31 Mei 2014

Ocehan Akhir Musim

Tidak banyak hal yang membuat saya termotivasi untuk menulis di musim ini. Opini saya untuk MU sudah mentok di tulisan terakhir saya. Tentang Lazio juga tidak banyak karena saya jarang nonton Lazio bermain akibat jarangnya ditayangkan di tivi. Yang sebenarnya cukup dramatis adalah tentang Barcelona. Sempat menyiapkan tulisan ketika Barcelona kalah 3 beruntun sekaligus di tiga kompetisi, namun kemudian niat saya kembali hilang dan lebih tenggelam dalam nuansa muram penuh kesedihan dan menyiapkan bendera setengah tiang. Harapan sempat muncul di partai terakhir La Liga, namun tidak disahkannya gol Messi akhirnya meresmikan kegelapan musim ini bagi Barcelona.

Yang paling cerah di musim ini adalah mengenai kiprah Arema. Bermaterikan pemain yang lebih seimbang dan dalam, Arema berhasil memuncaki klasemen, paling tidak hingga paruh musim. Belakangan, skema permainan Arema rupanya makin bisa dibaca para lawan, dan terlihat tidak lagi setaktis dan secerdas di awal musim. Hal seperti sangatlah wajar dan biasa dalam mengarungi satu musim penuh, sekaligus menghadirkan deg-deg-ser dan adrenalin setiap kali menonton pertandingan-pertandingan ISL, terutama Arema.

Sekarang, sangat menarik menunggu bergulirnya Piala Dunia yang kira-kira dua minggu lagi bakal dimulai, karena selain memang seru, Piala Dunia selalu menjadi etalase para pemain yang siap mempertontonkan keahliannya untuk membawa negaranya berprestasi, dan jika beruntung kapasitas individualnya bisa saja menggoda tim besar Eropa untuk dipinang. Sebuah pinangan yang juga berarti oportuniti popularitas dan kemewahan duniawi. Kelak, semoga saja saya tetap semangat, saya ingin menulis khusus tentang Piala Dunia kali ini ditambah tentang preferensi unggulan saya.

Di tulisan ini saya ingin sejenak ngoceh ngalor ngidul tentang musim yang baru berlalu sekaligus harapan buat musim depan.

Well, musim ini cukup jadi anomali. Messi ga dapet Ballon D'Or dan tidak ada di tim terbaik La Liga, Arsenal dapat gelar, MU ga lolos liga eropa, Real Madrid dapat gelar Liga Champion, tim yang mengalahkan Barcelona tidak juara Champion, juara La Liga bukan Barcelona atau Real Madrid, Liverpool bersaing jadi juara hingga partai terakhir, dan akankah serangkaian anomali ini nantinya diakhiri dengan kesuksesan Inggris menjadi juara dunia? Silakan tertawa sejenak jika memang pingin.

Ini adalah musim terbaik untuk para MU Haters, karena entah mengapa begitu susahnya bagi seseorang yang sebut saja namanya Moyes untuk mengajak para pemain MU rela berjuang untuk cari kemenangan. Skuad yang nyaris sama persis dengan musim lalu itu tampil melempem di sebagian besar pertandingan Liga. Padahal ini skuad juara bertahan. Moyes pun mencatat banyak sekali rekor. Rekor yang sebaiknya tidak perlu lagi diingat-ingat. Rekor yang saya yakin tidak akan lagi ada musim depan, karena MU telah menunjuk pelatih yang lebih teruji. Orang itu adalah Van Gaal. Lebih ada harapan yang bisa digantungkan, mengingat CV Van Gaal cukup tebal. Saya harus mengakui bahwa di musim ini pendapat saya mengenai Fellaini tidak tepat. Entah apa yang akan dilakukan Van Gaal pada si kribo ini, semoga saja di piala dunia dia bisa menemukan lagi semangat dan niat main bolanya yang kemarin-kemarin mungkin nyebur di kali deket merseyside. Jika melihat track record Van Gaal, harapan untuk melihat MU kembali bermain atraktif, kuat, dan mengorbitkan banyak pemain muda jadi kembali melambung tinggi. The old Manchester United is soon arriving.

Dan Barcelona.

Ah, banyak sekali yang ingin saya ocehkan tentang Barcelona ini. Sempat bagus banget di paruh pertama kompetisi, eh kemudian mlempem dan sering banget bermain tanpa intensitas dan seolah tidak terlalu ingin menang. Memang ini adalah musim yang berat, mengingat banyak hal terjadi di dalam dan, lebih lagi, di luar lapangan. Pelatih baru, banyak cidera, Neymar si pemain baru, berkolaborasi dengan serangkaian kasus hukum, presiden mundur, transfer ban, hingga kematian Tito Villanova. Bisa saja ini menjadi alasan terdepan, namun tetap saja sebagai penonton saya tetap berharap lebih. Namun ya begitulah adanya, Barcelona hanya meraih Piala Super Spanyol di awal musim menyingkirkan Atletico Madrid, tim yang tidak pernah dikalahkan Barcelona di enam kali pertemuan musim ini. Perasaan paling mendominasi ketika musim ini berakhir adalah : Lega.

Lega karena musim aneh ini sudah berlalu, dan lega karena wake up call kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dan dengan tidak adanya tropi di akhir musim ini, maka saya merasa dominasi Barca era Guardiola resmi berakhir, sehingga fans Barcelona tidak perlu lagi terjebak di masa itu, dan bisa merasa bahwa sudah waktunya Barcelona berbuat sesuatu yang lebih masif. Penunjukan Luis Enrique adalah langkah awalnya. Sebagai orang yang mengenal Barcelona luar dalam sejak lama, ditambah pengalaman dua tahun melatih tim lain, Lucho punya banyak bekal untuk memoles Barcelona menjadi tim yang kuat, tanpa meninggalkan filosofi mendasar, namun dengan sentuhan baru yang berbeda. Apa bedanya? Entahlah. Semoga saja memang ada yang berbeda. Barcelona effect sudah sangat viral, sehingga begitu dikenal dan dipelajari dengan baik di seluruh dunia, sehingga jadi pe er besar buat Enrique untuk tetap berada di track identitas itu tanpa harus menjadi mudah terbaca.

Lucho juga sangat familiar dengan para pemain muda Barcelona. Ini menjadi modal yang sangat kuat untuk kembali menjadikan La Masia salah satu pabrik pemain hebat yang dicetak dan digunakan oleh Barcelona. Paling tidak pemulangan Deulofeu dan Rafinha yang sangat diinginkan Luis Enrique cukup menjadi sinyal yang lebih baik daripada apa yang dilakukan Tata Martino yang kurang mengenal segudang (literally, maybe) potensi besar di sekolah bola di pelataran halaman Barcelona itu. Kenyataannya, jika sempat melirik ke bawah sebentar, tahun ini tim junior Barcelona mampu meraih 16 gelar yang sangat prestisius di berbagai level. The future is on their hands.

Dua nama yang hilang dari daftar pemain Barcelona musim depan, Puyol dan Valdes, pasti akan membawa pengaruh besar untuk bentuk permainan Barcelona. Kemudian board Barcelona mengatakan akan mendatangkan banyak pemain, terutama dua kiper, dua bek, satu pemain tengah, satu winger, dan satu striker. Bisakah ini disebut revolusi? Puyol adalah playmaker mental yang bisa saja adalah yang terbaik yang pernah dimiliki Barcelona. Valdes, indeed, adalah kiper terbaik sepanjang sejarah klub. Mungkinkah dicari penggantinya? Well, menarik untuk melihat pergerakan manajemen Barcelona bersama dengan Enrique untuk mengatasi hal ini. Berita terakhir mengatakan, club telah mengkonfirmasi mengangkat Puyol sebagai "Assistant to Sport Management". Satu lagi eks pemain sekaligus kapten Barcelona yang berada di jajaran manajemen Barcelona. Mes Que Un Club.

Dan setelah lega, yang mengiringi kemudian adalah : optimis.

For both Barcelona and Manchester United.

Makin excited menunggu musim depan.

Dan menunggu FM 2015.

Terakhir, ada pesan buat yang telah lama terlelap di Italia.
Bangkitlah nak, wahai tim ibukota. Lihatlah tetanggamu yang menguat. Aku ingin melihat kuartet lini tengahmu jadi yang terbaik lagi di Italia. Semoga board mu mulai terketuk hatinya untuk mengembalikanmu ke jalur yang sama dengan yang terjadi 15 tahun yang lalu. Aamiin.

24 Maret 2014

AREMA Tambah Suip Lop

AREMA 2013/2014.
New team, same old passion and identity.


(sumber foto : http://www.aremadesign.com/2014/02/skuad-singo-arema-2014.html)


Mayoritas Aremania (paling tidak, saya) pasti akan selalu mengingat Robert Rene Albert, karena di masa kepemimpinannya lah Arema menjadi tim yang solid dan bermain bagus, sehingga bisa menjadi juara Liga Indonesia. Tanpa diisi banyak pemain bintang, Sam Trebor bisa membawa Arema menjadi tim yang ditakuti tim manapun, dimanapun pertandingan dilaksanakan. Kunci utamanya adalah : keseimbangan.

Keseimbangan itulah yang hilang musim lalu. Dibanding yang lain, musim lalu AREMA bisa dibilang memiliki materi paling bertabur bintang. Sebut saja Victor Igbonefo, Thiery Gatussi, Egi Melgiansyah, Greg Nwokolo, Cristian Gonzales, Alberto Goncalves, dan Keith Kayamba Gumbs. Sayangnya, stok striker bintang melimpah itu tidak didukung dengan kemampuan pemain tengah yang mumpuni. Lini tengah tidak superior.

Sehingga ketika di awal musim ini manajemen AREMA melepas Greg, Gumbs, dan Egi, kemudian mendatangkan kembali Juan Revi, Ahmad Bustomi, dan menarik Samsul Arif dan Gustavo Lopez, maka AREMANIA bisa kembali optimis dan bahagia, karena AREMA telah meraih kembali keseimbangan-nya.

Lihat saja komposisi AREMA musim ini. Hampir semua posisi memiliki dua pemain yang nyaris sama hebatnya.

Kurnia Meiga adalah kiper terbaik Indonesia saat ini. Cukup kuat di back up oleh mas Ahmad Kurniawan dan I Made Wardhana.

Purwaka dan Munhar bersaing untuk menjadi partner Igbonefo di bek tengah.

Bek sayap diisi Beny Wahyudi, Alfarisi, dan Thierry Gathuessi.

Gelandang tengah diisi lima pemain dengan gaya yang cukup berbeda. Ahmad Bustomi adalah nyawa Arema yang akhirnya berhasil ditarik pulang, Juan Revi juga eks Arema yang makin matang dengan determinasi dan daya jelajah sangat tinggi plus kemampuan bertahan yang lebih baik. Gustavo Lopez adalah playmaker elegan yang memiliki visi super, I Gde Sukadana yang memiliki kemampuan passing sangat baik, dan Hendro Siswanto yang sangat mobile dan memiliki tendangan keras.

Sektor sayap tak kalah banyak stok nya. Di kiri ada striker berlabel timnas yaitu Samsul Arif, dan disaingi ketat oleh Irsyad Maulana yang sebanding lincahnya. Di kanan ada Dendi Santoso, Sunarto, dan Arif Suyono yang memang asli Malang. Kadang Beto pun juga bermain di posisi ini.

Di posisi striker, silakan bertepuk tangan menyambut duet Beto Goncalves dan Christian Gonzales. Ada yang ga kenal?

Kini permainan AREMA begitu mengalir, dengan variasi serangan yang beragam. Terbukti AREMA bisa melakukan tiki-taka lewat tengah, menyerang cepat lewat sayap, ataupun mengandalkan serangan udara. AREMA bisa mendominasi lini tengah, dan tetap tangguh di belakang. Dibanding semua kontestan Liga Indonesia saat ini, AREMA lah yang paling seimbang. Tidak hanya optimis pada prestasi, permainan AREMA jadi semakin menarik untuk ditonton, dan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Taktis, cerdas, kuat, dan dalam. A joy to watch. Sueneng ndeloke.

Selain performa di lapangan, kini muncul blog baru yang mendukung AREMA melalui analisis data statistik yang menurut saya sangat sesuai dengan kondisi sepakbola modern. Silakan berkunjung ke blok ini untuk mengetahuinya. Blog aremastatistik ini mengulas permainan arema dan analisa kekuatan lawan melalui data statistik yang menghasilkan kesimpulan dan saran demi permainan AREMA yang lebih baik, meskipun belum jelas bentuk kerjasama admin blog ini dengan manajemen AREMA. Sebagai orang awam, blog ini juga berguna untuk saya sebagai bahan pembelajaran. Setelah pihak manajemen me modernisasi pola permainan, pola latihan, dan pola diet, kehadiran blog independen ini akan membuat AREMA semakin meng-eropa. Bukan ingin kemenggres, tapi bagaimanapun kiblat kemajuan sepakbola saat ini adalah Eropa. Mungkin pelan-pelan pola kelola AREMA juga bisa semakin profesional ala (lagi-lagi) eropa, dengan tidak meninggalkan akar kearifan lokal dan fanatisme khas AREMA yang tidak ada duanya di dunia.

What A Reality Show!! (sebuah catatan tentang El Clasico)

Setelah sekian lama, akhirnya El Clasico mampu mengembalikan sepakbola pada fitrahnya, yaitu sebagai reality show terbaik yang pernah ada. Passion, intensitas, determinasi, teknik, strategi, harapan, dan drama. Semua lengkap. Sebagai fans Barca, tentunya saya sangat senang ketika melihat hasilnya, 4-3 untuk kemenangan Barcelona, di hadapan ribuan madridista di kandangnya. Tapi buat saya, sedikit lebih dari itu.
(Image : Javier Lizón)

------------

Real Madrid = 70 poin dan pimpinan klasemen.
Barcelona = tertinggal 4 poin meski pernah memimpin 8 poin.
Next match : El Clasico.
Venue : Santiago Bernabeu.
Real Madrid's last 5 matches : WWDWW. Tak terkalahkan dalam 31 pertandingan.
Barcelona's last 5 matches : LWLWW. Termasuk kalah dari Real Sociedad dan Real Valladolid.

Para netral akan condong menebak Real Madrid yang akan menang. Jika ada yang menebak Barcelona menang, kemungkinan besar atas nama keseruan Liga Spanyol semata.

Bahkan fans Barca sendiri ada yang meragukan Barcelona. Saya salah satunya.

Untuk bisa memenangi ball possession dan mengimbangi permainan, tentu saja Barcelona mampu. Tapi untuk menang? Saya ragu. Seri paling mungkin.

Ternyata, toh saya salah. Barcelona menang. Dengan cukup meyakinkan. Dengan passion yang menggelora. Dengan determinasi yang dulu pernah jadi identitas. Dan yang ga ketinggalan, dengan drama.

Man of the match menurut saya adalah : Andres Iniesta. Ya, Messi memang mencetak hattrick dan satu assist, sudah seharusnya begitu, tapi itu semua bisa saja tidak terjadi tanpa adanya imajinasi seorang Iniesta. Pergerakan dengan dan tanpa bolanya menakjubkan, dan semuanya dilakukan dengan ringan dan elegan. Big player for big games. Sebuah momen untuk mengingat kembali final piala dunia 2010. Hanya saja kali ini bukan dengan gol, tapi pergerakannya yang membuat Xabi Alonso gemes, sehingga terpaksa menjepit Iniesta yang sebelumnya sudah dijaga Carvajal. Ini adalah pelanggaran yang bisa didebatkan berhari-hari. Tapi kontak memang terjadi, dan ingat, Iniesta (and Messi) don't dive. Dan keputusan wasit telah dibuat. End of story.

Keputusan wasit bisa diperdebatkan. Pelanggaran pada Neymar, penalti Ronaldo, kartu merah Ramos, dua penalti Messi, dll, dll. Dua-duanya dirugikan. Kepemimpinan wasit kurang baik, itu saja. Pembahasan panjang tidak akan mengubah hasil pertandingan. Dan drama semacam ini adalah bumbu yang membuat sepakbola begitu sedap. Kadang berbuah manis karena menang, kadang juga sangat pahit. Itulah nikmatnya menonton sepakbola.

Kenyataannya, Barcelona memang tampil berbeda dibandingkan performa secara umum di tahun ini, dengan mengecualikan performa melawan Manchester City dan Osasuna. Barcelona yang kemarin, dengan menambah sistem pertahanan yang lebih baik, akan bersaing dengan Bayern Muenchen menjadi kandidat utama tim terbaik eropa. Sementara Real Madrid, menjadi sedikit "berbeda" dengan minimnya peran Bale dan Ronaldo. Man of the match dari Real Madrid tentu saja Angel Di Maria. Orang ini sejak dulu memang selalu menyulitkan. Lincah, ngotot, cepat. Tapi Ramos tetap Ramos, dan Pepe tetap Pepe. Plus Modric yang sukses diminimalisir perannya oleh Busquets, maka saya rasa Barcelona memang layak menang. Dengan hasil yang seperti ini. Dengan Real Madrid yang bertarung gagah berani seperti ini. Bukan seperti Real Madrid di era... ah, sudahlah....

Selanjutnya adalah : memenangkan semua sisa pertandingan La Liga, menunggu Real Madrid tercecer, memenangkan match terakhir melawan Atletico Madrid, menyingkirkan Real Madrid di Copa Del Rey, dan mengeliminir Atletico Madrid dari Liga Champion. Dan bersiap melawan Bayern Muenchen.

Semua seru.

Mengasyikkan.

What a reality show!!!

27 Desember 2013

Liga Inggris Yang "Berbeda"

Sebelum musim ini dimulai, melalui twitter saya menyampaikan kerinduan saya pada kebesaran Arsenal dan Liverpool, tanpa lupa menyertakan doa untuk kembalinya kejayaan mereka. Hingga boxing day ini, yang terjadi ternyata melebihi ekspektasi saya. Arsenal dan Liverpool justru menjadi kandidat terdepan penguasa liga lokal (so called) terbaik eropa ini. Lesson learned : jangan meremehkan kekuatan doa.


EPL season 2013/2014 memang berbeda. Pertama, Arsenal melakukan pembelian mahal. Sebut saja namanya Özil. O-nya pake titik dua di atas. Katanya itu berarti pengucapannya dengan suara O yang seperti ditelan. Özil (dengan titik dua diatas) ini jadi semacam pembuka cakra di aliran tenaga dalam Arsenal yang selama ini terpendam. Di awal-awal, Arsenal yang dari musim ke musim selalu bermain cantik nan menghibur tapi tidak selalu menang ini sempat memimpin hingga lima poin dari posisi dibawahnya. Dan bintang terang yang mencetak banyak gol adalah : Ramsey.

Kedua, Liverpool jadi kuat lagi. Sebagai kolektor gelar Juara Liga Inggris terbanyak kedua (yang pertama adalah MU. Mungkin sudah pada tau sih, kalimat dalam kurung ini hanya memperjelas saja), Liverpool sungguh tidak layak untuk menjadi tim yang beberapa tahun terakhir seperti tim medioker yang bahkan seringkali susah payah memastikan berada di kompetisi Eropa di musim mendatang. Upaya Rodgers untuk menata sistem permainan Liverpool mulai terasa hasilnya. Suarez semakin ganas. Dan so far jadi top scorer. 19 gol dari 18 pertandingan Liverpool.

Ini adalah saat yang tepat bagi para gooners dan liverpudlian untuk sejenak meluangkan waktu membalas cibiran yang selama ini muncul dalam rangka menyindir minimnya piala yang mampir ke lemari mereka. But above all, yang hingga saat ini masih menjadi Gooners dan Liverpudlian adalah mereka yang telah teruji. Yang masih berdiri di tengah kapal yang limbung. Respek yang tinggi untuk hal ini. Hat off.

Ketiga, Manchester City lolos ke babak knockout Liga Champion. Dua musim terakhir, City selalu gagal lolos babak grup Liga Champion, padahal berpredikat tim papan atas di liga papan atas. Sebelumnya malah lebih sering tidak ikut partisipasi. Dan sekali-kalinya lolos, langsung bertemu Barcelona. Ya, City tahun ini memang punya skuad penyerang yang luar biasa, terbukti dengan 53 gol yang sudah dicetak di Liga Inggris, hanya dari 18 partai. 10 gol lebih banyak dari Liverpool, pencetak gol terbanyak kedua. Tapi untuk melawan Barcelona, sepertinya belum. Tapi cukup seru, mengingat barisan bek Barcelona juga sedang dalam fase diragukan. Tapi, City kurang punya karakter kuat di eropa. Tapi... Ah, kebanyakan tapi...

Keempat, tidak ada lagi Sir Alex Ferguson di EPL.

Kelima, Manchester United tidak ada di empat besar klasemen. Saya rasa ini berhubungan dengan alasan keempat. Setelah berpuluh-puluh tahun dipimpin seorang gaek yang pemarah dan berwajah semu-semu merah, kini MU dipimpin oleh manajer yang musim-musim sebelumnya selalu menyulitkan MU, tapi belum pernah benar-benar meraih prestasi yang nyata. Sebut saja namanya David Moyes. MU sempat terlihat limbung dan bermain dengan mental medioker. Sangat berbeda dengan mentalitas era Fergie yang sangat papan atas, meskipun pemainnya yang medioker. Di twitter saya yang lalu, saya lupa menyisipkan doa untuk kelanggengan kejayaan MU. Tapi tak apa. Ini transisi. Iya, transisi. Betul, transisi. Transisi kan? Transisi bukan sih? Iya deh, transisi.

Keenam, coba diluangkan waktunya sebentar untuk melihat klasemen Liga Inggris saat ini. Jika permintaan saya ini dianggap terlalu berat, ya sudah, saya capture kan klasemen per tanggal 27 Desember 2013 dari soccerway.com.

Ini adalah gambaran ketatnya persaingan Liga Inggris musim ini. Mungkin lebih ketat daripada tanktop Jupe. Empat besar klasemen hanya berselisih nilai satu saja. Sebelum dikalahkan City, Liverpool ada di peringkat dua. Meleng sedikit, bisa jatuh keluar zona Eropa, karena di posisi lima ada Everton yang poinnya berbeda dua saja. Itu kalo hanya meleng. Kalo sempat ketiduran, sudah ada Newcastle, Tottenham, dan (sigh!) MU yang punya potensi untuk kembali menyodok ke atas. Posisi ini mengingatkan saya pada Serie A sekitar tahun 98-an, ketika saya baru saja kenal sepakbola Eropa. Waktu itu ada magnificent seven yang melibatkan Juventus, Inter Milan, AC Milan, Lazio, AS Roma, Fiorentina, dan Parma, bersaing sangat ketat dan seru. Tahun ini, Liga Inggris berpeluang untuk mengalahkan Serie A waktu itu dalam hal ketatnya persaingan. Sebagai Football Fanatic, tentunya saya sangat berharap persaingan ini berlangsung hingga akhir, dan sebagai fans MU, saya berdoa semoga akhirnya Manchester United menyalip di tikungan dan menjadi juara. Kenapa tertawa? Biarin aja, namanya juga doa.

Ketujuh, Mourinho tidak lagi menjadi yang paling sering jadi bahan berita media. Kembali ke rumah yang paling nyaman untuknya, Mou justru bermodal ketidaksuksesan di Madrid, dan Chelsea baru saja mengalami fase gonta ganti manajer pasca peninggalan Mou. Tentu saja ini meninggalkan skuad yang sangat berbeda dibanding Chelsea era Mou dulu. Entah kenapa, sepulang dari Madrid, Mou tidak terlalu sering berkomentar lugas khas Mou. Mungkin karena Chelsea memang sedang perlu pengaturan dan penanganan yang lebih dari sekedar komentar. Ditambah tidak adanya Fergie, seolah tidak ada pertarungan verbal yang seru antar manajer. Chelsea yang tidak terlalu superior baik di pertahanan maupun menyerang, serta manajer lain yang ternyata juga menyita banyak perhatian membuat Mou seperti tidak sedang berada di Inggris.

Kedelapan, Liga Inggris hanya tayang seminggu dua kali di tivi gratis nasional. Sangat disayangkan ketika Liga jadi seru-serunya, nontonnya malah dikit. Padahal Big Match nya makin banyak. Langganan tivi berbayar dong!!! Iye dah, bayarin tapi ya. Streaming dong!!! Waduh, lebih sering ga stabil koneksinya. Ya udah, derita lo!!! Iya deh, derita gueh.

Sebagai penutup, selamat menikmati suguhan liga ketat nan menghibur. Harapan saya lainnya, semoga Inggris bisa punya timnas yang bermain keren dan punya identitas kuat seperti Spanyol, Jerman, Brazil, bahkan Italia. Semoga kekuatan modal yang berputar di sekitaran Liga Inggris tidak menjadi bumerang yang pelan-pelan menggerus soliditas pemain lokalnya.

Harapan yang lain lagi, semoga Liga Indonesia bisa jadi sehat, kompetitif dan konstruktif, dan Timnas Indonesia bisa jadi profesional dan membanggakan. Sudah ada harapan di level U-19. Yang di atasnya sudah waktunya didukung tanpa berharap banyak. Lain kali mari kita ngomong sepakbola Indonesia. Nunggu Liga yang baru tapi dengan rasa lama nanti.

Itu juga kalo ga males.

03 September 2013

Happy Transfer-Deadline Day !!!



Daaaan, drama seru perebutan pemain lewat episode transfer sudah ditutup. Seperti biasa ada beberapa transfer mendadak yang mengejutkan, tapi overall semua sudah terprediksi.

Yang paling menghebohkan tentunya adalah mega transfer Gareth Bale. Ditransfer seharga 86 juta Pound dari Tottenham Hotspurs, Bale memecahkan rekor transfer pemain termahal sebelumnya, yang kini juga menjadi rekan setimnya, Cristiano Ronaldo seharga 80 juta Pound (meskipun dengan mempertimbangkan inflasi, harga Bale masih di bawah Ronaldo). Bagi saya yang fan Barcelona, ini adalah berita gembira yang sangat menarik. Mahalnya transfer Bale akan menyinggung ego nya yang (apabila dilihat dari sikapnya di Spurs) cukup besar. Di Spurs, dia adalah bintangnya. Semua perhatian tertuju padanya. Transfer termahal artinya adalah afirmasi akan status kebintangannya. Memang, Bale adalah pemain terbaik Liga Inggris versi Para Pemain dan versi para wartawan, yang sekaligus pemain muda terbaik, namun Bale belum mencapai level yang telah dilalui Ronaldo ketika memecahkan rekor transfer tersebut, karena waktu itu Ronaldo telah menjadi juara Liga Inggris, Liga Champion, dan pemain terbaik dunia. Dengan nilai mencengangkan seperti itu, relakah Bale diperlakukan sama dengan pemain lain, sebut saja, Di Maria atau Modric? Siapkah dia tidak menjadi pilihan utama? Dan untuk Madrid nya sendiri, harmoniskah proses penyautan Bale ke tim utama? Jika tidak, siapkah Madrid mencadangkan calon pencetak uang barunya itu? Saya sendiri tidak yakin poros permainan Madrid akan beralih dari Ronaldo, jadi seperti apa Bale akan dipergunakan akan menjadi cerita yang asik. Mari ditunggu apa yang bisa dilakukan Don Carlo dalam menangani Real Madrid. Tentu saja dia memiliki segudang pengalaman dan kemampuan, dan ini adalah tes yang sesungguhnya.

Jika berita Bale ke Madrid adalah menyenangkan, maka berita dijualnya Ozil adalah icing on the cake. Bagi saya, Ozil adalah pemain terbaik Madrid dalam dua tahun terakhir, sedikit diatas Ronaldo. Seperti yang saya tulis di twitter, jika Ronaldo adalah Andhika, maka Ozil adalah Dodhy-nya. Beberapa memprotes perumpamaan ini, tapi lebih kepada contoh figurnya, bukan esensinya, jadi tidak perlu saya ganti dengan nama tokoh lain seperti misalnya HediYunus-YovieWidianto, atau AriLasso-AhmadDhani, atau Sammy-Badai, atau Axl-Slash, dan lain-lain. Ozil adalah maestro kreativitas pergerakan cepat Ronaldo-DiMaria-Benzema. Ozil adalah pemain Madrid pertama yang sangat saya inginkan untuk bergabung dengan Barcelona atau Manchester United. Memang sudah ada Isco, tapi dia bukan Ozil. Madrid akan memiliki gaya yang baru. Sayangnya, Manchester United tidak terlalu bernafsu untuk mengejarnya, sehingga Ozil memilih untuk bergabung dengan Arsenal. Ya, Arsenal. Sekali lagi, Arsenal. Rekor transfer pula. Rekor tim, sih. 42,5 Pound. Bukan bermaksud meremehkan, tapi transfer mahal bukanlah kebiasaan Arsenal. Dengan transfer ini, Arsenal sangat berpeluang untuk kembali garang dan bukan lagi penyemarak peserta Liga Champion musim depan. Smart spend.

Sebagai fans Manchester United, saya sangat menyayangkan tidak direkrutnya Ozil ini. Mungkin karena harga yang terlalu mahal, atau memang Moyes merasa tidak memerlukannya. Namun ada juga kabar baik yang menjadi penghias senyum di kalangan Manchunian, yaitu dengan direkrutnya Belgian International, Marouane Fellaini. Sejak awal tahun ini, saya merasa MU membutuhkan seorang pemain tengah yang berkarakter dan tak kenal lelah, seperti yang cukup ditunjukkan Fellaini di Everton beberapa tahun terakhir. Menarik untuk menyaksikan duet Carrick-Fellaini dalam memimpin lini tengah MU. Semoga ini juga menjadi lecutan semangat untuk Cleverley dan Anderson supaya bisa tampil lebih baik, serta menjadi panutan pemain muda lainnya untuk menjadi semakin matang dan siap dipromosikan ke tim utama.

Dan membicarakan transfer, maka kurang afdol jika tidak membicarakan Barcelona. Barcelona sudah memboyong Neymar jauh hari sebelumnya, dan kemudian hingga Transfer Deadline, Barcelona berhasil memboyong....  

No one!!!

Banyak fans yang berteriak akan pentingnya perekrutan bek tengah yang handal, namun ternyata Tata Martino tidak berpikir demikian, dan merasa sudah cukup untuk mempercayakan lini belakang pada barisan bek yang sudah ada. Pique, Mascherano, Puyol, dan Bartra. Memang cukup membuat fans Barca deg deg ser, karena musim lalu Pique terlihat sangat lamban dan sering salah posisi, Mascherano bukanlah bek tengah asli dan sering kalah duel udara, Puyol makin rawan cidera, dan Bartra belum cukup punya pengalaman. Hingga jendela transfer ditutup, Tata benar-benar tidak melakukan transfer baru lagi. Door closed.

Maka Barcelona pun menjalani musim dengan skuad musim lalu, plus Neymar (dan Cuenca serta Affelay). Tidak langsung diturunkan menjadi starter, Neymar diperkenalkan pelan-pelan pada sistem permainan Barcelona sekaligus menjadi tanda bahwa tim adalah segalanya, berada di atas puja puji pada individu. Ketika dimainkan, Neymar menunjukkan potensi cukup besar untuk menyatu dalam sistem sekaligus menawarkan sesuatu yang baru, dan juga mempertontonkan aksi kreatifitasnya dalam memperoleh kartu kuning yang tidak perlu (sigh!). Dalam tiga laga awal di La Liga, Barcelona memperoleh nilai sempurna dengan catatan 11 gol dan kemasukan 2 gol. Hal positif yang disajikan Tata sejauh ini adalah kembalinya hasrat dan determinasi tim untuk melakukan pressing ketat, kemampuan dan kemauannya untuk melakukan rotasi pemain (bahkan Messi sekalipun), kepercayaannya pada pemain muda, menonjolnya peran Fabregas dalam membagi bola-bola vertikal yang cerdas sebagaimana yang menjadi ciri khasnya, serta munculnya kembali Valdes sebagai kiper kelas dunia yang bisa tetap menjaga konsentrasi penuh meskipun sepanjang pertandingan lebih banyak menganggur. Hasil ini membuat duka akibat tidak adanya transfer bek tengah (dan juga striker murni) menjadi cukup terobati.

30 Juni 2013

Neymar, Football World's Justin Bieber. They said.


Konon kabarnya, Neymar adalah "The most marketable sportperson in the world", bahkan sejak sebelum bergabung dengan Barcelona. Nama Neymar tercatat diatas Lionel Messi, Usain Bolt, Novak Djokovic, dan Cristiano Ronaldo. Sebagai pemain di Liga Brazil, tentu saja tidak banyak yang pernah menyaksikan aksinya, sehingga kebanyakan (termasuk saya) ingin membuktikan siapa-itu-neymar lewat cara yang paling mudah, yaitu youtube.

Ini adalah beberapa yang saya temukan :




Di video-video itu Neymar memang terlihat sangat brilian dalam memperlihatkan skill-nya, termasuk ketika Neymar berhasil menggunakan tekniknya untuk melewati lawan dengan mencungkil bola melalui belakang kepala, atau mirip seperti teknik double heel shoot yang biasa digunakan Kazuhiro Hiramatsu di komik Shoot!

Meskipun demikian, banyak orang meragukan kemampuan Neymar sebenarnya, apalagi jika kelak mengikuti kompetisi di Eropa yang terkenal sangat ketat. Mahalnya nilai transfer, ngototnya Barcelona menggaet si wonderkid yang dianggap berlebihan, over-hyped, ngetop di youtube, tapi belum terbukti kemampuannya, membuat Neymar disamakan dengan Justin Bieber, yang juga sangat ngetop bermula dari internet, dan (dianggap) tidak mempunyai kualitas beneran. Apalagi diperkuat dengan fakta bahwa ketika Santos melawan Barcelona di final Piala Dunia Antar Klub, ternyata Neymar tidak bisa berbuat apa-apa.

Well, saya harus berterima kasih pada Piala Konfederasi, karena disinilah saya bisa menyaksikan apa yang bisa dilakukan Neymar. Sejauh yang saya amati, Neymar memang memiliki kemampuan first touch, teknik, dan footwork yang bagus. Dia juga cepat. Dan yang paling mengesankan adalah kemampuannya untuk mengetahui kapan waktunya kemampuan itu TIDAK digunakan. Di turnamen internasional, Neymar mencetak 3 gol dan assist penting yang membawa Brazil ke final, termasuk di antaranya mengalahkan Italia.

Bekal skill mumpuni, mobilitas tinggi, visi bagus, free kick ciamik, determinasi tinggi, akan menjadi bekal yang sangat cukup untuk bergabung dengan para playmaker di Barcelona, dan akan menjadi nilai lebih yang jika dilihat dari kerendahan hatinya ketika memperkenalkan diri untuk bisa bekerjasama saling menguntungkan dengan Messi. Neymar dan Barcelona akan sama-sama berkembang dengan lebih baik. Paling tidak, pertanda kesana terlihat cukup nyata.

Terlebih lagi jika dicermati kiprahnya sebagai "Atlit Terlaku" di Pasar, maka kehadiran Neymar akan menjadi marketing boost yang menjadi pesaing serius Cristiano Ronaldo di bidang non-sepakbola itu. Neymar juga akan membuat Alexis Sanchez berusaha lebih keras untuk membuktikan bahwa kritikan terhadapnya salah, serta akan mendorong Pedro untuk berusaha kembali pada puncak performanya. Villa? Mungkin akan bisa ditempatkan sebagai True 9. Tello, Cuenca, Deulofeu? Waktunya belajar langsung dari para ahli, dan kemudian membuktikan diri layak menjadi starter, atau harus rela tidak lagi berkostum blaugrana. Tampaknya pembelian Neymar ini akan jadi pembelian besar yang sukses.

Semoga saja.

01 Mei 2013

What Was Wrong With Barcelona?

2012/2013 UCL Semifinal's Aggregate :
Barcelona 0 - 7 Bayern Muenchen

What was wrong with Barcelona?
Nothing new, Muenchen was just a beast.

Tanpa parkiran bus, Bayern sanggup menghajar gawang Barcelona dan bertahan tanpa kebobolan. Sebuah kejadian yang dalam 5 tahun terakhir tergolong langka. Memang Barcelona tidak benar-benar tak terkalahkan, namun mayoritas kekalahan Barcelona terjadi ketika lawan menggunakan taktik bertahan ketat dan mengandalkan serangan balik cepat. Tapi tidak dengan Bayern Muenchen.

Muenchen mampu mengimbangi possession Barcelona dengan keseimbangan semua lini nyaris tanpa cacat, baik vertikal maupun horizontal. Mario Gomez berhasil mengeksploitasi kelemahan rata-rata tinggi badan pemain Barcelona, Mandzukic berhasil mengganggu tugas Alex Song, Tiga orang di belakang striker bisa melakukan serangan menakutkan baik dari kedua sayap maupun tengah. Duet Schweni-Martinez mampu memutus alur bola secara konsisten, sekaligus memulai serangan dengan akurat, Lahm adalah dirigen di belakang dengan Alaba yang tak canggung bertahan dan menyerang meskipun masih sangat muda, duet Dante/Boateng dan van Buyten sangat tangguh yang membuat tak ada satupun serangan Barcelona menjadi berbahaya, dan Neuer yang nyaris tidak terancam secara signifikan.

Yes, Muenchen was just a beast. Nuff said.

Hasil terburuk Barcelona dalam paling tidak 7 tahun terakhir. Seharusnya tidak berhenti disini, karena sesuai pesan almarhum Uje, selalu ada hikmah di balik musibah, atau dalam kasus ini, hikmah itu harus dicari.

First of all, Barcelona still holding their philosophy which is recently well-known and well-studied. Ketika disebut-sebut sebagai salah satu tim terbaik yang pernah ada, Barcelona mengejutkan dunia dengan filosofi yang sebenarnya tidak baru, bahkan selalu dilakukan sejak di akademi, yaitu memaksimalkan possession dan menerapkan high pressing line, namun diperbaiki melalui tangan Pep Guardiola. Barcelona memiliki sekumpulan pemain dengan kemampuan mempertahankan bola dan melakukan passing yang sangat bagus. Kemudian dunia terkena wabah Barcelona Effect.

Tiga tahun setelah Pep memperlihatkan kapabilitasnya dengan meraih semua gelar yang ada di musim pertamanya, Barcelona harus kehilangan gelar liga domestik, dan kemudian ditinggalkan oleh Pep yang merasa kehilangan passion. Era Barcelona dianggap telah berakhir. Sejarah juga menceritakan, tim hebat memiliki siklus empat tahunan. Hanya saja "berakhir"nya era Barcelona itu terjadi ketika Barcelona sedang menjadi juara dunia, plus meraih satu gelar Copa Del Rey. Sebuah "akhir era" yang benar-benar berstandar tinggi. Jika keluarnya Pep adalah masa-masa ketika Barca-era dianggap berakhir, maka era Tito adalah "sisa-sisa" kejayaan Barcelona. Dan di sisa-sisa era tersebut, Barcelona (baca: Messi) memecahkan banyak rekor. Sayangnya, rekor itu termasuk rekor kekalahan terbesar di semifinal Liga Champion. Dengan tersingkirnya Barca dari Piala Raja, maka peluang terbesar gelar yang akan didapat hanya tinggal La Liga. Sangat mungkin didapat, meskipun peluang untuk tergelincir masih ada.

Sejak ditangani Tito Villanova, muncul beberapa kelemahan yang membuat Barcelona tidak lagi menjadi tim dominan di Eropa, bahkan juga kehilangan dominasi atas rival abadi, Real Madrid. Barcelona terlalu bergantung pada Messi, tidak memiliki variasi serangan beragam, dan tidak lagi berbahaya dari kanan dan kiri. Hanya Messi. Trio genius Iniesta-Xavi-Busquets dipaksa untuk sampai pada tepi-tepi kejeniusannya. Yang paling terlihat, kelemahan Barcelona terletak di lini belakang. Ketika dua fullback menyerang, tersisa lubang besar di belakang mereka. Rentetan cidera dan menurunnya performa Pique membuat Barcelona menjadi tim bagus, tapi tidak hebat. Karena Vince Lombardi pernah mengatakan "Good offense will win you games, but good defense will win you championships". Terlihat juga hilangnya peran pemimpin di belakang ketika Puyol tidak ada.

Tapi yang paling vital dari semuanya adalah : hilangnya motivasi dan rasa lapar gelar.

Mayoritas pemain Barcelona saat ini sudah merasakan semua gelar yang bisa diraih, baik dalam level klub, maupun di negaranya. Nyaris tidak ada lagi yang bisa digantungkan 5cm di depan mata mereka untuk dikejar. Pressing para pemain tidak se agresif dulu, dan pergerakan tanpa bolanya tidak setaktis dan se mobile 2-3 tahun lalu. Clean sheet juga lantas menjadi hal yang cukup langka.

Kekalahan telak dari Bayern Muenchen seharusnya bisa menjadi wake up call terbesar untuk Barcelona. Harus diakui dan dihormati bahwa Muenchen tadi pagi memang lebih baik, dan banyak hal yang bisa diperbaiki Barcelona untuk meraih kembali dominasi di Eropa. Humiliation ini seharusnya bisa diubah menjadi pemberi motivasi terbesar untuk meraih kembali prestasi-prestasi besar di masa yang akan datang, sekaligus menjadi bahan evaluasi yang mendasari strategi belanja pemain musim depan. Lini belakang jelas paling mendesak, dan menambah opsi penyerangan yang bisa melebur dalam permainan khas Barcelona tanpa harus merombak filosofi. Siapa saja seharusnya? Biar board dan staf manajemen Barcelona yang mengevaluasi. Sepertinya kali ini akan benar-benar dipertimbangkan secara serius, mungkin saja akan mengejutkan, lebih dari isu Hummels-Neymar.