26 Januari 2015

Sudah Pada Ngecek Klasemen NBA?

Saya ulangi ya judulnya.

Sudah pada ngecek klasemen NBA?

Nih, saya capture klasemen NBA per tanggal 26 Januari 2015 :
 

Gimana? Udah ngerasa aneh belum?

Mungkin sebagian ada yang menganggap kalau LA Lakers ada di klasemen bagian bawah itu aneh. Tapi sebenarnya itu sudah biasa sejak musim lalu. Pada banyak yang cidera sih. New York Knicks juga sebenarnya kurang cocok ada di dasar klasemen, mengingat ada Carmelo Anthony disana. Plus Phil Jackson yang sekarang jadi Presidennya.

Kejutan yang lebih dari itu adalah, jika kita melihat top three di masing-masing conference, maka buat yang ngikutin NBA cuman sekali-sekali seperti saya, pasti akan merasa heran.

Di timur ada Atlanta Hawks, Washington Wizards, dan Toronto Raptors. Meninggalkan Cleveland-nya LeBron James, Chicago Bulls-nya Derrick Rose, dan Miami Heat-nya Dwyane Wade.

Di barat ada Golden State Warriors, Memphis Grizzlies, dan Portland Trailblazers, nama-nama yang dulu lebih sering ada di bawah. Bahkan San Antonio Spurs yang juara bertahan pun sekedar nongkrong di posisi tujuh. LA Clippers-nya Chris Paul juga cuman di posisi lima. Lha Oklahoma City Thunder malah di luar zona playoff meskipun mepet.

Punya siapa aja sih mereka? Mari coba diintip satu-satu yang top three ini.

Atlanta Hawks cukup meyakinkan hingga saat ini bisa sampe 16 kali winning streak. Sebenarnya relatif tidak ada mega star disini. Pemain yang layak untuk diperhatikan adalah Al Horford, Jeff Teague, Paul Millsap, dan Kyle Korver. Ada juga nama lama seperti Elton Brand dan Thabo Sefolosha. Horford dan Millsap terbukti menjadi duo defender tangguh yang sangat solid, sedangkan Korver berhasil menggunakan keahlian three point nya dengan sangat ampuh, hingga saat ini masih menjadi three pointer terbanyak rata-rata per pertandingan. Selebihnya tidak ada yang terlalu menonjol, artinya secara tim Hawks sangat tangguh. Bisa jadi seperti yang diperlihatkan Spurs musim lalu. Kredit layak disematkan pada Mike Budenholzer, pelatihnya. Kursi pelatih All Star wilayah barat adalah apresiasi yang pantas.

Di Washington Wizards, superstar terbaiknya mungkin adalah John Wall. Terbukti dengan terpilihnya dia jadi starter All Star wilayah timur. Wall juga memimpin dalam pemberi assist, serta yang kedua dalam steal. Kelihaian Wall didukung oleh nama-nama seperti Nene, Marcin Gortat, dan si veteran Paul Pierce. Wizards saat ini dlatih oleh Randy Wittman.

Lalu ada Toronto Raptors. Hingga pertengahan Desember lalu, Raptors masih ada di puncak klasemen wilayah barat, dan sempat mengalami 16 winning streak juga. Namun cidera yang dialami DeMar Derozan membuat kekuatan mereka berkurang. Nama lain yang cukup terkenal adalah Kyle Lowry, pemberi assist terbanyak di tim, yang sukses menjadi starter All Star wilayah timur. Uniknya, tak ada satu namapun di Raptors yang ada di top 5 semua kategori, baik point, rebound, assist, steal, block, maupun 3 point. Dwane Casey adalah yang bertanggung jawab atas performa merata mereka.

Pindah ke barat, Golden State Warriors juga cukup mengejutkan. Dipimpin oleh Stephen Curry, yang menjadi pemuncak voting All Star mengalahkan LeBron James, dan ditemani oleh Klay Thompson, Andrew Bogut, dan Andre Iguodala, posisi playoff tampaknya sudah aman. Tinggal berjuang dimana mereka akan finish di regular season ini. Makin tinggi sedikit banyak akan mempermudah mereka. Anda tahu siapa pelatihnya? The legendary three pointer from Michael Jordan's Chicago Bulls, Steve Kerr.

Memphis Grizzlies sebenarnya sudah solid sejak tahun lalu. Jika tahun lalu Zach Randolph sangat dominan, maka musim ini menjadi tahunnya Marc Gasol. Gasol yang satu ini tidak lagi ada di bawah bayang-bayang Gasol yang Pau. Buktinya mereka berdua sama-sama menjadi starter di All Star tahun ini. Dengan dukungan pengalaman dari veteran macam Tony Allen dan Vince Carter, Grizzlies seperti bisa melangkah lebih jauh dibanding musim lalu. David Joerger did a quite good job.

Yang ketiga adalah Portland Trailblazers. Disini ada LaMarcus Aldridge, Damian Lillard, Robin Lopez, dan Chris Kaman. Nama-nama ini meskipun agak terkenal, tapi bukanlah superstar. Namun dengan cohesion tim yang bagus, tim ini punya potensi untuk melaju jauh. Kredit layak ditujukan pada Terry Stotts sang pelatih.

Dari enam tim tersebut, relatif tidak ada nama-nama yang sangat besar. Artinya, NBA saat ini menjalani fase yang berbeda dari sebelumnya. Biasanya, papan atas klasemen NBA diisi oleh tim yang memiliki satu atau dua atau bahkan tiga nama besar yang menjadi poros permainan. Jika kita ingat, dulu pernah ada Bulls-nya Jordan, Lakers-nya Shaq, Spurs-nya Duncan, Heat-nya James, dan Celtics-nya trio Garnett-Pierce-Allen. Kini, permainan kolektif menjadi kunci utama soliditas tim. Semua game jadi sangat seru, karena kekuatan merata, dan siapa saja bisa menang melawan siapa saja. Secara keseluruhan, NBA menjadi lebih menyenangkan.

Lalu, sebenarnya para mega star pada kemana?

Kita mulai dari Kobe Bryant. Sejak kerjasama gagal nya dengan Dwight Howard, plus ditambah dengan cidera panjang, Lakers menjadi tim yang tidak lagi solid. Saat ini, meskipun ditunjang dengan kekuatan Jeremy Lin dan Carlos Boozer, Lakers masih saja berjuang di dasar klasemen. Tapi ya begitu lah, meskipun timnya ga oke, berhubung namanya udah gede, Bryant masih saja terpilih jadi starter All Star tim barat, meskipun ada keraguan bakal bisa tampil, karena Bryant saat ini masih cidera bahu dan akan dioperasi.

Carmelo Anthony punya kemiripan dengan Kobe Bryant. Miripnya adalah menjadi superstar yang berada di tim yang berjuang di dasar klasemen, sejak musim lalu. Padahal, Melo tampil sangat bersinar di All Star musim lalu. Haruskah yang disalahkan adalah Derek Fisher, sang pelatih?

LeBron James musim ini kembali ke Cleveland. Meninggalkan dua eks partner superstar-nya, Dwyane Wade dan Chris Bosh, untuk bergabung dengan dua bintang lainnya, Kyrie Irving dan Kevin Love. James tampak seperti orang yang sangat berbeda. James terlihat mampu menekan egonya, untuk memberi semangat kepada rekan setimnya dan membangun Cavaliers menjadi tim besar. Hasilnya tidak buruk, karena Cavs ada di tengah zona playoff.

Season Leader di kategori point terbanyak musim ini adalah : James Harden. Houston Rockets saat ini ada di posisi empat wilayah barat, salah satunya berkat kontribusi Harden yang buas. Posisi yang tidak mengecewakan.

Salah satu superstar muda yang menarik adalah si 21 years old, Anthony Davis, di tim yang belum familiar, New Orleans Pelicans. Dia kuat, lincah, solid dan jitu. A megastar in the making. Kalo lagi lihat NBA, coba cari games nya Pelicans, dan enjoy what he can do.

Trio yang selalu stabil adalah Chris Paul-Blake Griffin-DeAndre Jordan yang bekerjasama mengangkat LA Clippers. Ketika kombinasi superstar yang lain mulai menurun atau telah berpisah, mereka tetap solid. Namun ada juga kurangnya. Ketika tim lain memperbaiki (atau mendegradasi) posisi klasemen, Clippers tetap stabil berada di posisi itu. Papan tengah zona playoff. Griffin sekarang lebih komplit. Perimeter shot nya lebih jitu, sehingga gaya bermainnya terlihat lebih "simpel", meskipun kekuatan terbesarnya tetap di power drive dan monster dunk. Paul adalah tukang assist jempolan, dan Jordan menyempurnakan itu dengan rebound dan blok nya.

Pau Gasol dan Marc Gasol mencatat sejarah dengan menjadi dua bersaudara yang pertama kali sama-sama jadi starter di All Star NBA. Di musim reguler, Pau bergabung bersama Derrick Rose di Chicago Bulls, dan Marc jadi pemain penting di Grizzlies.

Dwyane Wade dan Chris Bosh yang masih ada di Miami Heat tidak perlu terlalu lama menangisi kepergian LeBron James, karena Heat kedatangan Luol Deng. Tapi trio baru ini masih jadi versi downgrade dari pendahulunya, karena masih duduk santai di posisi tujuh wilayah timur.

Jika tidak cidera, Kevin Durant seharusnya bisa memimpin Oklahoma City Thunder sejak awal, dan menghindarkan mereka terlempar dari zona playoff. Durant adalah MVP regular musim lalu, dan saat ini masih didukung oleh Serge Ibaka dan Russel Westbrook. Sejak Durant kembali, Thunder pelan-pelan mulai memperbaiki posisinya.

Masih banyak memang yang perlu diintip, misalnya dimana Garnett sekarang, atau kemana Pacers, atau siapa saja yang dipanggil All Star nanti. Terlalu panjang jika semua ditulis dalam satu artikel. Sekarang mari balik lagi nonton di tivi, hal menarik apa lagi yang akan terjadi nanti hingga akhir musim. Playoff tahun ini bisa jadi salah satu Playoff paling ketat dan unpredictable sepanjang sejarah.

Sampai jumpa di tulisan tentang NBA berikutnya.

Messi Dan Cristiano

Saya tidak cukup beruntung, karena tidak pernah menyaksikan (sekedar lewat tivi sekalipun) kiprah pemegang rekor pencetak skor tertinggi sepanjang masa di NBA, yaitu Kareem Abdul-Jabbar. Namun di saat yang sama, saya merasa cukup beruntung karena bisa menyaksikan legenda NBA lainnya, seperti Michael Jordan, Shaquille O'Neal, Kobe Bryant, Allen Iverson, LeBron James, dan pemain lain yang punya potensi untuk menjadi besar seperti Chris Paul, Derrick Rose, dan Kevin Durant. Kelak jika saya nonton NBA bareng anak, atau bahkan cucu, saya bisa bercerita banyak tentang mereka.

Saya juga agak kecewa karena tidak pernah menyaksikan secara utuh permainan nama-nama besar sepakbola misalnya seperti Michel Platini, Lev Yashin, Franz Beckenbauer, Alfredo Di Stefano, dan dua nama yang dianggap terbesar sepanjang masa, Pele dan Maradona.

Namun sesungguhnya saya harus merasa beruntung, karena hidup di masa dimana ada dua pemain besar yang punya potensi besar untuk menggusur Pele dan Maradona sebagai "best ever" di masa depan.

Tentu saja dua nama itu adalah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Lionel Messi
(sumber : reuters)

Dua orang ini menjadi bahan yang paling sering jadi bahan perbincangan untuk dibanding-bandingkan. Makin seru ketika perbandingan itu membawa fanatisme klub tempat mereka berdua bermain. Saya fans Barcelona, jelas saya senang melihat permainan Messi. Tapi saya juga fans berat Manchester United, tempat Ronaldo pertama kali mendapat gelar pemain terbaik dunia, meskipun dulu sempat jengah melihat gayanya yang (banyak dibilang) arogan.

Ya, saya sangat senang ketika melihat Messi mendapatkan gelar pemain terbaik dunia keempatnya, sekaligus kuatir apabila Ronaldo berhasil menyusulnya tahun depan. Saya termasuk yang deg-degan di musim ini karena Ronaldo sedang hebat-hebatnya, plus Real Madrid sedang bagus-bagusnya.

Messi, dianggap sebagai pemain dengan bakat besar yang sangat natural. Ketika melakukan dribble, gerakannya sangat susah dibaca, dengan keseimbangan yang sangat tinggi. Bahkan lima orangpun seringkali berhasil dilewati dengan cara yang terlihat sangat mudah. Messi jarang terjatuh, dan nyaris tidak pernah melakukan diving. Messi juga memiliki visi permainan yang hebat, sehingga juga cocok menjadi playmaker dengan passing-passing ajaib. Dengan badan kecil dan begitu seringnya menjadi incaran bek lawan, apa yang mampu dilakukan Messi hingga saat ini sangatlah luar biasa. Hebatnya lagi, dengan capaian prestasi yang begitu banyak, usianya saat ini baru 27 tahun. Kekurangan terbesarnya adalah prestasi bersama Timnas Argentina. Meskipun sempat jadi finalis Piala Dunia 2014, kekurangan amunisi di lini belakang menjadi hambatan Messi untuk membawa negaranya terbang tinggi.

Cristiano Ronaldo
(sumber : Dailymail)

Nama Cristiano Ronaldo lebih baik disebut dua kata, karena banyak yang lebih rela jika nama Ronaldo diabadikan sebagai panggilan untuk legenda Brazil yang juga dianggap salah satu yang terbaik di masanya sebelum kecanduan seks dan cidera lutut menghancurkan karirnya. Atau kalaupun disebut satu kata, lebih baik menggunakan nama depannya. Atau banyak juga yang lebih akrab dengan branding bekennya, CR7. Lebih dari permasalahan penyebutan nama, Cristiano adalah seorang atlit yang sangat ideal. Postur tubuhnya sangat oke, tinggi, kuat, cepat, dan tampan (??). Kelebihan utama Cristiano adalah teknik yang luar biasa atraktif. Jika Messi dianggap sangat berbakat, maka Cristiano adalah contoh dari manifestasi kerja keras. Kakinya mampu bergaya dengan lincah, step over nya sangat cepat, sprint nya juga ngebut, vertical jump nya sangat tinggi, tendangannya keras, free kick nya khas dan berbahaya, dan memiliki stamina yang ga habis-habis. Konon dia memang gila latihan. Selalu datang sebelum pemain lain dan pulang jauh setelah yang lain pergi. Dan dia tidak pernah puas. Itu yang membuatnya tampak sangat berambisi dan agak arogan.

Ketika Cristiano mendapat gelar pemain terbaik dunia nya yang pertama, Messi masih ada di bayang-bayang Ronaldinho. Tahun selanjutnya, Messi dianugerahi tim Barcelona yang legendaris dibawah arahan Guardiola. Empat gelar pemain terbaik dunia berturut-turut diambil Messi. Kemudian, ketika Barcelona sedang berputar-putar dibawah bayang-bayang kesuksesannya sendiri, Real Madrid justru ditangani secara tepat, sehingga bisa membawa Cristiano semakin giat mencetak gol. Messi harus rela melihat panggung pemain terbaik dunia menjadi tempat Cristiano meraih gelar keduanya. Tahun inipun rasa-rasanya gelar itu bakal jatuh ke salah satu dari dua orang ini.

Meskipun para diehard fans dua orang ini sering sekali berperang opini dalam meyakini kehebatan pujaan masing-masing, Messi dan Cristiano malah tampak seperti sepasang sejoli yang saling menginspirasi dan rival yang saling menghormati. Seorang seperti Messi yang sejak muda sudah ada di puncak, tentu perlu hal besar yang membuatnya selalu ingin maju. Cristiano adalah penguntit terbesarnya. Cristiano adalah 5 cm nya. 5 cm di belakang, tentunya. Cristiano bisa jadi merupakan pembangkit motivasi utama Messi. Begitupun sebaliknya. Meskipun lebih tua, prestasi Cristiano tidak sementereng Messi. Dalam kondisi lain, Cristiano mungkin saja adalah orang nomor satu yang akan dibicarakan dimana-mana dalam dunia sepakbola. Kenyataannya, hambatannya adalah satu nama, Messi. Messi pun jadi 5 cm nya Cristiano. Di depan.

Persaingan ini ternyata membuat atmosfir persepakbolaan menjadi begitu hidup. Padahal saat ini juga ada pemain-pemain seperti Franck Ribery, Gianluigi Buffon, Arjen Robben, Gareth Bale, Wayne Rooney, Marco Reus, Zlatan Ibrahimovic, dan segudang lagi pemain legendaris lainnya, namun Messi dan Cristiano tetap ada di posisi teratas. Bisa terbayang seberapa hebatnya dua orang ini. Dan buat saya sebagai penggemar sepakbola, hal ini sangat keren. Menyaksikan rivalitas Messi dan Cristiano adalah hal yang harus saya nikmati, untuk kelak dikenang sebagai cerita seru.

Silakan saja sampean berdebat tanpa ujung untuk menentukan siapa yang terbaik dari mereka berdua. Saya memilih untuk duduk di depan tivi dan komputer untuk menikmati sajian hiburan yang mereka tampilkan.

Kelak saya akan bercerita pada anak cucu saya, bahwa mungkin memang saya ga tau Pele dan Maradona, tapi duduklah disini, mari dengarkan cerita tentang hebatnya pemain terhebat sepanjang masa, Lionel Messi.

Dan pesaing terberatnya, Cristiano Ronaldo.

Teuteup.

Sekian.

Apa Yang Bisa Diharapkan Dari Sepakbola Indonesia?

Apa yang bisa diharapkan dari Sepakbola Indonesia?

Ya, pertanyaan itu yang paling sering muncul di benak saya belakangan ini. Terlebih ketika timnas U-19 kebanggan kita itu menjadi sangat Indonesia, pemain seperti Evan Dimas ternyata berlabuhnya di klub-klub lokal juga, dan pelaksanaan Liga yang tidak jelas.

Dulu, banyak suara menyerang Nurdin Halid untuk segera lengser. Sekarang, paska lengserpun tidak ada perubahan besar terjadi. Jika dulu ada harapan bahwa bobroknya sepakbola Indonesia karena ditangani orang yang salah, sekarang ketika pengurusnya (terlihat) bergantipun sama saja. Maka harapan itupun pudar. Sekedar berharap pun terasa seperti penyaluran energi yang tidak tepat.

Bagi saya yang lahir dan besar di Malang, tentu mengikuti kiprah Arema sangat menyenangkan. Meski begitu, agak mengganjal juga ketika misalnya melihat Suharno tidak tampak reaktif dan cerdik dalam meramu strategi, terutama ketika menghadapi partai penting seperti semifinal 8 besar melawan Persib lalu. Atau ketika justru Iwan Budianto lah yang begitu reaktifnya di pinggir lapangan. Atau ketika tahu ternyata permasalah dualisme belum sepenuhnya tuntas. Meski demikian, seberapapun ngganjel dan jengkelnya, ketika Arema main dan menang, semua itu untuk sementara terlupakan.


Sampai sekarang sama sekali tidak ada aroma-aroma sepakbola Indonesia bakal pergi menuju era profesional. Contohnya masih ada gaji yang tertukar, eh, tertunggak. Nuansa politis juga tidak terasa hilang, apalagi melihat bursa calon ketua umum PSSI. Itu-itu lagi.

Aremania pasti akan selalu semangat ketika mendukung Arema, begitu pula Jakmania, Bonek, Bobotoh, dan lain-lain, dalam mendukung timnya. Karena memang fanatisme klub di Indonesia luar biasa, tak peduli apapun yang terjadi pada PSSI nya. Tapi bara api semangat mendukung timnas sudah hilang. Timnas senior sudah sejak lama disepelekan. Mau berharap meningkatpun sudah putus asa. Pemain masih itu-itu lagi, pemilihan pelatih juga tidak pernah meyakinkan. Begitu muncul bibit-bibit baru yang terlihat seperti pembawa masa depan cerah bagi sepakbola Indonesia, eh kemudian diperlakukan begini begitu yang akhirnya kembali lagi jadi seperti pemain Indonesia pada umumnya. Tanpa arah dan mudah lelah.

Tidak tampak niatan untuk membangun Liga yang sehat, dengan dukungan sistem yang komprehensif sejak usia dini. PSSI dan pemerintah pun tidak akur. Tidak searah dalam memelihara sepakbola ini. Tidak heran jika kemudian banyak yang ingin agar PSSI ini diganti, dibekukan, dihapus, atau apalah istilahnya. Tidak sedikit juga yang rela jika Indonesia di-ban oleh FIFA selama dua tahun. Ga di-ban toh juga ga maju-maju. Mundur malah. Negara lain yang habis di-ban malah bisa maju pesat.

Seberapa senangpun Arema menang atau bahkan juara, euforia nya berhenti sampai disitu saja. Ini Liga yang ga benar-benar Liga. Liga yang asal jalan saja. Tidak ada perencanaan yang benar dan matang demi kehebatan sepakbola di masa depan. Tidak ada pembinaan pemain yang berkelanjutan. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Terasa hanya seperti Liga guyonan. Mungkin sudah jadi guyonan sejak dari pengurusnya.

Tapi guyonan itu tampaknya seperti sesuatu yang sangat serius. Hingga berakar begitu kuat dan sampai saat ini masih tak tergoyahkan. Entah apa itu.

Jadi, kira-kira, apa yang bisa diharapkan dari sepakbola Indonesia?

15 Desember 2014

Damn You, Ancelotti!!!

Ancelotti membuat saya jadi cukup males buat nulis. Ancelotti berhasil membuat saya cukup malu karena prediksi yang berkebalikan dengan kenyataan. Kesuksesan Ancelotti adalah kegundahan saya.

Musim lalu, saya memperkirakan Bale tidak bisa nge-blend di Madrid. Hasilnya? Decima. Musim ini saya excited dengan kepergian Alonso dan Di Maria. Hasilnya? Tim yang tampak lebih solid daripada musim lalu. Damn banget kan Don Carlo ini?

(source : dailymail.co.uk)

Well, tentu tidak buat madridista, tapi iya buat saya.  Real Madrid di tangan Ancelotti berubah menjadi tim elit yang elegan, dengan kemampuan passing yang cepat dan akurat, counter attack mengerikan, dihiasi kemampuan individu mengkilap, dan squad yang dalam dan variatif. Real Madrid kembali menemukan kehormatannya yang seperti hilang beberapa tahun ini, terlebih ketika ditangani Mourinho. Real Madrid kembali menjadi respectable.

Soal counter attack, Real Madrid memang yang terbaik sejak lama. Kini, Madrid malah bisa mengalahkan Barcelona dalam possession. Anomali.

Dulu, Guardiola berani menyingkirkan Deco, Ronaldinho, dan Eto'o, meskipun nama-nama ini dianggap sebagai dewa di Barcelona, dan kemudian menaikkan nama Busquets, Pedro, Messi, dan Pique. Barcelona menjadi tim paling elegan sedunia. Ancelotti melakukan hal yang pada prinsipnya sama. Menyngkirkan nama besar, dan mendatangkan nama besar lainnya, kemudian menyatukan mereka dengan sangat harmonis.

Tadinya saya tidak terlalu memperhitungkan Ancelotti. AC Milan dan Chelsea tidaklah segahar Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Muenchen. Namun sekarang, Don Carlo bahkan sukses melakukan hal yang gagal dilakukan Mourinho. Menyatukan para pemain elit di sebuah tim elit, with dignity. Ancelotti tampak sangat siap untuk menandai sebuah era. 

Apakah kemudian Real Madrid yang ini bisa tercatat sebagai tim yang mampu mengubah sepakbola seperti yang pernah dilakukan Ajax, AC Milan, dan Barcelona?

Saya harap tidak.

08 September 2014

Main Prediksi-Prediksian (Bagian-5-Terakhir)

Setelah sebelumnya saya nulis serial tentang main prediksi-prediksian Piala Dunia di seri satu, dua, tiga, dan empat, sekarang ini adalah Prediksi-Prediksian terakhir, yang bukan tentang Piala Dunianya, tapi tentang bagaimana musim depan bakal berlangsung setelah Piala Dunia lalu.


Cukup excited saya lihat kiprah Van Gaal di Piala Dunia kemarin, karena memang pelatih berkarakter lah yang dibutuhkan oleh Manchester United untuk menggantikan Fergie yang tak bisa lagi dipertanyakan kekuatan karakternya. Van Gaal memenuhi persyaratan soal karakter itu. Masalah yang selanjutnya akan muncul adalah, apakah karakter itu bisa diterima dengan baik di dalam tubuh United sendiri. Dulu, ketika Fergie mendepak Beckham, Stam, Keane, dan bintang-bintang lain, ga peduli seberapa bintangpun mereka, publik tidak terlalu mempermasalahkan. Dulu, United is Fergie. Fergie lah yang bikin lemari piala United jadi penuh sampe tumpe-tumpe, dengan deretan pemain yang hilir mudik gonta ganti. Kini kondisinya tidak lagi begitu. MU sudah menjadi tim elit yang sebelumnya meraih banyak sekali gelar. Sebagian pemain yang sudah dapat banyak gelar itu, masih ada di daftar pemain aktif. Di dalam pikiran dan mentalitas mereka mungkin ada semacam pikiran bahwa mereka adalah pemain berharga yang pernah memenangkan ini, ini, dan ini.

Lalu Van Gaal datang.

Menggantikan Moyes.

Kita bisa mempertanyakan kapasitas Moyes dalam dunia sepakbola. Sebagai pemain maupun pelatih, prestasi Moyes tidak mentereng. Dalam hal ini, Van Gaal sedikit berbeda. Di CV nya Van Gaal ada tulisan pernah juara di liga Belanda, Jerman, dan Spanyol. Plus jadi 2nd runner up Piala Dunia. Plus bumbu mengorbitkan banyak pemain muda yang sebelumnya relatif kurang terkenal. Ya, meskipun ada juga catatan minor seperti gagal membawa Belanda ke Piala Eropa juga sih. Intinya, harapan dibawa membumbung tinggi.

Lalu apa yang dilakukan Van Gaal ketika awal-awal menangani MU?

Pertama, pemain baru. Sejak Van Gaal datang, MU sudah mendatangkan enam pemain dengan nama besar plus harga yang mahal. Membeli Ander Hererra, Luke Shaw, Angel Di Maria, Daley Blind, Marcos Rojo, dan meminjam Radamel Falcao dengan opsi pembelian di akhir musim. Biaya total mendatangkan mereka kurang lebih 150 juta poundsterling. Well, melihat nama-nama yang masuk ini, tidak ada alasan untuk tidak optimis pada perfirma United.

Kedua, strategi baru. Seperti di Timnas Belanda, Van Gaal tampaknya ingin menjadikan pola 3-5-2 sebagai pola utama United. Di pertandingan pra musim, MU tampil sangat meyakinkan dengan formasi ini. LA Galaxy dibantai, Real Madrid dan Liverpool juga dikalahkan.

Ketiga, pengurangan penumpang kapal United. Cleverley, Chicharito, dan Zaha dipinjamkan. Buttner, Vidic, Ferdinand, Bebe, Evra, Kagawa, dan Welbeck dijual.

Namun seperti transisi pada umumnya, ketidakmulusan terjadi di sana sini.

Pertama, transfer pemain masuk mahal-mahal. Ya saya ga ada masalah sama yang satu ini sih. Namanya juga investasi performa dan bisnis kaos. Cuman yang begini relatif jarang banget dilakukan oleh Fergie.

Kedua, tim ini belum sepenuhnya ter-VanGaal. Masih sisa-sisa Fergie dan Moyes. Artinya, jelas perlu ada penyesuaian sana sini masalah sinkronisasi taktik dan stok pemain.

Ketiga, pemain MU kok ya banyak yang kualitasnya "gitu" ya? Bayangkan saja, sudah begitu banyak pemain yang "dikeluarkan", di skuad inti masih ada Anderson, dan Ashley Young. Belum lagi jika ada yang mengklasifikasikan Fellaini dan Valencia sebagai produk (yang taun lalu) gagal.

Jadi prediksi-prediksian nya adalah : MU kembali ke top four, tapi masih berat berjuang untuk jadi juara. Mungkin tahun depan MU kembali jadi tim top Eropa. Champions League challenger.

-----------------------------------

Sekarang ke Barcelona.

Mengakhiri musim tanpa gelar adalah hal yang langka dari Barcelona di tahun-tahun belakangan ini. Kekecewaan itu membuat Tata Martino akhirnya tidak lagi bekerjasama dengan Barcelona, dan kemudian beberapa waktu lalu ditunjuk sebagai manajer timnas Argentina. Solusi yang cukup bagus untuk kedua pihak.

Dan yang dipilih Barcelona untuk menggantikan Tata adalah : Luis Enrique. Satu lagi Manajer yang sebelumnya adalah legenda tim sebagai pemain, sekaligus eks kapten, dan pernah menjadi manajer Barcelona B. So much Guardiola-esque. Untuk pilihan yang satu ini, banyak pihak menilai sebagai transfer terbaik Barcelona selama liburan kompetisi kali ini. Cukup mengenal dan dikenal klub, bersemangat dan dipenuhi jiwa kepemimpinan, pernah berjaya bersama klub, paham potensi pemain muda asli La Masia, dan pengalaman melatih yang cukup.

Konon perubahan besar yang paling nyata sejak adanya Luis "Lucho" Enrique adalah antusiasme, harmoni, dan motivasi di ruang ganti. Hal yang paling terasa lunturnya sejak akhir-akhir era Guardiola, apalagi Puyol sudah ga lagi jadi kapten.

Hal positif kedua adalah di bagian rekrutmen pemain. Valdes dan Pinto yang pergi digantikan dengan tiga kiper yang punya kelebihan masing-masing. Jordi Masip adalah produk asli La Masia yang cukup kenal pakem permainan Barcelona, dan musim lalu bermain sangat bagus untuk Barcelona B. Marc Andre Ter Stegen adalah kiper muda, bersama Courtois, yang dianggap paling berpotensi di dunia. Dan Claudio Bravo, kiper senior yang memiliki jam terbang sangat tinggi, namun tidak langsung kecewa jika saja dicadangkan, mengingat kalibernya yang ga tinggi tinggi banget. Puyol yang memutuskan pensiun digantikan oleh dua bek yang cukup oke, meskipun tidak ekselen. Jeremy Mathieu adalah bek senior yang besar sekaligus cepat, serta cukup baik dalam memainkan bola. Thomas Vermaelen adalah bek tengah yang punya jiwa kepemimpinan oke, meskipun rawan cidera. Kini, Barcelona akhirnya punya empat bek tengah yang bisa diandalkan.

Yang paling oke adalah lini tengah, dengan dipanggilnya lagi Rafinha, dan rekrutmen pemain kunci Sevilla musim lalu, Ivan Rakitic. Dua pemain ini akan menghadirkan alternatif penyerangan dan kreatifitas lini tengah, meskipun Fabregas telah dilepas, dan Xavi tidak lagi jadi pilihan utama. Sebenarnya Deulofeu juga sempat dipulangkan dari peminjaman di Everton, namun kemudian dipinjamkan kembali ke Sevilla, mungkin untuk mempertajam kemampuan defensifnya.

Yang paling fenomenal adalah pembelian striker. Kali ini pembeliannya ga main-main, karena Barcelona berhasil mendatangkan seorang striker dengan kapasitas sebesar Luis Suarez!!! Membayangkan trio Neymar-Messi-Suarez sungguh membuat football enthusiast seperti saya sudah senyum-senyum sendiri bahkan sebelum musim dimulai. Tiga orang ini adalah pendribble terbaik dunia, finisher tajam, sekaligus playmaker handal. Sungguh tidak sabar melihat bagaimana ketiganya bermesraan di lapangan.

Transfer yang kurang dimengerti adalah pembelian bek kanan Sao Paulo, Douglas. Tidak banya informasi yang saya dapat tentang pemain ini. Hanya saja banyak media mengatakan bahwa di Brazil pemain ini justru banyak disepelekan. Namun, menurut board Barca, Douglas menawarkan gaya permainan yang berbeda dengan Alves dan Montoya. Mari kita lihat saja efeknya nanti.

Ada lagi hal yang kembali membuat fans Barcelona girang, yaitu munculnya harapan atas diorbitkannya pemain muda. Di dua pertandingan awal La Liga, Lucho memberikan kesempatan pada dua pemain Barcelona B untuk menunjukkan aksinya. Dua pemain itu adalah Munir El-Haddadi dan Sandro. Ajaibnya, dua pemain ini sama-sama mencetak gol penting di debutnya. Hebatnya lagi, Munir langsung dipanggil Del Bosque ke timnas senior Spanyol, setelah awal tahun ini baru mulai nongol di timnas U-19. Kemudian, Sandro dipanggil ke timnas U-21 untuk menggantikan Munir. Dan menurut artikel di media pro-Barcelona, Munir dan Sandro tidak sendirian. Banyak pemain dengan kapasitas yang tidak kalah hebat sedang menunggu di tim junior Barcelona untuk antinya diorbitkan. Sebut saja misalnya Traore, Samper, Halilovic, Lee, Bagnack, dll. Absolutely exciting!!!

Munir El-Haddadi. Remember this name.


Dengan perombakan tim secara cukup masif oleh Atletico Madrid, dan dilepasnya Alonso dan Di Maria oleh Real Madrid, saya optimis Barcelona akan melenggang jadi juara La Liga di akhir musim ini. Bahkan termasuk top challenger untuk jadi juara Liga Champion. Top contender di Eropa adalah Chelsea yang semakin berevolusi, dipimpin oleh pelatih spesialis parkir bus yang kini makin hebat dalam menyusun barisan ofensif.

-----------------------------------

Sementara itu....

Lazio masih berkutat di papan tengah. Tidak banyak informasi yang beredar, dan sedikit pertandingan yang disiarkan.

Tapi Jersey ketiga yang kemaren dipake lawan Milan keren banget.


-----------------------------------

Dan di Indonesia...

Arema lolos jadi juara grup barat, dan segera menuju babak 8 besar. Jika dilihat dari performa sepanjang musim, Aremania layak optimis. Tapi jika dilihat di beberapa pertandingan terakhir, Suharno dan anak buahnya patut waspada dan tidak kehilangan konsentrasi.

AREMA JUARA !!!

-----------------------------------

Sekian.

17 Juli 2014

Messi Dan Ribut-Ribut Golden Ball Nya

Ga nyangka Golden Ball nya Messi jadi begitu hebohnya karena saking banyaknya yang ga setuju. Yes, secara statistik banyak yang ada di atas Messi, tapi saya sendiri bisa memahami kenapa Messi yang dapet itu piala.

 
(Kalo diliat dari mukanya sih dia ga pengen-pengen amat)

Pertama, saya fans Barcelona, yang hampir otomatis jadi fans Messi. Sebenernya kemarin pingin banget Messi dapet Piala Dunia biar status Best Footballer Ever nya semakin sah. Tapi ya apa boleh buat, masih belum waktunya.

Kedua, Messi adalah korban. Berkorban sih lebih tepatnya. Messi bermain di posisi yang bukan favoritnya, demi mengangkat performa tim secara keseluruhan. Argentina sekarang kekurangan pemain tengah yang kreatif. Generasi playmaker ini sepertinya sudah habis ketika Veron dan Riquelme pensiun. Dan dari opsi yang ada saat ini, yang paling mumpuni tak lain dan tak bukan adalah Messi. Messi lah yang menjadi missing puzzle untuk meraih kemampuan tim secara optimal. Inilah yang membuat dia lebih baik daripada Schweni, Ronaldo, Rodriguez, dan Robben.

Ketiga, Messi adalah kapten. Well, banyak yang meragukan kepemimpinannya memang, termasuk juga saya. Dalam hal ngomel-ngomel dan membangkitkan semangat lewat kata-kata, Mascherano jauh lebih cocok menjalankannya. Tapi Messi berbicara dan menginspirasi dengan caranya sendiri. Dia menunjukkan kreatifitas, menciptakan peluang, dan menjadi distraksi untuk mencipta ruang bagi rekan-rekannya. Mengorbankan kemampuan utamanya, yaitu finishing, untuk harus rela dilakukan teman yang lain. Muller dan Kroos tidak menjalankan peran ini.

Keempat, Messi dapet 4 Man of The Match di 4 pertandingan awal berturut-turut. Benar memang lawan Argentina di fase grup tidak terlalu berat. Tapi untuk tampil konsisten seperti itu juga tetap tidak mudah. Argentina ada di pundaknya (arguably) sendirian. Tidak ada pemain lain yang menyamainya.

Kelima, peran dan efek Messi secara individu berpengaruh besar pada tim untuk keseluruhan. Jika jerman punya tim yang kompak dan nyaris semua pemainnya memiliki peran besar pada performa stabilnya, Argentina tidak. Jika perlu menyebut kunci, ada dua nama yang paling menonjol. Yang satu adalah Mascherano karena peran vitalnya dalam bertahan, yang kedua adalah Messi sebagai pemula setiap serangan, dan yang mencegah lawan untuk terus2an menyerang karena tetap harus waspada pada kemampuannya. Jika melihat angka, cukup sulit untuk mengukur peran Mascherano, sehingga Messi lebih banyak diapresiasi. Robben, Ronaldo, Neymar, Rooney, dan individu-individu kunci lainnya tidak mampu membawa timnya melangkah sejauh yang telah dilakukan oleh Messi.

Keenam, catatan statistiknya tidak jelek. Gol nya ada 4, dan 1 assist cantik, plus berlaga hingga babak Final. Ya, catatan ini tidak fenomenal, masih kalah dibanding Muller dan Rodriguez, namun jika diperhatikan kelebihan-kelebihan lainnya, Messi tetap layak disebut terdepan.

Saya ga bilang bahwa Muller atau yang lain lebih buruk dari Messi. Jika merujuk ke individu banyak juga yang memiliki berbagai catatan positif nya masing-masing. Tapi jika memang Messi yang dipilih, itu pun tidak terlalu dibuat-buat. Ibarat diving, ini adalah tipe yang memang benar ada kontak, meskipun bukan hantaman keras. Kita bisa menganggap tidak terjadi pelanggaran, tapi wasit pun punya dasar untuk meniup peluitnya.

10 Juli 2014

Main Prediksi-Prediksian (Bagian-4)

Nhah kan, doa saya terkabul. Beneran yang masuk final adalah Jerman dan Argentina.


Akhirnya kejutan kembali terjadi di semifinal, setelah babak 16 dan 8 besar relatif sepi dari hal-hal yang tidak terprediksi.

Kemenangan Jerman sebenarnya sesuai prediksi, tapi skornya lah yang mengejutkan. 1-7, men!!! Belum sampe menit 30 udah 0-5 aja. Saya yakin kalo intensitas Jerman tetap stabil, bisa aja skornya sampai 2 digit. Mungkin in the name of respect Jerman mulai ogah-ogahan. Itu aja masih nambah 2 gol lagi. Buat hiburan, Neuer ngasih lah satu gol buat Brazil. Duet Dante-Luiz kacau banget. Semacam sama-sama bingung mau kemana. Gampang banget diobrak abrik. Tanpa Neymar, di depan seperti juga ga paham mau ngapain. Mau ga mau saya jadi ngelirik Scolari nih. Sebenernya pemainnya disuruh ngapain sih kok ga kompak banget gitu? Cukup berat juga bagi Brazil untuk bisa mengalahkan Belanda di perebutan tempat ketiga. Goodluck deh.

Hasil yang sangat baik untuk Jerman, tapi sedikit bahaya kalo kondisi mental nya mulai terlena akibat kemenangan mudah ini. Jerman masih jadi tim yang paling balance, siap untuk memainkan bermacam-macam gaya sepakbola. Neuer lebih dari siap untuk memimpin pertahanan dari bawah mistar. Dan dari belakang. Dan dari tengah. Lha ini jatahnya kiper lho, tapi kalo lagi jadi sweeper sampe keluar kotak penalti segala. Bagus pula clearance nya. Lawan Argentina, jika high-line pressure ini meleset sedikit saja bisa jadi berbahaya, dan gap yang jauh bisa dimanfaatkan oleh striker-striker "licik" Argentina. Di tengah sih ga ada masalah. Masalahnya malah justru opsi yang melimpah. Jerman jelas akan memenangkan pertarungan lini tengah. Disokong Gotze dan Ozil di kanan/kiri/belakang dari striker/false9, Low bisa memainkan false 9 ala Muller atau pure 9 ala Klose. Dua-duanya berbahaya. Btw, do you smell some Pep's touch in this Germany national team? Let's talk about it later, then. Tim ini adalah unggulan saya. Have I said that before? How often?


Belanda versus Argentina juga sangat mengejutkan. Kejutannya adalah karena tidak ada kejutan!!! Sungguh, saya berharap ada kejutan lagi dari Van Gaal kali ini. Yang terlihat dari tivi, Van Gaal menyusun tembok yang kokoh di belakang untuk mengantisipasi dahsyatnya barisan depan Argentina, dan mengawal Messi begitu ketat. Ya, Argentina tidak cukup banyak membuat peluang berbahaya, tapi juga vice versa. Kelihatannya Van Gaal benar-benar mengandalkan kecepatan Robben untuk melakukan counter attack secepat kilat. Ketika di menit-menit akhir Van Persie diganti Huntelaar, Van Gaal mungkin ingin mengulang kejutan ala lawan Mexico. Tapi kejutan yang diulang tidak lagi mengejutkan. Ketika kemudian Van Gaal melakukan pergantian ketiga kalinya, maka dipastikan tidak ada lagi kejutan ganti kiper untuk penalti. Ketidakadaan kejutan ini lagi-lagi kembali mengejutkan. Dan benar saja, Cilessen terlihat seperti krisis percaya diri, mungkin karena di pertandingan sebelumnya merasa tidak dipercaya Van Gaal dalam urusan penalti. Cilessen gagal membendung seluruh tendangan penalti Argentina, dan secara tidak mengejutkan Belanda gagal ke final. Sungguh mengejutkan. Do it better against Brazil, Van Gaal. Tampaknya posisi ketiga cukup nyaman buat Belanda, meskipun Robben bilang ga terlalu antusias. Tapi kan hadiahnya lebih gede daripada juara ke-empat, Ben...

Argentina adalah Paradoks. Memiliki barisan penyerang yang dahsyat, Argentina justru terlihat sangat bagus ketika bertahan. Kompak, pressing ketat, cepat, dan taktis. Robben yang katanya cepat itupun berhasil dieliminir dengan sangat baik. Masih ingat tackling Mascherano? What a defender!!! Argentina tidak memiliki banyak peluang, tapi dari yang sedikit itu sebenarnya cukup menjanjikan. Hanya saja peluang terakhir tidak jatuh ke pemilik kaki yang seharusnya. Bukan ke Messi, bukan Higuain, bukan Aguero, apalagi Di Maria. Dan ketenangan Romero dalam menggagalkan penalti Vlaar dan Sneijder akhirnya berperan sangat krusial.

Messi adalah kapten, Messi adalah playmaker, Messi adalah inspirator, Messi adalah top skorer Argentina, Messi adalah katalis. Dia menunjukkan hal-hal yang sangat sedikit bisa dilakukan pemain-pemain top dunia. Pernah dapet Balon D'Or ketika lebih sering bermain di sayap, dan kemudian dapet gelar yang sama ketika sering bermain sebagai penyerang tengah, kini Messi sukses mengantarkan Argentina ke Final Piala Dunia ketika bermain sebagai playmaker. Sepertinya future Messi adalah yang seperti ini. Lebih ke otak daripada ke otot, tapi ketika ototnya diperlukan, dia akan melakukan itu dengan sangat baik. What a player He is. Gelar Piala Dunia sebenarnya sangat layak untuknya. Dan kemudian Balon D'Or kelima. 

Melawan Jerman nanti, Sabella pasti akan menginstruksikan pemainnya untuk lebih hati-hati bertahan. Pressing sangat ketat untuk memutus aliran bola, dan bersiap melakukan serangan balik. Mentalitas Argentina terbukti cukup siap untuk meladeni mentalitas Jerman yang sedang matang. Lebih baik lagi jika Di Maria dinyatakan fit untuk bermain di final. Koneksi Real Madrid-Barcelona inilah yang menjadi awal serangan bahaya Argentina. Komunikasi telepatik mereka lah yang paling nyambung.

Saya mendukung Jerman, tapi sebagian hati saya ikhlas jika Argentina juara. Pertama, Messi factor. Kedua, Argentina saat ini adalah underdog. Ketiga, terlalu banyak yang mendukung Jerman. Keempat, we want more drama, for sure.

Yang perlu diantisipasi adalah kelelahan Argentina, akibat pertandingan yang hingga extra time pun masih berakhir seri. Artinya, Argentina telah bermain dengan penuh konsentrasi 30 menit lebih lama daripada Jerman. Tentu saja ini sebuah kerugian dari sisi fisik, namun bisa jadi keuntungan dari sisi mental, jika awareness nya bisa tetap dijaga. Sementara Jerman justru memiliki satu hari lebih banyak untuk recovery, dan ditambah dengan keyakinan akan menang di pertandingan melawan Brazil yang sudah diraih di menit 30, sehingga selebihnya Jerman tidak lagi bermain ngotot. Secara kondisi, para pemain Jerman jauh lebih diuntungkan.

Piala Dunia yang cukup menyenangkan, saya rasa. Kini mari kita tunggu Final bersejarah ini. Bersejarah, karena tidak ada Final Piala Dunia yang tidak bersejarah. Hehehe.

Sampai jumpa di Main Prediksi-Prediksian Bagian terakhir setelah pemenang Piala Dunia ditentukan. Semoga semua stasiun televisi mengumumkan pemenang yang sama.