dan Jerman di 2014, memiliki satu kesamaan yang menarik, yaitu Liga lokal negara-negara itu sedang didominasi oleh tim yang dilatih oleh satu orang yang sama : Josep Guardiola. Ya, Pep adalah pelatih Barcelona di 2010, yang baru saja memborong 6 tropi di awal musim, dan kembali jadi juara liga di akhir musim. Pep juga pelatih Bayern Muenchen di tahun 2014, dimana Pep selalu dominan di Bundesliga meskipun selalu gagal di Liga Champion.
Photo by Gareth Copley/Getty Images
Di tahun 2018 ini, kondisi yang mirip kembali terulang, dimana Pep Guardiola sedang melatih sebuah klub yang sangat dominan di Liga lokalnya, padahal dalam beberapa tahun terakhir Liga itu sedang sangat kompetitif dan tak terduga. Pep Guardiola sedang menjadi manajer dari Manchester City, yang baru saja jadi juara Liga Inggris dengan berlari ngebut sendirian meninggalkan para rival di belakang. Pep Guardiola sedang mengubah Liga Inggris menjadi Liga Perancis atau Liga Jerman. Perbedaan yang paling mencolok dibanding dua kondisi sebelumnya adalah bahwa kali ini pemain-pemain kunci Pep di klubnya bukanlah tulang punggung tim nasional. Jika waktu itu di Spanyol dan Jerman diisi 7 pemain dari klub yang sedang ditangani Pep, di Piala Dunia kali ini timnas Inggris hanya dihuni empat pemain Manchester City, yaitu John Stones dan Kyle Walker sebagai pemain belakang, Fabian Delph di tengah (atau belakang), dan Raheem Sterling di depan. Memang Walker-Stones-Sterling adalah starter yang berperan penting, namun di timnas Inggris tidak berperan sebagai otak permainan.
Timnas Inggris tahun ini sebenarnya relatif kurang bertabur bintang jika dibandingkan era-era sebelumya. Pemain yang paling bersinar adalah Harry Kane. Inggris tidak punya superstar macam Messi, Ronaldo, De Bruyne, Neymar, Modric, ataupun Pogba. Namun dalam dua pertandingan awalnya, permainan Inggris yang menang tipis di game pertama melawan Tunisia kemudian bangkit dan sukses menghajar Panama. Memang kemenangan lawan Panama belum terlalu bisa dibanggakan, tapi paling tidak Inggris sudah menemukan ritme yang lebih baik di game kedua mereka. Bisa jadi soliditas lini belakang yang dikomandoi duo Manchester City berperan penting disana. Menarik sekali untuk melihat game ketiga Inggris nanti ketika menghadapi Belgia yang sama-sama eksplosif, dan sama-sama dipenuhi pemain yang bermain di Liga Inggris.
Jika berpatokan pada pola sejarah, dan memperhatikan kesamaan-kesamaan itu, bukan tidak mungkin Inggris bisa menghapus kutukan mediokrisi yang selama ini menjangkiti mereka di gelaran Piala Dunia, dan melaju cukup jauh. Apalagi didukung dengan permainan kurang meyakinkan dari tim-tim unggulan.
Pep Guardiola bisa menularkan auranya pada Spanyol di tahun 2010 dan Jerman di 2014, maka tidaklah berlebihan jika Inggris yang tadinya dikenal dengan tim medioker meski bertabur bintang, di tahun ini berubah menjadi tim bintang meski berisi pemain-pemain muda medioker. Saya bukan fans timnas Inggris, atau malah bukan fans timnas manapun di Piala Dunia kali ini, tapi melihat tim seperti Belgia dan Inggris bermain bagus dan menang, saya cukup bahagia.
Setelah sekian lama, para fans Inggris mungkin bisa berharap pada Another Pep Effect.
Maka terjadilah sudah, empat tahun berturut-turut final NBA mempertemukan Cleveland Cavaliers dan Golden State Warriors. Saya sendiri cukup sebel, karena sebenarnya menginginkan atmosfir final yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa daya pertempuran kali ini masih merupakan pertarungan Superman versus Superteam itu.
Dibanding beberapa tahun terakhir, NBA tahun ini sebenarnya sangat menarik karena beberapa hal :
Pertama, banyak rookie yang menarik perhatian dengan menjadi orang penting di tim nya. Fultz kurang oke karena cidera, Lonzo Ball tampak bagus sebagai playmaker meskipun kalah mentereng dari Kyle Kuzma si rookie draft pick 27 yang mainnya lebih dahsyat, Jayson Tatum bisa menutupi ketiadaan Gordon Hayward, bahkan mungkin lebih bagus, hingga nyaris mengantar Celtis ke final sekaligus hampir menyamai rekor Kareem Abdul-Jabbar di total poin playoff oleh rookie. Ben Simmons memimpin Sixers menjadi stabil sepanjang tahun, Donovan Mitchell menjuarai dunk contest dan langsung menjadi superstar utama Utah Jazz, Lauri Markkanen jadi andalan Bulls, dan performa meyakinkan dari nama nama seperti Dennis Smith Jr, Bogdan Bogdanovic, dan Josh Jackson.
Kedua, Juara Wilayah yang baru. Timur dipimpin oleh Raptors, dan barat tidak lagi dijuarai Warriors, melainkan Rockets.
Ketiga, persaingan sangat merata. Pertarungan menuju playoff terus terjadi hingga mendekati akhir musim. Satu kali kekalahan saja bisa membuat peringkat melorot 3-4 tingkat. Setiap pertandingan jadi punya arti, dan seru untuk ditonton.
Keempat, Playoffs pun sangat kompetitif. Ya, mungkin pengecualian untuk Raptors-Cavs. Hampir semua pertandingan sangat menarik untuk ditonton, karena sama-sama punya peluang untuk saling mengalahkan. Bahkan final wilayah, baik barat maupun timur, sama-sama harus sampai game 7.
Namun hal-hal menarik itu menjadi kurang mengejutkan ketika akhirnya tim yang bertemu di Final ya itu-itu lagi. Tadinya saya membayangkan apa yang akan terjadi jika Brad Stevens bisa membawa Irving-less Celtics menghadapi Rockets yang dikomandoi CP3, atau paling tidak, penasaran bagaimana defense ketat Celtics dalam membendung badai three points Warriors, atau mampukah Capella atau Tucker menghadang LeBron James. Kini semua harapan itu musnahlah sudah. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa LeBron Thanos James lagi-lagi harus berperang melawan Warriors' Avengers.
Diatas kertas, tidak sulit meramal hasil pertandingan final ini. Skuad inti Warriors tetap sama, dengan dukungan bench yang tidak kalah hebatnya dengan tahun lalu, meskipun kali ini Iguodala sedang cidera. Masalahnya ada di Cavaliers nih. Tahun lalu ketika masih ada Irving saja, Cavaliers tumbang 4-1. Itupun susah payah dalam meraih kemenangan yang satu itu. Nah tahun ini LeBron James tidak memiliki partner yang lebih meyakinkan daripada Irving, apalagi Kevin Love sedang cidera pula. Maka akan sangat sedikit yang meramalkan Cavaliers bisa menang. Bahkan bukan tidak mungkin tahun ini Warriors akan melakukan sweep.
Maka final ini terasa seperti anti klimaks atas serangkaian keseruan yang terjadi sepanjang musim, termasuk Playoffs nya.
Namun sebaiknya kita tidak meremehkan LeBron James begitu saja. Masih ada peluang yang akan membawa Cavs mengalahkan GSW, atau paling tidak menyajikan pertarungan seru.
Pertama, semangat balas dendam. Seperti yang dibilang Pak Guru di sekolah, mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Ini bisa jadi pembakar semangat utama LeBron James dan pengikutnya.
Kedua, tidak mengikuti tempo cepat Warriors. Houston Rockets bisa mengalahkan Warriors di game 4 dan 5 Final Barat salah satunya karena faktor Chris Paul yang mampu mengatur tempo permainan, thanks to kemampuan dribble dan playmaking nya yang super, plus ketenangannya dalam mencetak poin ketika rekan-rekannya yang lain sulit memasukkan bola ke keranjang. Cara ini bisa diadopsi Cavs supaya Warriors nggak seenaknya aja poan poin, shat shoot shat shoot sana sini. Lha tapi siapa yang pegang bola? Mau nggak mau ya LBJ. Siapa yang bakal berjuang cetak poin? Siapa lagi, ya LBJ juga.
Ketiga, LeBron James tetap sehat wal afiat. Most Point : LBJ. Most Assist : LBJ. Most rebound : LBJ top three lah. Most minutes : LBJ. Most block : ya mungkin LBJ juga. Kalo LBJ nggak fit, apalagi cidera, ya selesai.
Keempat, semoga para shooter Cavs bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Masak udah nggak bisa jaga possession, kalah rebound, nggak bisa nge lock musuh, disuruh shoot masih gagal juga? Mbok ya jadi teammates yang berguna. Lha wong sebenarnya Shooternya banyak. Korver, Smith, Green, Hill, Love, dan (lagi-lagi, meskipun nggak terlalu) LBJ. Rockets kalah di game 7 salah satu faktor terbesarnya adalah gagal masuk three point 27 kali berturut-turut. Masuk 4 saja sebenernya udah bisa bikin Rockets ke final. Dikawal roster yang sangat berpengalaman (baca : tua), seharusnya kendala mental pemain Cavs lebih bisa di manage dengan baik.
Kelima, hustle defense. Sepanjang musim, defense Cavs tidak cukup meyakinkan. Peringkat kedua dari bawah!! Rockets yang rating defense nya nomor 6 saja tetep kalah lawan GSW, gimana yang peringkat 29? Tapi tenang, di playoff rating defense Cavs naik ke peringkat 7, mengungguli Rockets, Bucks, dan Spurs. Jadi pada dasarnya Cavs tetap punya kapasitas untuk bertahan ketat yang bikin lawan frustrasi, apalagi Tristan Thompson yang udah balik bisa rebound lagi, dan Larry Nance yang nggak takut berduel dengan mengandalkan badannya yang atletis. Sayangnya Love masih meragukan untuk tampil di game 1. Remember, good offense can win you a game, good defense will win you a championship. Lalu, tim mana yang defense rating nya paling bagus selama playoff? Dia adalah, Warriors. Nah lo.....
Defensive Rating NBA 17/18, Reguler Season :
Defensive Rating NBA 17/18, Playoffs :
Keenam, konspirasi NBA dan bandar judi. Nggak seru kan kalo final NBA cuman 4 game. Ada potensi penghasilan yang hilang dong? Penghasilan bandar judi juga berkurang dong? Makanya jumlah game harus dipertahankan sebanyak mungkin demi makin bertambahnya pundi-pundi kekayaan mereka.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, yang paling saya inginkan dari game ke game di NBA ini adalah drama nya. Entah itu sedih, senang, kecewa, ataupun hyper-excited. Mengingat terlalu banyak kekecewaan yang muncul dari sepakbola, dengan gagalnya Barcelona di UCL, Lazio gagal masuk UCL tahun depan, MU nggak dapet piala apa-apa, dan Arema yang bikin tepok jidat, maka antusiasme mengikuti NBA makin membesar, dan berharap mendapatkan hiburan yang membuat hari-hariku menjadi cerah ceria.
Yah, kans Warriors memang tetap lebih besar untuk menang, dan mungkin itu akan menjadi bekal kuat buat tim lain untuk lebih serius mempersiapkan diri jelang musim depan demi meruntuhkan hegemoni The Avengers ini, karena tampaknya empat (plus satu) pemain terbaik mereka masih akan tetap bermain bersama musim depan. Saya sendiri memberikan respek yang sangat tinggi terhadap para superstar Warriors yang sepertinya meletakkan pencapaian pribadi dan tingginya gaji di tempat yang lebih rendah daripada pencapaian tim secara keseluruhan, untuk membentuk supertim yang hebat secara individu sekaligus padu secara tim. Namun atas nama kebutuhan drama dan kebosanan yang melanda, saya dukung siapapun untuk jadi juara, selama itu bukan Golden State Warriors.
Btw, disarankan untuk menanggapi poin keenam diatas dengan tidak serius.
Yang harus disalahkan pertama adalah Pep Guardiola. Dia bersalah karena sempat meletakkan standar yang begitu tinggi dan ideal yang nyaris tercapai. Guardiola lah yang bertanggung jawab pada permainan kolektif yang sangat menghibur, dan membawa Barcelona menjadi tim yang dominan, merajai dunia, serta menjadi standar bagaimana sepakbola itu harus dimainkan. Dalam prosesnya, Guardiola membangun pondasi permainan tim dari pemain-pemain yang berasal dari akademi sendiri, sekaligus mempersiapkan beberapa pemain lain dari La Masia untuk diharapkan menjadi pemain kunci di masa yang akan datang. Permainan menghibur, bintang-bintang besar, diisi pemain akademi sendiri, dominan, dan prestasi yang terus mengalir yang juga berarti banyak penghasilan untuk klub, sebuah kombinasi yang mengundang banyak orang untuk mencintai, yang datang dengan ekspektasi sangat tinggi, tanpa sadar bahwa kondisi seperti itu belum tentu datang 10 tahun sekali. Standar tinggi itu selalu terpatri di benak mayoritas fans Barcelona, sehingga sulit menjadi bahagia dan dibahagiakan. Bayangkan, Luis Enrique berhasil membawa Barcelona mendapatkan treble, tapi banyak yang memintanya untuk dipecat. Valverde sukses mendapat gelar La Liga dan Copa Del Rey, tapi hashtag #ValverdeOut juga merebak bahkan sejak tengah musim, padahal sepanjang musim hanya sekali kalah di Liga.
Yang bersalah kedua adalah Real Madrid. Ya tentu saja dari kacamata fans Real Madrid ini bukanlah kesalahan. Terbayang betapa ringannya jadi fans Real Madrid. Sepuluh tahun hanya dapat satu gelar Liga adalah hal yang biasa saja, toh semua tertutupi dengan empat gelar Liga Champion dalam 5 tahun terakhir. Barcelona dapat tujuh, lho. TUJUH. Tujuh banding satu ya lumayan lah ya. Bandingkan dengan Liga Champion, dalam 10 tahun terakhir Barcelona bisa mengumpulkan tiga, dibandingkan dengan empat milik Madrid. Tidak terlalu jauh memang, tapi Madrid melakukan itu dengan dahsyat, karena tiga diantaranya berturut-turut, ditengah mitos sebelumnya bahwa sekedar mempertahankan juara saja sangat sulit. Bahkan (arguably) The Best Barcelona in history saja empot-empotan dalam mengejar itu tanpa pernah meraihnya. Dalam rentang 10 tahun itu pula, Barcelona meraih dua treble, yang salah satunya sapu bersih seluruh kompetisi lainnya. Itupun bukan hal yang istimewa-istimewa amat di mata fans Barcelona, selama mereka tidak bermain dengan indah, dalam standar masing-masing tentunya. Perbedaan standar kebahagiaan ini membuat hidup fans Barcelona sebenarnya dipersulit sendiri. Ya, saya juga.
Ketiga, faktor Zinedine Zidane. Awalnya banyak yang menganggap bahwa Zidane akan menjadi Guardiola-nya Madrid. Legenda di timnya, pernah menanangani tim junior, lalu membawa tim senior menuju kejayaan. Bedanya kemudian, Zidane lebih terlihat menonjol dalam man management yang mampu membuat para pemainnya percaya dan mengeluarkan kemampuan optimalnya, namun tidak mencatatkan identitas pada pola permainannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kelemahan, tapi lama-lama bisa jadi itulah kelebihannya. Semua lawan Real Madrid selalu menduga apa yang akan dilakukan Zidane, bisa baik dan juga bisa buruk. Bahkan di kalangan fanbase, termasuk fanbase Real Madrid sendiri, Zidane tidaklah dikenal sebagai tactical genius. Tadinya sayapun meremehkan kemampuan Zidane, dan menganggap kejayaan Real Madrid di Liga Champion banyak didukung faktor kebetulan. Tapi kalo bisa konsisten meraih juara hingga empat kali dalam lima tahun, keyakinan terhadap kebetulan tersebut harus dipertanyakan. Mungkin Zidane sengaja menjebak pikiran semua orang bahwa dia agak abal-abal, tapi kemudian menghajar siapapun yang meremehkan dia.
Keempat, Cristiano Ronaldo. Untuk sebagian fans Barcelona, perbandingan Messi vs Ronaldo tidak pernah ada, karena sekedar dibandingkan aja udah nggak pantes. Messi sejak awal sudah tak tertandingi tak sekedar karena kemampuannya mencetak gol, tapi juga memahami permainan, kemampuan memberikan assist, kebisaan playmaking khas La Masia, dan membawa timnya menjadi dominan siapapun yang ada di sekitarnya, bahkan dengan mengisi posisi yang berbeda-beda. Ibaratnya, ketika ada yang menganggap bahwa Ronaldo bisa disejajarkan dengan Messi, maka orang itu sudah dianggap beda "agama" dan pemahaman dalam sepakbola, sehingga debat tidak perlu dilanjutkan karena hanya akan meributkan "keyakinan", dan nggak bakal ada ujungnya. Sayangnya, Ronaldo pernah berprestasi besar dengan negaranya dengan meraih Piala Eropa, meskipun di final dia hanya berjuang dari pinggir lapangan. Sementara Messi yang membawa timnya yang semenjana menuju final turnamen penting tiga kali berturut-turut tetap dianggap fraud karena selalu gagal menjadi juara. Ronaldo juga berhasil menyamai raihan Ballon D'Or Messi, sehingga tema ini tidak lagi bisa jadi bahan untuk disombongkan. Di saat yang sama, ketika Messi sudah melewati Ronaldo dalam meraih sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak eropa, hal itu menjadi hal biasa saja, padahal seharusnya ini juga membuktikan bahwa "Ronaldo is the better scorer" tidak lagi valid. Lagi-lagi semua agak tertutup kenyataan ketika Ronaldo sudah memegang lima piala Liga Champion, sementara Messi baru tiga. Nah, ketimpangan antara keyakinan dan tulisan raihan itu cukup mengganggu tidur malam hari.
Kelima, barisan pengurus Barcelona. Well, yang ini lebih serius sekaligus mengawang-awang, karena sumber informasinya hanya dari berita. Dulu, jaman Real Madrid mengumpulkan para superstar sehingga akhirnya dijuluki Los Galacticos, Florentino Perez dianggap hanya mementingkan marketing tim tanpa benar-benar mengejar prestasi. Buktinya, pemain yang dibeli adalah para pemain bintang, tapi prestasi biasa saja, tidak istimewa. Tapi sekarang berbeda, ketika filosofi Los Galacticos tidak lagi dianut, Real Madrid justru banyak percaya pada pemain muda yang sebagian berasal dari akademi sendiri, dan banyak merawat pemain asli Spanyol, dengan otak permainan tetap bertumpu pada pemain tengah yang mampu mendikte permainan dan sangat hebat dalam mempertahankan bola. Sebuah filosofi yang "sangat Barcelona". Lalu lihatlah Barcelona sekarang. Semua dimulai dengan dijualnya Thiago ke Bayern Muenchen. Bukan benar-benar dijual sih, tapi klausul kontrak menyatakan bahwa release clause Thiago cukup rendah, namun akan menjadi tinggi jika memenuhi jumlah jam main tertentu. Kemudian Thiago jarang dimainkan, dan dia bebas memilih bermain di manapun, karena jelas tawaran yang datang tidak sedikit. Kemudian bertahun-tahun kemudian disusul dengan lepasnya Dani Alves yang ketika keluar menyatakan kekecewaannya pada pengurus. Lalu Xavi, lalu Iniesta, tanpa benar-benar direncanakan siapa yang akan meneruskan tugas mereka yang tadinya menjadi nyawa permainan indah Barcelona. Entah apa yang akan terjadi di Barcelona kelak ketika Messi tak lagi disana. Lalu Sandro Rosell dipenjara sehubungan dengan proses transaksi Neymar, posisinya sebagai Presiden diganti Bartomeu. Di 2015, mengingat prestasi Barcelona yang masih mentereng, Bartomeu kembali terpilih menjadi Presiden mengalakan Joan Laporta, sebuah hasil yang diprediksi banyak pihak akan membawa Barcelona menuju kemunduran dalam beberapa tahun ke depan. Awal musim 17/18 sesungguhnya sudah bisa menjadi tolak ukur dimana Barcelona hanya memperkuat lini tengahnya dengan pemain yang pernah gagal di Inggris, dan kemudian menjalani karir di Liga Cina, tanpa menghadirkan pemain tengah yang mampu menjadi pengatur permainan ala Xavi atau Modric. Padahal telah muncul beberapa nama, salah satunya Jean Michael Seri yang pada akhirnya juga gagal didaratkan di Camp Nou. Sementara Real Madrid yang tahun sebelumnya menjadi double winner justru dianggap memiliki skuad yang sangat lengkap dan seimbang. Superstar yang siap jadi starter, dan sekumpulan anak muda potensial yang tidak keberatan dicadangkan, tapi siap meledak ketika diperlukan. Real Madrid diprediksi akan dominan, sementara Barcelona adalah underdog. Sebuah posisi yang terbalik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tapi ya sudahlah, inilah kenikmatan menggemari sepakbola. Apalagi dengan rivalitas sengit seperti ini, drama yang dihasilkan cukup mengaduk-aduk perasaan, itu yang paling penting. At least Barcelona kembali punya tujuan besar untuk dikejar. Kalo lagi maen Football Manager, masih ada sembilan musim lagi untuk semangat menyalip raihan Liga Champion. Kembali dominan seperti era Guardiola tampaknya terlalu berlebihan dan
hanya menjadi semacam ilusi, yang penting menjaga agar tetap kompetitif
dan semoga dipersiapkan dari sekarang jika kelak Messi pensiun. Liga domestik adalah uji konsistensi, Liga Champion adalah uji eksplosifitas. Terbukti Real Madrid belum konsisten untuk menjadi eksplosif di tangan Zidane meskipun dikawal pemain-pemain dengan nama besar, hal ini bisa dilihat dari hebatnya Real Madrid di Liga Champion, tapi sering kalah atau seri di La Liga melawan tim-tim kecil. Namun Barcelona juga gagal untuk menjadi eksplosif di sejumlah kecil pertandingan, tapi di masa yang sangat krusial, seperti ketika melawan AS Roma di Olimpico. Musim depan akan menjadi tes yang baru lagi, dengan kemungkinan drama yang baru pula. Saingan utama Barcelona masih Real Madrid, baik di Spanyol maupun Eropa. Mungkin akan ada Bayern Muenchen, Manchester City, Juventus, atau PSG, tapi masih sedikit tertinggal di belakang duo tim Spanyol ini.
Momen-momen seperti inilah makin membuat saya jatuh cinta pada sepakbola.
Drama
/dra·ma/n Sas1
komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan
kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang
dipentaskan: dia gemar menonton --;2 cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater; 3cak kejadian yang menyedihkan; - (KBBI) -
Ketika saya sebut kata drama, apa yang ada di pikiran Anda? Tangisan lebay? Sejam lagi pesawat anda berangkat dan sekarang masih macet di tol? Atau kisah cewek baik hati dan tidak sombong dari keluarga miskin yang diperistri laki-laki kaya tampan dan jantan hingga membuat seorang wanita lain yang luar biasa cantik dan bohay menjadi iri dengki dan sering bicara sendiri dalam hati dengan mata melotot dan alis naik turun?
Bisa saja. Itu tidak salah.
Namun, dalam benak saya, drama adalah kejadian yang melibatkan emosi yang intens, apapun jenis emosinya, baik sedih, bahagia, kaget, was-was, ataupun jijik. Apapun.
Maka, berdasarkan yang saya rasakan, Laki-Laki juga butuh drama.
Paling tidak, SAYA butuh drama.
Dan saya laki-laki.
Kesimpulannya : Laki-laki butuh drama.
Generalisasi yang sangat cerdas bukan?
Enggak?
Oke.
Lama sekali saya nggak nonton sinetron. Atau malah lama sekali saya nggak benar-benar menonton acara yang disiarkan oleh stasiun televisi. Sinetron terakhir yang saya ikuti betul adalah Para Pencari Tuhan sekitar tiga tahun lalu. Dan acara televisi non-olahraga terakhir yang dengan penuh kesadaran dan keinginan kuat saya tonton adalah : lupa. Saya lupa terakhir nonton apa dan kapan.
Namun saya merasa cukup banyak drama yang saya rasakan dari televisi dan juga media lainnya. Tanpa musti nonton sinetron.
Drama itu saya dapatkan dari : aneka acara olahraga.
Valentino Rossi seharusnya bisa meraih gelar juara yang ke tujuh di balapan terakhir musim itu. Namun start dari posisi terakhir akibat sanksi dari balapan sebelumnya membuat misinya sedikit terhambat. Kemudian menjadi sangat sulit ketika Marquez yang biasanya ngotot dan ngeyel tiba-tiba jadi lembek dan terkesan mengalah pada Lorenzo. Lalu Lorenzo jadi juara. Padahal Rossi lah yang paling stabil selama musim itu. Dan Rossi adalah kesayangan banyak penggemar MotoGP. Media pun menuduh ada konspirasi. Bahwa Marquez membantu Lorenzo secara tidak sportif. Ada yang sedih, marah, kecewa, ada juga yang bahagia dan lega. Saya termasuk yang terakhir itu.
Tahun 2002, Final Piala Thomas, Indonesia melawan Malaysia.
Marlev Mainaky dan Taufik Hidayat yang jadi andalan Indonesia ternyata gagal memenuhi ekspektasi. Untungnya dua ganda putra kita menang. Tibalah partai terakhir, giliran Hendrawan melawan Roslin Hashim. Sepanjang waktu deg-degan, hingga akhirnya Hendrawan banyak memaksa lawan untuk membuat kesalahan, dan memenangkan pertandingan itu. Indonesia juara Piala Thomas untuk ketiga belas kalinya. Hendrawan diarak, dan menangis. Bangga, lega, bahagia. Mungkin sebaliknya untuk warga Malaysia waktu itu.
Mike Tyson pada masanya adalah ikon besar yang sangat terkenal. Tak lengkap ngobrol tinju tanpa menyebut namanya. Sedangkan Holyfield adalah petinju berpengalaman yang juga punya nama besar. Ketika dua orang itu dipertemukan, semua mata di seluruh dunia tertuju kesana. Semua orang memiliki ekspektasi yang tinggi. Lalu apa yang terjadi? Serukah pertandingan itu? Ya, sangat seru. Namun bukan itu yang bakal dikenang sepanjang masa. Masalahnya adalah, Tyson menggigit kuping Holyfield. MENGGIGIT. KUPING. Aneh ga? Kaget, heran, jijik, terhibur.
Camp Nou, 1999. Menit ke 90.
Manchester United tanpa Roy Keane dan Paul Scholes dari awal, sedang ketinggalan 1-0 sejak menit ke enam. Tak banyak yang menduga, tiba-tiba bola itu masuk ke gawang Bayern Muenchen yang dijaga Oliver Kahn, melalui kaki Teddy Sheringham. Seri di injury time!!! Kemudian seluruh penjuru dunia yang menyaksikan pertandingan itu kembali tersentak, ketika dua menit setelah gol itu terjadi gol satu lagi dicetak oleh Ole Gunnar Solskjaer. MU membalikkan kondisi dan menang dengan skor 2-1 hanya dalam rentang waktu 3 menit. Shock, bahagia, kecewa, lega, deg-degan, euforia. Kemudian saya mulai menyukai sepakbola.
Final Liga Champion yang lain, 2014. Diego Costa yang jadi andalan Atletico Madrid harus keluar karena cidera, di awal-awal pertandingan, Dia memang dipaksa maen padahal sedang cidera. Menit 36, Cassillas yang salah posisi harus dihukum dengan gol yang tercipta akibat sundulan Diego Godin. Menang 1-0 dan kemudian bertahan total adalah keahlian Atletico Madrid kala itu. Maka menjadi tugas berat untuk Real Madrid untuk meraih gelar ke 10 yang sudah ditunggu sekian lama. Namun di menit 93, tiba-tiba muncul Sergio Ramos yang mencetal gol penyama kedudukan dan memaksa pertandingan lanjut ke babak tambahan. Kondisi fisik yang lelah, plus mental yang sedang down, melawan Real Madrid yang justru lagi semangat-semangatnya membuat partai itu tidak lagi berimbang. Skor akhir 4-1, Real Madrid akhirnya meraih La Decima. Tegang, bahagia, dan euforia. Tapi itu untuk fans Real Madrid. Saya fans Barcelona, dimana mendengki prestasi Real Madrid adalah menjadi bagiannya.
Liga Inggris adalah Liganya tim-tim kaya raya yang diisi pemain-pemain bintang berskill tinggi dan bergaji mahal. Tapi tengoklah klasemen akhir musim 2015/2016, yang juara adalah : Leicester City!!! Tepat setahun sebelumnya, tim ini adalah pejuang penghindar degradasi. Duit transfer yang tersedia ga ada apa-apanya dibanding yang disediakan Chelsea, City dan MU. Namun prestasi gemilang itu mampu membuat nama Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan Ngolo Kante naik daun, menjadi pemain top dunia, berasal dari tim semenjana dengan prestasi luar biasa. Skenario yang biasa kita mainkan di Football Manager untuk membawa sebuah tim semenjana jadi juara, terwujud di dunia nyata berkat tim yang dilatih Ranieri ini.
Final NBA 2016.
Golden State Warriors adalah tim hebat yang baru saja mencetak rekor reguler dengan 73 kemenangan sepanjang musim. Hampir semua pemain punya keahlian shoot 3 point yang jitu. Stephen Curry dan Klay Thompson adalah duo mantan juara three point yang bekerjasama dengan sangat manis. Lawannya adalah Cleveland Cavaliers yang tahun lalu kalah di final dari mereka juga, meski ada LeBron James yang dianggap pemain aktif terbaik sedunia. Saat itu adalah game ke 5, posisi 3-1 untuk Warriors. Sekali menang lagi, juaralah Warriors, tumbanglah Cavaliers. Tak dinyana, LeBron James kesurupan, memimpin timnya memenangi game ke 5 itu. Lalu terus memenangi 2 game selanjutnya. Cavaliers juara. Tidak ada yang menduga. Setelah kalah 3-1 duluan. Lawan tim sekuat Golden State Warriors. Heran, kaget, bahagia, dan ada yang kecewa.
Itulah drama. Betul-betul menguras emosi secara intens melalui kejadian asli yang sedang terjadi, meskipun ada saja yang berfikir bahwa mungkin ada setting tak terlihat disana sini. Whatever.
Drama seperti itu membuat acara olahraga sangat menarik untuk dinikmati.
Meskipun saya fans Barcelona, saya tidak menikmati apabila Barcelona sedang mendominasi dan keseringan menang disana-sini jauh meninggalkan rivalnya. Saya lebih suka musim ini, ketika Real Madrid yang tidak stabil itu tampak seperti ingin mengaspal jalan Barcelona untuk jadi juara Liga dengan beberapa kali seri di pertandingan yang seharusnya dimenangkan dengan mudah, namun Barcelona kemudian memilih untuk lewat jalan makadam, karena juga ikutan kehilangan poin penting di pertandingan-pertandingan yang juga seharusnya bisa dimenangkan. Barcelona tidak juara, tapi sepanjang musim ada hal menarik untuk diikuti. Kecewa, berharap, bahagia, dan kemudian kecewa lagi, itu serangkaian emosi yang mengaduk-aduk perasaan dan kadang terbawa hingga tidur malam, bahkan ketika bangun esok hari.
Hysteria ketika Lazio memastikan gelar juara Liga Italia di menit terakhir pertandingan terakhir, yang diwarnai merangseknya ribuan penonton ke tengah lapangan hingga membuat para pemain nyaris telanjang, ternyata melekat di kepala dalam jangka waktu lama. Kesenangan karena permainan cantik dan prestasi juaranya ya, bukan karena Veron yang nyaris telanjang.
Nikmat dan pedihnya perasaan yang diaduk-aduk karena drama-drama itu sangat adiktif. Membuat hidup terasa sepi ketika memasuki bulan-bulan Mei sampai Juli ketika liga sepakbola internasional, NBA, dan gelaran Motogp sedang libur.
Sabtu lalu, Cavaliers akhirnya memutus catatan
selalu menang Golden State Warriors di Playoff musim ini. Meskipun tahun
lalu Cavs sukses mencatat sejarah dengan membalikkan keadaan paska
kalah 3-1 di final, tahun ini kondisi itu diramalkan bakal sangat berat
diulang, mengingat karena bergabungnya satu orang super di tim yang udah
super. Orang itu adalah Kevin Durant.
Bergabungnya Durant ke
Warriors adalah drama besar pertama musim ini. Ketika musim lalu Thunder
nyaris mengalahkan Warriors di final wilayah barat, sebenarnya musim
ini adalah kesempatan besar buat Thunder untuk bisa melenggang ke final
NBA dengan penyempurnaan sana sini. Di artikel sebelumnya
bahkan saya cukup optimis ada tim lain yang akan mampu menggoyang
hegemoni Warriors. Eh, lha kok tulang punggung Thunder malah bergabung
di tim super yang tulangnya udah kebanyakan. Buat saya dan banyak fans
NBA lainnya, ini nggak fair. Kesannya Durant ini penakut, kalo ga bisa
kalahin Warriors ya join aja. Gitu.
Padahal jika menggunakan sudut
pandang Durant sendiri, ga ada yang salah sebenernya. Ada tim yang
berisi orang-orang yang memainkan basket secara keren, dia sendiri lagi
free , dan ada kesempatan join karena masalah salary cap clear, so why
not? Durant hepi, tim barunya hepi, ga ada kesepakatan yang diingkari,
ga ada masalah sih sebenernya.
Tapi...
Durant itu world best three
lah menurut saya. Dia punya kapasitas untuk membawa tim medioker menuju
kejayaan dengan dia sebagai intinya. Sebuah hal yang dilakukan oleh
pemain-pemain top NBA dalam sejarah. Sebagaimana Tim Duncan membawa
Spurs, Michael Jordan membawa Bulls, Kobe Bryant membawa Lakers, dan
LeBron James membawa Cavaliers. Dengan pindah ke warriors, Durant
seperti merendahkan dirinya sendiri, menjadi pemain yang hebat, tapi
nggak pake banget. Pemain hebat join ke tim hebat, lalu juara, ya wajar,
apa hebatnya?
Lihat saja di 3 game awal final NBA. Cavaliers
terlihat sangat meyakinkan. Meyakinkan untuk menjadi runner up NBA
setelah dikalahkan 4-0.
Game 3 itu adalah drama pertama di final.
Cavaliers untuk pertama kalinya tampak seperti mulai bisa mengimbangi
Warriors. Jika di game 1 dan 2 Cavs susah banget untuk menyamakan skor,
di game 3 mereka memimpin dalam jangka waktu yang lama. Sayang sekali
menjelang akhir pertandingan, Korver yang dapat tugas memperlebar jarak
keunggulan gagal mengeksekusi 3 point, yang kemudian dibalas dengan
fastbreak yang diakhiri dengan 3 point Durant. Kurang ajar emang ini
orang. Benar-benar faktor pembeda musim ini. Walhasil, Cavs gagal
menang, dan skor jadi 3-0. Drama. Drama atas kisah perjuangan yang
NYARIS menang. Tapi nggak jadi. Dramatis kan?
Game 4
kemarin itu adalah drama kedua. Drama game 4 itu dimulai dengan
performa ngotot Cavaliers dari sejak awal pertandingan, yang
mengakibatkan skor nya sangat tinggi, rekor poin dalam satu kuarter di
final NBA sepanjang masa, plus 3 pemain Warriors yang dapet 2 fouls. Ini
penting.
Cavs sepertinya akan susah membendung offense Warriors,
jadi daripada konsentrasi memperkuat defense, Cavs justru menaikkan
intensitas dalam offense. Ndilalahnya, tangannya pada wangi. Akhirnya
mereka mencetak rekor 3 point terbanyak di final NBA, dengan memasukkan
24 kali. Hebat. Intens. Dari kemarin kek....
Satu
kemenangan ini buat saya cukup dramatis. Pertama karena mereka batal di
sweep sama Warriors, sekaligus menggagalkan catatan 16-0 di playoff yang
pertama kali dilakukan oleh tim di NBA. Kedua, karena Cavs menunjukkan
potensi yang sesungguhnya mereka bisa, dengan berbagai cara, termasuk
bermain keras dan sedikit pengaruh dari wasit yang bisa diperdebatkan
untuk dikritisi.
Ketiga, potensi untuk drama selanjutnya tetap terbuka.
Musim
lalu itu sangat dramatis. Cavs bisa menang dari tim hebat yang mencatat
rekor 73 kemenangan di musim reguler, bahkan setelah ketinggalan 3-1,
adalah drama besar yang layak untuk diceritakan selama bertahun-tahun.
Lha tahun ini kondisinya makin ekstrim. Tim supernya ditambahin pemain
super. Jadi super kuadrat dong seharusnya.
Jadi kalo Cavs bisa
membalikkan keadaan, yang mana itu adalah hal yang tampaknya amat sangat
sulit sekali, maka kadar intensitas dramatisasinya akan meningkat tajam
dibanding tahun lalu.
Jadi, saya memprediksi Warriors akan tetep juara, mengingat luar biasanya tim ini. Ada 4 pemain all star, secara individu jelas hebat. Secara tim mereka juga kompak dan dinamis, dengan pergerakan tanpa henti dan salah satu tim dengan assist terbanyak. Defense juga ketat, dikomandoi Draymond Green yang berenergi. Ketika waktunya rotasi, pemain cadangannya juga kuat, terbaik di NBA musim ini, mungkin juga terbaik sepanjang masa. Ketika upaya-upaya itu macet, kasih aja ke Curry atau Durant. Benar-benar susah dihentikan.
Tapi, harapan saya adalah Cavs (lagi-lagi) menyajikan drama, dengan intensitas yang lebih besar. Dengan permainan ngeyel berintensitas tinggi dan adu fisik, terbukti mampu membuat Warriors goyah juga. Jadi, sesuper apapun timnya Steve Kerr itu, masih ada celah yang bisa diserang. Jika ada satu orang yang mampu memimpin timnya untuk melawan tim yang bisa jadi adalah tim terbaik NBA sepanjang masa, orang itu adalah LeBron James. Dengan sudut pandang berbeda, perlu ada sebuah tim hebat pemegang rekor kemenangan terbanyak yang sudah dihuni oleh lebih dari satu pemain all star, dua juara 3 point contest, kandidat defensive player of the year, dan masih ditambah dengan akuisisi satu orang lagi pemain super hebat, untuk mengalahkan seorang LeBron James yang sudah berusia 32 tahun. Begitulah kira-kira gambaran hebatnya orang ini, meskipun tak bisa dipungkiri pentingnya pemain yang ada di sekitarnya.
Lalu, untuk sekedar melanjutkan
skenario harapan itu dan kehausan saya akan drama, akan menjadi menarik apabila musim depan Durant akan
kembali ke Thunder, disusul James Harden dan Serge Ibaka, untuk
bergabung kembali dengan Westbrook yang makin dewasa, membentuk tim baru (tapi lama)
yang super, menuntaskan harapan publik yang beberapa tahun lalu optimis
pada masa depan Thunder. Cavaliers, Warriors, bisa lewat semua.