09 Maret 2020

Take A Look At Lazio 19-20

Sebuah musim yang aneh ketika nonton Lazio maen lebih menyenangkan daripada nonton Barcelona. Itulah yang terjadi di musim ini. Selain karena Barcelona nya memang sulit menemukan permainan cantiknya lagi, Lazio memang sedang bagus-bagusnya. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk euforia karena Lazio untuk sementara berada di peringkat kedua klasemen Serie A, selisih satu poin dengan Juventus. Lazio yang beberapa musim terakhir berjuang untuk masuk zona eropa, saat ini cukup layak untuk membicarakan gelar juara.

(source : sslazio.it)

Sebenarnya apa yang terjadi?

Nggak tau juga, karena itulah saya agak kaget. Cukup lama bagi saya tidak mengikuti perkembangan Lazio, selain karena minimnya tayangan Serie A di televisi, sangat sedikit juga blog atau channel youtube yang membahas perkembangan Lazio. So, mari kita coba kupas sedikit-sedikit jeroan Lazio yang sekarang dilatih oleh Simone Inzaghi sejak 2016 ini.


Ini adalah daftar pemainnya :


No Nama Posisi Umur Tinggi Berat Warga Negara Maen Starter Gol Assist KK KM
17 Immobile, Ciro  F 29 6'1" 80 Italy 26 25 27 7 4 0
1 Strakosha, Thomas  G 23 6'4" 80 Albania 26 26 0 0 1 0
10 Luis Alberto  M 26 6'0" 70 Spain 25 25 4 11 4 0
21 Milinkovic-Savic, Sergej  M 24 6'3" 76 Serbia 25 24 4 4 6 0
33 Acerbi, Francesco  D 31 6'4" 89 Italy 24 24 2 2 4 0
11 Correa, Joaquin  M 24 6'2" 77 Argentina 22 17 7 1 0 0
6 Leiva, Lucas  M 32 5'10" 74 Brazil 22 21 0 1 7 0
26 Radu, Stefan  D 32 6'0" 79 Romania 22 22 1 0 6 0
20 Caicedo, Felipe  F 30 6'0" 81 Ecuador 21 11 8 2 4 0
29 Lazzari, Manuel  M 25 5'9" 67 Italy 21 18 0 2 4 0
19 Lulic, Senad  M 33 6'0" 75 Bosnia & Herzegovina 20 20 0 3 6 0
3 Luiz Felipe  D 21 6'2" 79 Brazil 19 18 1 1 5 0
16 Parolo, Marco  M 34 6'0" 82 Italy 17 6 0 0 5 0
22 Jony  M 27 5'10" 77 Spain 15 6 0 1 2 0
32 Cataldi, Danilo  M 24 5'11" 75 Italy 14 1 1 0 3 0
4 Patric  D 25 6'0" 74 Spain 12 10 0 0 1 0
77 Marusic, Adam  D 26 6'1" 81 Montenegro 10 8 2 0 2 0
15 Bastos  D 27 6'0" 77 Angola 8 3 1 0 2 0
93 Vavro, Denis  D 22 6'3" 0 Slovakia 5 1 0 0 0 0
34 Adekanye, Bobby  F 20 5'7" 0 Netherlands 3 0 1 0 1 0
28 Anderson, Andre  M 19 5'11" 0 Italy 2 0 0 0 0 0
5 Lukaku, Jordan  D 24 5'11" 83 Belgium 2 0 0 1 0 0
7 Berisha, Valon  M 26 5'9" 70 Kosovo 0 0 0 0 0 0
23 Guerrieri, Guido G 24 6'15" 0 Italy 0 0 0 0 0 0
24 Proto, Silvio G 36 6' 0 Belgium 0 0 0 0 0 0

Rata-Rata
26.56









Formasi default Lazio adalah 3-5-2, dengan starter di pertandingan terakhir melawan Bologna adalah sebagai berikut :

(source : livescore.com)

Entah kenapa, Lazio selalu bisa mendapatkan kiper yang bagus-bagus, meskipun tidak termasuk tim yang punya banyak duit. Setelah era Marchegiani dan Peruzzi di masa lalu, Lazio pernah diperkuat oleh Juan Pablo Carrizo, Fernando Muslera, Federico Marchetti, dan saat ini, Thomas Strakosha. Strakosha bahkan didatangkan dengan nyaris gratis, dibina sejak usia muda, dibeli dari Panionios tahun 2012. Sempat dipinjamkan ke Salenitana, Strakosha baru menjadi kiper utama Lazio sejak 2017. Masih berusia 23 dan nyaris tidak ada tekanan sebesar kiper muda lainnya, Donnaruma misalnya, gawang Lazio tampaknya masih aman hingga beberapa tahun ke depan. Kiper yang bagus adalah syarat utama sebuah tim menjadi tim besar.

Deretan pemain belakang relatif tidak memiliki nama besar, dan jarang yang menjadi incaran tim elit eropa. Starter di belakang yang paling sering dipercaya adalah Acerbi, Radu, dan Luiz Felipe. Francesco Acerbi adalah bek timnas Italia yang baru memulai debut di tahun 2014, dan saat ini baru memperoleh 6 caps. Stefan Radu sudah menjadi bek andalan Lazio sejak masih kecil, di tahun 2018, dan pernah jadi kapten di musim 2011-2012. Radu adalah pemain serba bisa, yang bahkan kadang berperan sebagai penyerang sayap. Luiz Felipe bergabung di Lazio sejak 2016, dan sempat dipanggil ke timnas junior Italia, tapi menolak karena bertekad untuk tetap membela negara kelahirannya, Brazil. Ada juga Patric yang adalah lulusan La Masia, berposisi asli bek kanan, tapi juga bisa menjadi pemain tengah atau gelandang bertahan. Sebenarnya Lazio masih punya Jordan Lukaku yang berposisi asli bek kiri, tapi dia sedang bermasalah dengan cidera. Meskipun nama-nama ini relatif kurang terkenal, tapi barisan belakang Lazio sangat kokoh, dengan tingkat kebobolan paling sedikit di Serie A.

Lini tengah adalah kekuatan utama Lazio, dimana Simone Inzaghi menumpuk banyak pemain dengan fungsinya masing-masing. Pemain paling penting, yang mungkin menjadi roh dan jantung permainan Lazio adalah Luis Alberto. Pemain Spanyol ini besar di Sevilla, sempat bermain di Barcelona B, dan pernah mencicipi permainan Premier League ketika dibeli Liverpool. Namun karirnya baru benar benar moncer di Lazio, sejak ditransfer tahun 2016 hanya dengan biaya 4juta euro saja. Dia adalah playmaker yang mengalirkan bola begitu lancarnya, karena memiliki visi yang tajam dan kemampuan memberikan passing yang manis. Luis Alberto menjadi pemuncak sementara pembuat assist di Serie A.
Yang banyak diincar tim besar eropa adalah Sergej Milinkovic-Savic. Pemain dari Serbia ini memiliki gaya permainan ala complete midfielder seperti hybrid antara Paul Pogba dan Yaya Toure. Dengan postur yang tinggi dan kuat, dia cukup baik dalam pergerakan offensive, positional sense, bagus dalam bertahan dan kadangkala membantu tim lewat finishing.
Lalu ada Lucas Leiva, pemain Brazil yang pernah 10 tahun membela Liverpool, pemain tengah yang tidak cepat dan juga tidak skillful, tapi memiliki stamina, workrate, dan antisipasi yang bagus, sehingga bisa ditempatkan sebagai gelandang bertahan dan kadang-kadang menjadi bek tengah dadakan dengan alasan taktis.
Kemudian ada dua pemain muda yang juga bisa diandalkan. Yang pertama adalah mantan pemain SPAL yang sudah punya satu cap timnas Italia, Manuel Lazzari, dan eks andalan Sevilla, Joaquin Correa. Dan tidak lupa kehadiran veteran yang ternyata adalah kapten dan wakil kapten, yaitu Senad Lulic dan Marco Parolo.

Dominasi lapangan tengah tentu tidak bisa menghasilkan output optimal tanpa adanya finisher tajam. Lazio harus berterima kasih banyak kepada top scorer Serie A sementara, yaitu Ciro Immobile. Dengan catatan 27 gol, Immobile unggul 6 gol dari peringkat kedua, Cristiano Ronaldo. Musim ini bisa jadi musim paling produktifnya, karena gol terbanyak sepanjang karirnya terjadi di musim 17/18 dengan 29 gol. Di usia ke 30 ini, Immobile sudah menjalani 39 partai bersama timnas Italia, dan mencetak 10 gol. Immobile bisa berperan sebagai target man ataupun penyerang sayap. Dia memiliki kecepatan dan kekuatan fisik, serta pekerja keras dengan insting finishing yang makin tajam di usia senja. Kelebihan lain Immobile adalah dominan di udara, pergerakan tanpa bola yang bagus, dan punya keunggulan dalam link up play yang membuatnya ada di top 5 daftar pemberi assist Serie A. Lengkap juga ya ternyata. Kok bisa ya masih bertahan di Lazio?
Tandem Immobile adalah Filipe Caicedo. Tidak banyak informasi yang ada tentang striker dengan catatan gol terbanyak kelima sepanjang sejarah timnas Ecuador ini, tapi perannya dalam membuka ruang dan ancaman kedua setelah Immobile rupanya berperan penting dalam skema permainan Lazio.

Mungkin saya musti sedikit kecewa karena entah kapan bisa nonton Lazio lagi mengingat Serie A yang sedang dihentikan karena efek Covid-19, tapi saat ini membicarakan kemungkinan Lazio menjadi juara tidaklah berlebihan, meskipun juga tidak perlu dibesar-besarkan, mengingat kompetisi yang masih menyisakan 12 pertandingan lagi. Ketika artikel ini ditulis, Lazio sedang menjalani unbeaten run terpanjang di lima liga terbaik eropa, dengan catatan 21 pertandingan, thanks to Watford yang menghentikan laju kemenangan Liverpool.

 
-maheinberg, 2020-

05 Maret 2020

Take A Look At Milwaukee Bucks 19-20

Tidaklah mengherankan ketika Milwaukee Bucks jadi tim yang kuat di musim ini, tapi tetap saja banyak yang kaget ketika dia jadi sangat dominan, dan untuk sementara menempati posisi teratas di seluruh NBA. Hingga artikel ini ditulis, rekor menang kalah Bucks adalah 53-9. Tadinya Bucks malah sempat diperkirakan bisa menyaingi rekor 73-9 GSW di musim 15/16, tapi menjadi agak sulit ketika Miami Heat memberikan kekalahan ke 9 untuk Bucks.

(source : here)

Yang menarik bagi saya, berbeda dengan Lakers yang diisi para mega bintang dan eks pemain bintang, Bucks ini disusun dari pemain-pemain yang awalnya dianggap medioker saja, tapi bisa membentuk tim yang solid dalam bertahan, yang dibuktikan menjadi yang teratas di defensive rating (101.0) NBA saat ini, serta tetap ganas dalam menyerang, posisi ke empat dalam offensive rating (112.8) NBA. Selain itu, Bucks juga memimpin di kategori lain seperti : Rebound Percentage, Player Impact Percentage, dan Pace.


Benarkah para pemain Bucks ini awalnya medioker? Mari kita lihat statistik di bawah ini :


No Name Pos Height Weight Age Draft Pick Games Start Min Played
1 Giannis Antetokounmpo F 211 110 25 2013 15 56 56 1727
2 Khris Middleton F 201 101 28 2012 39 53 50 1582
3 Brook Lopez C 213 122 31 2008 10 59 58 1566
4 Eric Bledsoe G 195 97 30 2010 18 54 54 1460
5 Wesley Matthews G 193 100 33 2009 Und 59 59 1453
6 Donte DiVincenzo G 193 92 23 2018 17 57 22 1308
7 George Hill G 191 85 33 2008 26 51 0 1087
8 Pat Connaughton G 196 95 27 2015 41 58 0 1053
9 Ersan İlyasova F 206 107 32 2005 36 54 7 864
10 Robin Lopez C 213 127 31 2008 15 57 3 815
11 Kyle Korver G 201 96 38 2003 51 47 0 782
12 Sterling Brown G/F 196 99 24 2017 46 44 0 629
13 D.J. Wilson F 208 105 23 2017 17 30 0 259
14 Marvin Williams F 203 108 33 2005 2 9 0 157
15 Dragan Bender F/C 213 113 22 2016 4 7 0 91
16 Thanasis Antetokounmpo F 198 99 27 2014 51 17 1 73
17 Frank Mason G 180 86 25 2017 34 5 0 23

Team Average


28.53





Starter utama Bucks bukanlah top pick pada masanya dulu. Pick tertinggi adalah Brook Lopez, yaitu ke 10 yang waktu itu di pick oleh New Jersey Nets. BroLo kemudian sempat ke Lakers, dan kurang berkembang disana. Di Bucks, dia jadi bigman yang sangat berguna dalam skema serangan Bucks, bahkan hanya dengan berdiri menjauh dari ring. Posisinya sebagai center yang handal dalam menembak three point membuat bigman lawan harus memilih antara menjaganya keluar yang artinya menyisakan lubang di tengah yang bisa dieksploitasi Giannis, atau tetap bertahan under basket untuk mencegah drive masuk, tapi tentu akan meninggalkan BroLo terbuka di luar.
Berikutnya tentu saja adalah si MVP, Giannis "Greek Freak" Antetokounmpo. Mengeja namanya memang cukup susah, tapi tidak seberapa dibanding kesusahan dalam menjaga pergerakannya. Giannis yang dulunya tinggi cungkring berubah menjadi pemain yang sangat atletis dengan kemampuan komplit. Setelah sebelumnya terkenal karena langkahnya yang panjang dan loncatannya yang tinggi, kini Giannis melengkapi senjatanya dengan kemampuan three point dan perimeter shoot. Dan tampaknya dia belum mencapai potensi tertingginya. Pemain yang besar akan dilawannya dengan kecepatan, pemain cepat akan dilawan dengan kekuatan badannya, maka kemampuan shoot dari jarak jauh akan membuatnya unstoppable, karena double/triple team akan membuat rekannya bebas dari penjagaan.
Eric Bledsoe adalah pick ke 18 di tahun 2010. Dia adalah primary ball handler di Bucks yang memiliki kecepatan sekaligus kekuatan. Bersama Giannis, Bledsoe masuk All-Defensive First Team NBA tahun 2019.
Khris Middleton telah berubah dari pemain 2nd round draft pick menjadi pemain All Star. Musim ini dia sudah mengemas 128 three point sukses dari 43% success rate. Trio Giannis-Bledsoe-Middleton adalah trio yang sangat menakutkan.
Starter terakhir adalah Wesley Matthews. Lebih "parah" dari Middleton yang 2nd round pick player, Matthews malah Undrafted ketika diambil oleh Utah Jazz di 2009, dan kemudian nyaris selalu menjadi starter dimanapun dia bermain.

Dari seluruh roster, pick tertinggi justru adalah Marvin Williams, yang meskipun di tahun 2005 adalah draft nomor 2 dan sempat membuat Atlanta Hawks kembali menjadi tim langganan playoff, di Bucks hanya mendapatkan menit sedikit. Lalu juga ada Dragan Bender yang bahkan sudah di trade ke GSW.

Sekedar sebagai pembanding, mari kita lihat statistik "Super Team" Golden State Warriors di musim 2015-2016 yang masih memegang rekor kemenangan terbanyak babak reguler NBA.


No Name Pos H W Age Draft Pick
1 Draymond Green F 198 104 25 2012 35
2 Stephen Curry G 191 84 27 2009 7
3 Klay Thompson G 198 98 25 2011 11
4 Harrison Barnes F 203 102 23 2012 7
5 Andre Iguodala F 198 98 32 2004 9
6 Shaun Livingston G 201 87 30 2004 4
7 Andrew Bogut C 213 118 31 2005 1
8 Leandro Barbosa G 191 91 33 2003 28
9 Brandon Rush G 198 100 30 2008 13
10 Marreese Speights C 206 116 28 2008 16
11 Festus Ezeli C 211 120 26 2012 30
12 Ian Clark G 191 79 24 2013 Und
13 James Michael McAdoo F 206 109 23 2014 Und
14 Anderson Varejão C 211 124 33 2004 30
15 Jason Thompson C 211 113 29 2008 12
16 Kevon Looney F 206 101 19 2015 30

Team Average


27.38


Tidak ada personil tim ini yang ada di top 5 draft pick, tapi di tangan Steve Kerr bisa diolah menjadi super team yang sangat dominan melawan tim manapun. Tim ini adalah tim bersejarah yang mampu mengubah cara bermain banyak tim di NBA, dan kembali mempopulerkan pola permainan small ball.

Lalu akan menjadi seberapa besarkah impact Milwaukee Bucks di musim ini di NBA? Tentunya kita harus menunggu hingga akhir musim, mengingat musim lalu ketika mereka sudah menjadi yang terbaik di Wilayah Timur, mereka akhirnya dikalahkan oleh Raptors yang dipimpin oleh Kawhi Leonard. Meskipun musim ini rekor mereka 2-0 ketika melawan Raptors yang sudah tidak lagi diperkuat Kawhi, namun mereka masih mencatat 1-1 melawan Celtics yang punya defense bagus, dan 0-2 ketika berhadapan dengan Miami Heat. Artinya di timur pun Bucks belum bisa santai.

Tetap kita patut angkat topi untuk Coach Mike Budenholzer yang mampu meramu tim ini menjadi solid dan memiliki masa depan cerah, paling tidak untuk satu dua tahun ke depan. Tim yang awalnya ada di posisi ketiga di prediksi awal musim, di bawah Clippers dan Lakers, kini jadi paling favorit untuk jadi juara.

So, prediksi Final NBA tahun ini, masih, Bucks vs Lakers. Duel tim minim star yang hustle, melawan pemain-pemain matang yang perlu pembuktian.
 
-maheinberg, 2020-

19 Februari 2020

NBA Ceria Lagi

 (Sebenernya sih mau ngomongin Lakers doang)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, it's been a while. Ternyata musti nunggu setahun biar bisa tergerak nulis sesuatu disini. Blog masih relevan gak sih? Apa harus pindah ke youtube? Yah, buat kali ini bodo amat lah. Lagi pingin nulis aja.

Oke, here we go.

(source : here)

Sebagai swing fan NBA yang klub idolanya ganti-ganti setiap musim, musim ini ada excitement tersendiri yang cukup berbeda. Bursa transfer awal musim ini mengubah banyak sekali peta kekuatan NBA. Setelah menjadi bagian dari Raptors yang juara tahun lalu, Kawhi Leonard pindah ke Clippers untuk bergabung bersama Paul George. Musim lalu Clippers adalah tim underdog yang bermental baja, maka ekspektasi publik akan makin kuat dengan berkumpulnya salah dua two-way players terbaik dunia. Di awal musim, LA Clippers ada di puncak bursa taruhan. 

Raptors yang ditinggal Kawhi ternyata masih tampil meyakinkan, dan saat artikel ini ditulis, Raptors masih nyaman di posisi 4 wilayah timur. Franchise record 13 kemenangan beruntun, bahkan. Pascal Siakam makin panas, dan Lowry tetap membara.

Milawukee Bucks yang menguat signifikan. Hingga minggu ke 13, NBA power ranking nya masih teratas. Giannis yang sudah powerfull, ditambah makin bagus shoot 3 point nya. Ketika Giannis, Middleton, dan Bledsoe maen bareng, susah dibendung mereka ini. Sama seperti musim lalu, Bucks masih memimpin di wilayah timur. Saat ini malah masih terbaik di NBA, diatas semua tim dari barat.

Miami Heat adalah kejutan besar di timur. Jimmy Butler keluar saripati nya, jadi leader, eksekutor, playmaker, sekaligus nyawa utama di tim yang minim bintang. Kendrick Nunn dan Tyler Herro adalah rookie yang tadinya jarang disebut, jadi bersinar terang. Bam Adebayo malah masuk All Star.

Mega-swap yang juga menarik adalah pertukaran Russell Westbrook dan Chris Paul. Westbrook yang sejak lama jadi franchise player OKC Thunder memutuskan untuk bergabung dengan teman lamanya, James Harden di Rockets untuk membentuk super duo. Memang sedikit menimbulkan tanda tanya karena dua orang ini selama ini dikenal sebagai stat padder yang lebih tertarik mencatat rekor pribadi dibanding prestasi tim. Tapi bagaimanapun dua-duanya adalah mantan MVP, jika bisa diselaraskan Rockets akan makin berbahaya. Dari kepindahan itu OKC Thunder mendapatkan playmaker senior, Chris Paul. Belakangan ternyata bersama Shai Gilgeous-Alexander yang didapat dari hasil pertukaran Paul George ke Clippers, dan Denis Schroder yang sudah bergabung setahun sebelumnya, mereka membentuk trio playmaker-attacker yang susah dibendung.

Tapi dari semua kejutan itu, yang paling menyenangkan adalah menonton LA Lakers bermain. Sejak GSW begitu perkasa dibawah pimpinan Stephen Curry, kemampuan three point menjadi skill yang amat sangat diperlukan oleh sebuah tim untuk bisa dominan. Maka gaya bermain di NBA juga mengalami perubahan signifikan, bahkan para bigman pun sekarang jadi pada jago three point. Memang tidak salah dan tidak jelek, tapi bagi saya pribadi, ada excitement yang hilang ketika para pemain lebih banyak melakukan shoot jarak jauh. Sebagai "orang lama", saya begitu bahagia ketika melihat para pemain-pemain top dunia ini terbang-terbang menyerang ring basket, hal yang saya rasa berkurang di Curry-era ini. Musim ini, ada tim yang berhasil memunculkan kebahagiaan itu, dengan tetap menjadi dominan, paling tidak untuk saat ini. Tim itu adalah LA Lakers.

Lakers tahun ini dirombak hampir total. Musim lalu, meskipun sudah ada LeBron James, Lakers masih berlabel tim muda potensial. Roster nya diisi pemain muda seperti Brandon Ingram, Lonzo Ball, Josh Hart, dan Kyle Kuzma. Tahun ini, Lakers berisi megabintang dan mantan megabintang yang kuat di semua lini. Yang pertama adalah Anthony Davis. Davis adalah salah satu pemain terbaik di NBA yang selama ini seakan terpenjara di Pelicans. Tinggi besar dengan shoot yang bagus dan bisa attack the rim, AD bisa mengisi posisi 4 dan 5, bisa menjadi scorer utama, sekaligus bisa bertahan dengan sangat baik. Enam kali all star, tiga kali all-NBA first team, beberapa kali masuk NBA all-defensive team plus tiga kali jadi NBA Blocks Leader, AD jadi aset paling berharga Lakers di transfer tahun ini, sangat sebanding dengan keluarnya para anak muda berbakat yang awalnya dianggap akan mengubah wajah Lakers beberapa tahun ke depan.

AD pun masih didukung dua bigman yang juga memiliki nama besar, yaitu JaVale McGee dan Dwight Howard. JaVale McGee bagaimanapun juga adalah juara NBA yang menjadi salah satu punggawa GSW ketika mendominasi NBA. Meskipun dulu lebih sering dibahas karena seringnya dia ada di Shaqtin' A Fool, McGee ini cukup atletis dan mempunyai vertical jump yang bagus dalam mengantisipasi pergerakan lawan di bawah ring.
Sebenarnya ada satu lagi pemain bintang yang seharusnya bersaing dengan McGee di posisi center, yaitu DeMarcus Cousins. Sayangnya dia kembali cidera setelah tahun lalu sempat comeback di akhir-akhir musim bersama Warriors. Akhirnya Boogie digantikan dengan center bernama besar yang sempat mendominasi para bigman pada jamannya, Dwight Howard. Howard memang pernah bergabung dengan Lakers dengan ekspektasi besar lalu dianggap gagal total, sehingga bergabungnya dia kembali dengan Lakers banyak menimbulkan keraguan. Nyatanya, meskipun tidak lagi seatletis dulu, kemampuannya dalam bertahan, vertical jump dan perannya dalam pick and roll masih sangat berguna dalam roster Lakers. Jadi ketika McGee harus beristirahat, Lakers masih punya center yang handal dan tidak marah ketika harus memulai dari bangku cadangan.
Adanya Davis, McGee dan Howard ini membuat Lakers punya banyak opsi dalam rebound dan attack the rim, sekaligus bisa menyajikan dunk dan alley-oop dunk yang mampu membangkitkan gelora seisi lapangan. Terbukti Lakers bisa bermain cerdik, pick and roll atau transisi cepat, passing lambung, loncat, dan powerfull dunk. Sungguh nikmat sekali menyaksikan itu lagi. Showtime.

Tapi, sehebat-hebatnya para pemain itu meloncat, bola tidak akan sampai dengan manis ke tangan mereka jika tanpa adanya peran dari : Playmaker.

Lakers juga diisi playmaker-playmaker cerdas. Posisi asli LeBron James mungkin Small Forward, tapi LBJ sering memegang bola. Sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah NBA, kemampuan paling menonjol LBJ adalah visi permainan. Hal itu bisa membuat dia mampu membuat lawan waspada, bahkan menarik beberapa pemain bertahan untuk keluar, serta bisa membaca arah pergerakan teman, dan kemudian melakukan passing ke arah yang tidak terbaca oleh lawan tapi nyampe dengan mulus ke arah gerak temannya. Lalu terciptalah ooh dan aah itu.
Ada pula Rajon Rondo. Rondo adalah salah satu underrated hero yang membawa Boston Celtics juara di tahun 2008. Memang big three nya adalah Kevin Garnett, Ray Allen, dan Paul Pierce, tapi Rajon Rondo lah yang banyak bertanggung jawab atas lancarnya aliran bola. Rondo juga memiliki visi bermain yang cerdas, susah ditebak, dan mampu memberikan banyak assist. Meskipun sudah termasuk veteran, adanya Rondo mampu memberikan dimensi permainan yang berbeda ketika dimainkan dari bangku cadangan.
Lalu ada pemain kecintaan para pembuat meme sedunia, yaitu Alex Caruso. Kisah Caruso ini seperti Lakers nggak sengaja nemu duit di jalan. Tidak diperhitungkan, bahkan dibuang oleh tim lain, tapi kemudian punya peran penting di tim sekaliber LA Lakers. Caruso masuk NBA di 2016 undrafted, dan diambil oleh OKC Thunder, lalu di waive setahun kemudian. Di summer league 2017, Caruso join ke Lakers dan ternyata bermain bagus ketika menggantikan Lonzo Ball. Dia kemudian mendapatkan two-way contract bersama Lakers. Musim lalu, dia mencetak rekor pribadi 32 point ketika menang melawan Clippers, dan rekor 11 assist ketika melawan Jazz. Dari undrafted, dia berevolusi menjadi relevant role player. Sejak awal musim ini, dia resmi dikontrak dua tahun oleh Lakers, dan kepercayaan itu dibayar dengan perannya sebagai salah satu playmaker, yang ternyata juga dilengkapi dengan kemampuan three point, plus beberapa dunk yang selalu disambut gegap gempita oleh para penonton.

Tim dengan banyak bigman yang sering menyerang ring, akan diantisipasi dengan banyaknya pemain bertahan yang menumpuk di sekitar bawah ring. Untuk itu, diperlukan ancaman dari luar untuk menarik para pemain bertahan. Lakers juga punya pemain andalan untuk menyerang dari luar garis three point.

Yang utama adalah Danny Green.
Danny Green adalah teman lama LeBron di Cavaliers dulu, meskipun kemudian jadi juara NBA dua kali justru bersama Spurs dan Raptors. Dengan mendapatkan Green, artinya Lakers mempunyai starter shooting guard yang jago three-point dan seorang perimeter defender handal. Dengan parkirnya Green di pojokan akan memecah konsentrasi defender lawan untuk memperketat paint atau keluar menjaga garis three point, sekaligus menjadi pengganggu playmaker atau shooter lawan ketika sedang bertahan. Two way player seperti Green ini adalah aset yang sangat berharga terutama untuk tim yang ingin juara.
Selain Green, Lakers juga punya Kentavious Caldwell-Pope, Avery Bradley, Kyle Kuzma, dan tentu saja LeBron James untuk membidik dari luar garis three point. Dan tidak bisa diremehkan juga kemampuan AD, Rondo, Caruso, serta Quinn Cook (jika dimainkan) untuk memberi efek kejutan, juga dari jarak jauh. Yang cukup mengagetkan, musim ini JaVale McGee dan Dwight Howard juga bisa sukses mengeksekusi three point, yang secara otomatis mengundang gemuruh penonton,  mengingat kemampuan shoot mereka yang aslinya biasa-biasa saja, bahkan free throw pun sering gagal.

Semenghibur apapun permainan sebuah tim, akan menjadi hambar ketika tidak berprestasi. Percuma dong sekedar menyenangkan penonton, tapi gagal lagi gagal lagi. Nah, Lakers tahun ini punya bekal yang cukup untuk mengejar juara NBA, karena mereka memiliki defender-defender handal. Ingat kata coach Bear Bryant, "offense wins games, defense wins championships". Tanpa defense yang handal, akan sangat susah sebuah tim untuk jadi juara, sehebat apapun offense mereka.

Danny Green sudah jadi juara NBA berkat kemampuan defense nya. Avery Bradley adalah salah satu figur penting dalam sistem defense Boston Celtics di bawah asuhan Brad Stevens, hingga pernah disebut Damian Lillard sebagai the best perimeter defender di NBA. Dan ternyata, Avery Bradley pernah memenangkan sebuah dunk contest di tahun 2009, mengalahkan Mason Plumlee dan Derick Favors. Duet starter Green dan Bradley diharapkan akan menutup ketat pintu pertahanan Lakers dari serbuan playmaker-playmaker cerdik dan shooter-shooter jitu.
Di bawah ring, Lakers dipenuhi pemain-pemain bertahan yang juga hebat. Anthony Davis adalah bagian dari All-NBA defensive team. Kehadirannya di sekitar ring tentu akan menjadi tantangan besar untuk lawan yang berencana menyerang ke dalam. Musim ini AD mencatat rata-rata 9,4 rebounds per game, dan 2,6 blocks per game.
Dwight Howard di masa jayanya adalah defender kokoh. Saat ini, meskipun memiliki menit bermain lebih terbatas, Howard mencatat rata-rata 7,3 rebound per game dan 1,5 block per game.
JaVale McGee termasuk lincah untuk ukuran bigman, terutama setelah menjadi vegan di masa keemasannya bersama Warriors. Meskipun menitnya juga terbatas karena berbagi dengan Howard, McGee masih secara konstan menghadang penetrasi dan shoot-shoot di sekitar paint area.
Baik Davis, McGee, maupun Howard masuk di daftar top 20 blocks per game musim ini.

Saat ini, defensive rating Lakers ada di peringkat tiga dibawah Bucks dan Raptors.

Faktor penting lainnya dalam mengarungi musim kompetisi setahun penuh adalah deretan pemain cadangan. Di bagian ini, Lakers termasuk dianugerahi kemewahan. Selain starter Green-Bradley-James-Davis-McGee, Lakers juga punya nama-nama yang sudah dikupas sebelumnya seperti Howard, Rondo, dan Caruso. Dan jangan lupa disana juga ada KCP alias Kentavious Caldwell-Pope, Kyle Kuzma, Troy Daniels, Jared Dudley dan Quinn Cook.

KCP sebelumnya terkenal karena inkonsistensinya, tapi musim ini tampaknya berkat dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh teman-teman setimnya, terutama LeBron James, KCP menjelma menjadi pemain yang handal, bisa menggantikan Avery Bradley ketika cidera, bertahan dengan baik, dan mencetak skor baik lewat shoot jarak jauh maupun transisi yang cepat. Musim ini 3pt percentage nya lebih dari 40%.

Kyle Kuzma adalah pemuda potensial yang tertinggal. Sempat dianggap best-draft-steal, musim ini Kuzma belum benar-benar optimal pasca cidera. Memang belum stabil benar, tapi Kuzma mampu menghadirkan energi anak muda dan backup yang tidak mengecewakan ketika LeBron James sedang istirahat atau tidak bermain. Dengan 43.6 FG% dan 34,6 3PT%, Kuzma diharapkan jadi backup scorer yang bisa diandalkan.

Troy Daniels memang hanya mendapatkan menit per game sekitar 11,7, namun sebagai pemain dari bangku cadangan, 39,8 FG% dan 35,7 3PT% cukup penting artinya bagi keseluruhan tim.

Quinn Cook adalah salah satu pemain cadangan Warriors ketika jadi juara tahun 2018. Senjata utama Cook adalah kemampuan shootingnya, plus kemampuan playmaking ketika playmaker utama sedang istirahat, meskipun Cook hanya bermain 26 kali dengan rata-rata 12,8 menit per game.

Kehadiran Jared Dudley di ruang ganti sebagai veteran berpengalaman rasanya cukup penting. Ya memang jarang dimainkan, tapi pemain 34 tahun ini bisa menjadi veteran presence yang menghadirkan kematangan, dan mungkin juga jaga-jaga kalo tiba-tiba butuh bodyguard untuk berantem.

(Jared Dudley, berantem tanpa alasan)

Kombinasi para pemain LA Lakers itu membuat saya (semakin) antusias nonton NBA lagi, karena semua jenis hiburan yang membuat saya jatuh cinta pada basket makin banyak muncul. Dunk, alley opp, assist, block, lockdown defense, three point, off the ball movement.
Makin hepi lagi, ketika faktanya Lakers nggak segitu dominannya. Tim-tim lain pun begitu kompetitif. Sebagian besar tim NBA sekarang jadi menarik untuk ditonton, baik karena permainan, reputasi pemain, maupun drama-drama di sekelilingnya. Tiap game makin ketat.

Meninggalnya Kobe Bryant adalah kesedihan semua penikmat olahraga di dunia, tidak hanya basket. Tapi buat Lakers pasti nilainya berbeda, jauh lebih dalam, bisa jadi motivasi ekstra untuk menjadi juara di musim ini.

Well, Lakers tentu nantinya akan sangat susah payah berjuang di barat dalam menghadapi LA Clippers dengan bench nya yang sangat dalam, lalu jika lolos akan menghadapi juara wilayah timur, yang kemungkinan adalah Bucks setelah mengalahkan Raptors. Apapun itu, NBA musim ini bagi saya pribagi terasa semakin ceria lagi.

Apalagi setelah minggu lalu nonton All Star. Best All Star game I've ever seen. Dan itu bukan hiperbola. Dan bukan saya saja yang berpendapat demikian.
Tulisan tentang All Star sebentar lagi. Kalo sempet. 
 
-maheinberg, 2020-

05 Januari 2019

MU Baru Di Tahun Baru

Sebelumnya, selamat tahun baru 2019, sodara-sodara.

Ada dua hal yang bikin saya excited di dunia sepakbola di sebulan terakhir. Yang pertama adalah menggeliatnya perhatian banyak pihak akan match fixing di sepakbola Indonesia. Pengaturan skor bukanlah hal baru di sepakbola, apalagi di Indonesia. Tapi dari dulu tidak pernah ada tindakan-tindakan yang bisa memunculkan optimisme di kalangan suporter bola tentang hal ini. Baru kali ini, dipicu oleh acara Mata Najwa yang mengangkat episode "PSSI Bisa Apa?" dan dilanjutkan dengan "PPSI Bisa Apa Jilid 2", tema pengaturan skor terangkat lagi. Ada runner angkat bicara, manajer klub sepakbola mulai bernyanyi, beberapa pentolan PSSI di masa lalu mulai banyak bercerita, para pemain mulai mengutarakan isi pikirannya, twitter dan instagram makin menggelora yang menggoda PSSI untuk mengundangnya, hingga pihak kepolisian yang membentuk satgas khusus untuk menangani ini. Secara skeptis, bisa saja ini ditunggangi orang-orang demi kepentingan politik, atau kepentingan lain selain sepakbola. Tapi dengan sebegitu ramainya dibicarakan, dan dengan mulai ditangkapnya beberapa nama yang disebut-sebut orang-orang penting dibalik skandal pengaturan skor, kita sebagai penikmat sepakbola bisalah sedikit punya optimisme bahwa masalah match fixing bisa dipetakan secara lebih detil dan jelas, sehingga akan sangat membantu untuk menanggulanginya. Ujung-ujungnya akan menghasilkan dunia sepakbola yang profesional dan menarik. Pemain bagus, masa depan cerah, dan liga yang menarik untuk ditonton. Terus terang, saya sendiri sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, selain timnas junior yang moncer itu.

Hal menarik kedua ini lebih menyenangkan : Akhirnya Manchester United memecat Mourinho!!!!!

(source : here)

Sebagai salah satu pengikut Nabi Pep Guardiola, saya tidak suka dengan cara Mourinho menanamkan filosofi permainan pada timnya, meskipun tetap menaruh respek. Tidak suka karena sudah terbukti Mourinho hanya spesial ketika menangani tim semenjana yang memainkan sepakbola dengan pertahanan super solid dan minim inisiatif menyerang. Saya menyebutnya sebagai sepakbola reaktif, yang menunggu lawan menyerang, diredam dengan pertahanan tebal, lalu secepatnya menyerang balik, dan kemudian bertahan kembali. Namun tetap respek, karena bisa mengatur pertahanan se rapi itu pun tidaklah mudah, perlu ditanamkan karakter tertentu pada para pemainnya. Dan pertahanan super itulah yang membuat pola menyerang ala Pep bisa mendapatkan tantangan yang sebanding, untuk kemudian berkembang lagi karena selalu mencari cara untuk menembus tembok itu. Maka terwujudlah tim Barcelona yang legendaris itu.

Ya, saya tidak suka Mourinho karena saya rasa karakter permainannya hanya cocok ketika diterapkan di tim semenjana. Porto adalah kuda hitam di Eropa. Chelsea kala itu juga belum menjadi tim papan atas karena selalu di bawah bayang-bayang kehebatan Manchester United dan Arsenal. Inter dibawa meraih treble winner karena saat itu Liga Italia bukan lagi liga papan atas Eropa, dan berhasil memenangkan Liga Champion dengan bermain bertahan. Lagi-lagi saya katakan bahwa itu bukanlah hal buruk, tapi bukan permainan yang saya sukai untuk ditonton. Ketika Mou kembali ke Chelsea, dia tak bisa sukses lagi, karena Chelsea sudah jadi tim papan atas Liga Inggris, yang pride nya cukup terganggu ketika harus bermain bertahan. 
Begitupun ketika melatih Real Madrid. Memang Real Madrid sukses menghilangkan inferioritasnya atas Barcelona, namun selain itu tidaklah ada yang istimewa. Friksinya dengan Casillas yang mempengaruhi keharmonisan timnas Spanyol menjadi salah satu bukti bahwa yang paling utama untuk Mourinho adalah kejayaan pribadi, entah bagaimanapun caranya. Bagi saya, kiprah Mou di Real Madrid adalah kegagalan.

Karena itu ada aneka perasaan campur aduk ketika dulu MU mengontrak Mou sebagai manager, sebagaimana pernah saya tulis disini. Tim cinta pertama saya dilatih oleh manager yang paling tidak saya sukai. Padahal Liverpool mengontrak Klopp, dan City mengontrak Pep. MU tampak suram sekali. Hingga hampir dua tahun kemudian, belum ada tanda-tanda munculnya optimisme pada permainan MU, padahal Chelsea, Arsenal, Spurs, dan Liverpool menunjukkan perbaikan performa signifikan.

Maka sebegitu bahagianya saya ketika Mou dipecat.

Memang nggak akan bisa menjadikan MU ada di jalur juara Liga Inggris tahun ini, tapi minimal ada peluang untuk memiliki harapan baru yang sudah mentok di era Mou. Apalagi ketika yang diangkat jadi caretaker adalah si babyfaced assassin, Ole Gunnar Solksjaer. Meskipun bukan pemain inti, Solkajer adalah legenda. Striker cadangan yang sangat produktif, tidak tertinggal jauh dari duo Andy Cole dan Dwight Yorke. Tidak ada fans MU yang tidak ingat golnya (dan gol Teddy Sheringham) di final Liga Champion melawan Bayern Muenchen.

(source : here)

Solksjaer memang belum punya pengalaman melatih tim besar, namun kiprahnya ketika melatih di tim masa kecilnya, Molde, cukup menarik perhatian. Di bawah kepemimpinannya, Molde meraih juara Liga Norwegia untuk pertama kalinya. Dan salah satu hal yang sangat menarik buat saya, dalam menjalankan kepelatihannya, kadang dia menggunakan game simulasi sepakbola paling terkenal, Football Manager, untuk mengantisipasi cara-cara mengalahkan lawannya. Sebuah kabar baik untuk orang-orang sok tau yang merasa paling hebat karena bertahun-tahun sukses menjadi manager sepakbola virtual di game itu, seperti saya.

Solksjaer ada di MU ketika MU menjadi salah satu tim terhebat di Eropa dengan gaya permainan menyerang yang sangat menghibur. 91 golnya di Manchester United meskipun memulai dari bangku cadangan bukanlah catatan yang buruk. Bagi saya itu cukup menggambarkan kemampuannya membaca arah permainan, dan kemudian memanfaatkan celah-celah yang tersedia meski tidak dibekali kemampuan fisik dan teknis yang superior dibanding pemain-pemain lain. Semangat pemenang dan kemampuannya membaca pertandingan, ditambah dengan susahnya strateginya diantisipasi lawan karena relatif kurang dikenal, akan membuat MU menjadi agak susah untuk diprediksi. 

Selalu menang di lima laga awalnya, memunculkan kembali kebahagiaan ketika menonton permainan MU. MU tampil menyerang, maka mendorong para pemainnya untuk menjadi kreatif dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala potensi yang dimiliki. MU diisi banyak pemain muda yang memiliki potential ability diatas rata-rata, akan sangat sayang apabila ditanami filosofi sepakbola bertahan. Saya yang sudah lama absen menonton pertandingan MU live di tivi, mulai memiliki keinginan untuk sesering mungkin mengintip cara Solksjaer memimpin adik-adiknya itu. Membayangkan Pogba yang trengginas ditemani Juan Mata yang cerdik, Herrera yang cerdas, atau Matic yang solid, menjadi inisiator serangan yang di eksekusi oleh para young guns yang fit dan bertenaga seperti Rashford, Martial, Lukaku, Lingard atau Alexis Sanchez. Potensinya sangat besar, berharap bisa melihat pola serangan yang mengalir, kreatif, dan enerjik. 

Pun begitu di lini pertahanan. David De Gea sudah bertahun-tahun menjadi tulang punggung pertahanan MU. Luke Shaw pernah jadi wonderkid, ini adalah waktunya untuk menjadi world class fullback setelah sekian lama dibekap cidera. Valencia dan Ashley Young memang bukan fullback murni, tapi pengalamannya menjadi pemain sayap yang suka ngebut bisa jadi bekal dalam menjadi playmaker dari sayap terluar. Juga masih ada Darmian dan Dalot yang juga pemuda berbakat. Duet starter bek tengah mungkin masih akan dihuni Lindelof dan Phil Jones, dan dibantu oleh Bailly dan Smalling. 

Tidak berlebihan jika saya berharap para pemain ini bisa direvitalisasi oleh si pembunuh berwajah bayi ini.

Sungguh di tahun baru ini menjadi semangat yang juga baru karena melihat MU yang baru. Mari kita tunggu.

Glory, Glory, Manchester United !!!
 
-maheinberg, 2020-

25 Juni 2018

Another Pep Effect

Fase grup Piala Dunia 2018 sebentar lagi berakhir, melahirkan banyak sekali drama yang cukup mengejutkan. Spanyol nyaris tidak lolos grup, Argentina harus tanding mati-matian lawan Nigeria, Brazil-Jerman-Perancis pun susah payah. Yang tampil digdaya justru Belgia dan Inggris, dua tim yang diisi bintang-bintang Liga Inggris. Buat saya ini cukup menarik.

Pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, yang jadi juara dunia adalah Spanyol. Kala itu Spanyol bermain sangat cantik, dimotori oleh trio pemain kunci Barcelona, yaitu Iniesta-Xavi-Busquets. Di saat yang sama itu pula, Barcelona sedang gila-gilanya, dominan di Liga dan di Eropa dengan identitas gaya permainan sepakbola yang melegenda. Pemain Barcelona mendominasi susunan roster timnas Spanyol. Selain tiga pemain tadi juga ada Pique, Puyol, Pedro, dan Valdes. Rasa-rasanya waktu itu Vicente Del Bosque, pelatih Spanyol, tinggal kasih satu instruksi sederhana : bermainlah seperti Barcelona. VdB tinggal duduk manis setelah itu, dan hasilnya : juara.

Kemudian di Brazil, Piala Dunia 2014 dimenangi oleh Jerman. Jerman yang sangat kolektif didominasi oleh para pemain Bayern Muenchen, seperti Muller, Lahm, Kroos, Neuer, Gotze, Boateng, dan Schweinsteiger. Kekompakan para pemain itu di level klub bisa tertular ke timnas, sehingga lebih mudah untuk menciptakan kohesi dan chemistry, lalu sukses membawa Jerman ke pencapaian tertinggi di tahun itu.

Dua negara itu, Spanyol di 2010 dan Jerman di 2014, memiliki satu kesamaan yang menarik, yaitu Liga lokal negara-negara itu sedang didominasi oleh tim yang dilatih oleh satu orang yang sama : Josep Guardiola. Ya, Pep adalah pelatih Barcelona di 2010, yang baru saja memborong 6 tropi di awal musim, dan kembali jadi juara liga di akhir musim. Pep juga pelatih Bayern Muenchen di tahun 2014, dimana Pep selalu dominan di Bundesliga meskipun selalu gagal di Liga Champion.


Photo by Gareth Copley/Getty Images

Di tahun 2018 ini, kondisi yang mirip kembali terulang, dimana Pep Guardiola sedang melatih sebuah klub yang sangat dominan di Liga lokalnya, padahal dalam beberapa tahun terakhir Liga itu sedang sangat kompetitif dan tak terduga. Pep Guardiola sedang menjadi manajer dari Manchester City, yang baru saja jadi juara Liga Inggris dengan berlari ngebut sendirian meninggalkan para rival di belakang. Pep Guardiola sedang mengubah Liga Inggris menjadi Liga Perancis atau Liga Jerman. Perbedaan yang paling mencolok dibanding dua kondisi sebelumnya adalah bahwa kali ini pemain-pemain kunci Pep di klubnya bukanlah tulang punggung tim nasional. Jika waktu itu di Spanyol dan Jerman diisi 7 pemain dari klub yang sedang ditangani Pep, di Piala Dunia kali ini timnas Inggris hanya dihuni empat pemain Manchester City, yaitu John Stones dan Kyle Walker sebagai pemain belakang, Fabian Delph di tengah (atau belakang), dan Raheem Sterling di depan. Memang Walker-Stones-Sterling adalah starter yang berperan penting, namun di timnas Inggris tidak berperan sebagai otak permainan.

Timnas Inggris tahun ini sebenarnya relatif kurang bertabur bintang jika dibandingkan era-era sebelumya. Pemain yang paling bersinar adalah Harry Kane. Inggris tidak punya superstar macam Messi, Ronaldo, De Bruyne, Neymar, Modric, ataupun Pogba. Namun dalam dua pertandingan awalnya, permainan Inggris yang menang tipis di game pertama melawan Tunisia kemudian bangkit dan sukses menghajar Panama. Memang kemenangan lawan Panama belum terlalu bisa dibanggakan, tapi paling tidak Inggris sudah menemukan ritme yang lebih baik di game kedua mereka. Bisa jadi soliditas lini belakang yang dikomandoi duo Manchester City berperan penting disana.  Menarik sekali untuk melihat game ketiga Inggris nanti ketika menghadapi Belgia yang sama-sama eksplosif, dan sama-sama dipenuhi pemain yang bermain di Liga Inggris.

Jika berpatokan pada pola sejarah, dan memperhatikan kesamaan-kesamaan itu, bukan tidak mungkin Inggris bisa menghapus kutukan mediokrisi yang selama ini menjangkiti mereka di gelaran Piala Dunia, dan melaju cukup jauh. Apalagi didukung dengan permainan kurang meyakinkan dari tim-tim unggulan.

Pep Guardiola bisa menularkan auranya pada Spanyol di tahun 2010 dan Jerman di 2014, maka tidaklah berlebihan jika Inggris yang tadinya dikenal dengan tim medioker meski bertabur bintang, di tahun ini berubah menjadi tim bintang meski berisi pemain-pemain muda medioker. Saya bukan fans timnas Inggris, atau malah bukan fans timnas manapun di Piala Dunia kali ini, tapi melihat tim seperti Belgia dan Inggris bermain bagus dan menang, saya cukup bahagia.

Setelah sekian lama, para fans Inggris mungkin bisa berharap pada Another Pep Effect.
 
-maheinberg, 2019-

29 Mei 2018

Bisakah Cavaliers Mengalahkan Warriors?


Maka terjadilah sudah, empat tahun berturut-turut final NBA mempertemukan Cleveland Cavaliers dan Golden State Warriors. Saya sendiri cukup sebel, karena sebenarnya menginginkan atmosfir final yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa daya pertempuran kali ini masih merupakan pertarungan Superman versus Superteam itu.

Dibanding beberapa tahun terakhir, NBA tahun ini sebenarnya sangat menarik karena beberapa hal :

Pertama, banyak rookie yang menarik perhatian dengan menjadi orang penting di tim nya. Fultz kurang oke karena cidera, Lonzo Ball tampak bagus sebagai playmaker meskipun kalah mentereng dari Kyle Kuzma si rookie draft pick 27 yang mainnya lebih dahsyat, Jayson Tatum bisa menutupi ketiadaan Gordon Hayward, bahkan mungkin lebih bagus, hingga nyaris mengantar Celtis ke final sekaligus hampir menyamai rekor Kareem Abdul-Jabbar di total poin playoff oleh rookie. Ben Simmons memimpin Sixers menjadi stabil sepanjang tahun, Donovan Mitchell menjuarai dunk contest dan langsung menjadi superstar utama Utah Jazz, Lauri Markkanen jadi andalan Bulls, dan performa meyakinkan dari nama nama seperti Dennis Smith Jr, Bogdan Bogdanovic, dan Josh Jackson.

Kedua, Juara Wilayah yang baru. Timur dipimpin oleh Raptors, dan barat tidak lagi dijuarai Warriors, melainkan Rockets.

Ketiga, persaingan sangat merata. Pertarungan menuju playoff terus terjadi hingga mendekati akhir musim. Satu kali kekalahan saja bisa membuat peringkat melorot 3-4 tingkat. Setiap pertandingan jadi punya arti, dan seru untuk ditonton.

Keempat, Playoffs pun sangat kompetitif. Ya, mungkin pengecualian untuk Raptors-Cavs. Hampir semua pertandingan sangat menarik untuk ditonton, karena sama-sama punya peluang untuk saling mengalahkan. Bahkan final wilayah, baik barat maupun timur, sama-sama harus sampai game 7.


Namun hal-hal menarik itu menjadi kurang mengejutkan ketika akhirnya tim yang bertemu di Final ya itu-itu lagi. Tadinya saya membayangkan apa yang akan terjadi jika Brad Stevens bisa membawa Irving-less Celtics menghadapi Rockets yang dikomandoi CP3, atau paling tidak, penasaran bagaimana defense ketat Celtics dalam membendung badai three points Warriors, atau mampukah Capella atau Tucker menghadang LeBron James. Kini semua harapan itu musnahlah sudah. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa LeBron Thanos James lagi-lagi harus berperang melawan Warriors' Avengers.

Diatas kertas, tidak sulit meramal hasil pertandingan final ini. Skuad inti Warriors tetap sama, dengan dukungan bench yang tidak kalah hebatnya dengan tahun lalu, meskipun kali ini Iguodala sedang cidera. Masalahnya ada di Cavaliers nih. Tahun lalu ketika masih ada Irving saja, Cavaliers tumbang 4-1. Itupun susah payah dalam meraih kemenangan yang satu itu. Nah tahun ini LeBron James tidak memiliki partner yang lebih meyakinkan daripada Irving, apalagi Kevin Love sedang cidera pula. Maka akan sangat sedikit yang meramalkan Cavaliers bisa menang. Bahkan bukan tidak mungkin tahun ini Warriors akan melakukan sweep.

Maka final ini terasa seperti anti klimaks atas serangkaian keseruan yang terjadi sepanjang musim, termasuk Playoffs nya.

Namun sebaiknya kita tidak meremehkan LeBron James begitu saja. Masih ada peluang yang akan membawa Cavs mengalahkan GSW, atau paling tidak menyajikan pertarungan seru.

Pertama, semangat balas dendam. Seperti yang dibilang Pak Guru di sekolah, mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Ini bisa jadi pembakar semangat utama LeBron James dan pengikutnya.

Kedua, tidak mengikuti tempo cepat Warriors. Houston Rockets bisa mengalahkan Warriors di game 4 dan 5 Final Barat salah satunya karena faktor Chris Paul yang mampu mengatur tempo permainan, thanks to kemampuan dribble dan playmaking nya yang super, plus ketenangannya dalam mencetak poin ketika rekan-rekannya yang lain sulit memasukkan bola ke keranjang. Cara ini bisa diadopsi Cavs supaya Warriors nggak seenaknya aja poan poin, shat shoot shat shoot sana sini. Lha tapi siapa yang pegang bola? Mau nggak mau ya LBJ. Siapa yang bakal berjuang cetak poin? Siapa lagi, ya LBJ juga.

Ketiga, LeBron James tetap sehat wal afiat. Most Point : LBJ. Most Assist : LBJ. Most rebound : LBJ top three lah. Most minutes : LBJ. Most block : ya mungkin LBJ juga. Kalo LBJ nggak fit, apalagi cidera, ya selesai.

Keempat, semoga para shooter Cavs bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Masak udah nggak bisa jaga possession, kalah rebound, nggak bisa nge lock musuh, disuruh shoot masih gagal juga? Mbok ya jadi teammates yang berguna. Lha wong sebenarnya Shooternya banyak. Korver, Smith, Green, Hill, Love, dan (lagi-lagi, meskipun nggak terlalu) LBJ. Rockets kalah di game 7 salah satu faktor terbesarnya adalah gagal masuk three point 27 kali berturut-turut. Masuk 4 saja sebenernya udah bisa bikin Rockets ke final. Dikawal roster yang sangat berpengalaman (baca : tua), seharusnya kendala mental pemain Cavs lebih bisa di manage dengan baik.

Kelima, hustle defense. Sepanjang musim, defense Cavs tidak cukup meyakinkan. Peringkat kedua dari bawah!! Rockets yang rating defense nya nomor 6 saja tetep kalah lawan GSW, gimana yang peringkat 29? Tapi tenang, di playoff rating defense Cavs naik ke peringkat 7, mengungguli Rockets, Bucks, dan Spurs. Jadi pada dasarnya Cavs tetap punya kapasitas untuk bertahan ketat yang bikin lawan frustrasi, apalagi Tristan Thompson yang udah balik bisa rebound lagi, dan Larry Nance yang nggak takut berduel dengan mengandalkan badannya yang atletis. Sayangnya Love masih meragukan untuk tampil di game 1. Remember, good offense can win you a game, good defense will win you a championship. Lalu, tim mana yang defense rating nya paling bagus selama playoff? Dia adalah, Warriors. Nah lo.....

Defensive Rating NBA 17/18, Reguler Season :


Defensive Rating NBA 17/18, Playoffs :


Keenam, konspirasi NBA dan bandar judi. Nggak seru kan kalo final NBA cuman 4 game. Ada potensi penghasilan yang hilang dong? Penghasilan bandar judi juga berkurang dong? Makanya jumlah game harus dipertahankan sebanyak mungkin demi makin bertambahnya pundi-pundi kekayaan mereka.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, yang paling saya inginkan dari game ke game di NBA ini adalah drama nya. Entah itu sedih, senang, kecewa, ataupun hyper-excited. Mengingat terlalu banyak kekecewaan yang muncul dari sepakbola, dengan gagalnya Barcelona di UCL, Lazio gagal masuk UCL tahun depan, MU nggak dapet piala apa-apa, dan Arema yang bikin tepok jidat, maka antusiasme mengikuti NBA makin membesar, dan berharap mendapatkan hiburan yang membuat hari-hariku menjadi cerah ceria.

Yah, kans Warriors memang tetap lebih besar untuk menang, dan mungkin itu akan menjadi bekal kuat buat tim lain untuk lebih serius mempersiapkan diri jelang musim depan demi meruntuhkan hegemoni The Avengers ini, karena tampaknya empat (plus satu) pemain terbaik mereka masih akan tetap bermain bersama musim depan. Saya sendiri memberikan respek yang sangat tinggi terhadap para superstar Warriors yang sepertinya meletakkan pencapaian pribadi dan tingginya gaji di tempat yang lebih rendah daripada pencapaian tim secara keseluruhan, untuk membentuk supertim yang hebat secara individu sekaligus padu secara tim. Namun atas nama kebutuhan drama dan kebosanan yang melanda, saya dukung siapapun untuk jadi juara, selama itu bukan Golden State Warriors.



Btw, disarankan untuk menanggapi poin keenam diatas dengan tidak serius.

-maheinberg, 2018-

27 Mei 2018

Bukan Saat Yang Tepat Untuk Berbahagia (Fans Barcelona Lagi Ngomel)

Ini adalah masa-masa sulit sebagai Fans Barcelona. Bahkan domestic double pun tidak mampu mengurangi kemuramannya.
( gambar dari : sini )

Yang harus disalahkan pertama adalah Pep Guardiola. Dia bersalah karena sempat meletakkan standar yang begitu tinggi dan ideal yang nyaris tercapai. Guardiola lah yang bertanggung jawab pada permainan kolektif yang sangat menghibur, dan membawa Barcelona menjadi tim yang dominan, merajai dunia, serta menjadi standar bagaimana sepakbola itu harus dimainkan. Dalam prosesnya, Guardiola membangun pondasi permainan tim dari pemain-pemain yang berasal dari akademi sendiri, sekaligus mempersiapkan beberapa pemain lain dari La Masia untuk diharapkan menjadi pemain kunci di masa yang akan datang. Permainan menghibur, bintang-bintang besar, diisi pemain akademi sendiri, dominan, dan prestasi yang terus mengalir yang juga berarti banyak penghasilan untuk klub, sebuah kombinasi yang mengundang banyak orang untuk mencintai, yang datang dengan ekspektasi sangat tinggi, tanpa sadar bahwa kondisi seperti itu belum tentu datang 10 tahun sekali. Standar tinggi itu selalu terpatri di benak mayoritas fans Barcelona, sehingga sulit menjadi bahagia dan dibahagiakan. Bayangkan, Luis Enrique berhasil membawa Barcelona mendapatkan treble, tapi banyak yang memintanya untuk dipecat. Valverde sukses mendapat gelar La Liga dan Copa Del Rey, tapi hashtag #ValverdeOut juga merebak bahkan sejak tengah musim, padahal sepanjang musim hanya sekali kalah di Liga.

Yang bersalah kedua adalah Real Madrid. Ya tentu saja dari kacamata fans Real Madrid ini bukanlah kesalahan. Terbayang betapa ringannya jadi fans Real Madrid. Sepuluh tahun hanya dapat satu gelar Liga adalah hal yang biasa saja, toh semua tertutupi dengan empat gelar Liga Champion dalam 5 tahun terakhir. Barcelona dapat tujuh, lho. TUJUH. Tujuh banding satu ya lumayan lah ya. Bandingkan dengan Liga Champion, dalam 10 tahun terakhir Barcelona bisa mengumpulkan tiga, dibandingkan dengan empat milik Madrid. Tidak terlalu jauh memang, tapi Madrid melakukan itu dengan dahsyat, karena tiga diantaranya berturut-turut, ditengah mitos sebelumnya bahwa sekedar mempertahankan juara saja sangat sulit. Bahkan (arguably) The Best Barcelona in history saja empot-empotan dalam mengejar itu tanpa pernah meraihnya. Dalam rentang 10 tahun itu pula, Barcelona meraih dua treble, yang salah satunya sapu bersih seluruh kompetisi lainnya. Itupun bukan hal yang istimewa-istimewa amat di mata fans Barcelona, selama mereka tidak bermain dengan indah, dalam standar masing-masing tentunya. Perbedaan standar kebahagiaan ini membuat hidup fans Barcelona sebenarnya dipersulit sendiri. Ya, saya juga.

Ketiga, faktor Zinedine Zidane. Awalnya banyak yang menganggap bahwa Zidane akan menjadi Guardiola-nya Madrid. Legenda di timnya, pernah menanangani tim junior, lalu membawa tim senior menuju kejayaan. Bedanya kemudian, Zidane lebih terlihat menonjol dalam man management yang mampu membuat para pemainnya percaya dan mengeluarkan kemampuan optimalnya, namun tidak mencatatkan identitas pada pola permainannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kelemahan, tapi lama-lama bisa jadi itulah kelebihannya. Semua lawan Real Madrid selalu menduga apa yang akan dilakukan Zidane, bisa baik dan juga bisa buruk. Bahkan di kalangan fanbase, termasuk fanbase Real Madrid sendiri, Zidane tidaklah dikenal sebagai tactical genius. Tadinya sayapun meremehkan kemampuan Zidane, dan menganggap kejayaan Real Madrid di Liga Champion banyak didukung faktor kebetulan. Tapi kalo bisa konsisten meraih juara hingga empat kali dalam lima tahun, keyakinan terhadap kebetulan tersebut harus dipertanyakan. Mungkin Zidane sengaja menjebak pikiran semua orang bahwa dia agak abal-abal, tapi kemudian menghajar siapapun yang meremehkan dia.

Keempat, Cristiano Ronaldo. Untuk sebagian fans Barcelona, perbandingan Messi vs Ronaldo tidak pernah ada, karena sekedar dibandingkan aja udah nggak pantes. Messi sejak awal sudah tak tertandingi tak sekedar karena kemampuannya mencetak gol, tapi juga memahami permainan, kemampuan memberikan assist, kebisaan playmaking khas La Masia, dan membawa timnya menjadi dominan siapapun yang ada di sekitarnya, bahkan dengan mengisi posisi yang berbeda-beda. Ibaratnya, ketika ada yang menganggap bahwa Ronaldo bisa disejajarkan dengan Messi, maka orang itu sudah dianggap beda "agama" dan pemahaman dalam sepakbola, sehingga debat tidak perlu dilanjutkan karena hanya akan meributkan "keyakinan", dan nggak bakal ada ujungnya. Sayangnya, Ronaldo pernah berprestasi besar dengan negaranya dengan meraih Piala Eropa, meskipun di final dia hanya berjuang dari pinggir lapangan. Sementara Messi yang membawa timnya yang semenjana menuju final turnamen penting tiga kali berturut-turut tetap dianggap fraud karena selalu gagal menjadi juara. Ronaldo juga berhasil menyamai raihan Ballon D'Or Messi, sehingga tema ini tidak lagi bisa jadi bahan untuk disombongkan. Di saat yang sama, ketika Messi sudah melewati Ronaldo dalam meraih sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak eropa, hal itu menjadi hal biasa saja, padahal seharusnya ini juga membuktikan bahwa "Ronaldo is the better scorer" tidak lagi valid. Lagi-lagi semua agak tertutup kenyataan ketika Ronaldo sudah memegang lima piala Liga Champion, sementara Messi baru tiga. Nah, ketimpangan antara keyakinan dan tulisan raihan itu cukup mengganggu tidur malam hari.

Kelima, barisan pengurus Barcelona. Well, yang ini lebih serius sekaligus mengawang-awang, karena sumber informasinya hanya dari berita. Dulu, jaman Real Madrid mengumpulkan para superstar sehingga akhirnya dijuluki Los Galacticos, Florentino Perez dianggap hanya mementingkan marketing tim tanpa benar-benar mengejar prestasi. Buktinya, pemain yang dibeli adalah para pemain bintang, tapi prestasi biasa saja, tidak istimewa. Tapi sekarang berbeda, ketika filosofi Los Galacticos tidak lagi dianut, Real Madrid justru banyak percaya pada pemain muda yang sebagian berasal dari akademi sendiri, dan banyak merawat pemain asli Spanyol, dengan otak permainan tetap bertumpu pada pemain tengah yang mampu mendikte permainan dan sangat hebat dalam mempertahankan bola. Sebuah filosofi yang "sangat Barcelona". Lalu lihatlah Barcelona sekarang. Semua dimulai dengan dijualnya Thiago ke Bayern Muenchen. Bukan benar-benar dijual sih, tapi klausul kontrak menyatakan bahwa release clause Thiago cukup rendah, namun akan menjadi tinggi jika memenuhi jumlah jam main tertentu. Kemudian Thiago jarang dimainkan, dan dia bebas memilih bermain di manapun, karena jelas tawaran yang datang tidak sedikit. Kemudian bertahun-tahun kemudian disusul dengan lepasnya Dani Alves yang ketika keluar menyatakan kekecewaannya pada pengurus. Lalu Xavi, lalu Iniesta, tanpa benar-benar direncanakan siapa yang akan meneruskan tugas mereka yang tadinya menjadi nyawa permainan indah Barcelona. Entah apa yang akan terjadi di Barcelona kelak ketika Messi tak lagi disana. Lalu Sandro Rosell dipenjara sehubungan dengan proses transaksi Neymar, posisinya sebagai Presiden diganti Bartomeu. Di 2015, mengingat prestasi Barcelona yang masih mentereng, Bartomeu kembali terpilih menjadi Presiden mengalakan Joan Laporta, sebuah hasil yang diprediksi banyak pihak akan membawa Barcelona menuju kemunduran dalam beberapa tahun ke depan. Awal musim 17/18 sesungguhnya sudah bisa menjadi tolak ukur dimana Barcelona hanya memperkuat lini tengahnya dengan pemain yang pernah gagal di Inggris, dan kemudian menjalani karir di Liga Cina, tanpa menghadirkan pemain tengah yang mampu menjadi pengatur permainan ala Xavi atau Modric. Padahal telah muncul beberapa nama, salah satunya Jean Michael Seri yang pada akhirnya juga gagal didaratkan di Camp Nou. Sementara Real Madrid yang tahun sebelumnya menjadi double winner justru dianggap memiliki skuad yang sangat lengkap dan seimbang. Superstar yang siap jadi starter, dan sekumpulan anak muda potensial yang tidak keberatan dicadangkan, tapi siap meledak ketika diperlukan. Real Madrid diprediksi akan dominan, sementara Barcelona adalah underdog. Sebuah posisi yang terbalik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tapi ya sudahlah, inilah kenikmatan menggemari sepakbola. Apalagi dengan rivalitas sengit seperti ini, drama yang dihasilkan cukup mengaduk-aduk perasaan, itu yang paling penting. At least Barcelona kembali punya tujuan besar untuk dikejar. Kalo lagi maen Football Manager, masih ada sembilan musim lagi untuk semangat menyalip raihan Liga Champion. Kembali dominan seperti era Guardiola tampaknya terlalu berlebihan dan hanya menjadi semacam ilusi, yang penting menjaga agar tetap kompetitif dan semoga dipersiapkan dari sekarang jika kelak Messi pensiun. Liga domestik adalah uji konsistensi, Liga Champion adalah uji eksplosifitas. Terbukti Real Madrid belum konsisten untuk menjadi eksplosif di tangan Zidane meskipun dikawal pemain-pemain dengan nama besar, hal ini bisa dilihat dari hebatnya Real Madrid di Liga Champion, tapi sering kalah atau seri di La Liga melawan tim-tim kecil. Namun Barcelona juga gagal untuk menjadi eksplosif di sejumlah kecil pertandingan, tapi di masa yang sangat krusial, seperti ketika melawan AS Roma di Olimpico. Musim depan akan menjadi tes yang baru lagi, dengan kemungkinan drama yang baru pula. Saingan utama Barcelona masih Real Madrid, baik di Spanyol maupun Eropa. Mungkin akan ada Bayern Muenchen, Manchester City, Juventus, atau PSG, tapi masih sedikit tertinggal di belakang duo tim Spanyol ini. 

Momen-momen seperti inilah makin membuat saya jatuh cinta pada sepakbola.

Enjoy the moment, salam olahraga.